"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. DETAK JANTUNG DI UJUNG PENA
Oksigen di dalam bangsal medis vila Inari mendadak terasa tipis, bukan karena mesinnya mati, tapi karena kengerian yang mencekik paru-paru Alana. Di depannya, monitor yang memantau kondisi Nenek Sofia berkedip-kedip tidak beraturan. Garis hijau yang melambangkan detak jantung itu mendadak berubah menjadi merah, diiringi suara peringatan yang melengking membelah kesunyian ruangan.
"Sistem terkunci! Protokol enkripsi tingkat tinggi terdeteksi!" teriak salah satu teknisi medis yang didatangkan Alexei. Jari-jarinya menari di atas papan ketik dengan panik, namun layar hanya menampilkan logo serigala perak lambang Sergei Volsky dengan jam hitung mundur yang terus berdetak.
[00:54:12]
Alana berdiri mematung di samping ranjang Neneknya. Ia menggenggam tangan wanita tua yang keriput dan dingin itu, sementara matanya menatap jam digital yang seolah sedang menghitung sisa nyawa satu-satunya keluarga yang tersisa baginya.
"Alexei..." suara Alana nyaris tak terdengar. Ia berbalik menatap Alexei yang berdiri di ambang pintu, dikelilingi oleh Mikhail dan beberapa pria bersenjata. "Lakukan sesuatu. Jangan biarkan dia membunuhnya."
Alexei melangkah mendekat. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan, melainkan kemarahan yang membeku. Ia meraih bahu Alana, mencengkeramnya dengan kekuatan yang seolah ingin menyalurkan ketangguhannya. "Mikhail, panggil 'Sandira'. Sekarang."
"Sandira?" Alana mengernyit. "Siapa dia?"
"Peretas terbaik yang pernah direkrut Bratva. Dia berada di bunker bawah tanah kita," jawab Alexei dingin. Ia kemudian menatap teknisi medisnya. "Alihkan sistem ke mode manual! Gunakan pompa udara jika perlu!"
"Tidak bisa, Tuan! Sergei menggunakan virus ransomware yang mengunci katup pneumatik mesin. Jika kita memaksa membukanya secara fisik tanpa kode dekripsi, mesin ini akan meledak dan menghancurkan paru-paru pasien," jelas teknisi itu dengan keringat dingin bercucuran.
Alana merasakan lututnya lemas. Ia menatap tumpukan dokumen aset Volskaya yang masih ia pegang di tangan kirinya. Dokumen yang baru saja ia rebut dari Vadim dengan taruhan nuraninya sendiri. Sergei tidak menginginkan perang fisik dia ingin Alana menyerah secara sukarela.
"Dia ingin aku memilih, Alexei," bisik Alana, air matanya mulai menggenang namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. "Dia ingin aku memberikan semua ini kembali padanya, atau Nenek akan mati."
Alexei merebut dokumen itu dari tangan Alana, menatapnya sejenak, lalu menatap jam yang kini menunjukkan angka [00:45:00].
"Kau tidak akan memberikan apa pun padanya, Alana," desis Alexei. Matanya berkilat dengan kegilaan yang sakit. "Aku sudah menjanjikan dunia ini padamu. Jika aku membiarkan Sergei menang hari ini, maka aku tidak layak memilikimu."
Alexei menarik Alana keluar dari bangsal medis, membawanya menuju ruang pemantau siber di lantai bawah yang tersembunyi di balik dinding baja. Di sana, seorang pria kurus dengan lusinan layar monitor di depannya sedang bekerja dengan kecepatan yang luar biasa. Itulah 'Sandira'.
"Berapa lama?" tanya Alexei tanpa basa-basi.
"Sergei menggunakan server bayangan di Cayman Island, Tuan. Sangat licin. Dia memegang kendali lewat satelit. Aku butuh koordinat fisik pemancarnya untuk memutus sinyalnya secara total," jawab si peretas tanpa menoleh.
Alana mendekat ke meja pantau. Otaknya yang cerdas mulai bekerja di tengah tekanan. "Sergei ada di kapal pesiar itu. Dia tidak akan membiarkan kendali ini lepas dari tangannya. Pemancarnya pasti ada di kapal itu, Alexei!"
