INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sejak pagi kegiatan Pesantren Darul Mahendra sibuk dengan berbagai kegiatan dengan belajar mengajar.
Gus Ali mengajar kaligrafi dengan sabar, jemarinya dengan sabar membimbing tangan santri.
Para santri tengah memegang kuas membentuk huruf-huruf hijaiyah dengan indah.
"Ayo perhatikan tulisannya, sambungannya jangan sampai salah."
Gus Ali mengenakan baju koko panjang warna biru dongker, sarung rapi warna kotak-kotak navy, dan peci putih di kepalanya.
Selesai jam pelajaran, Gus Ali berdiri di mimbar kecil, menyampaikan ceramah tentang keihklasan menuntut ilmu.
Suara Gus Ali tenang dengan wibawanya namun lembut, di luar kelas Ning Syifa duduk di sana membaca Al-Quran.
Matanya menatap Gus Ali sekilas, dirinya tak bisa berhenti mengangumi Gus Ali---Selain tampan Gus Ali juga berwibawa dan penuh kelembutan.
"Masyaallah, sungguh sabar Gus Ali. Aku akan sangat beruntung jika di peristri oleh Gus Ali," batin Ning Syifa menatap Gus Ali sekilas.
Gus Ali masih mengajarkan para Santrinya tentang Kaligrafi, bagaimana cara menulis hadist menuntut ilmu.
Pipi Ning Syifa sudah bersemu merah tanpa di sadari, setiap kali Gus Ali tersenyum pada santri, jantungnya juga ikut berdegup kencang.
Sore hari menjelang, Ning Syifa setelah solat Ashar membantu santriwati menyiapkan makanan---seperti kebiasaannya di Pesantren Darul Falah Sutmaja.
Ning Syifa juga tak segan menyiapkan makanan para santri, bersama santriwati yang lain.
Meski beberapa santriwati dan pekerja di Pesantren sudah melarang, tapi Ning Syifa tetap kekeh melakukannya.
"Ya gak papa saya udah biasa kok, nanti saya juga ikut makan."
Ning Syifa bicara dengan nada suara yang lembut, meski putri Kiyai dari Pesantren lain---gadis ini sama sekali tak gengsi atau malu.
Bahkan Ning Syifa juga ikut makan bersama para Santriwati lainnya, gadis ini mudah membaur diri dengan siapa saja.
Makan sore diadakan dengan khidmat sebelum makan, para Santri berdoa.
"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar, Amin."
Para santri berdoa dengan serempak, mengangkat tangan dan menyatukannya.
Setelah membaca doa makan meraka langsung melahap makanan yang ada di hadapan mereka dengan santai.
Selesai makan sore para santriwati mencuci tangan dan berwudhu, lalu mereka segera berjalan ke aula untuk mendengar tausiah dari Kiyai Ridwan.
Para Santri dan Santriwati juga sudah siap dengan buku dan pulpen.
Sore menjelang Ning Syifa berjalan di lorong Pesantren, gamis hitamnya menyapu lantai, dengan hijab berwarna senada.
Langkahnya menuju perpustakaan pesantren, dengan tenang dan wajahnya teduh.
Hatinya berniat mengembalikan buku berjudul "1001 malam" sebuah cerita rakyat dari Persia dan Arab.
Di dalam perpustakaan.
Suasana sunyi hanya aroma buku yang di balik perlahan.
Disana ada seorang Santri yang bertugas membersihkan buku-buku dari debu, pintu perpustakaan terbuka lebar.
Ning Syifa memberikan buku itu pada seorang Santriwati yang mengenakan gamis warna toska lembut, dan hijab warna merah muda.
Lalu mata Ning Syifa menatap seorang pria yang duduk di depan rak dengan replika lampu minyak sebagai hiasan terbuat dari plastik.
Gus Ali duduk dengan cahaya sore yang menembus melalui jendela, angin menerpa wajahnya, pikirannya fokus pada kitab tafsir tebal tenggelam dalam bacaannya.
Pemuda itu tak menyadari kehadiran Ning Syifa disana.
Ning Syifa mendekati calon imamnya, tangannya masih memegang Al-Quran kecil.
