NovelToon NovelToon
Dia Yang Ku Pilih

Dia Yang Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:849
Nilai: 5
Nama Author: Yolanda Fitri

Novel ini menceritakan seorang gadis bernama BIANCA yang masih kebingungan antara BARRA cinta lamanya yang berakhir karena kesalapahaman yang di buat oleh AZA teman kecil dari BARRA , atau LEO orang baru yang membuat DIA bangkit kembali menjalani hari hari dengan ceria. namun bukan kisah cinta mereka saja yang rumit , Bianca juga menjalani hidup yang tidak mudah di mana dia seorang anak yatim piatu .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Amarah yang tak terbendung

Episode 29

Barra akhirnya berhasil menemukan kamar tempat Bianca dikurung. Betapa murka hatinya saat melihat pemandangan di depannya, laki-laki hidung belang itu terus memaksa dan mengganggu Bianca, sementara wanita yang dicintainya itu menangis ketakutan dalam keadaan yang sangat berantakan dan memprihatinkan. Emosi Barra seketika meluap tak terbendung. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerjang laki-laki itu dan menghajarnya habis-habisan hingga tubuh laki-laki itu terkapar tak berdaya di lantai.

Setelah memastikan laki-laki itu sudah tidak bergerak lagi, Barra segera berbalik menghadap Bianca. Perlahan ia mendekat ke arah gadis itu. Melihat pakaian Bianca yang robek dan terbuka di beberapa bagian, Barra segera melepaskan jaket tebal yang dikenakannya, lalu dengan lembut dan hati-hati ia kenakan pada tubuh Bianca untuk menutupi auratnya.

Namun, sepertinya Bianca masih dalam pengaruh obat bius yang disuntikkan padanya. Ia tampak linglung dan tidak mengenali wajah Barra. Bianca terus mendekap tubuhnya sendiri dengan ketakutan seolah-olah ada bahaya yang mengancam nyawanya.

"Bi... Ini aku, Barra. Tenanglah, sekarang kamu sudah aman. Tidak ada siapa pun yang bisa menyakitimu lagi," ucap Barra dengan nada suara yang sangat lembut dan menenangkan, berusaha merayu dan meyakinkan Bianca agar tidak takut lagi.

Mendengar namanya disebutkan dengan lembut itu, kesadaran Bianca perlahan kembali. Ia menatap lekat-lekat mata Barra, dan saat ia sadar bahwa orang di hadapannya adalah orang yang selama ini selalu ada untuknya, Bianca langsung memeluk erat tubuh Barra seraya menangis tersedu-sedu meluapkan segala ketakutan yang dirasakannya. Namun, karena tenaganya sudah habis sepenuhnya menahan rasa sakit dan takut, tubuh Bianca perlahan lemas dan akhirnya jatuh pingsan di dalam pelukan Barra.

Barra pun segera menggendong tubuh Bianca dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, lalu bergegas membawanya keluar dari tempat mengerikan itu. Namun, ternyata jalan keluar tidak semudah yang dibayangkan. Di depan pintu utama, Barra dihadang oleh pemilik tempat itu sendiri. Wajah pemilik tempat itu tampak garang dan tidak mau membiarkan mereka pergi begitu saja.

"Tidak semudah itu kamu bisa pergi dari sini! Ingatlah, siapa pun yang sudah masuk ke dalam lingkungan ini, sampai kapan pun tidak akan pernah bisa keluar dengan selamat," ancam pemilik tempat itu dengan nada dingin dan sombong.

"Minggir lah! Jika anda tetap menghalangi jalan saya , saya akan pastikan tempat kotor ini akan hancur lebur, dan kamu akan menghabiskan sisa hidupmu membusuk di balik jeruji penjara," balas Barra dengan tatapan tajam dan suara berwibawa yang menggetarkan hati.

Namun, pemilik tempat itu sama sekali tidak merasa takut. Baginya, Barra hanyalah seorang remaja yang masih bocah ingusan dan tidak mungkin berbuat banyak.

"Omong kosong! Coba saja kalau berani," tantangnya.

"Baiklah, kalau anda memang tidak mau mendengar peringatan saya . Cobalah cari tahu di internet tentang Baskara Rainer Group. Saya adalah anak tunggal dari pemilik perusahaan itu. Nama saya adalah Barra Baskara Rainer," ucap Barra tegas.

