Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melunasi Hutang Darah Dengan Gaya
Matahari sore merangkak turun, menyisakan semburat jingga yang jatuh di atas gedung-gedung tua di pinggiran kota. Bagi kebanyakan orang, ini adalah waktu untuk pulang dan beristirahat. Namun bagi Vittorio Genovese, aroma senja yang bercampur dengan bau aspal panas adalah undangan untuk sebuah ritual lama yang sudah sangat ia rindukan: penagihan hutang. Bukan hutang uang yang bisa dilunasi dengan lembaran kertas, melainkan hutang darah yang hanya bisa dibayar dengan rasa takut dan kehancuran.
Vittorio berdiri di depan cermin kamar kostnya. Ia tidak lagi memakai kaos oblong putih yang lusuh. Ia telah meminjam kemeja hitam milik Bang Mamat—yang untungnya pas di tubuh kurusnya meski sedikit berbau kamper—dan menyetrikanya hingga licin sempurna menggunakan setrika kuno milik Mbak Yanti. Rambutnya yang biasanya lepek menutupi dahi, kini ia sisir ke belakang menggunakan sisa pomade yang ia beli dengan uang kembalian belanja pasar kemarin.
Tanpa kacamata tebal yang menghalangi, wajah Arjuna terlihat tajam. Tulang pipinya mulai menonjol, dan sorot matanya yang sedingin es Mediterania memberikan aura predator yang tak terbantahkan.
"Mau ke mana lu, Tuan Muda?" suara melengking Karin terdengar dari balik pintu yang terbuka setengah.
Vittorio menoleh perlahan. Karin berdiri di sana, masih dengan daster bunga mataharinya, namun kali ini ia memegang sebuah jaket kulit imitasi yang terlihat cukup mahal.
"Ada urusan yang harus diselesaikan," jawab Vittorio singkat.
Karin mendekat, matanya meneliti penampilan baru Vittorio dari ujung kaki ke ujung kepala. Ia tampak terpana selama beberapa detik sebelum akhirnya berdehem keras untuk menutupi rasa canggungnya. "Wih, gaya bener. Mau lamaran atau mau kondangan? Nih, pake jaket ini. Punya mantan gue yang ketinggalan dua tahun lalu. Daripada lu masuk angin pake kemeja tipis gitu."
Vittorio menerima jaket itu. Meskipun ia membenci fakta bahwa ini adalah milik 'mantan' seseorang, kualitas bahannya cukup tebal untuk menyembunyikan beberapa alat yang mungkin ia butuhkan. "Terima kasih, Karin."
"Hati-hati, Jun. Gue tahu lu jago berantem sekarang, tapi orang-orang itu... mereka nggak main adil," Karin berkata dengan nada yang tidak lagi semprul. Ada ketulusan yang berat di suaranya.
Vittorio hanya mengangguk kecil, lalu melangkah pergi.
Lokasi yang ditujunya adalah sebuah gudang tua di dekat pelabuhan, tempat yang diidentifikasi oleh memori Arjuna sebagai markas "bisnis sampingan" ayah Rico. Pak Broto, ayah Rico, bukan hanya pengusaha konstruksi; dia adalah lintah darat yang menggunakan jasa preman untuk menekan saingan bisnisnya. Dan malam ini, dia sedang menunggu di sana bersama anak buahnya, berencana untuk "memberi pelajaran" pada mahasiswa yang telah mempermalukan putranya.
Vittorio tidak masuk melalui pintu depan yang dijaga ketat. Ia memutari gedung, memanjat pipa air dengan ketangkasan yang perlahan kembali ke otot-ototnya, dan masuk melalui jendela lantai dua yang tidak terkunci.
Di bawah, di tengah ruangan yang diterangi lampu gantung kuning yang berayun, Pak Broto duduk di kursi kebesarannya. Ia adalah pria tambun dengan cincin emas di setiap jari dan cerutu murah di mulutnya. Di sampingnya, Rico duduk dengan perban di leher dan tangan yang digips, wajahnya masih pucat. Sekitar dua puluh preman berdiri berjaga di sekeliling mereka.
"Mana bocah itu? Katanya kalian sudah menjemputnya!" bentak Pak Broto pada dua preman yang tadi pagi diserang Vittorio di dapur kost.
"Dia... dia bilang akan datang sendiri, Bos," jawab salah satu preman sambil menunduk.
