Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Ruangan terasa makin sesak.
“Nasi sudah jadi bubur.” Nurul menggigit bibirnya kuat-kuat. “Semua sudah terjadi.” Ia menunduk sambil memegang perutnya sendiri pelan. “Lalu sekarang harus bagaimana?”
Tidak ada yang menjawab.
“Apakah kalian mau aku menggugurkan kandungan ini?” tanyanya lirih penuh tangis. “Kalian siap menanggung dosanya juga?”
Amira perlahan mengangkat wajah. Tatapannya kosong.
Namun Nurul belum selesai. “Dan sejujurnya…” suaranya mulai berubah getir, “ini bukan salah kami berdua sepenuhnya.”
Ibu Mirza langsung menatap tajam. “Apa maksudmu?”
Nurul menangis lagi. “Ibu memaksa Mas Mirza menikah dengan Amira…” suaranya bergetar. “Padahal dari awal hatinya jelas tertuju sama aku.”
“Nurul!” bentak ibu Mirza.
Tetapi perempuan itu seperti sudah nekat membuka semuanya. “Aku mengalah!” tangisnya makin keras. “Aku merelakan lelaki yang aku cintai menikah sama sahabatku sendiri!”
Amira langsung membeku.
“Aku diam…” lanjut Nurul sambil memukul dadanya sendiri. “Karena aku pikir kalian akan bahagia.”
Air mata Amira jatuh makin deras.
Namun berikutnya, kata-kata Nurul berubah menjadi pisau. “Lalu sekarang kamu menyerang aku seperti ini?”
Amira langsung mendongak tajam.
Nurul ikut menangis histeris sekarang. “Mas Mirza juga manusia!” suaranya meninggi. “Dia punya kebutuhan!”
Plak! Kali ini Amira yang melangkah maju lalu menampar Nurul keras sampai wajah perempuan itu terlempar ke samping.
Ruangan langsung sunyi. Air mata Amira jatuh deras tanpa henti. “Kamu sadar enggak apa yang kamu omongin?” suaranya gemetar penuh luka.
Namun Nurul juga sudah hancur.
“Selama kamu hamil…” tangisnya pecah, “kandunganmu lemah! Kamu bahkan sering enggak bisa melayani dia!”
Kalimat itu membuat wajah Amira langsung pucat.
Dan Nurul mengucapkan kalimat terakhir yang benar-benar menghancurkan segalanya. “Lalu salah aku sepenuhnya kah…” napasnya tersengal, “kalau akhirnya Mas Mirza datang minta sama aku?”
Brak! Kursi di samping Amira jatuh keras. Bukan karena disengaja. Tetapi karena tubuh Amira mendadak kehilangan keseimbangan. Ia mundur perlahan dengan wajah hancur total. Seolah seluruh harga dirinya baru saja diinjak sampai lumat.
Sementara Mirza diam. Tidak membela Amira. Tidak menyangkal ucapan Nurul. Dan diamnya lelaki itu terasa jauh lebih kejam daripada semua kata-kata tadi.
“Cukup!” Suara ibu Mirza menggema keras sampai semua orang terdiam. Perempuan tua itu berdiri dengan tubuh gemetar hebat, matanya merah penuh amarah dan kecewa. Tatapannya menusuk tajam ke arah Mirza dan Nurul bergantian. “Kalian ini benar-benar enggak punya hati!”
Nurul langsung menangis lagi.
Namun ibu Mirza sama sekali tidak melunak. “Bisa-bisanya kalian menyerang Amira!” suaranya pecah. “Menyalahkan perempuan yang paling tersakiti di rumah ini!”
Amira yang sejak tadi berdiri limbung langsung menutup mulutnya menahan tangis.
“Kalian pikir dia mau kandungannya lemah?!” lanjut beliau dengan suara bergetar. “Dia kurang makan!”
Mirza perlahan menunduk.
“Kurang gizi!” air mata ibunya jatuh makin deras. “Tenaganya diporsir terus setiap hari!” Tatapan beliau lalu beralih pada anak laki-lakinya sendiri. “Kamu tahu enggak waktu hamil Amira masih nyuci baju sendiri dan juga baju tetangga demi mendapatkan beberapa lembar rupiah?”
“Kamu tahu dia sering pusing tapi tetap masak buat kalian?”
“Kamu tahu dia beberapa kali hampir pingsan waktu ngaji karena belum makan?”
Setiap pertanyaan itu seperti pukulan telak. Mirza tak mampu mengangkat kepala.
Sementara Amira hanya bisa menangis diam-diam. Karena semua itu benar. Dan selama ini ia jalani tanpa keluhan besar demi menjaga rumah tangganya tetap utuh.