Mendengar nama besar itu, wajah pemilik tempat itu seketika berubah pucat. Ia tidak langsung percaya begitu saja, lalu segera mengambil ponselnya dan mencari informasi yang disebutkan Barra. Setelah ia memastikan dan melihat foto serta profil lengkapnya di sana, barulah ia sadar bahwa pemuda di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Dengan wajah ketakutan dan berkeringat dingin, pemilik tempat itu akhirnya membuka jalan dan membiarkan Barra pergi membawa Bianca.

Sebenarnya, Barra merasa sangat terpaksa harus menyebutkan nama belakangnya dan statusnya yang sebenarnya. Selama ini, ia tidak pernah mengungkapkan hal itu kepada siapa pun, bahkan kepada teman-teman dekatnya sekalipun. Ia ingin dikenal dan dihargai karena usaha dan kemampuannya sendiri, bukan karena menumpang di balik kesuksesan dan nama besar orang tuanya.

Di saat yang bersamaan, Ella, Dinda, dan Leo akhirnya tiba di lokasi itu. Mereka hendak masuk ke dalam bangunan itu, namun belum sempat melangkah jauh, mereka melihat Barra berjalan keluar dengan menggendong tubuh Bianca di dalam pelukannya. Ketiganya sangat terkejut dan sedih melihat kondisi Bianca yang tampak sangat memprihatinkan, pucat, dan tidak sadarkan diri.

Barra tidak banyak bicara. Ia segera menyuruh Ella untuk membuka pintu mobilnya agar Bianca bisa diletakkan di sana dengan nyaman.

"Gue akan membawa Bianca ke rumah sakit terdekat dulu. Kalian bertiga boleh ikut mengikuti mobil gue dari belakang," perintah Barra tegas namun tenang. Ia pun segera masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.

Leo hanya diam terpaku melihat kepergian mereka. Hatinya sangat terguncang dan sangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Bianca bisa berada di tempat yang mengerikan itu. Namun, ia menahan rasa penasarannya itu. Baginya, keselamatan dan kesehatan Bianca adalah hal yang paling utama saat ini. Akhirnya, mereka bertiga pun mengikuti mobil Barra dari belakang menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, dokter segera memeriksa keadaan Bianca secara menyeluruh. Sementara itu, Barra, Leo, Ella, dan Dinda disuruh menunggu di luar ruangan periksa.

Leo pun mendekati Dinda dan bertanya dengan nada serius, "Din, katakan pada gue apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Bianca bisa sampai mengalami nasib buruk seperti ini?"

Namun, Dinda hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ia masih sangat ketakutan dan merasa sangat bersalah, hingga ia tidak sanggup menjawab pertanyaan apa pun dari Leo.

Melihat kondisi Dinda yang masih sangat lemah dan ketakutan, Ella pun segera mengajak Leo untuk pergi keluar sejenak. Ia berniat menjelaskan semuanya kepada Leo agar pemuda itu paham situasinya. Leo pun menurut dan mengikuti langkah Ella dari belakang. Mereka berdua pun mengobrol di area parkiran rumah sakit yang cukup sepi.

Ella menceritakan kejadian yang dialami Bianca sama persis seperti yang pernah disampaikannya kepada Barra sebelumnya. Ia tidak menambahkan atau mengurangi sedikitpun cerita itu, namun ia juga sengaja tidak membocorkan rahasia besar milik Dinda, karena ia merasa tidak berhak melakukannya tanpa izin Dinda.

Setelah mendengar penjelasan itu, Leo terdiam sejenak seolah sedang berpikir dan menyusun pertanyaan yang paling penting baginya saat ini.

"oke gue paham. Tapi ada satu hal yang paling ingin gue ketahui dari mana asalnya semua ini," ucap Leo menatap tajam ke arah Ella. "Dari mana Bianca mendapatkan informasi lowongan pekerjaan dan alamat tempat itu?" tanya Leo dengan nada serius dan penuh selidik.

Akankah Ella memberitahu kebenaran bahwa itu berasal dari Dinda? Atau akankah ia menutupinya demi menyelamatkan nama baik Dinda?

1
Yolanda Fitri
oke kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!