NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:694
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Pukul dua siang, matahari tepat berada di puncaknya, memanggang atap seng gudang material hingga suhu di dalamnya terasa seperti tungku pembakaran. Debu semen yang beterbangan kini tidak lagi terlihat seperti kabut tipis, melainkan partikel padat yang menyesakkan dada setiap kali Agus menarik napas. Keringat yang mengucur dari pelipisnya bercampur dengan abu semen, menciptakan lapisan kerak berwarna abu-abu yang mengeras di sela-sela pori-pori kulitnya. Setiap kali Agus menggerakkan leher atau lengannya, kerak itu pecah dan menimbulkan rasa gatal yang luar biasa, namun ia tidak punya waktu untuk menggaruk.

Pergelangan kaki kirinya kini sudah mati rasa. Rasa sakit yang tajam tadi pagi telah berubah menjadi sensasi dingin yang aneh, seolah-olah kakinya sudah bukan lagi bagian dari tubuhnya. Ia berjalan menyeret, menumpukan hampir seluruh beban tubuhnya dan beban sak semen lima puluh kilo pada kaki kanannya. Otot paha kanannya bergetar hebat karena kelelahan yang dipaksakan.

Sak ke-empat puluh delapan. Agus menghitung di dalam hati. Ia menaruh sak itu di atas tumpukan palet kayu dengan sisa tenaga yang ada. Bunyi debuk berat saat semen itu mendarat seolah menyedot seluruh sisa oksigen di paru-parunya. Ia membungkuk, memegangi lututnya, berusaha mengatur napas yang tersengal.

Tiba-tiba, dari arah pintu masuk gudang yang silau oleh cahaya matahari, muncul sosok yang sangat Agus kenali. Lukman, tetangganya, berlari terengah-engah melewati tumpukan besi beton. Wajah Lukman tampak pucat, dan ia berkali-kali menyeka keringat dengan kaosnya yang basah.

"Gus! Agus!" teriak Lukman, suaranya parau menembus kebisingan suara mesin truk.

Agus menegakkan punggungnya dengan susah payah. Jantungnya seketika berdegup kencang, bukan karena kelelahan, tapi karena firasat buruk yang tiba-tiba menghantamnya. "Ada apa, Man? Kenapa kamu ke sini?"

Lukman berhenti di depan Agus, napasnya memburu. "Bapakmu, Gus... Bapakmu pingsan di kamar mandi. Tadi ibumu teriak-teriak minta tolong. Bapakmu muntah dar*h banyak sekali, sekarang kondisinya lemas, napasnya tinggal satu-satu."

Dunia Agus seolah berhenti berputar sejenak. Suara bising gudang, teriakan mandor, dan debu semen yang menyesakkan tiba-tiba hilang dari kesadarannya. Yang ada hanya bayangan wajah pucat ayahnya. Ia teringat tangan dingin bapaknya saat ia pamit tadi pagi.

"Ya Allah... Bapak," bisik Agus lirih. Tangannya yang putih karena semen gemetar hebat.

Tanpa pikir panjang, Agus langsung berbalik hendak mengambil tas kainnya. Namun, langkahnya terhenti oleh sosok Pak Jono yang berdiri menghalangi jalan. Pak Jono menatap Agus dengan tatapan yang keras, tangannya memegang papan jalan dengan kencang.

"Mau ke mana kamu, Gus? Truk ini belum selesai dibongkar. Kamu tahu aturannya, kan? Kalau kamu pergi sekarang, jatah upahmu hari ini hangus, dan besok saya tidak bisa jamin kamu masih punya tempat di sini," ucap Pak Jono dengan suara yang dingin.

"Pak Jono, tolong saya... Bapak saya kritis di rumah. Saya harus pulang sekarang," pinta Agus dengan suara yang hampir menangis.

Pak Jono mendengus pelan, matanya tidak menunjukkan simpati sedikit pun. "Semua orang punya alasan, Gus. Kemarin kakimu sakit, sekarang bapakmu kritis. Di sini kita bicara soal profesionalitas. Kalau kamu mau jadi orang sukses seperti yang kamu impikan, kamu harus tahu mana prioritas. Pilih: pekerjaan ini atau urusan rumahmu?"

Agus menatap Pak Jono dengan tatapan yang sulit diartikan. Rasa marah, sedih, dan hina bercampur menjadi satu. Ia ingin berteriak bahwa ayahnya lebih berharga dari seratus truk semen mana pun, tapi ia juga sadar bahwa tanpa upah hari ini, ia tidak punya uang sepeser pun untuk membawa ayahnya ke rumah sakit.

"Maaf, Pak Jono. Saya harus pulang," ucap Agus akhirnya. Ia tidak peduli lagi dengan ancaman itu. Ia menyambar tas kainnya, lalu berlari lebih tepatnya menyeret kakinya menuju tempat parkir motor.

Perjalanan pulang terasa seperti mimpi buruk yang panjang. Agus memacu motor tuanya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli pada lubang-lubang jalan yang membuat pergelangan kakinya menjerit kesakitan. Air mata mulai mengalir di pipinya, membasahi debu semen yang menempel di wajahnya, menciptakan alur-alur kotor yang menghitam.

Sesampainya di halaman rumah, Agus melihat beberapa tetangga sudah berkumpul di teras. Ibu agus duduk bersimpuh di depan pintu, menangis histeris sambil memegangi kepalanya. Bau amis dar*h tercium hingga ke halaman.

Agus berlari masuk. Di ruang tengah, bapak agus terbaring di lantai dengan alas tikar pandan. Ada noda dar*h yang cukup banyak di kain sarungnya dan di lantai semen yang retak. Napas ayahnya terdengar sangat berat, setiap tarikan udara seolah menjadi perjuangan terakhir.

"Pak! Bapak! Ini Agus, Pak!" Agus berlutut di samping ayahnya. Ia memegang tangan bapaknya yang kini terasa lebih dingin dari es.

Bapak agus membuka mata perlahan, matanya sayu dan tidak lagi fokus. Bibirnya yang membiru mencoba bergerak, namun hanya suara rintihan pelan yang keluar.

"Kita bawa ke rumah sakit sekarang, Bu! Cepat!" perintah Agus pada ibunya.

"Uangnya dari mana, Gus? Ibu tidak punya simpanan lagi. Uang koperasi kemarin sudah menghabiskan semuanya," isak ibu agus.

Agus merogoh sakunya. Kosong. Upah hari ini hangus karena ia pergi sebelum pekerjaan selesai. Uang empat ribu sisa kemarin sudah ia pakai untuk bensin tadi pagi. Ia menatap ke sekeliling ruangan yang kumuh itu. Matanya tertuju pada vitamin dan susu kaleng pemberian Rahma di atas meja. Benda-benda itu terlihat sangat mewah, namun tidak berdaya menyelamatkan nyawa ayahnya saat ini.

"Pinjam motor Pak RT, Man! Tolong bantu aku!" teriak Agus pada Lukman yang berdiri di ambang pintu.

Bersama beberapa tetangga, mereka membopong bapak agus menuju puskesmas terdekat menggunakan motor. Agus duduk di belakang, memeluk erat tubuh ayahnya yang kini terasa sangat ringan, seolah-olah nyawa ayahnya sudah mulai menguap. Sepanjang perjalanan, Agus tidak berhenti berdoa. Ia menciumi pundak ayahnya yang berbau minyak kayu putih dan keringat.

Sesampainya di Puskesmas, bapak agus langsung dibawa ke ruang tindakan. Agus berdiri di depan pintu, seluruh tubuhnya masih tertutup debu semen. Ia tampak sangat kontras dengan lantai puskesmas yang putih bersih. Perawat dan orang-orang yang lewat menatapnya dengan pandangan terganggu karena debu yang jatuh dari bajunya.

Agus tidak peduli. Ia menyandarkan kepalanya di dinding, memejamkan mata.

Ting.

Ponsel di sakunya bergetar. Agus mengambilnya dengan tangan yang bergetar. Layarnya yang retak memperlihatkan pesan dari Nor Rahma.

Nor Rahma: "Mas Agus, kok pesanku tadi siang tidak dibalas? Kamu masih sibuk ya? Oh iya, tadi sore aku beli kue enak sekali di toko dekat kantor. Aku ingat kamu suka yang manis-manis. Kalau besok Mas libur, aku antar ke rumah ya?"

Agus menatap pesan itu dengan rasa sesak yang luar biasa di dadanya. Rahma bicara tentang kue, tentang rasa manis, dan tentang kunjungan ke rumah. Sementara di balik pintu di depannya, ayahnya sedang bertarung dengan maut dan Agus bahkan tidak tahu apakah ia sanggup membayar biaya administrasi puskesmas nanti.

Dunia mereka benar-benar sudah pecah.

Agus ingin membalas pesan itu. Ia ingin mengetik: "Rahma, bapakku muntah dar*h. Aku tidak punya uang. Aku kotor oleh semen. Tolong jangan datang ke rumah sekarang. Kamu tidak akan tahan melihat rumahku yang berbau dar*h dan kemiskinan."

Tapi jarinya berhenti. Harga dirinya yang tersisa melarangnya. Ia tidak ingin menghancurkan bayangan indah yang Rahma miliki tentang dirinya. Ia tidak ingin Rahma melihatnya sebagai beban.

Agus mematikan ponselnya. Ia memasukkannya kembali ke saku.

Seorang perawat keluar dari ruang tindakan, wajahnya tampak serius. "Keluarga Bapak agus? Bapak harus segera dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat. Alat kami di sini tidak memadai untuk menangani pendarahan di paru-parunya. Tolong segera urus administrasinya dan siapkan kendaraan."

"Biayanya berapa, Sus?" tanya Agus, suaranya hampir hilang.

"Untuk tindakan awal dan administrasi rujukan, Bapak harus bayar seratus tujuh puluh ribu rupiah sekarang," jawab perawat itu.

Agus terdiam. Seratus tujuh puluh ribu rupiah. Angka itu terasa seperti gunung yang tidak mungkin ia daki. Ia melihat ke arah ibu agus yang hanya bisa menangis di kursi tunggu.

Di titik ini, Agus menyadari satu hal yang sangat menyakitkan. Kemiskinan bukan hanya soal tidak bisa makan enak atau tidak bisa memakai baju bagus. Kemiskinan adalah ketika kamu harus melihat orang yang paling kamu cintai meregang nyawa, dan kamu hanya bisa berdiri diam karena tidak punya beberapa lembar uang kertas di sakumu.

Agus menatap langit-langit puskesmas yang putih. Di dalam benaknya, ia mulai mempertanyakan segala hal. Cintanya pada Rahma, kejujurannya pada Pak Hadi, dan usahanya memikul semen. Semua itu seolah tidak ada artinya di depan pintu ruang tindakan ini.

"Tuhan... tolong jangan ambil Bapak sekarang. Agus belum memberikan bukti apa-apa pada Bapak," bisiknya dalam hati, sementara air matanya jatuh, membasahi kerak semen di pipinya, mengubahnya menjadi aliran lumpur yang kotor.

Malam itu, di bawah lampu neon puskesmas yang dingin, Agus mulai menyadari bahwa perjuangannya melawan kemiskinan baru saja dimulai, dan musuh terbesarnya bukanlah Pak Jono atau Ibu Farida, melainkan waktu yang terus berjalan mengejar napas bapaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!