NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat di celah pagar

Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar Agnesa, menyinari partikel debu yang menari-nari di udara. 

Agnesa duduk di depan cermin riasnya yang besar, menatap pantulan dirinya sendiri. 

Wajahnya tampak pucat, kontras dengan kemeja tidur sutra berwarna biru tua yang ia kenakan. 

Di atas meja rias, di samping botol-botol parfum yang tertata rapi, terdapat buku catatan hitam yang sobek punggungnya—benda yang ia bawa pulang kemarin.

​Agnesa meraih kuas rias, bukan untuk menggunakannya, tapi untuk menyentuh permukaan cermin.

​Ting.

​Ujung kuas beradu dengan kaca. Agnesa menarik napas panjang. Ia teringat suara pintu yang dibanting Mahendra, suara motor Naren yang menjauh, dan rasa dingin dari botol susu stroberi yang kini sudah ia buang ke tempat sampah dapur.

​Tok... tok... tok...

​"Nes? Sudah bangun? Mama sudah buatkan sarapan," suara lembut namun tegas milik ibunya terdengar dari balik pintu kamar.

​"Sudah, Ma. Lima menit lagi turun," jawab Agnesa.

Kamar itu terasa terlalu sunyi. 

Tidak ada suara radio, tidak ada kicauan burung, hanya desah napas Agnesa sendiri. 

Ia berdiri, membiarkan kuas rias jatuh ke lantai dengan suara tak. 

Ia berjalan menuju lemari, memilih pakaian dengan gerakan mekanis. 

Tidak ada emosi di wajahnya, hanya fokus pada presisi—letak kancing kemeja, lipatan rok, dan cara ia mengikat rambut. 

Ruangan itu terasa seperti museum; segala sesuatu berada di tempat yang semestinya, tidak ada yang bergeser satu milimeter pun sejak ia lahir.

​Agnesa turun ke lantai bawah. 

Ruang makan keluarga Anabella luas, dengan meja kayu mahoni yang panjang. 

Ayah Agnesa duduk di ujung meja, sedang membaca koran digital di tabletnya. Ibunya sibuk menata piring.

​"Hari ini ada kegiatan OSIS lagi?" tanya sang ayah tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet.

​Agnesa menarik kursi dan duduk. "Ada rapat evaluasi tambahan, Yah."

​"Jangan terlalu diforsir. Prestasi akademik tetap nomor satu," imbuh ibunya, meletakkan secangkir teh panas di depan Agnesa. 

Tak. 

"Kamu kelihatan lelah. Apa tidurmu tidak nyenyak?"

​Agnesa menatap teh yang masih mengepul.

 "Hanya sedikit banyak pikiran, Ma."

​"Pikiran soal apa? Masalah di sekolah?"

​Agnesa tidak menjawab. Ia menyesap tehnya. Terasa panas di lidah, sebuah sensasi yang nyata di tengah dunianya yang terasa seperti simulasi.

Agnesa memotong roti panggangnya menjadi bagian-bagian yang sama presisinya.

Ia tidak memakan semuanya, hanya satu bagian kecil.

Ayahnya melirik ke arah piring Agnesa, lalu kembali ke tabletnya.

Agnesa meletakkan pisau di atas piring dengan bunyi klotak.

Ibunya mengamati tangan Agnesa yang tidak sengaja menyentuh pinggiran piring, jarinya sedikit tergores oleh permukaan piring yang keras.

Agnesa tidak menarik tangannya; ia membiarkan jarinya tetap di sana, di dekat pinggiran piring yang tajam.

​"Oh, ya. Tadi Pak Jaka bilang ada seseorang yang sering lewat depan pagar rumah kita belakangan ini," kata sang ayah tiba-tiba.

​Agnesa berhenti mengunyah. "Siapa?"

​"Entah. Anak sekolah mungkin? Pak Jaka bilang dia sering berdiri di sana pas malam hari, cuma diam, lalu pergi lagi kalau sudah lewat jam sepuluh."

​Jantung Agnesa berdetak satu kali lebih keras di balik tulang rusuknya. 

Ia menatap ke arah jendela ruang makan yang menghadap ke jalan depan rumah. 

Kosong. Hanya ada deretan pot bunga anggrek yang tertata rapi.

​"Mungkin cuma orang lewat, Yah," jawab Agnesa datar.

​"Mudah-mudahan saja. Keamanan lingkungan ini harus tetap dijaga."

​Agnesa mengangguk. Ia menyelesaikan sarapannya dengan cepat, lalu berdiri. "Aku ke atas sebentar, mau ambil buku."

Agnesa menaiki tangga dengan langkah yang tidak berisik.

Sesampainya di kamar, ia tidak mengambil buku.

Ia justru berjalan ke jendela kamarnya dan mengintip dari balik celah gorden.

Jalanan di depan rumahnya tampak tenang, hanya ada tukang sayur yang lewat dengan motornya. 

Ting... ting...

Agnesa meremas gorden itu di tangannya sampai kainnya melilit jarinya dengan kuat.

Ia tidak tahu apa yang ia cari—atau siapa yang ia cari.

