Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Leon dan Godaan untuk Resign dari Dunia Mafia
Pagi itu, mentari menyelinap malu-malu di balik gorden sutra kelabu di kamar utama kediaman Vancort. Leon Vancort, pria yang namanya sanggup menghentikan detak jantung musuh-musuhnya hanya dengan satu tatapan, terbangun bukan karena alarm digital atau laporan intelijen tentang pengiriman senjata yang tertunda. Ia terbangun karena merasa hidungnya digelitik oleh sesuatu yang beraroma... terasi bakar.
Leon membuka matanya perlahan, hanya untuk menemukan wajah Ailen yang hanya berjarak lima sentimeter dari wajahnya. Gadis itu sedang memegang sepotong kecil kerupuk udang yang sudah dicocol sambal, mencoba mendekatkannya ke lubang hidung Leon.
"Bangun, Mas! Matahari udah setinggi jemuran, Mas masih aja molor kayak beruang lagi hibernasi," sapa Ailen dengan riang. Ia mengenakan kaos kebesaran milik Leon yang dijadikan daster, membuat penampilannya tampak seperti bocah hilang di rumah mewah.
Leon menghela napas panjang, sebuah ritual pagi yang wajib ia lakukan sejak kehadiran Ailen. "Ailen, ini jam enam pagi. Dan kenapa kau membawakan sambal terasi ke tempat tidurku?"
"Ini namanya aromaterapi tradisional, Mas! Biar saraf-saraf mafia Mas yang kaku itu langsung bangun dan melek. Ayo, saya udah bikinin sarapan spesial: Nasi Gila Vancort!" Ailen menarik lengan Leon dengan tenaga yang tidak sebanding dengan tubuh mungilnya.
Leon duduk di tepi tempat tidur, memandangi tangannya yang kasar dan penuh bekas luka—tangan yang telah menarik pelatuk ribuan kali. Namun, saat ia menatap Ailen yang sedang asyik mengunyah kerupuk di lantai kamarnya, sebuah pemikiran asing muncul di benaknya. Sebuah pemikiran yang bagi seorang Don adalah sebuah penghianatan terhadap garis keturunan: Keinginan untuk berhenti.
Setelah sarapan "Nasi Gila" yang komposisinya lebih banyak cabai daripada nasi, Leon duduk di ruang kerjanya. Di depannya, Marco berdiri tegak memberikan laporan tentang restrukturisasi wilayah yang ditinggalkan oleh klan Moretti.
"Tuan, kita memiliki kontrol penuh atas Pelabuhan Barat sekarang. Pendapatan diprediksi akan naik 40% dalam kuartal ini. Kita hanya perlu membereskan beberapa faksi kecil di Utara," lapor Marco dengan nada bangga.
Leon tidak menjawab. Ia justru menatap ke arah jendela, di mana ia bisa melihat Ailen di taman bawah sedang mencoba mengajari anjing penjaga Doberman miliknya untuk melakukan gerakan "Salaman maut".
"Marco," panggil Leon tiba-tiba.
"Ya, Tuan?"
"Apakah kau pernah berpikir... untuk membuka toko roti?"
Hening menyelimuti ruangan itu selama sepuluh detik. Marco berkedip beberapa kali, memastikan telinganya tidak salah dengar. "Toko... roti, Tuan? Maksud Anda, toko roti sebagai kedok untuk pencucian uang atau distribusi amunisi?"
"Bukan. Toko roti yang benar-benar menjual roti. Yang ada aroma ragi, tepung, dan pelanggan yang datang hanya untuk membeli donat, bukan memesan pembunuhan," Leon berkata dengan nada yang sangat serius, hampir melankolis.
Marco menelan ludah. "Tuan... Anda sedang tidak sehat? Apakah Nona Ailen memasukkan sesuatu yang aneh ke nasi gila tadi pagi?"
Leon berdiri, berjalan menuju jendela. "Dunia ini terlalu bising, Marco. Setiap kali aku mengangkat telepon, seseorang harus mati atau seseorang harus membayar. Tapi saat aku melihat Ailen... aku merasa dunia mafia ini hanyalah sebuah panggung sandiwara yang sangat melelahkan."