"Datang sendiri? Hah! Dia pasti sudah lari ke luar kota!" Rico menyahut dengan suara serak. "Papi harus cari dia sampai ketemu! Aku mau dia cacat!"
"Kau tidak perlu mencariku jauh-jauh, Tuan Muda," sebuah suara tenang menggema dari kegelapan di atas mereka.
Semua orang mendongak. Vittorio melompat turun dari langkan lantai dua, mendarat dengan ringkas di atas tumpukan palet kayu sebelum melompat ke lantai semen dengan suara yang hampir tak terdengar. Ia berdiri tegak, merapikan jaket kulitnya, dan berjalan tenang menuju kerumunan preman itu seolah ia sedang berjalan di karpet merah sebuah gala di Roma.
"Siapa kau?" Pak Broto berdiri, matanya menyipit. "Kau tidak terlihat seperti 'Arjuna' yang diceritakan anakku."
"Identitas adalah masalah persepsi," ucap Vittorio, berhenti tepat lima meter di depan Pak Broto. "Aku datang untuk melunasi hutang darah yang dibuat anakmu. Dia merusak barangku, dia menyakiti tubuh ini, dan yang paling penting... dia mengganggu ketenanganku."
Pak Broto tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh anak buahnya. "Kau sendirian ke sini, bocah? Kau pikir ini film aksi? Serang dia!"
Sepuluh preman maju sekaligus. Vittorio tidak menunjukkan rasa takut. Ia justru menyeringai—sebuah seringai yang seharusnya tidak dimiliki oleh pemuda berusia dua puluh tahun.
Saat preman pertama melayangkan hantaman pipa besi, Vittorio bergeser sedikit ke samping. Ia menangkap lengan penyerangnya, menggunakan momentum lawan untuk membantingnya ke arah penyerang kedua. Gerakannya bukan lagi sekadar pukulan sembarang; itu adalah balet kematian.
Vittorio bergerak dengan efisiensi yang mengerikan. Ia menggunakan titik-titik tekanan pada tubuh musuh untuk melumpuhkan mereka dengan rasa sakit yang luar biasa namun dengan tenaga minimal. Ia mematahkan pergelangan tangan pria ketiga, menusuk syaraf di bawah ketiak pria keempat, dan memberikan tendangan tajam ke arah tempurung lutut pria kelima.
Setiap gerakannya dilakukan dengan "gaya". Ia tidak pernah terlihat terburu-buru. Bahkan saat ia harus menghadapi tiga orang sekaligus, ia tetap menjaga postur tubuhnya agar tetap tegak, kemeja hitamnya bahkan tidak keluar dari lipatan celananya.
Dalam waktu kurang dari lima menit, lantai gudang itu dipenuhi oleh tubuh-tubuh yang mengerang kesakitan. Sepuluh preman lainnya ragu-ragu untuk maju. Mereka melihat rekan-rekan mereka tumbang bukan karena kekuatan kasar, tapi karena teknik yang mereka sendiri tidak pahami.
"Kenapa kalian diam?! Bunuh dia!" teriak Rico, ketakutannya mulai kembali memuncak.
Vittorio berjalan melewati para preman yang ketakutan itu menuju meja Pak Broto. Tak ada satu pun dari mereka yang berani menghalanginya. Auranya terlalu kuat, terlalu gelap.
Pak Broto gemetar. Ia mencoba merogoh laci mejanya untuk mengambil pistol, namun Vittorio lebih cepat. Ia mengambil sebuah garpu perak yang tergeletak di samping piring sate milik Pak Broto dan melemparkannya dengan akurasi yang mustahil.
JLEB!
Garpu itu menancap di permukaan meja kayu, tepat di antara celah jari Pak Broto yang hendak menyentuh laci.
"Jangan," kata Vittorio pelan. "Jika kau menyentuh senjata itu, aku akan memastikan garpu berikutnya berada di tenggorokanmu."
Pak Broto membeku. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Di depannya bukan lagi seorang mahasiswa. Di depannya berdiri seorang penguasa yang telah melihat ribuan kematian.
Vittorio menarik sebuah kursi dan duduk di depan Pak Broto. Ia mengambil cerutu yang terjatuh dari mulut pria tambun itu dan mematikannya di atas piring sate.
