Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
***
Deru mesin Ferrari Purosangue hitam membelah aspal Jakarta yang mulai lengang. Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma kulit jok mahal bercampur dengan wangi maskulin khas parfum woody milik pria di balik kemudi. Darma Mangkuluhur menyetir dengan satu tangan yang tampak rileks namun dominan, sementara tangan lainnya sesekali berpindah pada tuas transmisi.
Karina Dyah Pramesti, di sisi lain, merasa seperti sedang diculik oleh agen rahasia. Ia menarik sabuk pengamannya erat-erat, seolah benda itu bisa melindunginya dari aura intimidasi pria di sampingnya.
Ayo Karina, fokus. Kamu ini mantan trainee Korea yang digembleng mentalnya tiap hari. Masa cuma duduk di sebelah pewaris takhta begini saja gemetaran? Jaga image! gerutunya dalam hati.
Ia melirik dari sudut mata. Darma terlihat sangat fokus ke jalanan, rahangnya yang tegas tampak semakin nyata di bawah keremangan lampu jalan.
"Ehem," Karina berdehem, berusaha mencairkan kebekuan yang lebih dingin dari kutub utara itu. "Kita mau ke mana? Rumah saya arahnya bukan ke sini."
"Apa kamu sudah makan malam?" tanya Darma tiba-tiba tanpa menoleh. Suara baritonnya menggema di ruang sempit itu.
"Apa? Belum," sahut Karina kaku. Ia memang belum sempat menyentuh makanan sejak mendarat tadi sore karena perutnya terlalu mulas memikirkan sidang papahnya.
Darma tidak menjawab lagi. Ia hanya menarik sudut bibirnya sebuah senyuman tipis yang hampir tidak terlihat lalu menginjak pedal gas lebih dalam. Ferrari itu melesat lincah, menyalip beberapa mobil di depannya hingga akhirnya berhenti di sebuah gedung pencakar langit di kawasan SCBD.
"Turun," perintah Darma singkat setelah mesin mati.
"O-oke," sahut Karina refleks. Ia merasa seperti robot yang baru saja diprogram ulang.
Mereka memasuki lift khusus yang langsung menuju lantai paling atas. Selama lift bergerak naik, Karina dengan sigap memakai kacamata hitamnya. Ia waspada. Jakarta punya banyak mata, dan ia tidak ingin besok pagi muncul berita: 'Idol Skandal Karina Terlihat Berkencan dengan Pangeran Cendana'.
Darma melirik tingkah laku wanita di sebelahnya melalui pantulan pintu lift yang mengilap. Ia terkekeh pelan suara rendah yang membuat bulu kuduk Karina meremang.
"Santai saja. Di sini tidak akan ada kamera," bisik Darma, menunduk sedikit hingga napasnya terasa di telinga Karina. "Dan saya jamin, tidak akan ada gosip tentang idol top global yang terkena skandal sedang berkencan dengan seorang pewaris Cendana. Setidaknya, tidak sebelum saya yang mengizinkannya."
Karina langsung menoleh tajam, matanya di balik kacamata hitam berapi-api. "Apa bapak baru saja mengejek skandal saya?"
Darma hanya mengangkat bahu sekilas saat pintu lift terbuka, menampakkan restoran fine dining bertema Western yang mewah dan... kosong. Hanya ada satu meja yang tertata rapi di dekat jendela kaca besar yang menyuguhkan pemandangan lampu-lampu Jakarta bak hamparan permata.
"Silakan, Mbak Karina, Pak Darma," sambut seorang manajer restoran dengan membungkuk sangat dalam.
"Terima kasih," ucap Karina, berusaha mengembalikan sikap lady yang diajarkan ibunya.
Mereka duduk berhadapan. Pelayan datang membawa menu, namun Darma tidak membukanya.
"Apa kamu ada alergi daging atau seafood?" tanya Darma pada calon istrinya.
"Tidak ada. Saya bisa makan apa saja, asal bukan janji manis," sahut Karina sarkastik.
Darma tidak terpancing. Ia justru menatap pelayan itu. "Sajikan Wagyu A5 kualitas terbaik seperti biasa. Dua porsi."
Begitu pelayan pergi, keheningan kembali melanda. Karina mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Wah... cantiknya," gumamnya tanpa sadar. Dari ketinggian ini, kemacetan Jakarta terlihat seperti aliran cahaya yang damai.
"Apa di Korea tidak ada pemandangan seperti ini?" tanya Darma, memecah lamunan Karina.
Karina langsung melirik dengan gaya Ice Queen-nya. "Tentu saja ada. Seoul jauh lebih gemerlap. Lagipula, apa Pak Darma tidak ada kesibukan lain malam ini? Kenapa malah repot-repot mengajak saya makan malam ?"
"Tentu saja saya selalu sibuk," sahut Darma tenang sambil melonggarkan satu kancing kemeja teratasnya. "Tetapi saya harus meluangkan waktu untuk calon istri saya. Itu adalah investasi waktu yang penting."