Alexei tersenyum tipis, sebuah senyum predator yang haus darah. "Mikhail, siapkan tim udara. Kita tidak akan menegosiasikan nyawa Nenek Sofia. Kita akan membakar pemancarnya langsung dari sumbernya."
"Tapi Alexei, jika kau menyerang kapal itu, dia bisa langsung menekan tombol 'mati'!" Alana menahan lengan Alexei.
"Itu sebabnya kau yang akan menahannya, Alana," Alexei memegang wajah Alana, menatapnya dengan intensitas yang mengerikan. "Hubungi Sergei. Katakan kau bersedia menyerahkan dokumen itu. Buat dia merasa menang. Ulur waktu selama tiga puluh menit sementara aku dan timku mendarat di dek kapalnya."
Alana menelan ludah. Ini adalah pertaruhan nyawa paling gila yang pernah ia dengar. Ia harus berakting di depan pria selicin Sergei sementara nyawa Neneknya bergantung pada detik yang terus berjalan.
"Lakukan, Alana. Tunjukkan padaku betapa hebatnya predator yang kubentuk ini," bisik Alexei, suaranya mengandung provokasi sekaligus pemujaan yang dalam.
Sepuluh menit kemudian, Alana duduk di depan kamera komunikasi. Di layar besar di depannya, wajah Sergei Volsky muncul. Pria itu tampak sangat santai, sedang menyesap anggur merah di kabin mewahnya.
"Ah, pewaris Volskaya yang cantik," sapa Sergei dengan nada mengejek. "Jam terus berdetak, Sayang. Bagaimana rasanya melihat oksigen nenekmu menipis?"
Alana menarik napas panjang, memasang wajah yang tampak hancur dan penuh keputusasaan sebuah akting yang sempurna. "Hentikan ini, Sergei. Kau menang. Aku akan memberikan dokumennya. Aku akan menandatangani pengalihan aset ini padamu, asalkan kau memberikan kode dekripsinya sekarang."
Sergei tertawa kecil. "Kau pikir aku bodoh? Tanda tangani dulu di depan kamera ini, pindai dokumennya, dan kirim ke serverku. Begitu aku memverifikasi keasliannya, aku akan memberikan sepuluh menit oksigen tambahan sebagai tanda terima kasih. Sisanya akan kuberikan setelah aku memegang fisik dokumennya."
"Sepuluh menit tidak cukup! Nenekku butuh perawatan intensif!" teriak Alana, tangannya gemetar (sengaja ia buat demikian untuk meyakinkan Sergei).
"Maka kau harus bergerak lebih cepat, Alana," Sergei menunjuk ke arah jam di layarnya. [00:22:15].
Sambil terus berdebat dengan Sergei, Alana melirik layar kecil di bawah meja yang menunjukkan posisi GPS Alexei. Helikopter siluman milik Alexei sudah berada sangat dekat dengan koordinat kapal Sergei. Alexei akan melakukan terjun payung taktis untuk menghindari radar.
"Baiklah... baiklah," ucap Alana sambil mengambil pulpen. "Aku akan menandatanganinya. Tapi aku ingin kau berjanji... setelah ini, jangan pernah ganggu keluargaku lagi."
"Janji seorang mafia adalah emas, Alana. Kau tahu itu," Sergei tersenyum penuh kemenangan.
Alana mulai menandatangani lembar demi lembar dengan sangat lambat. Ia sengaja menjatuhkan pulpennya, berpura-pura menangis, dan menanyakan detail teknis yang tidak perlu, hanya untuk mengulur waktu. Setiap detik terasa seperti selamanya.
Tiba-tiba, di layar komunikasi Sergei, terdengar suara ledakan samar di latar belakang. Sergei mengerutkan kening, ia menoleh ke arah pintunya.
"Apa itu?" tanya Sergei waspada.
"Mungkin itu suara kehancuranmu, Sergei," ucap Alana, suaranya mendadak berubah. Isak tangisnya hilang, digantikan oleh nada dingin yang menusuk. Ia mendongak, menatap layar dengan mata yang tajam dan senyum yang meremehkan.
"Apa maksudmu?!" Sergei berdiri, ia menyambar tablet kendalinya.
"Lihat ke belakangmu," bisik Alana.