"Mari kita bicara bisnis," ucap Vittorio. "Anakmu adalah sampah. Dia merundung orang-orang yang tidak bisa melawan untuk menutupi ketidakmampuannya sendiri. Dan kau... kau mendanai kegilaannya dengan uang yang kau peras dari orang-orang miskin."
"A-apa yang kau inginkan?" tanya Pak Broto dengan suara bergetar.
"Sederhana. Mulai hari ini, anakmu tidak akan pernah menginjakkan kaki di universitas itu lagi. Kau akan menarik semua tuntutan hukum pada siapapun yang pernah kau peras. Dan sebagai kompensasi atas kacamata dan piring-piring yang pecah pagi tadi..." Vittorio mengeluarkan selembar kertas dari sakunya. "Kau akan mentransfer sejumlah uang ke rekening panti asuhan tempat Arjuna dulu dibesarkan. Jika dalam 24 jam ini tidak dilakukan, aku akan mengirimkan seluruh data transaksi gelap konstruksimu ke kantor pajak dan kepolisian pusat."
"Kau... dari mana kau tahu tentang itu?!"
"Aku punya cara untuk tahu segalanya," bohong Vittorio. Sebenarnya, itu adalah hasil pengamatannya terhadap berkas-berkas yang berantakan di atas meja Pak Broto tadi, dikombinasikan dengan insting mafianya tentang bagaimana bisnis konstruksi kotor dijalankan.
Vittorio berdiri, merapikan jaket kulitnya kembali. "Ingat, Pak Broto. Aku bukan Arjuna yang bisa kau injak. Aku adalah mimpi buruk yang kau ciptakan sendiri."
Ia menatap Rico yang meringkuk di kursi seperti anak anjing yang ketakutan. Vittorio tidak mengatakan apa-apa lagi pada Rico; rasa takut di mata pemuda itu sudah cukup sebagai balasan.
Vittorio berjalan keluar dari gudang melalui pintu depan. Para penjaga di sana langsung membuka jalan, menundukkan kepala mereka karena takut.
Saat ia kembali ke kost, malam sudah larut. Di teras depan, Karin duduk di kursi kayu sambil memeluk lututnya. Wajahnya langsung cerah saat melihat bayangan Vittorio muncul dari kegelapan.
"Juna!" Karin berlari mendekat. Ia memeriksa seluruh tubuh Vittorio. "Lu nggak apa-apa? Lu berdarah? Mana yang luka?!"
Vittorio tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa, Karin. Tidak ada setetes pun darahku yang tumpah."
"Beneran? Lu nggak bohong kan?" Karin masih terlihat khawatir.
Vittorio melepas jaket kulit itu dan memberikannya kembali pada Karin. "Hutangnya sudah lunas. Dan kurasa... mantanmu punya selera jaket yang lumayan bagus."
Karin tersipu, sebuah pemandangan langka yang membuat Vittorio merasa ada sesuatu yang aneh berdesir di dadanya. "Dih, apaan sih. Udah, masuk sana! Mbak Yanti sisain lu ayam goreng, tapi jangan bilang-bilang yang lain ya!"
Vittorio masuk ke kamarnya, menutup pintu, dan merebahkan tubuhnya di kasur tipis. Tubuh ini sangat lelah, tapi jiwanya terasa hidup kembali. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti orang asing di tubuh ini.
"Melunasi hutang darah memang selalu terasa menyenangkan," gumamnya sebelum matanya terpejam.
Malam itu, di sebuah kost sederhana yang bau apek, sang Raja Mafia tidur dengan nyenyak. Ia telah membuktikan satu hal: gaya bukan hanya tentang apa yang kau pakai, tapi tentang bagaimana kau membuat musuhmu berlutut tanpa harus kehilangan martabatmu.
Sementara itu, di kamar sebelah, Karin tersenyum sendiri sambil memeluk jaket kulitnya. "Juna... lu beneran keren hari ini. Tapi tetep aja, lu itu cupu yang semprul."
Perjalanan baru saja dimulai. Dendam kecil telah terbayar, namun konspirasi besar yang melibatkan masa lalu Arjuna dan pengkhianatan di Italia mulai merayap mendekat, menunggu saat yang tepat untuk menerkam. Namun bagi Vittorio, itu hanya berarti satu hal: ia butuh kemeja yang lebih bagus dan rencana yang lebih besar.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