NovelToon NovelToon
Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
​Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
​Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
​Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
​Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Peta Buta, Diplomasi Kopi, dan Strategi Perang Gerilya

Ruang Strategi Kediaman Jenderal - Malam Hari]

​Suasana di ruangan itu tegang dan serius. Asap rokok klobot mengepul.

Di tengah ruangan, sebuah peta besar Kerajaan Cempaka terhampar di meja kayu.

Arga, Letnan Wira, dan beberapa perwira tinggi sedang berdiskusi dengan wajah keruh.

​Dan di sana, berdiri di samping Arga, adalah Diah Pitaloka.

Dia tidak sekadar berdiri. Dia memegang tongkat penunjuk, menunjuk titik-titik di peta, dan berbicara dengan lancar.

​"Pemberontak Bukit Kabut ini licin," kata Diah percaya diri. "Menurut buku strategi militer Barat yang kupelajari, kita harus melakukan serangan frontal dengan Kavaleri Berat (pasukan berkuda berbaju besi). Kita gempur formasi mereka di lembah ini sampai hancur."

​Arga mengangguk-angguk, terkesan. "Masuk akal. Kuda-kuda kita kuat. Serangan kejutan saat fajar bisa efektif."

​"Benar, Arga," Diah tersenyum bangga. "Kita butuh kekuatan penuh. Aku bisa bantu menghitung logistiknya."

​Aku?

Aku berdiri di dekat pintu sambil membawa nampan berisi kopi dan pisang goreng.

Rasanya seperti Office Boy yang masuk ke ruang rapat Direksi. Tidak dianggap.

​"Ehem," aku berdehem keras. "Kopinya, Jenderal."

​Arga menoleh. "Ah, Tantri. Taruh saja di situ. Kami sedang sibuk."

​Diah melirikku sinis. "Terima kasih, Tantri. Baunya enak. Tapi tolong jangan berisik ya, kami sedang membahas nyawa ratusan prajurit. Ini bukan resep kue."

​Darahku mendidih. Dia pikir aku bodoh?

Aku menaruh nampan dengan sedikit kasar. Clang.

Aku berjalan mendekati meja peta.

​"Serangan Frontal Kavaleri Berat?" tanyaku sambil menatap peta itu. "Di Bukit Kabut?"

​Diah tertawa kecil. "Kenapa? Kau tahu letak Bukit Kabut di mana?"

​"Tahu. Itu daerah pegunungan curam dengan hutan lebat dan tanah berlumpur karena ini musim hujan," jawabku tenang.

​Aku menatap Arga.

"Arga, kalau kau kirim Kuda Besi ke sana, kau sama saja menyuruh mereka bunuh diri. Kuda akan terperosok di lumpur. Baju besi berat akan membuat prajurit lambat. Dan musuh... musuh ada di tempat tinggi."

​"Itu namanya Kill Zone (Zona Pembunuhan)," jelasku menggunakan istilah modern. "Musuh tinggal panah kalian dari atas pohon seperti menembak bebek di kolam."

​Ruangan hening. Wira dan para perwira saling pandang.

Diah merah padam. "Apa maksudmu?! Ini strategi standar kerajaan maju! Kau meragukan ilmuku?"

​"Aku tidak meragukan ilmumu, Nona Diah. Aku meragukan aplikasinya," balasku tajam. "Teori di buku itu bagus di tanah lapang Eropa. Tapi ini hutan tropis Nusantara."

​Aku mengambil tongkat penunjuk dari tangan Diah (agak maksa).

​"Geser," kataku.

​Diah kaget dan mundur selangkah.

Aku menunjuk area lembah sempit di peta.

​"Jangan serang frontal. Itu bodoh. Gunakan Strategi Gerilya dan Pemutus Logistik."

​"Gerilya?" Arga mengernyit. Kata itu asing.

​"Kucing-kucingan," jelasku. "Jangan pakai baju besi. Pakai baju ringan warna hijau/loreng biar menyatu dengan hutan (Camouflage). Kirim unit kecil, bukan pasukan besar. Serang saat mereka tidur, lari saat mereka bangun. Buat mereka stress dan tidak bisa tidur."

