Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pertemuan di Menara
Jarum jam dinding digital di area lobi utama menara SCBD tepat menunjukkan pukul empat sore ketika Andra Bayu melangkah masuk menembus pintu kaca putar yang kokoh. Udara dingin dari sistem pendingin ruangan terpusat langsung menyergap kulitnya, membawa aroma khas gedung pencakar langit korporat—perpaduan antara wewangian aromaterapi mewah, pembersih lantai premium, dan aroma biji kopi arabika yang pekat dari kafe bergaya modern industrial di sudut lobi.
Andra menghentikan langkahnya sejenak di atas lantai marmer hitam yang mengilat bagai cermin. Ia merapikan letak lengan kemeja katun premium berwarna abu-abu gelap yang melekat pas di tubuh bidangnya. Kemeja pilihan Nadia itu tidak hanya mengubah penampilannya secara fisik, tetapi entah mengapa, juga memberikan sekat pelindung baru bagi harga dirinya yang sempat hancur lebur di pelataran Hotel Mulia beberapa hari lalu. Rambut hitamnya yang biasa berantakan setelah diterpa angin jalanan di atas motor bebek, kini tertata rapi berkat sedikit pulasan gel rambut. Guratan wajah sawo matangnya yang tegas, hidungnya yang lurus, serta sorot matanya yang teduh namun tajam, membuat pembawaan maskulin Andra tampak sangat kontras sekaligus menonjol di antara kerumunan eksekutif muda perkotaan yang lalu-lalang di sekitarnya. Pria-pria kota itu tampak necis karena setelan bermerek mahal, namun Andra memiliki daya pikat yang berbeda—sebuah pesona murni, jantan, dan bersahaja yang tidak bisa dibeli dengan uang sekuritas saham.
Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru area kafe yang dipenuhi oleh kursi-kursi kulit berwarna cokelat tua dan meja marmer putih. Di sudut paling belakang, tepat di samping jendela kaca raksasa setinggi langit-langit yang menghadap langsung ke arah hiruk-pikuk jalur cepat Jalan Jenderal Sudirman, seorang wanita tampak duduk dengan posisi kaki yang menyilang anggun.
Andra, di sini.
Sebuah suara jernih, tenang, namun memiliki tekanan wibawa yang kuat memanggil namanya.
Diana duduk di sana, memegang sebuah cangkir porselen putih berisi espresso double shot. Sore ini, wanita sukses itu melepas kacamata berbingkai tipisnya, menampilkan sepasang mata elang yang indah namun tajam, dibingkai sempurna oleh riasan eyeliner tipis yang elegan. Ia mengenakan atasan blus sutra berwarna hijau zamrud dengan potongan leher sedikit rendah, memperlihatkan garis tulang selangkangnya yang putih bersih dan sebuah kalung berlian kecil yang berkilau mewah di bawah sorotan lampu gantung kafe. Di atas meja marmer di hadapannya, sudah tersedia dua cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis, berdampingan dengan map dokumen revisi kontrak milik Apex Media yang tebal.
Andra melangkah mendekat dengan langkah kaki yang teratur. Setiap langkahnya terasa berat, bukan karena ia takut, melainkan karena ia tahu bahwa setiap jengkal jarak yang ia pangkas menuju meja Diana adalah langkah masuk ke dalam zona berbahaya yang baru.
Selamat sore, Ibu Diana. Terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan Ibu, sapa Andra sembari membungkuk hormat, menepati batas tata krama yang selalu diajarkan oleh ibunya di desa.
Diana tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkir kopinya secara perlahan ke atas tatakan, menimbulkan bunyi klenting halus yang disengaja. Sepasang mata tajamnya mulai bergerak, melakukan pemindaian visual secara menyeluruh terhadap penampilan Andra, mulai dari potongan rambutnya yang rapi, kerah kemeja abu-abu gelapnya, hingga jam tangan kasual yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Seulas senyum kepuasan yang sangat pekat terkembang di bibir Diana yang dipulas lipstik merah bata.
Silakan duduk, Andra Bayu, ucap Diana lembut, namun ada nada menguji di dalam suaranya. Ia sengaja menyebut nama lengkap baru Andra dengan penekanan yang jelas. Penampilan yang luar biasa untuk seorang Account Executive yang baru dilantik tadi pagi. Kemeja itu sangat pas mencetak bentuk bahumu yang bidang. Tampaknya, Nadia benar-benar tahu bagaimana cara mendandani pria simpanannya agar layak dibawa ke tempat seperti ini.
