NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Antara Takut dan Iba

Udara di ruang hukuman masih berbau busuk. Aroma yang sudah kukenal sekarang—campuran debu tua, besi berkarat, dan sesuatu yang manis membusuk. Tapi yang lebih menyengat dari bau itu adalah kehadiran pria yang berdiri di depan pintu.

Damian.

Matanya merah.

Bukan merah karena marah. Merah karena... basah. Air mata menahan diri di ujung kelopak, tidak jatuh, seolah ia lupa caranya menangis.

Aku mundur satu langkah. Punggungku menyentuh dinding dingin bersimbah coretan kapur. Aku masih di sini.

“Kau benar,” ucapnya lagi. Suaranya parau, seperti orang yang berteriak terlalu lama dalam keheningan. “Aku bunuh dia. Agar aku bisa hidup.”

Aku ingin berkata sesuatu. Tapi lidahku terasa kaku. Bukan karena takut—setidaknya bukan hanya karena takut. Tapi karena di matanya yang merah itu, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Kosong.

Bukan kosong seperti tatapan psikopat yang membunuh tanpa perasaan. Kosong seperti anak kecil yang kehilangan segalanya dan tidak tahu harus ke mana.

“Damian—” suaraku serak.

“Jangan panggil aku dengan nama itu.”

Aku membeku. “Lalu?”

“Aku tidak tahu.” Ia tertawa. Tawa pendek, pahit, tanpa suara. “Aku tidak tahu siapa aku. Selama 20 tahun aku pikir aku Damian. Yang kuat. Yang tidak kenal takut. Yang bisa melakukan apa pun agar tidak kembali ke ruang ini.”

Matanya menyapu dinding. Mengamati setiap coretan yang aku lihat tadi. Coretan kapur merah, gambar matahari dengan senyum bengkok, tulisan anak-anak tentang hari-hari yang tidak pernah dihitung.

“Tapi dia ada di sini,” bisik Damian. “Selalu di sini. Aku menguncinya, tapi dia tidak pernah mati.”

Aku menelan ludah. Jari-jariku menekan dinding dingin, mencari pegangan. “Dia... Damian Kecil?”

“Dia aku.” Damian menutup pintu di belakangnya. Terdengar bunyi klik—terkunci. Dari dalam. “Aku yang menangis minta keluar. Aku yang memanggil-manggil ayah, memohon diampuni. Aku yang... melihat mayat ibu tiriku membusuk selama tiga bulan.”

Napasku tertahan.

“Kau tahu bagaimana rasanya?” Damian melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. “Duduk di pojok ruangan gelap, mencium bau daging yang mulai hancur, dan mendengar suara lalat berdengung seperti nyanyian pengantar tidur?”

Aku tidak bisa menjawab. Perutku mual.

“Setiap hari aku berbisik pada mayat itu, ‘Maaf, Maaf, Aku tidak sengaja.’ Padahal aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya tidak mau membunuh anjingku. Tapi ayahku bilang, kalau tidak bisa membunuh makhluk yang kucintai, aku tidak pantas jadi anaknya.”

Damian berhenti tepat di depanku. Jarak hanya sejengkal. Aku bisa melihat bulu matanya yang panjang, bayangan hitam di bawah mata, dan di sudut bibirnya—getaran halus yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

“Jadi aku membunuh satu-satunya makhluk yang kucintai.”

Aku mengerjap. “Apa?”

“Diriku sendiri.” Ia tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Aku bunuh Damian kecil yang takut gelap. Aku bunuh anak laki-laki yang menangis minta tolong. Aku bunuh semua perasaan yang membuatku lemah. Dan yang tersisa adalah... ini.”

Ia membuka tangan lebar-lebar, seperti menunjukkan sesuatu.

“Monster.”

---

POV: Damian (narasi dalam)

Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan semua ini.

Mungkin karena ruangan ini. Dinding yang sama, bau yang sama, kegelapan yang sama. Seperti kembali ke 20 tahun lalu, saat aku masih kecil dan hanya punya satu harapan: seseorang datang menyelamatkan.

Tapi tidak ada yang datang.

Sampai sekarang.

Gadis di depanku—Alea—tidak lari. Meskipun tubuhnya gemetar, meskipun matanya basah, ia tidak lari. Ia hanya menempel di dinding, jari-jarinya mencengkeram erat, tapi matanya... matanya menatapku seperti melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat orang lain.