Godaan untuk resign dari tahta darah itu kini terasa lebih nyata daripada sebelumnya. Leon membayangkan hidup di sebuah kota kecil di pesisir, mungkin di Italia atau hanya di pinggiran Jogja, di mana ia bangun tanpa harus memeriksa apakah ada bom di bawah mobilnya. Ia membayangkan Ailen yang sibuk mengomeli pelanggan yang menawar harga roti, sementara ia sendiri hanya bertugas mengolesi mentega.
Sore harinya, Leon mengajak Ailen jalan-jalan ke sebuah taman kota yang jauh dari pengawasan anak buahnya—setidaknya itu yang ia inginkan, meskipun Marco tetap mengikuti dari jarak 50 meter dengan senapan runduk yang disamarkan.
Mereka duduk di bangku taman, memperhatikan anak-anak berlarian. Ailen sedang sibuk mencoba menghabiskan es krim cone-nya yang mencair lebih cepat daripada kecepatan makannya.
"Ailen," panggil Leon.
"Hmm?" sahut Ailen dengan mulut penuh es krim vanila.
"Jika suatu hari aku bukan lagi seorang Vancort yang berkuasa. Jika aku hanya pria biasa yang tidak punya uang miliaran di bank dan musuh di setiap sudut jalan... apakah kau masih akan bersamaku?"
Ailen berhenti menjilati es krimnya. Ia menatap Leon dengan tatapan yang mendadak dewasa, sebuah transisi yang selalu membuat Leon terpukau. Ailen mengelap sisa es krim di bibirnya dengan punggung tangan.
"Mas Leon, pertanyaan Mas itu lebih basi daripada sayur lodeh tiga hari yang lalu," ucap Ailen sambil terkekeh. "Mas pikir saya di sini karena Mas punya gedung tinggi atau karena Mas jago nembak orang? Dih, pede bener!"
Ailen mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Leon. "Saya di sini karena Mas itu sebenernya orangnya baik, walaupun mukanya mirip tembok penjara. Kalau Mas mau jadi tukang bakso, tukang parkir, atau pengangguran sukses sekalipun, saya tetep bakal di samping Mas. Paling saya yang kerja jadi kuli bangunan buat biayain Mas."
Leon terkekeh pelan, hatinya menghangat. "Kau jadi kuli bangunan? Yang ada bangunannya roboh karena kau terlalu banyak bercanda."
"Enak aja! Saya kuat lho Mas! Intinya, Mas mau jadi apa aja, saya ikut. Tapi emangnya Mas sanggup? Hidup tenang itu kadang lebih susah daripada perang, Mas. Mas harus belajar sabar kalau ngadepin ibu-ibu yang nawar harga cabe, atau sabar kalau tiba-tiba tagihan listrik naik."
Leon terdiam. Kata-kata Ailen benar. Dunia bawah tanah memberinya kendali penuh; ia adalah hukum itu sendiri. Di dunia luar, ia hanyalah butiran debu yang harus tunduk pada sistem yang seringkali tidak adil. Tapi, melihat senyum Ailen, ia merasa harga itu layak dibayar.
Namun, godaan untuk mundur itu langsung diuji malam itu juga. Saat mereka kembali ke mansion, sebuah mobil hitam legam sudah terparkir di depan gerbang. Itu adalah mobil dari delegasi tingkat tinggi Dewan Bayangan—otoritas tertinggi yang mengawasi seluruh sindikat di dunia.
Seorang pria tua berambut putih dengan tongkat perak keluar dari mobil. Ia adalah Si Penatua, orang yang dulu melantik ayah Leon sebagai penguasa.
"Leon," sapa pria itu dengan suara yang berat. "Aku mendengar desas-desus yang mengkhawatirkan. Katanya singa muda Vancort mulai kehilangan taringnya karena seekor merpati kecil."
Leon berdiri tegap, matanya kembali berubah menjadi dingin. Aura mafianya bangkit seketika, menutupi sisi lembut yang baru saja ia tunjukkan pada Ailen di taman. "Desas-desus hanyalah bumbu dalam bisnis ini, Penatua. Apa tujuan kedatanganmu?"
