Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luapan Kemarahan Judika (2)
Hari pemakaman pun tiba.
Di pemakaman keluarga seluruh kerabat berkumpul. Saat peti jenazah yang berisi jasad Juandra Pratama diturunkan perlahan masuk ke dalam lubang yang sudah disiapkan, suara tangisan pecah di mana-mana. Judika hanya berdiri diam. Air mata terus mengalir tanpa henti.
Namun tatapan matanya kosong, seolah jiwanya ikut pergi bersama lelaki yang baru saja dikuburkan itu.
"Paman," lirih para keponakan dan kerabat muda.
"Juandra/kak Juandra." isak Devano dan Misca.
"Juandra, selamat jalan. Aku berjanji padamu, aku akan menjaga dan merawat kedua putra kita sebaik mungkin. Aku akan menebus semua kesalahanku," batin Jovina sambil menatap gundukan tanah yang mulai terbentuk.
"Ayah, maafkan aku yang pergi membawa ibu meninggalkanmu saat kau sangat membutuhkan kami. Aku menyayangimu, sampai kapan pun. Istirahatlah dengan tenang," batin Chandra, mengepalkan tangannya erat-erat berusaha menahan tangisan.
Prosesi berakhir. Pendeta selesai membacakan doa. Dan saat itulah, ketenangan itu pecah seketika.
"AYAHHH!!"
Tiba-tiba Judika berteriak histeris sehingga membuat semua orang menoleh kaget dan sedih.
"Judika, tenanglah." Marcel langsung berdiri di sampingnya.
"Tapi itu ayahku, kak! Kenapa mereka memasukkan ayah kesana? Ayah belum meninggal! Ayah hanya tidur karena lelah bekerja!" teriak Judika sambil memberontak saat Marcel menahannya.
Pelukan itu akhirnya terlepas karena kekuatan Judika yang tiba-tiba meledak. Dia jatuh bersimpuh tepat di depan gundukan tanah segar itu. Kedua tangannya mengais-ngais tanah basah seolah ingin membongkarnya kembali.
"Ayah! Apa yang kalian lakukan?! Gali kembali! Kembalikan ayahku! Dia masih hidup! Dia cuma tidur!" teriak Judika sampai suaranya serak.
Chandra yang melihat adiknya sudah di ambang kegilaan karena kesedihan tidak tahan lagi. Dia melangkah cepat, berdiri tepat di depan Judika.
"Judika, sadarlah! Ayah sudah pergi! Dia sudah tenang di atas sana! Dia akan sedih melihatmu seperti ini!" bentak Chandra berusaha menyadarkan.
Judika menatap tajam kearah Chandra. Matanya merah padam dipenuhi amarah yang tiba-tiba meledak.
"Siapa kau?! Berani sekali mulutmu mengatakan ayahku sudah meninggal! Kau bukan siapa-siapa bagi kami! jangan berani berbicara tentang ayahku dan aku!"
Judika kembali berteriak keras, "Tunggu apa lagi! Gali sekarang juga! Ayahku masih hidup!"
"Judika!"
Plaakk..
Suara tamparan keras terdengar jelas di seluruh area pemakaman. Chandra menampar pipi kanan adiknya dengan kekuatan yang cukup keras sampai wajah Judika terayun ke samping.
Chandra melakukannya bukan karena marah, tapi karena itulah satu-satunya cara yang dia pikirkan untuk menyadarkan akal sehat adiknya yang sudah hilang terbawa kesedihan.
Judika menoleh perlahan. Menatap wajah kakaknya dengan pandangan yang sulit diartikan. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang menusuk tulang.
"Kau berani menamparku? Kau pikir kau siapa, hah?! Kau bukan siapa-siapa dalam hidupku!" teriak Judika sambil mendorong dada Chandra sampai kakaknya itu terhuyung mundur.
"Aku kakakmu, Dika! Dan kau adikku! Darah yang mengalir di tubuh kita sama!" bentak Chandra dengan suara gemetar.
