Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Siang itu, rumah besar keluarga Mahendra kedatangan tamu penting.
Sebuah mobil hitam berhenti di halaman depan. Dua orang pengawal turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang dengan gerakan rapi. Dari dalam mobil, seorang pria paruh baya melangkah keluar.
Namanya Hendra Wiranata.
Berbeda dari Surya Mahendra yang membawa wibawa pengusaha besar, Hendra memiliki aura orang yang terbiasa bermain di balik meja. Wajahnya bersih, rambutnya rapi, kemejanya mahal, dan senyumnya tenang. Ia bukan tipe orang yang mengancam dengan suara keras.
Orang seperti Hendra lebih berbahaya.
Ia bisa membuat seseorang kehilangan tanah tanpa pernah menyentuh cangkul. Bisa membuat orang miskin dianggap melanggar aturan hanya karena satu tanda tangan. Bisa membuat kesalahan kecil menjadi kasus besar jika itu menguntungkan pihaknya.
Surya Mahendra menyambutnya di ruang pertemuan pribadi.
Di ruangan itu sudah ada Reza, Bram, dan Hei Yan.
Hendra Wiranata sempat menatap Hei Yan beberapa detik. Matanya menyipit sedikit. Sebagai orang yang sudah lama bermain dengan banyak jenis manusia, Hendra langsung tahu sosok berjubah hitam itu bukan orang biasa.
Namun ia tidak bertanya.
Orang cerdas tahu kapan harus pura-pura tidak melihat.
Surya mempersilakannya duduk.
“Terima kasih sudah datang secepat ini.”
Hendra tersenyum tipis.
“Kalau keluarga Mahendra memanggil dengan nada mendesak, biasanya ada dua kemungkinan. Masalah besar, atau keuntungan besar.”
Surya membalas tenang, “Kali ini dua-duanya.”
Hendra duduk, lalu meletakkan map kulit di meja.
“Siapa targetnya?”
Reza langsung menjawab sebelum Surya bicara.
“Raka Pratama.”
Hendra menoleh kepadanya.
“Nama itu mulai terdengar sejak pagi. Anak muda dari pinggiran kota, bukan?”
Surya mengangguk.
“Dia mulai mengganggu urusan tanah, preman lapangan, dan beberapa titik yang sedang kami amankan.”
Hendra membuka map kosongnya.
“Masalah seperti itu biasanya mudah. Cari pelanggaran kecil, besar-besarkan, lalu tekan sampai dia mundur.”
Reza tersenyum puas.
“Bagus. Itu yang kita butuhkan.”
Namun Surya tidak langsung setuju.
“Raka tidak mudah ditekan dengan cara biasa.”
Hendra mengangkat alis.
“Seberapa tidak biasa?”
Bram yang berdiri di belakang tidak sengaja menunduk lebih dalam.
Hei Yan tersenyum kecil dari sisi ruangan.
“Cukup tidak biasa sampai orang-orang yang mengawasinya pulang dengan tanda di dada.”
Hendra menatap Hei Yan.
“Tanda?”
Surya berkata, “Kau tidak perlu memahami semua detail. Yang perlu kau tahu, kekerasan biasa belum berhasil. Jadi kita memakai jalur yang lebih rapi.”
Hendra mengangguk pelan.
“Siapa orang dekatnya?”
Reza meletakkan beberapa foto di atas meja.
Pak Harun.
Bu Lestari.
Dimas.
Fadil.
Hendra menatap foto-foto itu satu per satu.
“Orang tua pemilik warung kopi. Pedagang pasar. Teman dekat. Anak kecil.”
Bram merasa dadanya tidak enak begitu melihat foto Fadil di meja.
Surya memperhatikan ekspresi Hendra.
“Kita tidak menyentuh anak kecil.”
Hendra tersenyum.
“Aku juga tidak menyarankan itu. Anak kecil terlalu mudah memancing simpati publik. Tapi orang tua pemilik warung dan pedagang pasar? Mereka mudah diatur.”
Reza bertanya, “Caranya?”
Hendra mengambil foto Pak Harun.
“Warung kopi ini punya izin usaha lengkap?”
Bram menjawab pelan, “Sepertinya tidak, Pak. Warung kecil biasa.”
Hendra meletakkan foto itu.
“Bagus. Kita bisa mulai dari sana. Pelanggaran izin, dugaan memakai lahan yang akan masuk proyek pelebaran jalan, laporan keributan, gangguan ketertiban.”
Lalu ia mengambil foto Bu Lestari.