Namun yang paling membuat suasana runtuh adalah kalimat berikutnya. “Lagipula kamu enggak malu, Mirza?!” Suara ibunya meninggi penuh jijik. “Bini kamu lagi hamil lemah, malah yang dipikirin cuma kemaluan!”
“Bu…” suara Mirza mengecil.
“Astaghfirullah!” Ibunya sampai memukul dada sendiri saking kecewanya. “Kamu ini ustaz!” tangisnya pecah lagi. “Ngajarin orang soal agama tiap hari! Tapi hawa nafsumu sendiri enggak bisa dijaga! Kalau bapakmu masih hidup dan tau ini, habis kamu Mirza dipukulnya sampai tiada!"
Ruangan kembali sunyi. Hanya terdengar suara tangis pelan dari Amira dan Nurul.
“Kalau memang kamu laki-laki benar…” lanjut beliau dengan napas gemetar, “harusnya kamu menjaga istrimu yang lagi susah. Bukan malah mencari perempuan lain buat melampiaskan nafsumu. Kau benar-benar merusak syariat Islam. Kau coreng dengan dalih agama, padahal semua itu demi menutupi kebejatanmu!"
Kalimat itu membuat Mirza akhirnya terduduk lemas di kursi. Wajahnya hancur. Namun terlambat. Karena semua yang paling menyakitkan sudah terucap hari ini.
Ibu Mirza mengusap wajahnya kasar sambil terengah menahan emosi. Tangis dan kemarahan bercampur jadi satu sampai tubuhnya ikut gemetar.
Tatapannya lalu menyapu Mirza dan Nurul yang kini sama-sama diam dengan wajah pucat. “Kalian berdua tutup mulut sekarang.” Nada suaranya rendah. Namun justru lebih menekan daripada bentakan sebelumnya. Tidak ada yang berani menyahut. “Cukup!” lanjut beliau keras. “Dari tadi kalian cuma sibuk membela diri dan menyalahkan Amira!”
Mirza menunduk semakin dalam.
Sementara Nurul menangis tanpa suara sambil memegang perutnya.
Ibu Mirza lalu berjalan mendekati Amira perlahan. Melihat menantunya yang berdiri dengan wajah hancur membuat mata perempuan tua itu kembali berkaca-kaca. Tangannya terulur pelan menggenggam tangan Amira yang dingin. “Nak…”
Begitu dipanggil selembut itu, tangis Amira langsung pecah lagi. Ia menutup wajahnya sambil sesenggukan. “Aku capek, Bu…” suaranya nyaris hilang. “Aku capek…”
Ibu Mirza ikut menangis melihat keadaan Amira. “Maafin ibu…” bisiknya lirih penuh penyesalan. “Ibu yang memilihkan Mirza buat kamu…”
Amira langsung menggeleng cepat meski air matanya terus jatuh.
Namun perempuan tua itu tetap menggenggam tangannya erat. Lalu beliau menoleh tajam pada Mirza dan Nurul. “Kalian dengar baik-baik.” Ruangan kembali sunyi. “Mulai sekarang…” suara beliau tegas dan bergetar bersamaan, “Amira yang menentukan nasib kalian.”
Mirza langsung mendongak cepat. “Ibu?”
“Diam!”
Mirza langsung bungkam lagi. Tatapan ibunya benar-benar dingin sekarang.
“Kalau Amira mau pergi, aku enggak akan tahan.”
“Kalau Amira mau cerai, aku yang akan berdiri paling depan membelanya.
Dan kalimat berikutnya membuat mata Mirza langsung memerah.
“Bahkan kalau Amira tidak mau mengakui kamu lagi sebagai keluarga…” ibunya menarik napas panjang sambil menahan tangis, “…itu hak dia.”
Ruangan terasa makin sesak. Amira menutup mulutnya sambil menangis keras.
Sementara Nurul tampak mulai panik mendengar arah pembicaraan itu. Namun ibu Mirza tidak peduli. Karena di matanya sekarang perempuan yang paling pantas didengar hanyalah Amira.
Amira perlahan menghapus air matanya. Tangannya masih gemetar. Namun kali ini, sorot matanya berubah. Bukan lagi hanya sedih tetapi penuh luka dan kemarahan yang akhirnya mencapai batasnya. Ia menatap Mirza lama. Lelaki yang dulu begitu ia hormati. Begitu ia percaya. Lalu pelan-pelan, Amira berkata, “Aku akan penjarakan kalian.”
Ruangan langsung sunyi total. Dengan suara yang semakin tegas meski bergetar, Amira melanjutkan, “Dengan tuduhan perzinahan.”