"Yang aku tahu selama ini. Hanya ada aku dan ayah! Tidak ada kau, tidak ada perempuan itu, dalam kehidupan kami berdua!" ucap Judika tajam. "Kalau kau memang kakakku, kemana kau saat ayah memukuliku sampai tubuhku penuh memar? Kemana kau saat aku menangis sendirian di kamar karena kesakitan? Kemana kau saat aku membutuhkan seseorang untuk memeluk dan menghiburku, hah?!" bentak Judika dengan tatapan penuh amarah dan dendam.
"Kalau kau benar-benar keluarga. Tidak peduli apa yang terjadi. Tidak peduli seberapa buruk keadaan. Kau dan perempuan itu tidak akan pernah pergi meninggalkanku di sini sendirian bersama ayah yang dulu seperti iblis!" suara Judika semakin keras, semakin menusuk hati setiap orang yang ada di pemakaman itu.
"Kenapa baru sekarang kau datang? Kenapa baru sekarang kau mengaku sebagai kakakku? Selama bertahun-tahun, kemana saja kau?!" teriak Judika.
Chandra hanya bisa diam. Bibirnya terkatup rapat. Dia tidak punya jawaban, karena apa yang dikatakan adiknya adalah fakta. Itu adalah kenyataan pahit yang dia tahu sangat menyakitkan.
"Dengarkan aku baik-baik, Chandra Wiguna!"
Penekanan pada nama belakang itu membuat Chandra menegang seketika.
"Menjauhlah dari hidupku! Jangan pernah lagi mengganggu atau muncul di hadapanku! Mulai detik ini, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi! Kau sudah mengganti marga Pratama milik ayah menjadi marga Park milik ibumu! Itu artinya, kaulah yang pertama memutuskan ikatan darah ini! Bukan aku!"
"Dan satu lagi. Kau dan ibumu selama ini tidak pernah berusaha untuk mencari atau menemui kami, setidaknya menemuiku! Kau dan ibumu hidup bahagia berdua tanpa ada aku dan ayah. Sementara ayah, selama ini selalu mencari keberadaanmu dan ibumu. Selama ini ayah selalu menyalahkan dirinya atas sikap buruknya. Jadi aku tekankan sekali lagi, kau dan ibumu yang sudah memutuskan hubungan ini, bukan aku dan ayahku!"
Setelah mengeluarkan semua isi hatinya, Judika berbalik dan pergi dengan langkah cepat. Dia pergi eninggalkan semua orang yang tertegun membisu.
Keenam kakaknya hanya bisa saling menatap, lalu segera berlari mengejar adik mereka yang sedang hancur berkeping-keping itu.
Setelah kepergian mereka, Devano dan kerabat Pratama dan Wiguna lainnya mendekati Chandra yang masih berdiri kaku, matanya menatap tanah dengan pandangan kosong.
"Kau harus sabar, Chandra. Semua yang dikatakan Judika itu benar, dan dia berhak merasa seperti itu. Selama ini satu-satunya yang dia miliki hanyalah ayah kalian. Dan sekarang, bahkan itu pun hilang. Jadi bersabarlah, Nak! Emosinya sedang tidak stabil. Dia sedang mencari jalan keluar dari rasa sakitnya. Terima saja semuanya, karena kau memang berhutang banyak padanya," nasehat Devano sambil menepuk bahu keponakannya.
"Ya, sudah. Lebih baik kita pulang. Untuk sementara, kita semua akan tinggal di rumah kak Juan. Aku khawatir kalau Judika sendirian. Dia akan melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya," ucap Misca memecah keheningan.
Mereka semua mengangguk setuju, lalu perlahan berjalan meninggalkan pemakaman. Membawa serta beban berat dan harapan yang samar-samar, bahwa suatu hari nanti luka yang begitu dalam itu bisa sembuh, dan ikatan keluarga yang hampir putus itu bisa tersambung kembali.
Namun saat ini, semua yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu, dan bersabar.