“Pedagang pasar. Bisa dibuat laporan memakai lapak tanpa izin, menolak relokasi, atau menunggak retribusi.”
Reza tersenyum semakin lebar.
“Jadi mereka bisa ditutup?”
“Bukan langsung ditutup,” jawab Hendra. “Ditekan dulu. Dipanggil. Dibuat takut. Dibuat merasa sumber masalah mereka adalah Raka.”
Surya menatapnya.
“Kau ingin membalik orang yang dilindungi Raka agar menjauh darinya?”
Hendra tersenyum halus.
“Orang kecil biasanya tidak takut pada kebenaran. Mereka takut kehilangan tempat makan.”
Ruangan hening sebentar.
Bram menunduk.
Kalimat itu terdengar ringan dari mulut Hendra, tapi di telinga Bram, itu terdengar seperti pisau. Ia tahu orang kecil seperti Pak Harun dan Bu Lestari memang bisa hancur hanya karena dipersulit.
Hei Yan tampak menikmati pembicaraan itu.
“Menarik. Kalian manusia punya cara menyiksa yang tidak membutuhkan darah.”
Hendra meliriknya sebentar, lalu tersenyum sopan.
“Darah menarik perhatian. Surat jauh lebih bersih.”
Surya mengetuk meja pelan.
“Lakukan dengan cepat. Tapi jangan terlalu besar dulu. Aku ingin melihat reaksi Raka.”
Hendra mengangguk.
“Sore ini Pak Harun bisa dipanggil oleh petugas. Besok pagi lapak Bu Lestari bisa diperiksa. Kalau Raka bergerak kasar, kita jadikan dia pelaku intimidasi.”
Reza tertawa pendek.
“Akhirnya kita main di medan yang tidak bisa dia hajar seenaknya.”
Hei Yan menatap Reza dengan senyum tipis.
“Kau masih yakin dia tidak bisa?”
Reza terdiam.
Surya menatap Hendra.
“Siapkan semuanya.”
Hendra menutup mapnya.
“Anggap selesai.”
Sementara itu, Raka sedang berada di warung kopi Pak Harun.
Warung itu sudah kembali dibuka meski beberapa meja masih terlihat bekas perbaikan. Pak Harun berdiri di balik meja, menuangkan kopi seperti biasa. Beberapa pelanggan duduk lebih sepi dari hari-hari sebelumnya. Mereka masih membicarakan kejadian malam lalu, tapi tidak berani terlalu terang-terangan.
Raka duduk di pojok.
Dimas duduk di depannya sambil memakan gorengan.
“Ka,” kata Dimas dengan mulut hampir penuh, “aku makin yakin hidupmu sekarang tidak sehat.”
Raka menatapnya datar.
“Baru sadar?”
“Dari dulu hidupmu memang tidak sehat. Tapi sekarang levelnya sudah naik. Dulu paling masalahmu uang makan. Sekarang orang-orang aneh, preman, keluarga kaya, terus kabarnya ada orang berjubah juga.”
Raka tidak menjawab.
Dimas mencondongkan tubuh.
“Aku tidak minta kau cerita semuanya. Tapi minimal kasih tahu, aku harus siap-siap kabur ke mana kalau ada makhluk aneh muncul dari got?”
Pak Harun yang sedang menuang kopi melirik.
“Mulutmu itu, Dim.”
Dimas mengangkat tangan.
“Pak, saya serius. Zaman sekarang apa saja bisa muncul.”
Raka menatap kopi di depannya.
“Sementara ini, jangan jauh-jauh dari tempat ramai.”
Dimas berhenti mengunyah.
“Lah. Itu jawaban serius?”
Raka mengangguk.
Dimas langsung menelan gorengan dengan susah payah.
“Ka, kalau kau jawab serius begitu, aku malah takut.”
Pak Harun mendekat dan meletakkan segelas kopi di meja Raka.
“Kau juga harus hati-hati. Dari tadi ada dua orang berpakaian rapi bolak-balik melihat warung.”
Raka mengangkat wajah.
“Di mana?”
Pak Harun menunjuk pelan ke arah luar.
Di seberang jalan, dua pria berdiri dekat mobil putih. Mereka berpakaian rapi, bukan preman. Salah satu memegang map. Yang lain memotret bagian depan warung dengan ponsel.
Mata Dewa Raka bergerak.
Aura mereka abu-abu, bercampur merah tipis.
Bukan niat membunuh.
Bukan niat menyerang fisik.
Tapi ada niat menekan.
Sistem berbicara.
[Jejak administratif.]
[Target: Harun.]
