Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan Azalia.
Bagi Gavin, menyelesaikan masalah dengan Marta adalah yang utama. Dia berdalih bahwa ada urusan penting dan meninggalkan Azalia.
Laki-laki itu kemudian memilih langsung pergi.
Beberapa hari ini Gavin terpaksa bekerja lebih cepat, memindahkan jadwal-jadwal pertemuan yang sudah ditentukan agar bisa segera pulang menemani sosok menggemaskan yang beberapa hari terakhir ini mengganggu pikiran.
Saat tadi melihat Azalia hampir tertabrak mobil, jantungnya terasa hampir lepas. Tidak bisa dia gambarkan perasaannya.
Gavin tahu siapa yang ada di balik kemudi mobil tadi. Dia tak ingin membuang waktu untuk segera menangkap wanita jahanam itu.
Entah bagaimana perasaan Azalia jika tahu, orang yang ingin menabraknya adalah ibunya sendiri.
Memikirkan itu saja, Gavin sakit hati.
Sungguh, sulit dipercaya, wanita jahat seperti itu, bisa melahirkan putri yang begitu sabar. Tak peduli dengan itu, Gavin bertekad untuk menyelesaikan masalah dengan wanita yang tak berhenti mengganggu istrinya hari ini juga.
Tak perlu mencari tahu di mana wanita itu berada, karena pesan anak buahnya masuk tak lama setelah dia keluar dari rumah.
Gavin segera menuju rumah Marta, menaiki bentley hitam miliknya. Saat tiba di sana, mobil yang hampir menyambar tubuh kecil istrinya, terparkir di beranda rumah, sepertinya Marta buru-buru keluar dari mobil, hingga memarkirkan sembarangan.
Wajah Marta memucat, antara takut dan terkejut akan kedatangan Gavin. Bola matanya melebar saat lengannya ditarik paksa dengan cengkraman tangan yang begitu kuat hingga lengannya terasa sakit oleh dua laki-laki yang merupakan anak buah Gavin.
"Lepaskan!"
"Brengsek!"
"Lepas!"
'Plak!'
'Plak!'
'Plak!'
'Plak!'
Marta memekik beberapa kali, setiap tamparan yang di terima seperti akan mencabut nyawanya. Wanita itu bersimpuh dengan wajah bersimbah air mata. Tak ada seorangpun yang menolongnya. Sedangkan Gavin begitu marah tak peduli Martha memohon dan menangis.
Martha tergeletak penuh luka di lantai dan hampir tak sadarkan diri. Tapi satu dari mereka menyiramkan air ke wajahnya yang seketika membuatnya tersentak.
Tubuhnya di tarik duduk, penampilannya sangat mengenaskan.
Wajahnya di paksa menghadap Gavin. Seluruh tubuhnya seperti remuk tak bertenaga.
Dia tidak di rumah seorang diri. Tapi tak satu pun ada yang berani mendekat.
Para pelayan, menjauh dari kamarnya, seakan takut jika Gavin melihat kehadiran mereka, nasibnya akan sama seperti dang Nyonya.
"Sekali lagi kamu ganggu istriku, aku benar-benar akan menghancurkan mu. Camkan itu!" Ancamnya tajam.
Gavin bangkit dan pergi tanpa menoleh lagi.
Marta di hempas kasar, tubuhnya yang terkapar di lantai kamar itu masih tertawa melihat Gavin lambat laun pergi dan menjauh dari sana. Marta tahu omongan Gavin bukan sebuah ancaman belaka, kini bahkan dia merasakan beberapa bagian tubuhnya mengalami patah tulang. Sekujur tubuhnya terasa kebas dan sakit. Punggungnya bahkan tak mampu digerakkan.
Kemarahan membabi buta Gavin malam itu sungguh sebuah bukti tak terbantahkan. Laki-laki hanya bersikap demikian pada seseorang yang dicintainya.
"Pak Abu, apa dia pemeran utama wanitanya?" Azalia sedang duduk menonton drama, dan kali ini ditemani oleh Abu, karena perawatnya sedang mandi.
"Bukan, Nyonya. Dia orang ketiga yang berniat menyakiti pemeran utama wanita."
"Apa yang diharapkan dari laki-laki beristri? Kenapa dia mau merebut kebahagiaan orang lain? Sedangkan dia cantik, dan bisa memilih lelaki di luar sana secara bebas."
Kalimat itu muncul begitu saja, Azalia sendiri tidak sadar bisa mengatakan itu.