Bukan jijik. Bukan takut.

Iba.

Aku benci tatapan itu.

“Jangan lihat aku seperti itu,” desisku.

“Seperti apa?”

“Seperti aku korban.” Aku mengepalkan tangan. “Aku bukan korban. Aku yang memilih jadi ini. Aku yang memilih bunuh dia.”

“Damian Kecil?”

“Dia. Aku.” Aku menghela napas, frustasi. “Apa bedanya?”

Alea diam. Matanya berpindah ke coretan di dinding, lalu ke sudut ruangan yang masih menyisakan bayangan gelap. “Dia yang menulis ini?”

Aku mengangguk tanpa sadar. “Dia menulis setiap hari. Hitung mundur. Sampai suatu hari... berhenti.”

“Kapan berhentinya?”

“Saat aku memutuskan dia harus mati.”

Aku melihat Alea menggigit bibir bawahnya. Gestur kecil yang kuperhatikan sejak malam pertama. Ia melakukannya saat sedang memikirkan sesuatu yang berat.

“Tapi dia tidak mati,” kata Alea pelan. “Dia masih ada. Aku melihatnya.”

“Kau melihat halusinasi.”

“Aku melihat anak laki-laki yang takut.”

“Itu bukan nyata.”

“Dia berbicara padaku. Dia bilang, ‘Damian dewasa jahat. Dia kunci aku di sini.’”

Aku terkesiap.

Tidak. Tidak mungkin. Damian Kecil tidak pernah bicara pada siapa pun. Selama 20 tahun, ia hanya berbisik di kepalaku, menggerogoti, mengingatkan bahwa aku pernah lemah. Tapi tidak pernah—tidak pernah—ia muncul keluar.

“Kau berbohong,” kataku, tapi suaraku tidak yakin.

“Dia bilang,” Alea melanjutkan, seolah tidak mendengarku, “‘Aku mati di sini 20 tahun lalu.’ Lalu dia ajak aku main petak umpet.”

Darahku membeku.

“Aku ikut,” Alea tersenyum kecil. Pahit. “Karena dia cuma anak kecil. Dan anak kecil tidak pantas dikurung sendirian.”

“Kau... bermain dengannya?”

“Iya. Aku sembunyi di balik lemari, dia mencari. Tapi dia tidak pernah menemukanku. Karena dia buta. Kau tahu? Damian Kecil buta di mata kirinya.”

Aku tidak sadar aku sudah berjongkok. Lututku lemas. Seluruh tubuhku dingin.

“Kau tahu dari mana?” bisikku.

“Dia cerita. Sambil memegang matanya. Dia bilang, ‘Ayah pukul pakai botol. Sakit. Tapi Damian dewasa bilang itu tidak sakit. Tapi sakit, Kak.’”

Aku memejamkan mata.

Ya. Aku ingat. Botol wiski pecah di pelipis kiri. Darah di mana-mana. Dan aku—Damian dewasa yang sudah kubentuk—memaksakan diri untuk tidak merasakan apa pun. Tidak merasakan sakit. Tidak merasakan takut. Tidak merasakan apa pun.

Tapi Damian Kecil merasakan semuanya.

Dan selama 20 tahun, ia merasakannya berulang-ulang di ruang gelap ini.

“Kau menangis,” suara Alea pelan.

Aku menyentuh pipi. Basah.

Ah. Rupanya aku masih bisa menangis.

---

POV: Alea

Aku melihat Damian—pria yang dijuluki Silent Reaper, mafia paling ditakuti se-Asia Tenggara—berjongkok di lantai ruang bawah tanah yang penuh coretan, menangis seperti anak kecil.

Dan aku tidak bisa menggerakkan kaki untuk lari.

Padahal seharusnya aku lari. Ini saat yang tepat. Pintu di belakangnya terbuka—ia menguncinya dari dalam, tapi sekarang ia lemah. Aku bisa mendorongnya, membuka kunci, kabur. Tugas Interpol bisa menunggu. Keselamatan diri lebih penting.

Tapi kakiku terpaku.

Bukan karena takut. Takut sudah hilang semenjak Damian Kecil memegang tanganku dan berkata, “Kak, Damian dewasa itu jahat. Tapi dia aku. Aku yang jahat.”

Aku takut pada Damian sejak awal. Tapi sekarang yang kulihat bukan monster. Yang kulihat adalah pria yang membunuh dirinya sendiri agar bisa bertahan hidup. Dan untuk pertama kalinya dalam 10 tahun—sejak kakakku meninggal—aku merasakan sesuatu yang lebih kuat dari ketakutan.