​Aku menunjuk sungai kecil yang mengalir ke bukit itu.

"Dan yang paling penting: Matikan dapurnya."

​"Maksudnya?" tanya Wira tertarik.

​"Tentara tidak bisa perang dengan perut lapar," kataku mantap (naluri Chef). "Pemberontak itu bersembunyi di gua. Mereka butuh suplai makanan dari desa di bawah kaki bukit. Jangan serang guanya. Blokade jalan suplainya."

​"Putus aliran air bersihnya. Cegat pengiriman berasnya. Bakar ladang gandum di sekitar situ (Scorched Earth Policy - versi ringan)."

"Tunggu seminggu. Mereka akan turun gunung sendiri menyerahkan diri karena kelaparan. Tanpa kita perlu kehilangan satu pun prajurit."

​Aku meletakkan tongkat itu.

"Itu namanya menang tanpa menghunus pedang. Hemat biaya, hemat nyawa."

​Hening panjang melanda ruangan.

Arga menatap peta itu dengan pandangan baru. Dia membayangkan skenario Diah (darah dan besi) vs skenario Tantri (lapar dan psikologis).

Skenario Tantri jauh lebih masuk akal untuk medan itu.

​"Logistik..." gumam Arga. "Benar. Kenapa aku tidak memikirkan itu? Fokusku hanya pada kekuatan tempur."

​"Karena kau Jenderal Perang, Sayang. Kau dididik untuk membunuh," kataku lembut. "Sedangkan aku Koki. Aku tahu betapa menderitanya orang kalau tidak makan nasi sehari saja."

​Wira menepuk meja. "Brilian! Strategi 'Lapar' ini brilian, Jenderal! Kita bisa mengepung mereka tanpa risiko!"

​Para perwira lain mengangguk setuju. "Nyonya Tantri benar. Kuda kita pasti patah kaki di lumpur itu."

​Wajah Diah Pitaloka berubah dari merah menjadi putih pucat, lalu ungu karena malu.

Teori akademisnya yang mentereng dihancurkan oleh logika emak-emak dapur dalam 5 menit.

​"Itu... itu taktik pengecut!" protes Diah. "Seorang ksatria bertarung berhadapan!"

​"Seorang ksatria yang mati konyol tidak berguna bagi negara, Nona Diah," potong Arga tegas.

​Arga menatapku. Matanya berbinar penuh kekaguman—kekaguman yang berbeda dari sebelumnya. Dulu dia kagum karena masakanku enak. Sekarang dia kagum karena otakku seksi.

​"Wira," perintah Arga. "Batalkan persiapan kavaleri. Siapkan pasukan ringan. Kita pakai strategi Nyonya Tantri. Blokade jalur logistik."

​"Siap, Jenderal!"

​Rapat bubar. Para perwira keluar sambil berbisik memuji kecerdasan Nyonya Besar.

​Tinggal kami bertiga. Aku, Arga, dan Diah.

​Diah meremas tangannya. Harga dirinya hancur.

"Arga... aku cuma..."

​"Kau boleh pulang, Diah," kata Arga datar. "Terima kasih masukannya. Tapi istriku benar. Medan perang bukan tempat untuk teori di atas kertas."

​Diah menatapku dengan tatapan benci yang mendalam.

"Kau... Siapa kau sebenarnya? Tidak mungkin putri manja sepertimu paham taktik militer."

​Aku tersenyum manis, mengambil pisang goreng dari nampan.

"Aku? Aku cuma istri yang ingin suaminya pulang dengan selamat. Pulanglah, Nona. Belajarlah lagi. Dunia itu luas, tidak selebar buku catatanmu."

​Diah berbalik, menghentakkan kaki, dan pergi membanting pintu. BLAM.

​[Kamar Tidur - Setelah Rapat]

​Arga masih menatapku seolah aku alien.

Aku sedang duduk di meja rias, membersihkan wajah.

​"Gerilya. Kamuflase. Blokade Logistik," gumam Arga. "Dari mana kau belajar istilah-istilah itu, Tantri? Ayahmu Raja Selatan bahkan tidak pernah ikut perang."

​Mampus. Keceplosan banyak istilah modern.

Aku harus ngeles.