Sementara Gavin yang baru datang, ikut mendengar kata-kata Azalia. Gavin berdiri diam diambang pintu, matanya menatap istrinya. Tidak ada reaksi, tidak ada perubahan ekspresi. Abu yang pertama kali menyadari kehadirannya.
Sampai akhirnya.....
Gavin mendekat, menggantikan peran Abu, menemani Azalia menonton.
Azalia menoleh pada Gavin. "Kau sudah kembali?" tanya Azalia dengan wajah yang seketika berubah murung.
Gavin berusaha meredam amarah sedari tadi, di depan Azalia, dia tidak boleh menampakkan wajah kejinya.
"Gavin, untuk kejadian tadi... Aku sungguh minta maaf." Azalia masih mengingat bagaimana wajah khawatir Gavin, apa pun itu tentang lelaki itu, otak Azalia seakan normal.
Dia juga sengaja tidak tidur. Agar dia tidak melupakan begitu saja, kejadian yang membuat jantungnya berdegup kencang. Dia takut kalau tidur, maka kejadian tadi akan segera terhapus dari memorinya.
Untuk itu dia sengaja menunggu Gavin sampai pulang. Ia ingin meminta maaf dengan pria itu. Meskipun itu bukan mutlak kesalahannya, tapi Azalia tidak ingin membuat Gavin kerepotan karenanya.
Setiap mengingat wajah khawatir Gevin padanya, air mata Azalia akan terjatuh dengan sendirinya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ada yang takut kehilangan sosoknya.
Gavin menangkap wajah gadis itu dan mempertemukan mata mereka. Dia dapat merasakan kalau istrinya sungguh-sungguh ketakutan. Pelupuk mata yang digenangi air mata menghalangi gadis itu untuk melihat bahwa kemarahan suaminya bukan ditunjukkan padanya.
"Jangan menangis, itu bukan salahmu." Minta Gavin lembut. Dia mengusap air mata yang masih setia membasahi kedua pipi istrinya.
Gavin menatap Azalia yang tak berhenti meremas jari jemarinya hingga memerah, dia juga menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. Terdorong oleh perasaan ingin menghentikan ketakutan istrinya, Gavin meraup tubuh mungil gadis itu dalam pelukan. Gavin bisa merasakan tubuh Azalia menegang dan suara menahan napas yang terdengar nyaring di telinga saat tubuh mereka menempel. Satu tangannya masih setia menepuk punggung Azalia, sedangkan satu tangan Gavin naik mengelus puncak kepalanya.
"Aku memintamu istirahat, kenapa malah menonton drama?" Gavin berbisik lembut.
"Maaf. Aku tidak ingin menjadi beban untukmu." Cicit gadis itu dalam pelukan suaminya.
Terdengar decakan pelan lolos dari bibir Gavin. "Dulu kita memang tidak dekat, sebelum mengenal satu sama lain. Sekarang tidak bisakah kau menganggap ku sebagai keluarga? Aku ingin menjadi suami yang selalu ada untukmu." Pintanya bersungguh-sungguh.
Tak ada jawaban, selama beberapa waktu. Gavin melonggarkan pelukan di tubuh istrinya karena tak mendapatkan jawaban. Bukannya jawaban yang didapatkan, saat melerai pelukan itu, Gavin menemukan Azalia yang juga menatapnya.
Azalia mengangkat jari jemarinya. Jemari dari tangan mungil itu meraba rahang tegasnya. Laki-laki itu menegang, seolah ada aliran listrik kecil yang mengaliri sekujur tubuh dari ujung kaki hingga kepala saat Azalia menyentuhnya. Gavin rasanya seperti sedang diuji, saat merasakan hangat tubuhnya, ujung hidungnya yang bisa merasakan kulit wajah Azalia dan jemari kecil itu meraba rahangnya dengan pelan.
Ini bukan pertama kalinya ada perempuan yang menyentuh Gavin dan sentuhan kecil tangan mungil istrinya pada rahangnya tak ada apa-apanya dibandingkan segala kemesraan yang pernah dia lakukan dengan kekasih-kekasihnya terdahulu atau dengan Renata, tapi dia belum pernah setegang seperti saat ini. Gavin bahkan tak segugup ini saat pertama kali memiliki kekasih atau pada kencan hari pertamanya.
kamu cantik,msh bisa mendapatkan laki² yg lbh baik. bkn suami org.
Bagus sih si Marta di kasih hukuman, lagian mau mencelakai anak kandungnya sendiri. Apalagi orang yang mau di celakai istri seorang Gavin.
Ibu macam apa kamu, mau mencelakai anak kamu sendiri