Iba.

Bukan iba yang merendahkan. Bukan belas kasih yang membuatku merasa lebih baik darinya. Tapi iba yang mengenali rasa sakit yang sama. Karena aku juga pernah membunuh sesuatu dalam diriku.

Saat kakakku tewas, aku bunuh Alea yang ceria. Aku bunuh Alea yang percaya dunia itu baik. Aku ciptakan Alea yang hanya percaya pada fakta, angka, dan kematian.

Kami sama.

Aku berjongkok di hadapannya. Wajah Damian tertunduk, rambut hitamnya menutupi mata. Tangannya menggenggam erat lantai berdebu, kuku-kuku putih mencakar semen.

“Damian,” panggilku lembut.

Ia tidak menjawab.

Aku meraih tangannya.

Sekejap. Panas menjalar dari ujung jari ke pergelangan—visi itu datang.

---

Gelap.

Damian berdiri di tengah ruangan yang sama, tapi ia kecil. Baju piyama biru, basah kuyup. Ia memegang tangan mayat wanita—ibu tirinya—dan tidak menangis. Hanya diam.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku.

Ia menoleh. Mata kiri buram. Mata kanan kosong.

“Aku akan bunuh dia,” katanya. “Damian dewasa. Supaya aku bisa keluar.”

“Tapi kalau Damian dewasa mati, kamu juga—”

“Aku tahu.” Ia tersenyum. Senyum anak kecil yang polos. “Tapi aku ingin kakak bahagia.”

Visi itu berubah. Damian dewasa berlumuran darah. Aku memegang pisau. Tapi Damian tersenyum. Senyum yang sama.

“Kau selamatkan aku, Lea.”

---

Visi itu memudar. Aku tersentak, napas tersengal. Damian menatapku dengan mata merah bengkak.

“Kau lihat sesuatu,” katanya. Bukan pertanyaan.

Aku mengangguk pelan. “Kau mati.”

Ia tidak terkejut. Bahkan tidak bergeming. “Kapan?”

“Tidak tahu. Tapi...” Aku menelan ludah. “Di tanganku.”

Keheningan memisahkan kami berdua.

Lalu Damian tertawa. Tawanya pecah di ruang sempit, menggema di dinding-dinding yang menyimpan 20 tahun penderitaan. Aku belum pernah mendengar tawanya sebelumnya. Suaranya pecah, sakit, seperti orang yang terlalu lama menahan sesuatu.

“Bagus,” katanya di antara tawa. “Kalau kau yang bunuh aku, setidaknya aku mati di tangan orang yang... pernah melihatku.”

Aku menggenggam erat tangannya. “Aku tidak akan bunuh kamu.”

“Kau tidak bisa melawan takdir.”

“Aku tidak percaya takdir.”

Damian berhenti tertawa. Matanya menatapku, dalam, mencari sesuatu yang mungkin tidak ia temukan di wajah orang lain.

“Kenapa kau tidak lari?” tanyanya.

“Karena kamu tidak mengunciku di sini untuk menakutiku.”

“Lalu?”

“Kamu mengunciku di sini karena kamu takut sendirian.”

Damian terdiam. Wajahnya berubah, seketika lebih muda, lebih rentan. Untuk sesaat, aku melihat Damian Kecil di balik matanya. Lalu ia menunduk.

“Aku takut gelap,” bisiknya. Suara yang sangat pelan, seperti rahasia yang tidak pernah diucapkan. “Selama 20 tahun aku takut gelap. Tapi tidak bisa bilang siapa pun. Karena Damian dewasa tidak boleh takut.”

“Sekarang tidak ada siapa-siapa,” kataku. “Cuma kita berdua.”

Damian mengangkat wajah. Di sudut matanya, genangan air mata yang tidak jatuh. Ia tidak tahu caranya melepaskan.

Jadi aku yang memulai.

Aku meraih tangannya, menariknya perlahan. Damian tidak melawan. Ia membiarkan aku memeluknya—pria besar yang gemetar seperti anak kecil, yang selama dua dekade tidak pernah disentuh dengan lembut.

“Kamu tidak sendiri,” bisikku di telinganya. “Aku juga di sini.”