​"Emm... dari novel," jawabku asal.

​"Novel?"

​"Iya. Novel silat. Kisah Pemanah Rajawali. Di situ banyak taktik perang," dustaku (padahal itu dari buku sejarah Perang Vietnam).

​Arga berjalan mendekat, berdiri di belakang kursiku. Dia memegang pundakku, menatap pantulanku di cermin.

"Kau penuh kejutan. Dulu kupikir kau hanya cantik. Lalu kau pintar masak. Sekarang kau ahli strategi."

​Dia membungkuk, mencium leherku.

"Kau membuatku makin gila, Tantri. Diah tidak ada apa-apanya dibanding kamu."

​Aku tersenyum, pipiku memerah. "Jadi... aku nggak perlu insecure lagi sama ijazah luar negerinya?"

​"Ijazah cuma kertas. Kamu punya intuisi," bisik Arga. "Dan kamu punya anakku."

​Tangannya beralih mengelus perutku yang mulai sedikit membuncit.

"Maaf tadi aku mengabaikanmu. Aku sempat terpesona masa lalu. Tapi sekarang mataku sudah terbuka."

​"Baguslah," aku berbalik, menatapnya. "Kalau kamu macem-macem lagi sama Diah, strategiku berikutnya bukan blokade musuh, tapi blokade jatah ranjang."

​Arga tertawa lepas. Tawa yang renyah dan bahagia.

"Ampun, Nyonya Jenderal. Saya menyerah."

​Malam itu, kami tidur dengan perasaan damai. Diah Pitaloka sudah kalah telak di rondenya sendiri (intelektual).

Tapi aku tahu, wanita seperti Diah tidak akan menyerah begitu saja. Dia dan Laras pasti akan bergabung menjadi duo villain yang merepotkan.

​Dan benar saja.

Keesokan harinya, Diah tidak menyerangku. Dia menyerang Kedai Nusantara.

Bukan dengan tikus. Tapi dengan Hukum.

​Diah menggunakan koneksinya di kementerian perdagangan untuk mengaudit izinku.

Tuduhannya: Monopoli Perdagangan dan Penggunaan Bahan Terlarang (Kopi dianggap zat adiktif/narkoba baru).

​Surat penyegelan ditempel di pintu Kedai Nusantara.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
Nunung Elasari
recommended, ceritanya bagus.......
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ada kelegaan yang menyumbat rongga dada,
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta Arga membawa nya ke masa depan
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
tdk bisa kah takdir di rubah kembali
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
seluruh istana pasti berduka atas hilangnya Tantri yang istimewa
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
waduhh , kisah masa lalu bisa kacau kembali ini
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
huhuhu.. /Sob/ bagaimana kelanjutannya ini thor? semoga happy ending..
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
taktik gerilyaa apalagi tantri
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah sia2, ....
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
udah ngaku aja daripada disuruh makan ceker mercon yg isinya potongan jari2 sendiri 🙈🙀
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
tambahin irisan kol dan daun bawang 😆😆
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
gak main main, 5 liter minyak jelantah 🤣🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
kAlau kirana bangun ,tantri kembali kesetelan awal donk🤣,kecuali tersisa memori dan sedikit keahlian kirana agar tantri hidupnya tak sengsara dengan kehilangan keahliannya.
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
refresh tenaga dlu ya tantrii
musuh baru akan segera datang
🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Bebek timbung = bebek betutu, hhmmm yummy....
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
yoo jadikan si cakar ayam bulan2an, yg kepleset minyak, kesiram air, kena tepung, kejepit pintu 🥳🥳🥳
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: panjangin listnya /Determined//Determined//Scream//Scream//Scream/
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
eeh kirain namanya Pembunuh Bayaran Cakar Ayam 🤣🤣
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta lama sulit terganti kan ya Diah
sampai segala cara di pake buat merebut arga
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mantan jenderal kembali
seperti apa kisah cinta mu jenderal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
🤣🤣🤣 tidur dulu biar bangun udah fresh, siap atur strategi hadapi ibu suri 🥳
Ai Emy Ningrum: turing#turumiring😴😴😴😴😴💤💤💤💤💤
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!