"Dewan ingin memastikan kau masih setia pada sumpah darah. Ada tugas besar di perbatasan Utara. Pembersihan total. Jika kau berhasil, kekuasaanmu tidak akan tergoyahkan selama satu dekade ke depan," kata Penatua sambil melirik Ailen yang sedang berdiri di belakang Leon, mencoba mengupil secara diam-diam.
Leon menatap Penatua, lalu melirik ke arah Ailen. Inilah persimpangan jalannya. Kekuasaan mutlak selama sepuluh tahun, atau risiko kehancuran total jika ia memilih berhenti sekarang.
Sebelum Leon menjawab, Ailen tiba-tiba maju ke depan. Ia berdiri di antara Leon dan pria tua itu. "Maaf ya Kek, tapi Mas Leon lagi nggak terima pesanan pembunuhan dulu. Mas Leon lagi sibuk latihan bikin adonan donat."
Penatua itu mengerutkan kening, tampak sangat terhina. "Siapa gadis lancang ini?!"
"Saya? Saya menteri pertahanan hatinya Mas Leon, Kek! Jadi mending Kakek pulang aja, minum jamu pegal linu terus bobo siang. Mas Leon capek tau, disuruh nembak orang mulu. Sekali-kali suruh nembak saya pake bunga kek!" Ailen berkacak pinggang dengan berani.
Para pengawal Penatua segera menghunuskan senjata, namun dalam sekejap, Marco dan tim Alpha sudah mengepung mereka dengan senjata yang lebih besar. Suasana menjadi sangat tegang. Satu pelatuk ditarik, maka perang saudara akan pecah.
Leon meletakkan tangannya di bahu Ailen, menariknya pelan ke belakang tubuhnya. Ia menatap Penatua dengan pandangan paling mematikan yang pernah ia miliki.
"Katakan pada Dewan," suara Leon rendah dan bergetar. "Vancort tidak menerima perintah. Vancort adalah yang memberi perintah. Aku akan mengurus perbatasan Utara dengan caraku sendiri. Dan jika kalian berani menghina wanitaku lagi, aku akan memastikan Dewan Bayangan hanya tinggal bayangan."
Penatua itu terdiam, ia melihat api yang berbeda di mata Leon. Bukan lagi sekadar haus darah, tapi api pelindung yang jauh lebih berbahaya. "Baiklah, Leon. Kita lihat sejauh mana kau bisa menjaga prinsipmu ini."
Setelah mobil itu pergi, Leon menghembuskan napas panjang. Keinginannya untuk resign ternyata tidak semudah itu. Ia menyadari bahwa posisinya adalah perlindungan terkuat bagi Ailen. Jika ia mundur tanpa persiapan, musuh-musuhnya akan memburu Ailen hanya untuk membalas dendam padanya.
"Mas Leon..." panggil Ailen lirih. "Tadi saya keterlaluan ya? Kakek itu serem banget."
Leon berbalik dan memeluk Ailen erat. "Tidak, kau benar. Kau sangat benar."
"Mas beneran mau berhenti jadi mafia?"
Leon menatap langit malam di atas mansionnya. "Mungkin tidak hari ini, Ailen. Aku harus menghancurkan semua ancaman terlebih dahulu agar saat kita membuka toko roti nanti, tidak ada yang berani datang untuk menagih uang keamanan pada kita."
Ailen tersenyum lebar dan mencium pipi Leon. "Oke! Berarti sekarang Mas Leon adalah Mafia Pelindung Roti! Keren tuh julukannya!"
Leon hanya bisa pasrah dengan julukan baru itu. Ia tahu, jalan menuju kehidupan normal masih panjang dan berdarah. Namun, dengan Ailen di sisinya, godaan untuk menjadi pria biasa itu bukan lagi sebuah kelemahan, melainkan sebuah tujuan akhir yang sangat manis.
"Ayo masuk, Mas. Donatnya belum jadi, tapi saya tadi udah beli martabak telur di depan gerbang. Makan yuk!"
Leon mengikuti Ailen masuk ke dalam rumah. Dunianya memang masih penuh dengan bahaya, tapi di tengah aroma martabak telur dan celotehan tanpa henti Ailen, Leon Vancort merasa ia sudah memenangkan perang yang sesungguhnya.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