"Investasi? Ck," Karina mendengus, menyilangkan kakinya. "Pak Darma, apa bapak benar-benar akan menyetujui pernikahan konyol ini? Apa bapak tidak punya pacar? Atau wanita yang bapak cintai? Jangan-jangan bapak setuju karena sebenarnya bapak adalah fans berat saya dan sering menonton fancam saya di YouTube?"
Darma tertawa lepas kali ini. Bukan tawa formal, melainkan tawa tulus yang membuat wajah dinginnya terlihat sepuluh tahun lebih muda. "Ternyata benar, stamina untuk menjadi idola harus sangat kuat. Kamu belum makan saja sudah mampu bertanya panjang lebar dengan rasa percaya diri setinggi itu."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Pak," tantang Karina. "Saya ini sedang serius. Saya terbiasa bekerja keras, bahkan saya pernah hanya minum susu kedelai selama dua bulan demi comeback. Saya tidak suka hal-hal yang tidak jelas tujuannya."
"Benar-benar pejuang yang luar biasa," puji Darma, namun sorot matanya tetap tajam menyelidik.
Tak lama kemudian, hidangan Wagyu A5 tiba. Aroma daging premium yang dipanggang sempurna itu langsung meruntuhkan pertahanan Karina. Matanya berbinar. Ia memotong daging itu dengan presisi dan memasukkannya ke mulut.
"Hmm... luar biasa," gumamnya sambil memejamkan mata sesaat. Rasa lezat itu sejenak menghapus beban pikirannya.
Namun, ia baru menyadari sesuatu. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh restoran yang luas itu. "Eh, tunggu. Kenapa cuma ada kita berdua di sini? Restoran sebesar ini... apa mau bangkrut?" tanyanya polos.
Darma benar-benar dibuat gemas oleh kelakuan lugu di balik topeng "dingin" Karina.
"Tenang saja. Restoran ini tidak akan bangkrut hanya karena saya menutupnya satu malam untuk menjamu calon nyonya besar mereka."
Karina terdiam, kunyahannya terhenti. Ia baru teringat satu fakta: Restoran ini adalah salah satu gurita bisnis milik Grup Hutomo. Oke, Karina. Kamu sedang makan di rumahnya sendiri, batinnya malu.
Setelah makanan habis tanpa sisa di piring Karina, suasana yang tadi sedikit hangat kembali menegang. Karina meminum infused water-nya perlahan sebelum menatap Darma dengan serius.
"Jadi, Pak. Jujur padaku. Kenapa bapak mau menerima perjodohan ini?" tanya Karina.
"Kenapa tidak?" sahut Darma santai, menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Hah? Tapi ini tanpa cinta! Ini cuma... transaksional!"
Darma tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung banyak rahasia kekuasaan. "Kamu memang benar-benar polos atau pura-pura tidak tahu, Ayin?"
Karina mengerutkan kening. "Apa maksudnya?"
"Bukankah ayahmu berencana mencalonkan diri dalam bursa pemilu yang akan datang? Mungkin sebagai presiden atau wakil presiden?"
Karina terdiam. Ia berusaha mengingat-ingat pembicaraan rahasia papahnya di telepon yang sering ia curi dengar. Jabatan Panglima memang akan segera berakhir, dan pengaruh militer ayahnya sangat besar.
Darma memajukan tubuhnya, menatap Karina dalam-dalam. "Ayahmu butuh pondasi sipil yang kuat untuk menunjang logistik dan dukungan ekonomi. Dan saya, sebagai pebisnis, butuh kepastian hukum dan keamanan untuk memastikan gurita bisnis keluarga saya berjalan lancar tanpa gangguan politik."
Mendengar itu, bahu Karina sedikit merosot. Hatinya mencelos. Jadi benar, ia bukan sekadar putri kesayangan, melainkan bidak catur yang diletakkan di atas papan untuk mengamankan langkah sang raja.
"Jadi... aku cuma alat?" tanya Karina dengan suara yang sedikit bergetar, meskipun ia berusaha menutupinya dengan nada ketus.
Darma melihat perubahan raut wajah itu. Ada rasa iba yang melintas sekejap di matanya, namun ia adalah seorang Hutomo; emosi harus selalu di bawah logika. "Di dunia kita, Karina, semua orang adalah alat. Pertanyaannya adalah, apakah kamu ingin menjadi alat yang pasif, atau menjadi partner yang berkuasa?"
Wajah Karina memanas mendengar bisikan Darma yang begitu dekat. "Lalu maksud Bapak...?"
"Maksud saya," Darma tersenyum penuh kemenangan, "kamu harus belajar menjadi istri seorang Hutomo seutuhnya di mata dunia. Dan sebagai imbalannya, saya akan menjadi perisai pribadimu."
Karina tertegun sejenak, namun ia segera menguasai diri. Ia tidak ingin terlihat lemah. Ia mengambil serbet makan kain yang kaku itu, mengeluarkan pulpen Montblanc dari tasnya, dan mulai menulis dengan tulisan tangan yang rapi namun tegas.
