Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Farida Salon
Kita kembali lagi ke beberapa jam sebelumnya.
Karena merasa tak sabar, Althan akhirnya memaksa Roni untuk pergi ke salon sekitar pukul tujuh pagi. Jam delapan, ia sampai di sana, dan ternyata salon baru saja dibuka. Kedatangan Althan tentu saja membuat owner dan para pegawai yang ada di sana langsung terkejut bukan main.
"Astaga! Al-Althan! A ada apa ke sini?!" Suara owner yang menyambut mereka penuh rasa terkejut. "Mari mari, silahkan masuk! Suatu kehormatan ada seorang artis besar datang ke salon kami,"
Owner tersebut segera mengarahkan Althan dan Roni ke ruang VIP. Roni tampak celingak celinguk. Karena meskipun disebut ruang VIP, tetap saja ini hanyalah ruangan kecil, berbeda dengan salon tempat Althan langganan seperti biasa.
Sebenarnya, apa yang membuat Althan keukeuh datang kesini? batin Roni heran.
"Eng, Mas Althan, kalau boleh tau, ada apa Mas Althan kesini? Apa mau styling rambut? atau mau make up?" tanya owner tersebut dengan nada ramah.
Althan melambaikan tangannya. "Tidak, saya cuma mencari orang saja,"
"Oh ya?" alis owner itu terangkat. "Kalau boleh tau siapa namanya?"
"Maya," jawab Althan singkat, membuat Maya yang sedang berdiri di dekat pintu langsung mengangkat tangannya.
"Sa saya Maya!" Tukas Maya sembari melangkah maju mendekati Althan.
Althan langsung menoleh ke arah wanita itu dan menggeleng.
"Bukan, sepertinya bukan ini orangnya. Karena seingat saya, orang yang ngerias saya kemarin itu bisu,"
"Bisu?" ucapan Althan membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.
"Eng, maaf Mas Althan, sebelumnya saya mau memastikan.. Apa benar Mas Althan tidak salah salon?"
Althan menoleh ke arah Roni. "Emangnya salah, Bang?"
"Bener kok," Roni segera membuka ponselnya. "Ini Farida salon, kan? Memangnya ada Farida Salon lain di daerah sini?"
Farida, sang owner salon langsung menggeleng. "Nggak ada, memang cuma satu di daerah sini," Ia kemudian terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan ragu. "Tapi, saya yakin seratus persen, kalau di salon ini, tidak ada pegawai yang bisu. Semuanya normal, bisa bicara,"
Althan langsung mengernyitkan dahinya heran. "Jadi, apa karyawan mbak yang berbohong ke saya?"
Farida menatap ke arah karyawannya satu persatu, dan semuanya menggelengkan kepala.
"Maaf ya Mas, maafff sekali. Sebenarnya kapan karyawan kami pernah make up in Mas Althan? Setau kami, tidak ada jadwal dari salon kami untuk merias Mas Althan,"
"Loh, kalian lupa? Kemarin itu kan baru aja saya di make up sama pegawai nya mbak, di lokasi syuting!"
Mata Maya langsung terbelalak, kemudian ia mendekati Farida sambil membisikkan sesuatu. Mata Farida juga ikut melotot setelah mendengarkan ucapan Althan.
"Jadi, yang kemarin harusnya kamu make up in itu Althan Alaric?" Farida bertanya pada Maya, tapi suaranya agak keras, sehingga yang lain bisa mendengar nya.
"Iya, di proyek film itu, saya memang cuma jadi special cameo, dan nama saya belum diumumkan partisipasinya oleh sutradara," Althan menjelaskan.
Para karyawan salon langsung menutup mulut mereka masing masing karena terlalu kaget dengan fakta ini.
"Oh, kalau gitu, anda salah orang Mas. Karena sebenarnya yang merias Mas Althan itu bukan Maya, tapi pegawai kami yang lain. Kebetulan hari itu, Maya sedang ke rumah sakit mengantar suaminya. Tapi, pegawai saya itu juga nggak bisu kok Mas. Kayanya dia cuma terlalu grogi aja karena baru pertama kali ketemu Mas," Farida berusaha menjelaskan dengan hati-hati.
"Oh, oke," Althan mengangguk, tidak merasa itu adalah masalah besar. "Jadi, siapa nama karyawan kamu itu?"
"Namanya Vivi,"
jawaban singkat Farida sukses membuat Althan terlonjak dari duduknya. Ia berdiri dan menghampiri Farida dengan tatapan tajam.
"Coba ulangi, siapa tadi namanya?!"