Kenapa aku menunggu? Kenapa aku merasa kalau dia akan ada di sana, berdiri di bawah lampu jalan, dengan seragam yang berantakan dan tatapan yang tidak bisa kubaca? Ini tidak logis.

 Ini tidak sesuai dengan jadwal yang kubuat di buku catatan hitam itu. Dan lagi, buku itu... kenapa aku tidak membuangnya saja ke tempat sampah seperti botol susu itu? Apa aku memang sebodoh itu?

​Agnesa melepaskan gordennya. 

Ia berjalan kembali ke meja rias, meraih buku catatan hitam itu. Ia membukanya, melihat kembali halaman yang tertempel noda susu.

​"Nes?"

​Agnesa terlonjak. Ibunya berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan alis bertaut.

​"Kamu bicara sendiri?"

​Agnesa menutup buku itu dengan cepat.

 "Tidak, Ma. Hanya... mengulang hafalan materi untuk ujian."

​Ibunya menatap Agnesa dengan tatapan menyelidik. 

"Kamu tidak pernah mengulang hafalan di kamar. Kamu selalu di ruang belajar."

​Agnesa terdiam. "Hari ini beda."

Ibunya melangkah masuk ke dalam kamar, mendekati meja rias.

Agnesa menggeser buku catatan hitam itu hingga tertutup oleh tumpukan buku pelajaran kimia.

Ibunya berhenti tepat di sampingnya, matanya menatap cermin, bukan menatap Agnesa secara langsung.

"Kamu tahu kan, Agnesa, keluarga kita punya reputasi yang harus dijaga? Apapun yang terjadi di luar sana, jangan bawa masuk ke rumah ini."

Agnesa tidak menoleh. Ia menatap pantulan ibunya di cermin.

Ia mengangguk sekali, sangat pelan, hampir tidak terlihat.

Ibunya menepuk bahunya, lalu berbalik keluar. 

Tap... tap... tap...

​Setelah pintu tertutup, Agnesa merosot ke kursi riasnya. Ia memegang dadanya yang terasa sesak.

​Tok... tok... tok...

​Pintu kamar diketuk lagi.

​"Ya?" sahut Agnesa.

​"Non, ini Pak Jaka," suara driver mereka terdengar dari luar. 

"Tadi di depan gerbang ada surat yang nyangkut di celah pagar. Kayaknya punya Non."

​Agnesa bangkit dari kursinya, berjalan menuju pintu, dan membukanya. 

Pak Jaka memberikan sebuah amplop cokelat kecil yang tampak agak basah karena sisa hujan semalam.

​"Terima kasih, Pak."

​Agnesa menutup pintu dan menguncinya.

 Ia duduk di lantai di balik pintu, tangannya gemetar saat membuka amplop tersebut. 

Di dalamnya, tidak ada surat. Hanya ada sebuah potongan kertas kecil yang sobek dari buku catatan yang sama dengan miliknya—buku catatan hitam.

​Di kertas itu, hanya ada satu kata yang ditulis dengan pulpen tinta hitam yang tajam: Ubur-ubur.

​Agnesa tertawa kecil. Tawa yang keluar tanpa direncanakan, suara yang terdengar aneh dan tidak biasa di kamarnya yang hening.

 Ia menyandarkan punggungnya ke pintu, memegang kertas itu dengan erat.

​"Bodoh," gumamnya pada diri sendiri, tapi senyum tipis—satu-satunya hal yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun—muncul di sudut bibirnya.

Agnesa memutar-mutar kertas itu di antara jari-jarinya.

Ia berdiri, berjalan ke arah meja rias, dan mengambil kuas rias yang tadi jatuh.

Ia menatap cermin lagi, namun kali ini ia tidak melihat bayangan dirinya yang sempurna.

Ia melihat bayangan seorang gadis yang sedang memegang selembar kertas robek dan tertawa sendiri di dalam kamar yang terkunci.

Ia merapikan rambutnya, lalu menatap jam di dinding.

Tik... tok... tik... tok...

Waktu terus berjalan, dan ia tahu, sebentar lagi, ia harus kembali menjadi Agnesa Valeria Anabella, gadis paling rapi di SMA Garuda, yang tidak tahu apa itu susu stroberi atau mengapa ia bisa merasa geli hanya karena satu kata yang ditulis di atas kertas.

​Agnesa menyimpan kertas itu di dalam buku catatan hitamnya, lalu menyelipkannya jauh ke dalam laci meja rias, terkunci rapat di balik kunci kecil yang selalu ia bawa di kalungnya. 

Ia berdiri, merapikan kemejanya, dan menarik napas dalam-dalam.

​"Baiklah," bisiknya pada ruangan kosong. "Kembali ke kenyataan."

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Bapak sudah tidur?"

​"Sudah dari tadi. Ibu juga mau istirahat. Den jangan begadang terus, nanti matanya makin cekung."

​Naren Menyembunyikan Luka Kelam? Intip Kelanjutan Sisi Rapuh Sang Ketua Gang di Bab 25: Bayang-Bayang Sepi

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!