NovelToon NovelToon
After Reuni

After Reuni

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: rachmaraaa

Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.

Dan Reuni itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Adrian yang sedang merapikan kamar hotel, mengabaikan ponselnya di meja. Pria itu tidak berminat untuk bicara dengan Livy. Tapi, penasaran.

Barang-barang yang berceceran dimasukkan oleh Adrian ke dalam satu tas. Supaya nanti bawaannya tidak terlalu banyak. Sebelum meninggalkan hotel, ia ingin semuanya tidak ada yang tertinggal.

Mita baru saja keluar dari kamar mandi. Memakai jubah mandi dan menghampiri suaminya yang sibuk memasukkan kotak hadiah ke dalam wadah yang lebih besar.

"Mas," panggilnya.

"Dalem, Sayang..." Adrian melepaskan apa yang dipegang dan memangku istrinya. Harum vanila menyapanya dari tubuh Mita. "Udah baikan, hm?" Bibir Adrian maju untuk mengecup leher Mita.

"Udah, Mas. Maaf ya, kemarin udah ninggalin kamu tidur seharian." Mita mengecup bibir Adrian dan disambut hangat dengan suaminya.

"Iya, Sayang. Aku tau kamu kecapean. Ada yang sakit nggak? Apa waktu ronde kedua aku mainnya kasar?" Tangan Adrian masuk ke dalam belahan jubah yang Mita pakai. Dan mengelus paha dalam Mita dengan lembut.

"Mas, geli," ucap Mita sambil menahan tangan Adrian.

"Yang mana yang geli, ini?" Bukannya menjauh, tangan Adrian justru semakin meraba makin dalam.

"Mass... Kamu ini. Nanti Arumi dan Arjuna datang, gimana?"

"Mereka bisa suruh nunggu. Tapi, kalau yang ini, kayaknya nggak bisa, Sayang." Adrian membuka jubah bagian atas milik Mita, menampakkan leher dan tulang selangka. Di sana Adrian mendaratkan ciumannya. Mengecupnya pelan dan terus turun hingga ke dada.

Dua gunung sintal milik Mita yang kenyal, menjadi santapan Adrian dengan rakus. Bergantian dari kanan dan kiri.

"Eehmm... Masshh..." Mita meremas rambut Adrian. Mita yang duduk di atas pangkuan Adrian pun, membuka lebar kedua kakinya. Supaya jari Adrian bisa menyentuh pusat tubuhnya.

Namun, baru juga Adrian ingin melancarkan aksinya, bel pintu berbunyi.

"Sialan!" Adrian mengumpat kesal.

Mita tertawa dan buru-buru merapikan jubah mandinya. Ia berlari ke kamar mandi sekalian membawa pakaian.

Sedangkan Adrian, dengan malas-malasan membuka pintu kamarnya. Karena ia tahu siapa yang akan datang.

"Lama amat dah..." Arjuna nyelonong masuk.

Adrian bersandar pada pintu dengan wajah melas.

Arumi memicingkan matanya. Melihat wajah sepupunya yang lesu.

"Kita nggak ganggu, kan?" tanya Rumi.

"Ganggu banget." Adrian menjawab dengan wajah pura-pura sedih.

Arumi tertawa dan menarik kakaknya. "Kak, kita ganggu katanya. Padahal dia yang nyuruh kita kesini buru-buru."

"Elah, namanya pengantin baru. Lagi gacor-gacornya tuh burung!" Timpal Arjuna sambil duduk dan memperhatikan barang-barang yang akan mereka bawa. "Jadi, semuanya ini kita bawa ke rumah?"

Adrian mengangguk. Menunjuk ini dan itu.

Arjuna menghela napas berat. "Demi sepupu gue rela jadi babu."

"Gue nggak nganggep Lo babu ya, Jun. Lo sendiri yang bilang gitu." Adrian mengetuk pintu kamar mandi. "Sayang... Udah belum?"

"I-iya, Mas. Bentar, lagi mau ngeringin rambut," balas Mita dari dalam.

Arumi dan Arjuna sedang negosiasi, barang mana dan mana yang harus ada di mobil Arumi dan Arjuna.

Pintu kamar mandi terbuka dan Mita sudah terlihat segar, meskipun wajahnya agak sedikit pucat.

"Mas Dri, mau mandi?"

"Aku kan udah mandi subuh tadi. Sini aku bantu keringkan rambutnya." Baru juga Adrian ingin menyiapkan hairdryer, Arjuna menghampiri.

"Handphone Lo getar terus nih!"

Adrian menerimanya. Ia sudah tahu siapa yang sejak semalam sibuk ngirim pesan dan mencoba menghubunginya. Bisa saja ia menjawab panggilan tersebut. Tapi, entah mengapa, perasaannya tidak enak. Ia tidak ingin setelah menerima panggilan tersebut, moodnya jadi berantakan.

"Siapa, Mas? Kok nggak dijawab?" Mita penasaran.

"Biarin aja." Adrian meletakkan ponselnya di atas ranjang dengan posisi menghadap ke dalam.

Mita memperhatikan itu, perasaannya pun malah jadi tidak enak. Tidak biasanya suaminya meletakkan ponselnya secara terbalik ke dalam seperti itu. 'Ada yang tidak beres!'

。⁠◕⁠‿⁠◕⁠。

Perjalanan pulang ke rumah, Mita lebih banyak diam di mobil. Kebetulan Adrian tidak bawa mobil, jadi mereka nebeng di mobil Arumi.

"Sayang, mau makan apa siang ini?" tanya Adrian. Genggaman tangannya sedari tadi tidak pernah ia lepaskan.