Di layar, pintu kabin Sergei hancur berkeping-keping. Alexei Dragunov masuk seperti iblis yang keluar dari neraka, senapan serbunya memuntahkan peluru ke arah pengawal Sergei. Dalam hitungan detik, Alexei sudah berada di depan Sergei, menendang gelas anggurnya hingga pecah, dan menempelkan moncong senjata yang masih panas ke dagu pria itu.
Alexei mengambil tablet kendali dari tangan Sergei yang gemetar, lalu menatap ke arah kamera di mana Alana sedang menonton.
"Aku memegang kendalinya sekarang, Alana," ucap Alexei dengan napas yang memburu namun suara yang stabil. Ia segera memberikan tablet itu pada peretasnya melalui sambungan nirkabel.
Di vila Inari, Sandira berteriak kegirangan. "Berhasil! Enkripsi diputus! Sistem medis kembali normal!"
Alana melihat layar monitor medis Nenek Sofia. Garis merah itu kembali menjadi hijau stabil. Suara peringatan itu berhenti. Neneknya selamat.
Alana menyandarkan punggungnya di kursi, seluruh tubuhnya gemetar karena kelegaan yang luar biasa. Namun, di layar besar, ia melihat Alexei sedang menjambak rambut Sergei, memaksa pria itu menatap kamera.
"Alana," panggil Alexei. Suaranya mengandung obsesi yang semakin gila. "Pria ini mencoba membunuh keluargamu. Dia mencoba merampas apa yang menjadi milikmu. Katakan padaku... apa yang ingin kau lakukan padanya?"
Alana menatap Sergei yang kini memohon ampun melalui layar. Rasa kasihan sudah lama mati dalam diri Alana. Ia teringat bagaimana pria ini tertawa saat menghitung mundur nyawa Neneknya.
"Jangan bunuh dia terlalu cepat, Alexei," ucap Alana dingin. "Bawa dia ke sini. Aku ingin dia merasakan apa yang dirasakan Vadim. Aku ingin dia menandatangani penyerahan seluruh armadanya sebelum kita membuangnya ke laut Baltik yang dingin itu."
Alexei tertawa, sebuah suara yang penuh dengan pemujaan. "Kau dengar itu, Sergei? Ratu-ku menginginkan segalanya darimu. Dan aku akan memastikan dia mendapatkannya."
Alexei mematikan sambungan komunikasi. Alana berdiri, berjalan keluar dari ruang siber menuju kamar Neneknya. Di koridor, ia berpapasan dengan cermin. Ia melihat dirinya sendiri seorang wanita yang baru saja mempertaruhkan nyawa demi kekuasaan dan keluarga, dan menang.
Namun, ada satu hal yang ia sadari. Cara Alexei menatapnya di kamera tadi... itu bukan lagi sekadar obsesi pria pada wanita. Alexei menatapnya seolah Alana adalah satu-satunya Tuhan yang ia sembah. Dan itu membuat Alana menyadari bahwa meskipun ia telah mengalahkan Sergei, ia sekarang terikat selamanya pada seorang pria yang mungkin jauh lebih berbahaya daripada semua musuhnya jika digabungkan.
Satu jam kemudian, Alexei kembali ke vila. Pakaiannya berlumuran darah, namun wajahnya tampak sangat puas. Ia segera mencari Alana dan menemukannya di bangsal medis, duduk dengan tenang di samping Nenek Sofia.
Alexei mendekat, berlutut di depan Alana, dan meletakkan kepala Sergei yang masih hidup namun dalam kondisi hancur secara simbolis di bawah kekuasaan Alana melalui laporan intelijen yang ia bawa.
"Semua sudah selesai, Alana. Sergei ada di ruang bawah tanah. Pasukannya sudah menyerah," bisik Alexei. Ia meraih tangan Alana, mencium telapak tangannya dengan penuh pengabdian. "Kau luar biasa malam ini. Kau adalah pasangan yang paling sempurna untukku."
Alana menarik tangan Alexei, membawanya ke pipinya. "Kita memenangkan pertempuran ini, Alexei. Tapi perang sesungguhnya baru saja dimulai. Karena sekarang, seluruh dunia tahu bahwa pewaris Volskaya telah bangkit, dan dia didampingi oleh Sang Tsar yang paling kejam."