Mendapatkan intimidasi seperti itu dari orang sepenting Althan tentu membuat nyali Farida ciut juga. Ia otomatis memundurkan langkah.
"Jawab aku! Siapa tadi namanya?!"
"Vi.. Vivi Mas," jawab Farida takut takut.
Lutut Althan langsung terasa lemas. Nama itu sudah lama tidak pernah ia dengar lagi sejak lima tahun yang lalu. Tapi, kenapa sekarang kembali muncul di tempat yang tidak terduga?
Althan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, memperhatikan satu persatu wajah karyawan yang ada di sana.
Tenang, Althan. Mungkin kamu cuma salah orang. Mungkin cuma namanya saja yang sama..
"Oke, jadi..." Althan menelan ludah, berusaha menenangkan diri agar tidak terlihat gugup. "Siapa di antara kalian yang namanya Vivi?" tanyanya sambil menunjuk para karyawan.
"Eng, kebetulan orangnya belum datang Mas. Biasanya dia datangnya awal sekali, tapi entah kenapa hari ini agak kesiangan. Apa perlu kami telepon?"
Jantung Althan mulai berdegup cepat lagi. "Telepon, telepon dia sekarang,"
"Ba-baik Mas," Farida langsung mengeluarkan ponselnya. Tersambung, tapi tidak diangkat.
"Kayanya udah di jalan deh Mas. Ani, coba kamu keluar, siapa tau Vivi udah sampai," perintah nya kemudian pada karyawan yang lain.
"Baik mbak," Ani pun segera melesat ke pintu depan salon, dan ia terkejut saat melihat banyak orang sudah berkumpul di sana.
"Althan! Althan!"
Teriakan para penggemar membuat Ani benar-benar shock. Bagaimana bisa mereka tau kalau Althan ada di sini? Benar-benar menyeramkan, batinnya.
Ia pun menunggu kedatangan Vivi sambil melongokkan kepala, berusaha melihat sosok wanita itu di antara para penggemar yang berkerumun. Setelah beberapa menit, barulah ia melihat Vivi yang kesusahan masuk.
"Vivi! Vivi! sini, cepat!" panggilnya begitu melihat sosok Vivi.
"Aduh, maaf ya mbak, tadi aku kesiangan.."
"Udah, nanti aja penjelasannya, sekarang ada yang lebih penting, kamu sudah Ditunggu!"
"Hah, ditunggu siapa?!"
Ani tak langsung menjawab. Ia segera saja menarik tangan Vivi menuju ruang VIP dimana semua orang sudah berkumpul. Sampai di sana, ia langsung berteriak.
"Vivi sudah datang!"
Vivi tentu saja heran.
Ada apa sih? batinnya bertanya tanya.
"Halo, Vivi," suara berat yang menyapanya itu sontak membuat Vivi serasa disambar petir di siang bolong. "Kita bertemu lagi,"
Vivi tidak bisa berkata-kata. Ia bahkan tidak tau harus merespon apa, saat melihat sosok Althan yang menyapanya dengan senyuman lebar, seperti seorang teman lama yang sudah lama tidak bertemu.
Pria itu lantas bangkit dari kursinya, mendekati Vivi yang masih mematung. Tatapannya tajam meneliti wajah wanita di depannya itu.
"Kamu bilang dia tidak bisu," kata Althan pada Farida, sembari menunjuk Vivi. "Tapi dari tadi dia diam saja, tuh?"
Farida langsung berlari menghampiri Vivi yang masih bengong. "Iya Mas, maaf, kayanya Vivi grogi deh. Vi, ucapin salam sama Mas Althan,"
Vivi masih tidak bisa menjawab sepatah katapun. Ia hanya bisa menurut saat Farida memaksanya untuk menundukkan kepala sekali.
"Kamu kok nggak bilang bilang toh kalau kemarin make up in Althan Alaric, Vi? Tau gitu kemaren aku aja yang ke sana," bisik Maya yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.
tapi, lagi lagi semua ucapan itu tidak ada yang mendapat respon dari Vivi. Vivi benar-benar hanya bisa mematung, otaknya seperti mati seketika.
Sementara itu, Althan terus saja menatap Vivi. Ada perasaan marah, kecewa, yang ia tutupi dengan senyuman palsunya. Lalu, secara impulsif, Tiba-tiba pria itu menunjuk ke arah Vivi.
"Bang Roni, mulai sekarang, aku mau dia jadi personal stylish aku,"
Roni yang sadari tadi hanya terdiam, langsung terbelalak. "Apa?!"
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara