Colly Shen berangkat ke luar negeri untuk menjalani hidup baru, namun tanpa sengaja terseret ke dalam organisasi kejahatan yang berbahaya. Di negeri asing, ia harus bertahan dan melindungi dirinya sendiri di tengah ancaman dan pertarungan yang terus datang.
Di sisi lain, kehadiran Colly menarik perhatian beberapa pria—Micheal Xie, sosok dari masa lalunya, Wilbert, calon suaminya, dan seorang ketua organisasi misterius yang awalnya menjadi musuh.
Siapa yang mampu mendapatkan cinta dari Colly Shen yang terkenal dengan sifatnya yang tidak pernah mau mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Colly berjalan menuju gerbang kampus dengan langkah santai, seolah tidak ada apa pun yang perlu dikhawatirkan.
Dari kejauhan sudah terlihat beberapa mobil hitam terparkir rapi, dengan belasan pria berpakaian gelap berdiri di sekitarnya. Di tengah mereka, seorang pria paruh baya dengan aura menekan berdiri tegak sambil memegang tongkat berukiran kepala naga, tatapannya langsung mengunci pada Colly saat gadis itu mendekat.
Mahasiswa di sekitar perlahan menjauh, memberi ruang tanpa berani mendekat. Suasana yang tadinya ramai kini berubah sunyi dan tegang.
Colly berhenti beberapa langkah di depan mereka. Tangannya masuk ke saku, wajahnya tetap tenang tanpa sedikit pun rasa takut.
Jason Long melangkah maju, sorot matanya dingin dan penuh amarah yang ditahan.
“Kau Colly Shen?” tanyanya.
Colly hanya menatap sekilas tanpa menjawab, sikapnya terlihat acuh seolah pria di depannya bukan siapa-siapa.
Hal itu membuat rahang Jason mengeras.
“Aku dengar kau sangat berani, berani menyentuh anakku,” ucapnya dengan nada rendah penuh tekanan.
Colly mendengus pelan, lalu mengangkat pandangannya dan menatap langsung ke mata pria itu.
"Jadi ini Jason Long," batinnya.
Udara di sekitar mereka terasa semakin berat. Beberapa anak buah Jason mulai bergerak, perlahan mengepung dari berbagai arah. Namun Colly tetap berdiri di tempatnya, tidak mundur sedikit pun.
“Ternyata aku sangat menakutkan bagi kalian, sampai harus membawa begitu banyak orang hanya untuk melawanku,” sindir Colly dengan senyum tipis.
“Jason Long… kedua anakmu memang tidak berguna. Sampah masyarakat.”
Ucapan itu langsung membuat suasana memanas.
“Colly Shen, kurang ajar! Kau berani bicara seperti itu pada papaku!” bentak Josep dengan emosi.
Colly menoleh sedikit, tatapannya dingin.
“Josep Long, kau dan adikmu hanya tahu mencari masalah,” balasnya tenang.
“Begitu kalah dariku, kalian pakai cara seperti ini untuk membalas. Sejak awal kalian yang memulai.”
Jason mengangkat tangan, menghentikan anak buahnya yang mulai bergerak.
Tatapannya tajam menembus Colly. “Siapa yang berada di belakangmu selama ini, Colly Shen?” tanyanya pelan, penuh tekanan.
Colly tersenyum tipis.
“Tidak ada,” jawabnya singkat. “Aku tidak seperti anak-anakmu yang manja dan tidak berguna.”
Rahang Jason mengeras.
“Sepertinya kau masih belum mengerti tujuanku datang ke sini,” ujarnya dingin.
Colly mengangkat dagu, menatapnya tanpa gentar.
“Tujuanmu? Balas dendam demi kedua anakmu?” katanya dengan nada meremehkan.
“Coba lihat hasil didikanmu. Yang laki-laki lemah dan tidak bisa diandalkan. Yang perempuan hanya pandai bicara kasar tanpa harga diri.”
Suasana semakin menekan.
“Apakah itu yang disebut keluarga Long yang berpengaruh?” lanjut Colly.
Ucapan itu membuat Jason mengepalkan tangan.
Amarahnya jelas terlihat...meski masih ia tahan.
Jason tidak langsung menjawab.
Tangannya menggenggam tongkat berukir naga itu dengan kuat. Ukiran naga yang melingkar di batangnya tampak tajam dan berwibawa, menambah aura tekanan dari pria itu.
Ia melangkah maju satu langkah. Tatapannya tetap tertuju pada Colly.
“Sepertinya kau benar-benar tidak tahu dengan siapa kau berhadapan,” ujarnya dingin.
“Colly Shen, kalau kau mengaku kalah dan menyerah, mungkin kami akan memaafkanmu,” ujar Josep dengan nada meremehkan.
Colly menatapnya datar.
“Apa yang kau inginkan dariku?” tanyanya tenang.
“Meminta maaf padaku dan adikku. Berlutut di hadapan kami sambil menggonggong,” jawab Josep tanpa ragu.
Colly tersenyum tipis.
“Tannia, mana senjataku?” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Tannia yang sejak tadi tegang langsung menyerahkan cambuk yang tersimpan dalam tas milik Colly.
Colly menerima benda itu dengan kedua tangan, lalu menariknya perlahan.
Srett!
Suara cambuk itu terdengar tajam di udara.
Tatapannya berubah dingin.
“Untung saja mama memberiku ini… jadi aku bisa menghajar anjing Long,” gumamnya pelan.