"Pengin yang segar-segar, Mas." Jawaban Mita terdengar dingin.

Adrian merasakan perubahan istrinya yang mendadak. Kalau saja bukan di mobil Arumi, mungkin sekarang Adrian sudah bertanya kenapa sang istri menjadi dingin.

"Rujak kali, Kak," sahut Arumi yang ada di kursi depan.

"Mau rujak, Yang?" Adrian memastikan ke Mita.

"Apa aja, yang penting segar." Mita menanggapi seadanya.

Adrian menarik napas panjang dan mengecup punggung tangan istrinya. "Sayang kamu," bisiknya ke telinga Mita.

Mita hanya menoleh, tersenyum singkat dan menatap ke jendela lagi.

Adrian makin erat menggenggam tangannya. Ia butuh waktu berdua. Namun, sialnya, jalanan macet. Yang membuat mobil tersendat dan lambat untuk sampai ke rumah.

Kurang lebih 30 menit diam-diaman di perjalanan. Akhirnya mereka sampai di rumah Adrian. Arumi dan Arjuna juga membantu mereka menurunkan barang-barang.

"Dri, gue langsung balik. Ada kerjaan nih. Kalau butuh sesuatu, jangan telepon gue ya," ujar Arjuna sambil pamitan pada Adrian dan Mita.

Arumi juga tidak enak kalau harus berlama-lama di rumah itu. Takut menganggu pengantin baru.

"Aku juga langsung pamit ya. Kasian ibu nanti lama nunggu. Aku mau ngajak ibu ke Bandung nanti malam." Arumi ikut pamit.

"Makasih banyak ya Rumi. Udah bantuin semuanya," ucap Mita dengan tulus dan langsung memeluk Arumi.

"Iya, Mbak. Kalian sehat-sehat ya dan harus bahagia. Biar bisa cepat dapet junior."

Adrian mengaminkan setelah meletakkan koper Mita dari dalam kamar. "Pokoknya makasih banyak deh buat sepupu-sepupu gue yang baik hati. Kapan-kapan gue traktir makan."

Arjuna dan Arumi memeluk Adrian singkat dan akhirnya mereka pergi.

Mita langsung berbalik masuk ke dalam tanpa menunggu suaminya yang sedang mengunci gerbang. Ia langsung masuk ke kamar dan menatap kopernya. Bingung harus melakukan apa. Rumah itu masih asing baginya.

"Sayang, mau aku buatin teh atau kopi? Aku lagi pesan yogurt di online. Mungkin 20 menitan baru sampai. Gimana?"

Mita menggeleng lemah. Ia tersenyum singkat.

Melihat Mita masih begitu, Adrian langsung menghampirinya. Duduk disampingnya dan memeluknya.

"Sayang marah?"

"Nggak, Mas."

"Terus, kamu kok cuek gitu. Senyumnya mahal banget deh. Kenapa sih?" Adrian membujuk istrinya dengan manja.

Sebenarnya Mita adalah orang yang suka sekali silent treatment. Ia kadang merasa terlalu lelah untuk menjelaskan kesalahan atau alasan apa yang membuatnya begitu. Tapi kalau ia diam, Adrian tidak akan pernah tahu alasannya. Dan, ia ingin terbuka pada suami barunya.

"Mas..."

"Dalem, Sayang."

"Aku mau kita saling jujur apapun itu. Aku trauma dengan kejadian di masa lalu. Jadi, kalau Mas udah nggak sayang sama aku, bilang ya, jangan selingkuh."

"Astaghfirullah, Dek... Aku nggak akan gitu."

"Iya, Mas. Aku tau. Tapi, janji ya, Mas nggak boleh bohong. Apapun itu, harus jujur meskipun bikin aku sakit hati."

"Iya, Dek. Oh, aku tau nih. Jangan-jangan karena orang yang nelepon tadi pagi kan?" Adrian langsung menebaknya.

"Itu siapa emangnya? Kenapa nggak dijawab?" Mita penasaran.

Adrian segera mengambil ponselnya dari tas kecil yang ia bawa tadi. Lalu, menunjukkan siapa orang yang ia abaikan dari pagi.

"Livy? Maksudnya Livy istrinya Rio?" tanya Mita penasaran. Tubuhnya tiba-tiba bergetar tanpa permisi lebih dulu.

Adrian melihat tubuh istrinya gemetaran, langsung dipeluknya. "Sayang... Tenang ya."

[]

*Terima kasih untuk kalian yang masih setia baca cerita ku ini 🥰 jangan lupa kalian boleh tinggalkan jejak kalian. like, komentar dan giftnya juga boleh banget 🤗 follow aku juga yaa ..

1
milku
selamat ya Mita dan adrian😍
riza
livy keknya stres dia 🤭
riza
mampus
riza
bukan Turing namanya ih
riza
gacor bgt pasutri ini 🤭🔥
riza
haduuh 🧐
riza
mudah²an nggak terjadi apa-apa sih sama Mita 🥺
riza
kok nyesek ya 🥺
riza
iya betul 🥺 sebelum semua terlambat, mending di obrolin dari skrg 🥰
riza
uhuuuuyy 🤭🤭
Secilia Cindy
bacanya sambil meriang2 ka..🤭
Dila Dilabeladila
hadehhhhhh udah langsung ajak k KUA aja bias bisa nambah dengam bebas🤣🤣
riza
hot ya kak 🔥🤭
riza
si Rio sakit emang
riza
lah dasar si Rio tolil
riza
fitnah jir
riza
eh gila si Rio
riza
lah sama mas ... saya yg baca juga udh GK sabar ini 🤭
riza
mulai deh ngeselinnya
riza
mas Adrian maunya mewah ya 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!