Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide Berbahaya
Reina membimbing perempuan itu bukan menuju kamarnya melainkan kamar Yoga. Reina memasukkan perempuan itu ke kamar Yoga dan membaringkannya di dekat Yoga.
Wanita itu langsung tertidur. Dengan susah payah Reina menggeser tubuh perempuan itu mendekatkan dengan Yoga. Wanita itu merancau tidak jelas. Sepertinya ia sedang stress berat.
Reina meninggalkan kamar yoga dan cepat-cepat meninggalkan hotel takut ada yang melihatnya. Sampai di parkiran dia buru-buru memacu motornya kembali kerumah karena waktu sudah sore.
***
Di rumah Reina Shasa yang tadi mendapatkan pesan dari Reina pun langsung menuju rumah Reina namun sampai di rumah ternyata rumahnya kosong, motornya juga tidak ada.
Shasa menunggu dengan duduk di teras dan terus mencoba menelpon dan mengirim pesan ke Reina harap-harap di angkat atau di balas namun nihil. Shasa begitu khawatir karena Reina baru pulang dari rumah sakit.
Tidak lama terlihat Reina dari kejauhan. Shasa yang melihat pun langsung berdiri dan menghampirinya begitu Reina memarkirkan motornya.
" Dari mana sih di telpon nggak di angkat di wa juga nggak di balas." Ucap Shasa yang langsung menyerbu dengan pertanyaan.
" Hehe...abis cari nomer baru." Jawab Reina menunjukkan kartu baru ke Shasa.
" Kenapa ? Mau ganti nomer ? Atau mau nambah ?" Tanya Shasa.
" Mau ganti nomer,banyak nomer nggak jelas yang telpon akhir-akhir ini." Jawab Reina berbohong. Ia ingin menghindari pelanggan-pelanggannya salah satunya Yoga. Ia ingin berhenti bekerja zina dan ingin bekerja yang halal saja.
" Yuk masuk..." Ajaknya yang berjalan terlebih dahulu dan membuka pintu.
Shasa pun mengikuti dengan langsung mengapit tangan Reina karena ia begitu merindukan sahabatnya.
" Aku kangen banget tau, kesepian nggak ada kamu." Ucap Shasa.
" Lebay...." Cibir Reina sambil melihat wajah Shasa yang cemberut." Besok aku masuk sekolah kok,mau nyusul ulangan kalau masih bisa." Ucap Reina mengambil air minum dan meminumnya.
" Mau minum apa aku buatin ?" Tanya Reina menawarkan minum. " Atau jus masih ada ni 2 kotak." Ucap Reina menyodorkan 2 kotak jus jambu.
" Ini aja lah." Ucap Shasa menerima 1 kotak jus jambu.
" Nanti nginep aja ya,kamu bawa baju seragam nggak buat besok ?" Tanya Reina.
" Bawa lah,tuuuu..." Ucap Shasa yang menunjuk dengan dagunya ke tas ransel agak besar yang berada di kursi.
" Sippp lah,mau makan sekarang atau nanti ? Tadi di beliin Tante Rita nggak tau apa aja aku juga belum buka." Ucap Reina memperlihatkan paperbag yang berada di meja makan.
Dia membuka satu persatu paperbag itu,Shasa juga membantu karena penasaran apa saja yang di belikan mama cowok ganteng itu.
" Eh Re,kamu punya temen cowok ganteng dan tajir kok nggak kenalin ke aku sih." Ucap Shasa yang ingat karena saat di rumah sakit ia tidak bertanya.
" Oh Kak Bramasta maksut kamu ?"
" Ya iyalah emang temen cowok kamu yang ganteng dan tajir banyak ?" Tanya Shasa heran.
" Ya kayak kak Ryan kan juga ganteng dan tajir neng." Ucap Reina santai.
" Itu beda,kalau itu aku kan udah kenal." Ucap Shasa memutar bola matanya malas.
" Hehe...ntar lah aku ceritain... sekarang aku laper liat tu ada lobster asam manis." Reina menunjuk 1 kotak besar berisi lobster.
" Waaahhhh Ayuk lah gassss..." Ucap Shasa berbinar dan langsung berdiri mencuci tangannya.
Reina mengambil 2 piring dan membawanya ke meja makan. Shasa dan Reina mulai makan lobster itu setelah Reina memotong-motongnya.