[Hubungan: Wiranata.]
Raka menatap mereka beberapa detik.
“Jadi mereka mulai memakai surat.”
Dimas mengerutkan kening.
“Surat apa?”
Belum sempat Raka menjawab, dua pria itu menyeberang dan masuk ke warung.
Suasana langsung berubah.
Pelanggan lain menoleh.
Salah satu pria membuka mapnya.
“Selamat siang. Kami dari bagian penertiban wilayah. Pemilik warung ini Bapak Harun?”
Pak Harun tetap tenang.
“Saya.”
Pria itu mengeluarkan beberapa lembar kertas.
“Kami menerima laporan bahwa warung ini berdiri di area yang sedang dalam pengawasan proyek pelebaran jalan. Selain itu, ada laporan keributan, perusakan fasilitas, dan gangguan ketertiban umum.”
Dimas langsung berdiri.
“Loh, yang bikin rusuh itu preman! Bukan Pak Harun!”
Pria itu menatap Dimas dingin.
“Kami tidak sedang berbicara dengan Anda.”
Dimas hendak membalas, tapi Raka mengangkat tangan sedikit.
Dimas langsung menahan diri, meski wajahnya masih panas.
Pak Harun mengambil surat itu dan membacanya pelan. Wajahnya tidak banyak berubah, tapi Raka bisa melihat tangan pria tua itu sedikit mengencang.
Warung kecil ini bukan sekadar tempat usaha.
Bagi Pak Harun, ini tempat hidup.
Pria pembawa map melanjutkan, “Bapak diminta hadir sore ini untuk klarifikasi. Jika tidak hadir, warung ini bisa dikenakan tindakan sementara.”
Pak Harun menatapnya.
“Tindakan sementara itu maksudnya ditutup?”
“Kami mengikuti prosedur.”
Dimas mendengus.
“Prosedur pesanan siapa?”
Pria itu menatap Dimas.
“Hati-hati bicara.”
Raka berdiri.
Tidak cepat.
Tidak kasar.
Namun begitu ia berdiri, udara di dalam warung berubah.
Dua pria berpakaian rapi itu langsung menegang.
Mereka mungkin tidak tahu detail tentang Raka.
Tapi tubuh mereka merasakan sesuatu.
Raka berjalan mendekat dan mengambil surat dari tangan Pak Harun. Ia membacanya sekilas.
Bahasanya rapi.
Isinya dibuat seolah resmi.
Namun Mata Dewa melihat lapisan lain.
Nama Hendra Wiranata muncul samar di balik dokumen itu, seperti noda yang tidak bisa disembunyikan.
Raka menatap dua pria itu.
“Siapa yang menyuruh kalian membawa surat ini?”
Pria pembawa map mencoba tenang.
“Kami menjalankan tugas.”
Raka menatapnya lebih dalam.
“Aku tidak bertanya tugas. Aku bertanya siapa.”
Pria itu mulai berkeringat.
“Kalau ada keberatan, silakan datang ke kantor.”
Raka tersenyum tipis.
“Bagus.”
Dua pria itu tampak sedikit lega karena mengira Raka akan mengikuti prosedur.
Namun Raka melipat surat itu dan memasukkannya ke saku jaket.
“Aku akan datang.”
Pak Harun langsung berkata, “Raka, ini urusanku.”
Raka menoleh.
“Karena mereka menyeret Bapak untuk menekanku, ini urusanku juga.”
Pak Harun terdiam.
Dimas mengangguk cepat.
“Nah, itu benar. Tapi kita datang baik-baik, kan?”
Raka menatap dua pria itu.
“Tergantung mereka.”
Dua pria itu tidak berani membalas.
Pria pembawa map berkata kaku, “Klarifikasi jam empat sore.”
Raka mengangguk.
“Aku tahu.”
Mereka segera pergi.
Begitu dua pria itu keluar, Dimas langsung duduk lagi, tapi wajahnya tegang.
“Ka, ini beda. Kalau preman bisa kau bikin berlutut, tapi kalau surat begini gimana?”
Raka duduk kembali.
“Surat ditulis orang.”
Dimas menatapnya.
“Terus?”
Raka mengambil kopinya.
“Kalau suratnya busuk, cari orang yang menulisnya.”
Dimas terdiam.
Pak Harun menatap Raka dengan khawatir.
“Jangan sampai kau membuat masalah lebih besar.”
Raka menatapnya.
“Masalahnya sudah besar sejak mereka memakai nama Bapak.”
Pak Harun tidak menjawab.
Ia tahu Raka tidak akan mundur.