Bunga adalah gadis yang di juluki si Bodoh, ia di paksa nikah dengan seorang lelaki pilihan papanya yaitu Muis yang dimana sahabat masa kecilnya.
Hari-hari pernikahan mereka di lalui, Muis mengira gadis itu beneran bodoh dan seperti kekanak-kanakan namun di balik itu Bunga tidak seperti yang di duga. Ia menikah dengan Muis karena ia ingin membalas dendam kepada keluarganya itu,
— Stupid Wife —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Permainan Cantik
" Mas kamu kok cepat sekali pulangnya biasanya jam setengah enam malam? "Tanya Areta kala melihat suaminya itu sudah pulang padahal jam menunjukkan pukul empat sore.
" Ngga usah berisik! " Kesal Andi ia bahkan menyenggol tubuh Areta membuat Areta berdecak sebal, " Kenapa sih kamu tuh mas lagian aku salah apa? " Sungut Areta
" Kamu salah , salah semuanya! " Kata Andi lalu berlalu begitusaja membuat Areta menghela napas panjang entah kenapa kelakuan Andi semakin kesini semakin banyak perubahan.
Semenjak Areta hamil, padahal usia pernikahan mereka baru dua bulan namun entah kenapa semakin kesini semakin aneh sekali Andi nya,
Ting tong..
" Siapa sih ganggu aja! " Kesal Areta ia beranjak dari tempat duduk. Ia bergegas menghampiri pintu depan yang sudah terbuka dengan sendirinya canggih bukan?, ya jelas rumah hasil. Korupsi
Mata Areta terbelalak saat melihat, petugas kepolisian membuat nya meneguk ludahnya kasar ia tidak boleh terlihat panik batinnya.
" Selamat Malam, apakah benar ini rumah Pak Andi? " Tanya Salah satu petugas tersebut
" Ya pak, ini memang rumah suami saya ada apa ya? " Sahut Areta bibirnya bergetar hebat ia harus siap menerima apapun yang akan terjadi.
" Apakah ada Pak Andinya di rumah ini?, saya ingin melaporkan kalau Pak Andi akan kami tangkap untuk dimintai keterangan di kantor kami " Jelas lelaki tersebut membuat Areta menggeleng kan kepalanya wajahnya pucat pasi, " Tidak ada pak suami saya, belum pulang sama sekali " Kilah Areta dengan bibir pucat pasi
" Sayang, kamu masak ngga sih?"
Pertanyaan tersebut membuat keduanya aparat hukum tersebut. Menolehkan kepalanya sementara Areta membeku, di tempat nya " Pak Andi! " Kata petugas kepolisian dengan suara penuh penekanan membuat sosok Andi yang berada di belakanh Areta membola matanya tubuh nya bergetar menahan gejolak dadanya.
" Pak!, saya mohon jangan bawa suami saya ke kantor polisi! " Kata Areta dengan suara serak
" Ada apa ini pak?, saya tidak bersalah! "
" Pak Andi anda, di tangkap karena kasus penggelapan uang perusahaan Samudra indah dan anda melanggar aturan perusahaan. Memakai barang milik perusahaan! " Tegas Lelaki tersebut
Areta menggeleng kan kepalanya, maniknya menyiratkan kemarahan " Mana mungkin suami saya korupsi?, dan barang milik perusahaan itu apa? " Cecar Areta
" Bu begini, pak Andi telah menggelapkan uang sebesar 2 miliar dan menurut laporan Pak Andi itu memakai uang 2 Miliar itu untuk mahar Bu Areta lalu rumah ini adalah rumah milik perusahaan! " Jelas polisi tersebut membuat dunia Areta hancur,
Tatapannya menoleh ke Andi " Apakah benar mas?, jadi mas ini semua hanya kebohongan?? " Cecar Areta dengan suara bergetar tidak kuasa menahan gejolak hatinya
"Ngga!, ini semua Karena Muis dia yang melaporkan harusnya dia ikhlas saja kalau mas memang memakai uang itu dan memakai rumah ini! " Sanggah Lelaki tersebut maniknya kosong seolah tidak terima apa yang terjadi
" Muis?, jadi mas korupsi uang perusahaan Muis? Ini semua karena Bunga! " Pekik Areta ia mengepal tangannya. Lalu bergegas masuk ke dalam rumah dan keluar lagi memakai tas selempang
Saat kakinya ingin melangkah pergi, tangan Andi melingkar di pergelangan tangan Areta membuat wanita itu menoleh.
"Kamu mau kemana? " Tanya Andi bibirnya pucat pasi " Jangan sentuh aku, kamu penipu!. Aku mau kita urus surat cerai kita! " Kata Areta ia menepis kasar tangan tersebut
" Ngga bisa gitu Areta!, kamu sedang mengandung anakku! "
" Bodoamat!, kamu aja emang ngga pernah mau kan anak ini dari dulu?. Lupa kamu udah amnesia mendadak ya! " Cemooh Areta lalu menoleh ke petugas kepolisian " Pak tangkap dia saya ikhlas! " Kata Areta lalu berlalu
" Arettaaa!! "
Bunga tersenyum kala. Melihat sebuah pesan yang ia sengaja kirim ke asisten nya untuk membuat surat penangkapan atas nama Andi, agar lelaki tersebut bisa cepat-cepat di penjara itu lebih baik.
" 𝘈𝘯𝘥𝘪 𝘈𝘳𝘦𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳, 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘯𝘥𝘪. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘶𝘪𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘔𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘶𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶𝘢𝘯.. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘳𝘦𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘭! " Batin Bunga dengan sebuah senyuman misteri
" Sayang, kenapa senyam-senyum sendiri?.. Ayo dong di makan " Kata Cindy saat menangkap perilaku aneh Bunga, apalagi wanita itu hanya mengaduk-ngaduk makanannya
" Ya ma, "
" 𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘶𝘢 𝘵𝘪𝘨. Belum selesai batin Bunga menghitung tetiba suara seorang wanita memanggil namanya dan suara bibi terdengar
" Bunga, anak setan keluar kamu! "
" Non bibi mohon jangan ganggu mereka sedang makan malam! " Mohon Bi Uli namun sosok itu tidak peduli ia memasuki ruang makan.
Membuat semuanya menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan, " Lancang sekali anda masuk ke rumah ini tanpa permisi!, " Suara Tegas Dante menyapa telinga Areta
" Saya, ngga ada urusan sama om! " Tegas Areta lalu tatapannya kini menyorot Bunga yang hanya senyam-senyum. Tanpa ada sorot ketakutan " Puas kamu hah? "Pekik Areta
" Maksud kaka apa? "
" Ngga usah sok polos ya lo!, lo yang buat hidup gue hancur dari dulu!!.. Sertifikat rumah papa lo yang ambil!, sampe mama papa gue hancur rumah tangganya. Dan sekarang lo hancurkan rumah tangga gue!, " Tuding Areta
" Apa-apaan ini, kenapa kamu menyalahkan istri saya?.. Bukankah itu urusan kalian tentang sertifikat rumah?, semenjak Bunga nikah sama saya dia ngga pernah lagi kerumah papa kalian itu! " Sela Muis
" Muis!, lo juga salah gara-gara lo suami gue harus di penjara! Dan biang semuanya Bunga!.. Gue tahu lo dendam sama gue!!.. Lo sengaja kan hancurkan gue sama keluarga gue! " Pekik Areta
" Ka aku benar-benar ngga tahu! "
" Stop jadi orang bodoh!, lo biang masalah dari dulu kenapa ngga mati aja sih! "
" Areta Cukup! "