NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: TANGIS DI SAMPING KAIN KAFAN

BAB 29: Tangis di Samping Kain Kafan

Udara di dalam ruang tamu rumah keluarga Dirgantara terasa begitu berat, dingin, dan pekat oleh aroma minyak kapur barus serta bunga melati yang berbaur dengan isak tangis tertahan dari beberapa kerabat dekat. Karpet beludru hijau tua telah digelar memenuhi ruangan yang kini terasa begitu luas sekaligus hampa. Di tengah-tengah ruangan itu, di atas sebuah dipan tipis yang membujur kaku menghadap kiblat, sesosok tubuh manusia terbujur diam tak bergerak, ditutupi oleh helaian kain kafan putih bersih dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Langkah kaki Revan yang terseret perlahan melewati ambang pintu depan. Kedua matanya yang sembap dan merah menatap kosong ke depan. Setiap langkah yang ia ambil terasa seberat bongkahan timah yang menahan kakinya untuk maju. Seluruh dunia di sekitarnya seolah bergerak melambat, meninggalkan bunyi detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, beradu dengan suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan lirih oleh seorang tetangga di sudut ruangan.

Begitu jaraknya hanya tersisa satu meter di samping dipan, lutut Revan kembali bergetar hebat. Ia ambruk, jatuh bertumpu pada kedua lututnya di atas karpet hijau, tepat di samping jasad sang Ayah.

"A-ayah..." bisik Revan, suaranya terdengar sangat parau, pecah, dan tersedat di dalam tenggorokan yang terasa mencekik.

Tangan Revan yang masih menyisakan noda hitam bekas oli bengkel terangkat dengan sangat gemetar. Jemarinya yang dingin perlahan menyentuh bagian atas kain kafan, menurunkannya sedikit demi sedikit dengan gerakan yang teramat takut, hingga wajah sang Ayah akhirnya menyembul keluar di balik kain putih tersebut. Dada Revan seketika seperti dihantam oleh palu gada yang tak kasat mata.

Wajah Ayah yang biasanya selalu tampak tegas, berwibawa, dan menakutkan saat membentaknya, kini terlihat begitu putih, damai, dan teramat sangat kaku. Kelopak mata Ayah terpejam rapat untuk selamanya, tidak ada lagi binar mata tajam yang menuntutnya untuk selalu menjadi juara umum sekolah. Bibir Ayah yang biasanya dingin mengatup rapat, menyisakan seulas rona pucat kebiruan di sudut-sudutnya. Tidak ada lagi hembusan napas yang keluar. Tidak ada lagi suara menggelegar yang memanggil namanya dengan penuh amarah.

Ayah benar-benar sudah pergi. Pria tua yang selama tiga minggu ini dikutuknya di dalam hati, pria yang dianggapnya kejam karena tuduhan mencuri uang itu, kini telah resmi menjadi jasad kaku yang tidak akan pernah bisa mendengarnya lagi. Di pikiran Revan saat ini, Ayah pasti meninggal karena serangan jantung akibat stres memikirkan urusan pekerjaan kantor yang menumpuk, ditambah beban pikiran karena Revan memilih kabur dari rumah.

"Ayah... ini Revan, Yah... Revan pulang..." rintih Revan, air matanya menetes deras, jatuh membasahi pipi kaku Ayahnya yang sudah sedingin es batu.

Rasa penyesalan yang teramat sangat pekat mendadak meledak dari dalam dada Revan, mencabik-cabik seluruh kewarasan mental remajanya tanpa belas kasihan. Ego besarnya yang setinggi langit jalanan hancur berkeping-keping menjadi abu yang tak berharga di samping kain kafan itu. Revan langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, memeluk erat bagian kaki jasad Ayahnya yang terbungkus kain kafan tebal. Ia menyandarkan keningnya yang basah oleh keringat dingin di atas kaki kaku tersebut, menangis histeris dengan bahu yang terguncang hebat akibat guncangan batin yang teramat dahsyat.

"Ayah, bangun, Yah! Revan mohon bangun!" Raung Revan, suaranya menggema pilu membelah keheningan ruang tamu yang berduka. "Tampar Revan lagi, Yah! Bentak Revan kayak waktu itu! Revan janji gak bakal ngelawan lagi! Revan janji bakal rajin belajar, Revan janji bakal turutin semua mau Ayah! Tapi Revan mohon... Ayah bangun... Jangan tinggalin Revan dengan cara kayak gini, Yah..."

Revan meremas kuat-kuat ujung kain kafan peninggalan Ayahnya, meluapkan seluruh rasa frustrasi dan rasa bersalah yang kini menjalar membakar ulu hatinya. Ia teringat bagaimana dua malam lalu ia memalingkan wajahnya dengan sinis di lampu merah saat melihat Ayah memegangi dadanya yang sakit di dalam mobil. Ia teringat bagaimana ia mengutuk Ayah karena menyangka Ayah sedang buru-buru pulang demi memanjakan Arka.

Semua prasangka buruk dan filter kebencian remajanya kini berbalik menjadi belati berkarat yang menusuk langsung ke jantungnya, meninggalkan rasa perih yang begitu menyiksa. Dialah anak durhaka itu. Anak yang kabur dari rumah membawa dendam palsu, membiarkan Ayahnya memendam stres sendirian hingga jantungnya berhenti berdepan meja kantor yang sepi.

"Maafin Revan, Yah... Maafin Revan yang bodoh ini..." isak Revan kian mengeras, suaranya berganti menjadi raungan duka yang teramat memilukan hingga membuat beberapa ibu-ibu tetangga yang duduk di belakangnya ikut meneteskan air mata haru.

Di seberang dipan, Arka duduk bersandar di dinding dengan tubuh yang dibalut jaket hitam tebal. Wajah anak sulung itu seputih kertas, sepasang matanya bengkak, dan tangannya mencengkeram perutnya sendiri yang terasa sangat melilit akibat racun gagal ginjalnya yang kian mengamuk pasca guncangan batin pagi ini. Arka menatap adiknya yang sedang menangis histeris memeluk kaki Ayah dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh keheningan duka yang teramat dalam.

Arka ingin sekali maju, memeluk pundak adiknya, dan memberi tahu Revan bahwa Ayah tidak pernah membencinya. Namun, fisiknya sendiri saat ini sudah berada di ambang batas total untuk sekadar merangkak maju. Dia hanya bisa memejamkan mata, menahan perih di perut dan dadanya sendirian.

Bersambung....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Bab 30: Tatapan Dingin Ibu

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!