“Apa yang kau katakan? Anjing Long?” bentaknya.
Colly mengangkat dagu, menatap semua orang di hadapannya.
“Berapa orang yang mau maju?” tantangnya.
“Jason Long, jangan salahkan aku kalau hari ini kau dipermalukan. Kalian yang terus mencari masalah, jadi aku akan mengakhirinya sekarang.”
Ucapan itu membuat suasana semakin panas.
Jason mengangkat tangan, wajahnya dingin penuh amarah.
“Beri dia pelajaran!” perintahnya tegas. “Pastikan dia tidak bisa berdiri dan merangkak memohon padaku!”
Dalam sekejap, anak buahnya bergerak maju.
Langkah mereka serempak, mengepung Colly dari segala arah.
Namun gadis itu tidak mundur.
Cambuk di tangannya terangkat.
Matanya tajam.
Siap menghajar siapa pun yang mendekat.
Di atas salah satu pohon hias di halaman kampus...seorang pria duduk santai, mengamati semua itu dari ketinggian.
Micheal.
Tatapannya tenang, penuh perhitungan.
“Pertunjukan yang menarik…” gumamnya pelan. “Jason Long, kalian terlalu meremehkan gadis itu.”
Matanya menyipit.
“Hanya setahun… tapi kemajuannya sudah sejauh ini.”
Atas perintah Jason, anak buahnya langsung maju serentak.
Beberapa menyerang dari depan, lainnya memutar dari samping dan belakang.
Colly langsung mengayunkan cambuknya.
Srett!
Cambukan pertama menghantam wajah pria di depan. Garis merah langsung muncul di pipinya, kulitnya terbelah tipis hingga ia menjerit dan mundur.
Tanpa jeda...
Srett!
Ayunan berikutnya mengenai bahu pria lain. Bajunya robek, kulitnya memerah dan langsung bengkak.
Dua orang mencoba menerjang bersamaan.
Colly berputar dan membalas.
Srett! Srett!
Kali ini cambuknya menyapu lebar, mengenai wajah dan leher mereka. Bekas panjang terlihat jelas, membuat mereka tersentak kesakitan sambil menutup luka.
Satu pria berhasil mendekat dan mengayunkan pukulan...
Colly menghindar, lalu menarik cambuknya dan menghantam dari jarak dekat.
Srett!
Cambukan itu tepat mengenai wajahnya, meninggalkan bekas sepatu cambuk yang jelas. Darah tipis mulai keluar.
“Ahhh!” teriaknya sambil terjatuh.
Serangan terus berdatangan.
Namun setiap yang mendekat...
langsung dibalas.
Srett! Srett! Srett!
Wajah, tangan, dan tubuh mereka dipenuhi bekas cambukan.
Baju mereka robek di beberapa bagian. Kulit memerah, sebagian tergores hingga berdarah.
Teriakan kesakitan mulai terdengar di mana-mana.
Beberapa mundur, beberapa jatuh, sisanya ragu untuk maju lagi.
Di tengah itu semua...
Colly tetap berdiri tegak.
Cambuk di tangannya masih bergerak.
Tanpa ampun.
Jason dan Josep membulatkan mata melihat anak buah mereka tumbang satu per satu. Beberapa yang belum maju mulai ragu, langkah mereka tertahan saat menatap Colly.
Di sisi lain, mahasiswa yang menyaksikan mulai bersorak dan bertepuk tangan. Aksi Colly membuat mereka terpukau.
Colly berdiri tegak di tengah mereka, napasnya stabil, cambuk masih berada di tangannya.
Matanya kemudian beralih... fokus pada tongkat berukir naga di tangan Jason.
Tanpa ragu, tangannya bergerak cepat.
Srett!
Cambuk itu melesat, melilit tongkat tersebut dengan akurat.
Dalam satu tarikan kuat... tongkat itu terlepas dari genggaman Jason dan langsung berpindah ke tangan Colly.
Semua terjadi begitu cepat.
Jason terkejut.
Tatapannya berubah tajam, tidak menyangka gadis yang ia remehkan bisa bergerak secepat itu.
Kini... tongkat kebanggaannya berada di tangan lawan.
“Jason Long, karena kau ingin mencari masalah denganku… aku, Colly Shen, siap melayanimu sampai habis,” ucap Colly dingin.
Tangannya mengangkat tongkat berukir naga itu dengan satu tangan.
Semua mata tertuju padanya.
Perlahan, ia menggenggam tongkat itu dengan kedua tangan.
Lalu. dengan gerakan tegas, ia menghantamkannya ke lututnya sendiri.
Krak!
Suara patahan terdengar jelas.
Tongkat itu terbelah menjadi dua.
Semua orang terdiam.
Jason membulatkan mata, wajahnya menegang melihat tongkat kebanggaannya dihancurkan begitu saja.
Colly melempar kedua potongan tongkat itu hingga jatuh tepat di hadapan Jason.
mau gunakan cara licik
walaupun jauh abangnya pasti tetap pantau siapa lagi kalau bukan Michael yang pantau
sudah dibully dapat serangan bertubi-tubi
tapi ga mau kasih info ke keluarganya.
Dia punya kaka yang hebat orang tua juga hebat, tapi soknya kebangetan juga, 🙄🙄seharusnya kasih tau gitu setidaknya ada pengawal bayangan.
punya tunangan juga ga guna cuma bisa melarang doankk, bantuin calon tunangan mu kek, masa berjuang sendiri🙄🙄🙄