Menarik napas dalam dan mencoba menyapa Gus Ali, meski jantungnya berdegup tak karuan.
Posisinya, Gus Ali duduk sementara Ning Syifa berdiri, debaran hati Syifa semakin tak karuan.
Dengan lidah kelu Ning Syifa berusaha mendekati Gus Ali.
“Assalamu’alaikum, Gus…” sapa Ning Syifa.
Mendengar suara lembut sedikit bergetar, kepala Gus Ali terangkat ke atas.
Tatapan keduanya bertemu, jantung Ning Syifa hampir loncat dari sana.
Keheningan melanda beberapa detik yang menurut keduanya ini terasa panjang.
“Wa’alaikumussalam, Ning Syifa,” jawabnya sopan, lalu menutup kitabnya pelan.
Saat mata Ning Syifa bertemu dengan Gus Ali, jantungnya berdetak tak karuan---demi menyembunyikan salah tingkahnya.
Ning Syifa hanya tersenyum lembut.
"Ma-maaf menganggu sa-saya---" belum sempat Ning Syifa melanjutkan kalimatnya, Gus Ali tersenyum tipis membuat debaran hati Ning Syifa semakin tak karuan.
"Silahkan duduk Ning," sambut Gus Ali dengan tenang dan ramah.
Namun, ta'aruf mereka tak sesederhana itu.
Rak-rak kitab menjadi saksi bagaimana suasana canggung diantara keduanya menjadi terasa jauh.
Ning Syifa duduk berhadapan, mencoba membuka topik pembicaraan kepada Gus Ali.
"Gus...," panggilnya dengan pelan.
Pipi Ning Syifa sudah bersemu merah, dan lidahnya semakin kelu.
"Iya?" sahut Gus Ali menatap Ning Syifa di depannya.
Kepalanya menunduk sejenak sebelum berani menatap lagi.
"Apakah benar… ada pembicaraan tentang pernikahan panjenengan?” tanya Ning Syifa berusaha tak mengigit bibirnya, karena terlalu gugup.
Pertanyaan itu akhirnya keluar dari lidah Ning Syifa.
Gus Ali menatap Ning Syifa dengan mata membulat alisnya berkerut, Gus Ali tak langsung menjawab dan berusaha ada basa-basi.
"Pembicaraan memang sudah ada, Ning. Tapi keputusan belum," ujar Gus Ali dengan jujur.
Jawaban itu mampu membuat dada Ning Syifa menghangat sekaligus berdebar---dadanya berdebar namun tak sekencang tadi.
Ning Syifa memejamkan matanya sejenak berusaha menahan getaran di hatinya, dan berusaha tetap anggun di depan calon imamnya.
Gus Ali membuka lembar bukunya menatap Ning Syifa dengan tersenyum.
"Tadi abis baca buku apa?" tanya Gus Ali.
Pipi Ning Syifa tambah bersemu merah, lantaran Gus Ali mengajaknya mengobrol.
"Ya allah bantulah hamba mengontrol rasa cinta ini," batin Ning Syifa dalam hatinya.
Gus Ali menatap Ning Syifa yang terdiam dengan tatapan kosong, tapi pipinya sudah merah.
Tangan pemuda ini menyentuh lengan Ning Syifa, membuat lamunan gadis inu terbuyar.
"Eh iya," ujarnya.
Melihat tangan Gus Ali menyentuh lengannya, debaran hati Ning Syifa semakin berdetak tak karuan----melanin ke jantung lalu ke pipi.
"Kenapa---" ucapan Gus Ali terhenti saat Ning Syifa menjawab soal buku yang di bacanya.
"Astagfirullah," kata Gus Ali melepas pegangan tangannya di lengan Ning Syifa.
"Seribu satu malam, Gus."
Ali tersenyum lalu menjelaskan mengenai buku itu, dan dirinya belum selesai membacanya.
"Kamu pernah baca soal Layla dan Majnun?" tanya Gus Ali.
"Kisah cinta yang tak direstui Gus," jawab Ning Syifa tersenyum
Keduanya saling pandang dan tersenyum satu sama, dan berbicara soal hobi dan kesukaan mereka.