NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUARA BARU

Episode pertama Suara Asing setelah seri Untuk Langit selesai berbeda dari semua episode sebelumnya.

Bukan surat yang dibacakan. Bukan suara anonim yang mengisi keheningan dengan kata-kata orang lain.

Wren membuka episode itu dengan kata-kata yang ia tulis sendiri:

---

"Halo.

"Nama saya Wren. Ini pertama kalinya saya menyebut nama saya di sini.

"Selama dua tahun, saya membawa suara-suara orang lain. Surat-surat yang tidak pernah terkirim, kata-kata yang tidak punya alamat, perasaan yang terlalu besar untuk satu orang tapi tidak punya tempat untuk pergi. Saya membawanya karena saya percaya bahwa kata-kata yang benar tidak kedaluwarsa — mereka hanya menunggu cara untuk sampai.

"Seri Untuk Langit mengajarkan saya sesuatu yang tidak saya antisipasi.

"Ia mengajarkan saya bahwa membawa suara orang lain dan menyembunyikan suara sendiri adalah dua hal yang pada akhirnya tidak bisa berdampingan terus. Bahwa ada titik di mana menjadi pengantar tidak cukup — di mana kamu perlu juga menjadi pengirim.

"Jadi mulai hari ini, Suara Asing akan membawa dua jenis suara: suara-suara yang ditemukan, dan suara-suara yang sengaja dibagikan. Surat-surat lama dan kata-kata baru. Kisah orang lain dan, sesekali, kisah saya sendiri.

"Ini bukan perubahan besar. Ini hanya — lebih jujur.

"Selamat datang kembali. Dan selamat datang, untuk pertama kalinya.

"— Wren"

---

Episode itu didengarkan dua juta kali dalam empat belas jam.

Di kolom komentar, ribuan orang menulis berbagai hal. Tapi satu yang paling banyak di-like, satu yang paling sering dibagikan ulang, adalah ini:

"Terima kasih sudah akhirnya ada sebagai kamu sendiri. Kita yang mendengarkan sudah lama ingin mengenal siapa yang membawa suara-suara itu. Sekarang kami tahu: seseorang yang juga belajar, seperti kita semua."

---

Arsa membaca komentar itu di apartemennya dan mengirimkan screenshot ke Wren.

Wren membalas dengan satu emoji — bukan emoji yang biasa ia pakai. Satu bintang kecil. Kecil tapi cukup.

"Pak Suryadi sudah baca episodenya," tulis Wren setelahnya. "Ia bilang: 'Akhirnya kamu bicara sebagai dirimu sendiri. Sudah lama saya tunggu.' Lalu ia kembali menyortir buku dan pura-pura tidak bilang apa-apa."

Arsa tertawa ke layar ponselnya — tertawa sendiri di apartemen, jenis tertawa yang tidak butuh penonton karena terjadi karena sesuatu yang benar-benar lucu.

"Pak Suryadi adalah oracle yang tidak mau disebut oracle."

"Ia akan sangat tidak setuju dengan kalimat itu."

"Makanya saya tidak akan bilang langsung kepadanya."

"Bijak."

Empat bulan setelah pertama kali mereka duduk di kafe Blok M dengan kotak kayu di antara mereka.

Pameran sudah ditutup dua minggu lalu — dengan upacara penutupan kecil yang dihadiri keluarga, Kirana yang datang lagi dari Yogyakarta, Pak Suryadi yang naik satu-satunya kali ia meninggalkan tokonya di jam buka. Foto-foto Dito sudah dikembalikan ke keluarga. Kotak kayu ada di rak Wren — tempatnya sekarang, tempat yang sudah tepat.

Arsa sedang di tengah proyek Bu Hartini. Tiga wawancara sudah dilakukan, dua lagi dijadwalkan. Kisah Pak Budi ternyata berlapis dengan cara yang berbeda dari Pak Wahyu — bukan kisah tentang jarak yang tidak terjembatani tapi tentang dua orang yang saling menyesuaikan diri selama empat puluh dua tahun sampai tidak ingat lagi mana yang asli dan mana yang penyesuaian.

Bu Hartini, di wawancara ketiga, berkata sesuatu yang membuat Arsa berhenti menulis:

"Budi sangat baik dalam beradaptasi. Tapi saya baru sadar sekarang — ada perbedaan antara seseorang yang beradaptasi karena ingin dan seseorang yang beradaptasi karena tidak tahu cara lain. Saya tidak pernah bertanya yang mana. Dan sekarang saya ingin tahu."

Arsa membawa kalimat itu pulang dan duduk dengannya lama. Lalu ia menceritakannya kepada Wren — bukan untuk didiskusikan, tapi karena ada hal-hal yang perlu diucapkan supaya terasa nyata.

Wren mendengarkan. Lalu berkata: "Bagaimana dengan Anda?"

"Maksudnya?"

"Adaptasi Anda. Selama enam tahun terakhir — apakah itu karena ingin atau karena tidak tahu cara lain?"

Pertanyaan yang menghantam dengan cara yang tidak Arsa antisipasi tapi yang tidak ingin ia hindari.

"Campuran," katanya jujur. "Dulu lebih ke tidak tahu cara lain. Sekarang mulai bisa membedakan."

"Karena?"

"Karena ada seseorang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah dijawab dengan jawaban yang sudah disiapkan."

Wren menatapnya. "Saya tidak pernah mengajukan pertanyaan sulit kepada Anda."

"Justru itu yang membuat pertanyaan Anda sulit," kata Arsa. "Anda tidak mengajukannya dengan cara yang memaksa jawaban tertentu. Anda hanya ada, dan keberadaan Anda membuat saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu kepada diri sendiri."

Wren diam sebentar.

"Itu," katanya akhirnya, "adalah kalimat yang sangat baik."

"Saya sedang berlatih mengatakan hal-hal yang baik langsung kepada orangnya."

"Sudah sangat maju dari empat bulan lalu."

"Saya punya guru yang baik."

Wren tersenyum ke cangkir tehnya. Tidak mengatakan apa-apa. Tapi tidak perlu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!