Mendengar kalimat pembuka yang begitu frontal dan menyengat, Andra tidak menunjukkan kepanikan. Ia menarik kursi kayu di hadapan Diana, lalu duduk dengan posisi tubuh yang tegap, meletakkan ransel hitam sederhananya di samping kaki kursi. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Diana, menolak untuk terlihat inferior atau terintimidasi oleh status wanita di depannya.
Saya datang ke sini murni sebagai perwakilan resmi dari Apex Media untuk menyelesaikan urusan amandemen kontrak kita, Ibu Diana, ujar Andra dengan nada suara yang bariton, rendah, dan sangat stabil. Ia langsung membuka map dokumen tebal di atas meja tanpa memedulikan sindiran Diana. Jika Ibu tidak keberatan, kita bisa langsung memeriksa poin krusial di pasal tujuh mengenai penyesuaian formula bahan baku kosmetik dan jaminan distribusi hukum dari pihak kami.
Diana terkekeh kecil, sebuah kekehan renyah yang terdengar sangat gemas. Ia memajukan tubuhnya ke depan meja marmer, menopang dagunya dengan tangan kiri yang jemarinya dihiasi kuteks berwarna senada dengan blusnya. Gerakan itu membuat jarak wajah mereka kini hanya tersisa sekitar lima puluh sentimeter. Aroma parfum mewah berkarakter kayu cendana (sandalwood) bercampur dengan vanilla yang manis langsung menguar kuat dari tubuh Diana, menyerang indra penciuman Andra.
Kamu selalu saja kaku, dingin, dan terburu-buru jika membahas tentang pekerjaan, Andra, bisik Diana dengan tatapan mata yang beralih fokus pada bibir tegas milik Andra. Padahal di luar jam kantor, di bawah guyuran hujan malam Gala kemarin... aku melihat sosok pria yang jauh lebih berani di dalam dirimu. Pria yang memilih berdiri melindungi harga dirinya sendiri di hadapan Gunawan.
Andra menghentikan gerakan tangan yang sedang membalik halaman berkas. Ingatan tentang bagaimana Gunawan menyenggolkan gelas minumannya hingga membasahi jasnya, serta bagaimana harga dirinya diinjak-injak di depan para konglomerat, seketika membuat otot rahang Andra mengencang. Namun, ia juga ingat dekapan hangat Nadia di dalam lift apartemen beberapa malam lalu. Rasa utang budi dan ikatan batin yang terlanjur terbentuk dengan Nadia membuat Andra kembali menarik benteng pertahanannya.
Malam itu adalah urusan pribadi yang sudah selesai dan tidak ada hubungannya dengan meja bisnis ini, Ibu Diana, jawab Andra tegas, tatapannya tidak goyah sedikit pun. Tugas saya di sini adalah memastikan bahwa kelalaian tim kreatif kami minggu lalu tidak merugikan pihak perusahaan Ibu, dan memastikan nama baik Apex Media tetap terjaga.
Nadia, Nadia, dan Nadia... kamu selalu berlindung di balik nama wanita itu, Andra, potong Diana, suaranya mendadak bergeser menjadi lebih datar namun sarat akan analisis yang tajam. Ia menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran kursi kulit, melipat kedua tangannya di depan dada. Kamu sangat setia padanya, aku akui itu. Dan kesetiaan seorang pria muda yang jujur sepertimu adalah barang paling langka di Jakarta ini. Tapi sebagai seorang Direktur Hukum yang sudah belasan tahun membedah konspirasi korporat, aku ingin bertanya satu hal padamu: apakah kamu yakin wanita yang masih berstatus istri sah orang lain itu bisa melindungimu saat badai yang sesungguhnya datang?
Andra terdiam. Pertanyaan Diana seolah merobek paksa ketenangan semu yang ia bangun sejak pagi tadi.
Pernikahan Nadia dan Gunawan bukan sekadar janji di depan altar, Andra Bayu, lanjut Diana, tatapannya mengunci pergerakan mata Andra. Itu adalah aliansi bisnis raksasa yang melibatkan penggabungan tiga puluh persen saham gabungan di Apex Media dan beberapa konsorsium properti di Bali. Jika Gunawan mengetahui apa yang kamu dan Nadia lakukan di belakangnya—dan percayalah, pria arogan seperti dia memiliki ribuan mata-mata di kota ini—dia tidak akan hanya mendepakmu dari kantor. Dia memiliki kekuatan finansial dan jaringan hukum untuk menghancurkan hidupmu, membuat keluargamu di desa menderita, dan mengunci semua akses pekerjaanmu di Jawa.