" Enaknya punya temen orang kaya ya,beliin makanan mahal." Cerocos Shasa sambil memakan kaki lobster itu.
" Udah deh kalau makan jangan ngomong Mulu ntar keselek Lo." Ucap Reina.
Shasa hanya meringis dengan tangan yang belepotan karena makan memakai tangan. Setelah kenyang mereka menyudahi makan lobsternya,masih ada begitu banyak makanan seperti steak daging,rice bowl dan ayam teriyaki.
" Ini makan malam apa makan siang ya ?" Gumam Shasa meminum air putih.
" Makan sore lah,kan baru pukul 4 sekarang" Ucap Reina.
" Ntar makan lagi ya sekarang kita istirahat dulu,atau mau ngemil ?" Tanya Reina saat sedang mencuci piring dan menutupi makanan yang di meja makan.
" Ngemil juga boleh." Jawab Shasa yang masih duduk di meja makan memperhatikan Reina.
Selesai mencuci piring Reina mengambil beberapa camilan yang ada di lemari bawah meja dapur.
" Mau ngobrol di mana ? Di kamar apa di ruang tamu ?" Tanya Reina.
" Di kamar aja sambil tiduran." Jawab Shasa yang berjalan duluan masuk ke kamar Reina. Reina menggelengkan kepalanya karena tingkah Shasa.
***
Di kamar Bramasta yang masih terlelap setelah meminum obat harus terganggu dengan panggilan telepon dan banyaknya pesan masuk.
Mau tidak mau dia bangun dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Ia melihat siapa yang menelepon. Tertera nama Hendy di layar ponselnya.
' Iya hen,ada apa ?' Tanyanya.
' ....'.
' Apa tidak bisa di undur besok hen ? Kepalaku sakit banget sekarang '.
'....'.
' Ucapkan permintaan maafku ya...ya.' Ucap Bramasta lalu menutup panggilan teleponnya.
Dia menghela nafas panjang karena masalah di kantor. Ia begitu pusing saat ini apalagi harus memikirkan masalah nenek Reina juga yang sedang koma di rumah sakit karena ia yang bertanggung jawab.
Bramasta mengecek pesan yang masuk,ia mengernyit saat ada nomer baru yang mengirim pesan. Saat ia membuka ia tersenyum karena tau kalau itu Reina.
[ New number : Kak aku Reina,ini nomerku yang baru ya kak tolong di simpan dan yang lama tolong di hapus...beri tau sama Tante Rita ya kalau aku ganti nomer ].
Bramasta pun membalas pesan dari Reina dengan tersenyum-senyum sendiri.
***
Reina yang mendapatkan balasan dari Bramasta pun langsung membukanya dengan tangan kiri karena tangan kanannya sedang memakan camilan yang ia bawa tadi.
Reina dan Shasa sedang belajar pelajaran kimia untuk ulangan besok. Keduanya sama-sama belajar dengan mengemil dan sesekali bermain ponsel.
[ Kak Bramasta : iya,kenapa ganti nomer ? apa fans kamu semua menerormu ? ] Isi pesan Bramasta dengan emoticon tertawa.
[ Reina : iya kak...jadi aku ganti. Tumben kakak nggak sibuk ni kok udah pegang hp ? ] balas Reina.
[ Kak Bramasta : lagi nggak enak badan ni jadi pulang lebih cepat] balas Bramasta.
[ Reina : sakit apa kak?].
[ Kak Bramasta : biasa pusing aja nanti juga sembuh sendiri kok].
[ Reina : udah makan dan minum obat ? ] .
[ Kak Bramasta: udah kok,kamu sendiri udah makan belum ?].
[ Reina : udah tadi makan sore kak...hehe ].
[ Kak Bramasta : ok...nanti makan lagi biar badannya gemoy...haha].
[ Reina : nggak ah ntar jelek nggak ada yang mau kalau gemuk...lagian susah ntar jalannya bawa badan berat...hehe].
[ Kak Bramasta : ya ada lah kan jodoh sudah di atur...masak iya Sampek susah jalan ].
Mereka berdua terus bertukar pesan sambil senyum-senyum sendiri. Shasa memperhatikan temannya yang senyum-senyum sendiri dengan bingung juga penasaran.
--->>>