Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hiks-hiks!
Suara tangisan seorang anak kecil memenuhi sebuah gubuk kecil di bagian belakang rumah besarnya. Tak ada siapapun di sana, hanya dirinya seorang dan sebuah peti mati yang bertuliskan sebuah nama.
Raina Anandira.
"Ibu! Kembalilah! Tidak ada yang menyayangiku di rumah ini. Ayah sibuk dengan pekerjaannya, nenek dan kakek pergi ke kampung halaman. Hanya ada om dan tante yang menyiksaku setiap hari. Juga wanita itu, Bu. Mereka bilang, ibu tidak menginginkan aku, ayah sangat membenciku. Aku adalah malapetaka di kehidupan kalian. Aku tidak percaya, di dalam mimpiku ibu selalu memelukku. Kembalilah, Ibu. Aku tidak mau disiksa lagi," rengek anak itu sambil terisak, mengusap selembar foto yang diambilnya dari tempat sampah.
Tubuh kecilnya memeluk peti mati dengan erat, air matanya berjatuhan sudah tak terhitung lagi. Entah sudah yang ke berapa kali ia dikurung di gubuk tersebut. Wajahnya yang tampan tampak tirus karena ia sering menahan lapar. Sepanjang hari harus belajar di bawah pengawasan mereka bertiga. Tak ada waktu untuk bermain, Rasya tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan pendendam. Ia menahan perasaan marah sejak ia mengerti semua rasa.
Rasya tak peduli petir yang berkilatan di luar, guntur menyambar memekakkan telinga. Angin bergemuruh hebat, menerbangkan hujan yang turun dengan lebat. Setiap titik airnya yang menjatuhi atap gubuk yang terbuat dari seng itu, bagai godam besar menghantam bumi.
Gubuk lapuk itu adalah tempat hukuman baginya saat merengek meminta tolong pada sang ibu yang telah tiada setelah melahirkannya. Di dalam sana, peti mati kosong yang bertuliskan nama ibunya selalu ia anggap berharga. Peti mati itu dibelikan tantenya saat Hadrian--ayahnya menyerahkan Rasyaka untuk diasuh ketika berusia tiga tahun.
Kini, anak itu berusia tujuh tahun dan selama itu juga ia sering dikurung di gubuk bersama peti mati tersebut. Suara tangisan Rasya lebur oleh gemuruh guntur di langit, rumah megah itu bagai neraka baginya. Sang ayah sudah tidak lagi pulang dan menyibukkan diri dengan pekerjaan. Ia juga tidak sekolah dan dibiarkan bergaul dengan para pelayan.
Seorang wanita seusia ibunya yang mengaku sebagai pengganti sang ibu, memberi tekanan berat padanya, sejuta aturan harus selalu sesuai dan tidak boleh salah. Wanita itu selalu datang setelah kematian ibunya. Mengambil alih posisi ibu dengan paksa. Tak ada waktu bermain untuknya, semua waktunya digunakan untuk menghafal aturan dan belajar banyak hal yang bukan untuk usianya.
Rasya menjatuhkan kepala di atas peti mati, memeluk foto sang ibu sambil memejamkan mata. Ia rindu kehangatan pelukannya meski hanya dalam mimpi. Berselang, sebuah tangan melingkari tubuhnya, pelukan hangat itu datang menenangkannya.
"Ibu, kau datang? Dengan Ibu di sini, Rasya tidak takut lagi," gumamnya tanpa membuka mata.
Ia takut saat membuka mata, pelukan hangat itu akan menghilang. Rasya tersenyum, manis dan semakin terlihat tampan. Cahaya yang menyerupai siluet seorang wanita menatapnya dengan nanar.
Oh, anakku! Mengapa hidupmu begitu pahit, sayang? Seandainya Ibu bisa kembali dan berada di sisimu, kau tidak akan mengalami kehidupan yang sulit seperti ini. Maafkan Ibu karena tidak mampu menjagamu.
Air mata wanita itu menetes, menjatuhi pipi Rasya. Ia mengernyit dan tahu sang ibu menangis, tapi Rasya tetap enggan membuka mata. Ia tak ingin kehilangan sentuhan hangat itu meski hanya dalam mimpi.
"Jangan menangis, Ibu. Aku anak yang kuat. Saat dewasa nanti, aku pasti akan membalas perbuatan mereka," katanya penuh tekad.
Aura dendam membara begitu terasa kental, suaranya dingin menusuk. Kobaran api amarah menguar dari dalam dirinya, memberinya energi negatif yang mendominasi. Bayangan wanita itu terkesima, melihat kejahatan besar yang akan dilakukan anaknya di masa depan.
Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Anakku tidak boleh menjadi penjahat!
Panik dan takut, tapi tiba-tiba sesuatu menariknya dengan paksa. Ia menghilang ditelan waktu meninggalkan si buah hati sendirian.
Tidak!
"Ibu!" Rasya terbangan dengan napas tersengal.
Brak!
Pintu terbuka dengan kasar, ia meneguk saliva menatap siluet yang datang.
****
Di belahan bumi lain, di sebuah desa pinggiran. Sebuah desa nelayan berada di pesisir pantai, seorang gadis muda baru saja bangun dari pingsannya. Ia anak sepasang nelayan yang miskin. Setiap hari harus mencari uang untuk makan semua orang di rumah itu. Ayah dan ibu, satu orang kakak laki-lakinya dan dua orang adik yang bersekolah.
Ia pingsan karena kelelahan bekerja di tempat lelang ikan. Wajahnya pucat, tapi tak satu pun dari mereka memberi obat atau membawanya ke klinik.
"Di mana aku?" Ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, nyeri dan pening. Seluruh tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
Ia menatap langit-langit ruangan yang terbuat dari seng. Terasa panas saat siang hari.
Plak!
Sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipi membuatnya tertarik ke alam kesadaran sepenuhnya.
"Siapa kalian?"
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