"Baiklah, Pak Darma. Jika ini adalah merger dua kekuatan, maka saya butuh kepastian hitam di atas putih. Karena bagi saya, janji verbal tidak lebih berharga daripada debu," ucap Karina sambil menyerahkan serbet yang kini penuh dengan tulisan itu ke hadapan Darma.
Darma menerima kain itu. Ia memicingkan mata, membaca setiap poin dengan saksama. Senyum tipisnya tidak hilang, namun keningnya sedikit berkerut saat mencapai poin-poin tertentu.
Surat Perjanjian Komitmen Bisnis (Karina & Darma).
Pihak pertama ( Karina Dyah Pramesti)
Pihak Kedua ( Darma Hangkuluhur Hutomo)
Pertama, Hak Profesional: Pihak Pertama (Karina) berhak untuk tetap bekerja dan melanjutkan kariernya, baik di dalam negeri maupun internasional setelah nama baiknya dipulihkan.
Kedua, Kebebasan Personal: Pihak Pertama berhak hidup bebas, bersosialisasi dengan teman, shopping, dan liburan tanpa batasan waktu yang mengekang, namun tetap berkomitmen menjaga kehormatan nama keluarga Hutomo di depan publik.
Ketiga, Logistik dan Finansial: Pihak Kedua wajib mentransfer uang bulanan sebesar Rp10 Miliar setiap awal bulan ke rekening pribadi Pihak Pertama. Selain itu, Pihak Kedua wajib memberikan akses Black Card tanpa limit untuk operasional harian.
Keempat, Privasi Mutlak: Urusan pribadi masing-masing yang tidak menyangkut kepentingan publik adalah wilayah terlarang. Baik Pihak Pertama maupun Pihak Kedua dilarang keras ikut campur dalam urusan internal masing-masing.
Kelima, Keturunan: Pihak Pertama bersedia memberikan 2-3 orang anak sebagai penerus takhta. Namun, setiap penambahan satu anak, uang bulanan wajib bertambah 3 kali lipat dari nilai awal sebagai kompensasi risiko fisik dan karier.
Keenam, Protokol Kesehatan & Kesetiaan: Jika di masa depan terjadi hubungan suami istri, Pihak Kedua wajib menyertakan surat bebas HIV terbaru dan menjamin minimal telah bersih dari hubungan dengan wanita lain selama 3 bulan sebelum kontak dilakukan.
Darma berhenti membaca tepat di poin kelima dan keenam. Ia menatap Karina dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara terkejut dan rasa kagum atas keberanian wanita di depannya ini.
"Sepuluh miliar sebulan dan kenaikan tiga kali lipat per anak?" Darma mengetuk-ngetuk jemarinya di meja kayu mahal itu. "Kamu benar-benar putri seorang panglima dan cucu tokoh ekonomi. Kamu tahu persis cara menghargai sebuah risiko."
"Itu harga yang pantas untuk kebebasan dan tubuh saya, Pak Darma. Bagi keluarga Anda, sepuluh miliar mungkin hanya biaya parkir helikopter sebulan, bukan?" tantang Karina berani.
Darma terkekeh pelan. "Dan poin keenam... surat bebas HIV? Kamu pikir saya pria sembarangan?"
"Di dunia old money dan bisnis, kita tidak pernah tahu siapa yang 'bersih' dan siapa yang pandai bersembunyi, Pak. Saya hanya menjalankan protokol keamanan," sahut Karina dengan dagu terangkat.
Darma terdiam sejenak, lalu ia mengambil pulpen dari tangan Karina. Dengan gerakan cepat dan maskulin, ia membubuhkan tanda tangannya di bawah poin-poin tersebut, tepat di atas kain serbet yang rapuh itu.
"Deal," ucap Darma singkat. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan kokoh. "Tapi jangan harap kontrak ini hanya akan menjadi selembar kain tak bermakna. Saya akan menuntut hak saya sebagai suami secara publik dengan sangat serius."
Karina menatap tangan itu, lalu menatap mata tajam Darma yang kini tampak lebih hangat namun tetap mendominasi. Pelan namun pasti, ia menjabat tangan itu.
"Deal. Tapi jangan harap saya akan jatuh cinta pada anda, Pak Darma. Ini murni bisnis."
"Kita lihat saja nanti, Nyonya Darma," sahut Darma dengan nada menggoda. "Biasanya, bisnis yang paling sukses dimulai dari negosiasi yang alot seperti ini."
Malam itu, di puncak gedung tertinggi Jakarta, sebuah aliansi paling berbahaya dan paling mahal di Indonesia resmi terbentuk. Di balik kemewahan Wagyu A5, Karina menyadari satu hal: ia baru saja menyerahkan hidupnya pada seorang pria yang mungkin jauh lebih berbahaya daripada skandal yang menghancurkannya.
*****