Damian tidak menangis. Tapi aku merasakan bahunya bergetar. Tangannya, yang biasa membunuh tanpa ragu, kini mencengkeram punggungku seperti anak kecil yang takut dijatuhkan.

Kami terdiam di ruang hukuman itu. Di tengah coretan kapur dan aroma kematian, dua orang yang membunuh diri mereka sendiri perlahan-lahan belajar untuk bernapas.

---

POV: Damian (narasi dalam)

Aku tidak tahu berapa lama kami duduk di sana. Di lantai ruang bawah tanah yang dingin, di tempat yang sama di mana aku dulu mengubur masa kecilku.

Pelukan Alea hangat.

Aku lupa rasanya dipegang seperti ini. Sejak umur 8 tahun, tidak ada yang pernah memelukku. Ayah memukul. Ibu tiri mati. Pembantu takut. Dan aku—Damian dewasa yang kubangun—tidak mengizinkan siapa pun mendekat.

Tapi sekarang, gadis ini memelukku. Meskipun ia tahu aku monster. Meskipun ia tahu aku membunuh. Meskipun ia baru saja melihat kematianku di tangannya.

Ia tetap di sini.

“Damian,” suaranya terdengar dari dadaku. “Kita harus keluar dari sini.”

Aku menggeleng. “Aku tidak mau.”

“Tapi—“

“Di luar ada kamera. Ada Rania. Ada organisasi. Di luar aku harus jadi Damian yang tidak takut. Di luar...” Aku menelan ludah. “Di luar aku tidak boleh begini.”

Alea menarik tubuhnya, menatapku. Matanya basah. “Kamu boleh begini. Di depanku, kamu boleh jadi siapa pun.”

“Aku tidak tahu caranya.”

“Kita belajar bersama.”

Aku memandangnya lama. Ada sesuatu di dadaku yang terasa aneh. Bukan sakit. Bukan takut. Tapi seperti ada sesuatu yang mencoba keluar, sesuatu yang sudah lama terkubur.

Mungkin itu Damian Kecil. Mungkin itu aku. Mungkin tidak ada bedanya.

“Alea,” panggilku.

“Hm?”

“Terima kasih.”

Ia tersenyum. Senyum pertama yang kulihat darinya yang tidak terpaksa. “Sama-sama.”

Aku membantu Alea berdiri. Tangannya masih menggenggam erat tanganku, dan untuk pertama kalinya, aku tidak menariknya.

Kami berjalan menuju pintu. Sebelum membukanya, Alea berhenti.

“Damian.”

“Iya.”

“Damian Kecil bilang sesuatu padaku.”

Aku menahan napas.

“Dia bilang, ‘Damian dewasa tidak jahat. Dia cuma takut.’”

Aku mengerjapkan mata. “Dia... bilang itu?”

Alea mengangguk. “Dia sayang kamu. Seperti kamu sayang dia.”

Di tengah ruang bawah tanah yang gelap, di antara coretan kapur merah dan bau kematian, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sejak 20 tahun lalu.

Aku merasa utuh.

Bukan utuh seperti selesai. Tapi utuh seperti... mulai.

---

Alea membuka pintu. Cahaya lampu lorong menyilaukan, tapi aku tidak menutup mata. Aku membiarkan terang itu masuk.

“Ayo,” kata Alea, menarik tanganku.

Aku mengikuti langkahnya. Di balik pintu, di luar ruang hukuman, dunia masih sama. Mafia. Kekerasan. Dendam. Tapi ada satu hal yang berubah.

Aku tidak sendirian.

---

Cliffhanger:

Saat kami mencapai lorong utama, Rania berdiri di ujung koridor. Wajahnya pucat, matanya membesar melihat tangan kami yang saling menggenggam.

“Tuan Damian,” suaranya bergetar. “Ada tamu. Haydar datang. Ia membawa... sesuatu.”

Aku merasakan tangan Alea menegang.

“Apa yang ia bawa?” tanyaku dingin. Damian dewasa kembali. Tapi kali ini, ada yang berbeda.

Rania menelan ludah. “Ia bilang ia punya hadiah pernikahan untuk Tuan. Ibunda Tuan... masih hidup.”

Darahku membeku.

Alea menatapku, matanya penuh pertanyaan. Tapi aku tidak bisa menjawab. Karena di kepalaku, Damian Kecil berbisik untuk pertama kalinya dalam 20 tahun:

“Ayah juga masih hidup, Damian. Mereka berdua masih hidup.”

---— BERSAMBUNG —---

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!