Kalimat Diana yang dingin dan logis itu menghantam dada Andra seperti sebuah godam besar. Kata demi kata yang diucapkan Diana adalah realitas kejam yang selama ini coba ia abaikan demi menuruti rasa ibanya pada Nadia. Pesan teror tanpa nama dari Gunawan yang ia terima di handphone jadulnya tadi siang seolah menjadi bukti nyata bahwa apa yang dikatakan Diana bukan sekadar gertakan kosong. Di kota ini, cinta terlarang dan kesetiaan buta tanpa adanya kekuasaan (power) hanyalah sebuah tiket gratis menuju kehancuran.
Diana yang melihat perubahan raut wajah sawo matang Andra yang menegang langsung tersunyum tipis. Ia tahu serangannya telah berhasil menembus celah terdalam dari benteng pertahanan sang pemuda desa.
Dengan gerakan yang sangat anggun, Diana meraih pulpen bertinta emas mewah dari saku blusnya. Tanpa memeriksa atau membaca lembar demi lembar amandemen pasal tujuh yang tadi dibuka oleh Andra, Diana langsung membalik halaman ke bagian paling akhir. Ia menorehkan tanda tangannya yang tegas dan rumit di atas materai, lalu membubuhkan stempel resmi divisi hukum menara SCBD di sampingnya. Proses yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu dengan perdebatan pasal yang melelahkan, diselesaikan oleh Diana dalam waktu kurang dari satu menit.
Kontrak proyek kosmetik kita sudah resmi sah, Account Executive muda, ujar Diana seraya menutup map tebal tersebut dengan bunyi debukan pelan, lalu menyodorkannya langsung ke depan dada bidang Andra.
Saat menyerahkan map tersebut, jemari lentik Diana yang halus dan dingin tidak langsung ditarik. Ia sengaja menempelkan telapak tangan di atas punggung tangan Andra yang hangat, memberikan usapan lembut yang perlahan namun penuh dengan tekanan sensual yang mengikat.
Aku menandatanganinya berkas bernilai miliaran ini bukan karena aku percaya pada Apex Media, dan jelas bukan karena aku takut pada Nadia, bisik Diana dengan kedipan mata yang sangat menawan di balik tatapan tajamnya. Aku menandatanganinya karena aku percaya pada potensi yang ada di dalam dirimu, Andra Bayu. Di mataku, kamu adalah pria hebat yang hanya sedang tersesat di tempat yang salah.
Diana menarik kembali tangannya, lalu mengambil kacamata hitam berbingkai besar dari atas meja dan memakainya, menyembunyikan kembali binar ketertarikan yang pekat di matanya. Ia bangkit berdiri, membuat blus sutra hijau zamrudnya jatuh dengan rapi mengikuti lekuk tubuhnya yang proporsional.
Ingat baik-baik kalimatku sore ini, Andra, ucap Diana sembari merapikan tas jinjing kulit bermerek miliknya. Nadia mungkin bisa memberimu ruangan kecil di lantai tujuh belas dan setelan kemeja baru ini. Tapi saat suaminya mulai bergerak untuk menghancurkanmu, Nadia akan terlalu sibuk menyelamatkan sahamnya sendiri. Ketika hari itu tiba, dan kamu menyadari bahwa kamu butuh kekuatan hukum serta perlindungan nyata untuk berdiri tegak di Jakarta, naiklah ke lantai dua puluh dua gedung ini. Pintu ruanganku akan selalu terbuka untuk pria sehebat kamu.
Diana memberikan senyuman misterius terakhirnya yang penuh kemenangan, lalu berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan kafe. Suara ketukan sepatu hak tingginya berirama tegas di atas lantai marmer, menarik perhatian hampir seluruh pria di dalam ruangan tersebut.
Andra Bayu tetap terduduk terpaku di kursinya, sendirian di sudut meja dekat jendela besar. Tangannya masih memegang erat map kontrak tebal yang telah sah ditandatangani oleh salah satu pengacara korporat paling ditakuti di Jakarta. Di luar jendela, langit ibu kota mulai meredup, tertutup oleh awan mendung abu-abu yang pekat, seolah menandakan bahwa badai besar yang diramalkan oleh Diana kini sedang bergerak mendekat, siap menguji seberapa kuat seorang Andra Bayu bertahan di tengah pusaran asmara dan kekuasaan dua wanita sukses yang akan mengubah garis takdir hidupnya seutuhnya.