NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Udara Jatinegara pada Minggu dini hari, 4 Agustus 2002, terasa menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran sampah dari sudut-sudut gang. Sandi sudah terjaga saat jam dinding tua di ruang tengah baru saja berdentang tiga kali. Di bawah temaram lampu bohlam 15 watt, ia melihat sosok ibunya yang terbalut mukena putih, bersujud khusyuk dalam rakaat terakhir shalat tahajudnya. Sandi memilih duduk diam di ambang pintu kamar, menunggu dengan takzim hingga ibunya selesai melipat sajadah dan memanjatkan doa-doa panjang yang selalu menyertakan namanya.

Setelah ibunya mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sebagai tanda berakhirnya munajat, Sandi menghampiri. "Bu, Sandi izin ke pangkalan Bang Mursidi sekarang ya?"

Ibunya menoleh, guratan lelah di wajahnya sesaat tertutup oleh senyum teduh. "Kamu mau ambil koran lagi, San? Ini kan hari Minggu, biasanya saingan kamu banyak yang sudah mangkal dari jam dua."

Sandi mengangguk mantap sambil membetulkan letak jaket lusuhnya. "Iya, Bu. Mumpung hari Minggu, biasanya edisi spesial banyak yang nyari. Beritanya juga lebih beragam, banyak orang sengaja beli koran buat baca kolom hiburan atau lowongan kerja mingguan. Sayang kalau dilewatkan."

"Ya sudah, hati-hati jualan korannya. Jangan sampai lari-larian kalau ada lampu merah, bahaya," pesan ibunya lembut.

Sandi teringat percakapannya di telepon koin semalam. "Oh iya, Bu. Tadi malam Mamanya Saskia pesan lagi. Besok sepulang sekolah kita diundang ke rumahnya di Pondok Indah. Katanya sekalian kenalan, beliau juga mengundang kita makan malam bersama di sana."

Raut wajah ibu Sandi seketika berubah ragu. Ia terdiam sejenak, jemarinya memainkan ujung mukena. "Loh? Kenapa harus di rumahnya, San? Kenapa nggak ketemuan di sekolah saja atau di tempat yang biasa? Ibu segan kalau harus bertamu ke rumah orang kaya, apalagi sampai diundang makan malam segala. Takutnya Ibu salah bersikap atau malah merepotkan mereka."

"Sandi juga sudah mencoba menolak halus semalam, Bu. Sandi bilang Ibu sibuk dengan cucian, tapi Tante Desi memaksa. Katanya biar lebih akrab bicaranya kalau di rumah sendiri," jelas Sandi dengan nada membujuk agar ibunya tidak terlalu merasa terbebani.

Ibu Sandi menarik napas panjang, mencoba menepis rasa minder yang menggelayuti hatinya. "Ya sudah, kalau memang dia memaksa, sekali ini saja ya Ibu penuhi. Tapi besok-besok kalau dia mengajak lagi, kamu harus pintar-pintar cari alasan. Bilang saja Ibu nggak bisa terus-terusan meninggalkan pekerjaan cucian, kasihan langganan kalau baju mereka telat diantar."

Sandi mengangguk patuh, merasa lega karena ibunya akhirnya setuju. Ia meraih tangan kanan ibunya dan menciumnya dengan takzim. "Kalau gitu, Sandi pamit berangkat sekarang ya, Bu. Biar nggak kehabisan stok koran pagi."

"Habis dagang koran, kamu langsung pulang?" tanya ibunya sembari mengantar Sandi ke pintu depan.

"Kalau korannya cepat habis, Sandi mau mampir ke pasar dulu sebentar," jawab Sandi.

Tatapan ibunya berubah khawatir. "Ya sudah, tapi tolong jangan terlalu dipaksakan ya. Ingat kesehatan juga, Nak. Kamu itu masih sekolah, malamnya harus belajar. Ibu takut kalau kamu forsir terus tenaga kamu, nanti kamu malah jatuh sakit."

Sandi tersenyum lebar, mencoba meyakinkan ibunya bahwa ia baik-baik saja. "Iya, Ibu. Sandi janji nggak bakal lama. Habis dagang koran, paling cuma dua kali manggul belanjaan orang di pasar, terus Sandi langsung pulang kok. Tenaga Sandi kan masih banyak, Bu."

"Iya, sudah, hati-hati ya Nak," ucap ibunya sambil mengusap pundak Sandi.

Sandi yang sudah siap melangkah kembali menoleh. "Ibu mau masak apa hari ini? Apa perlu Sandi belikan makanan matang saja pas pulang nanti?"

"Kalau kamu jadi ke pasar, sekalian belikan bahan sayur saja, San. Ibu mau bikin sayur asem biar segar. Beli kacang panjang, labu siam, sama jagungnya yang bagus ya," pesan ibunya.

"Siap, Bu! Nanti Sandi bawakan semua bahan-bahannya yang paling segar. Kalau gitu Sandi berangkat ya. Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam..." Ibu Sandi tersenyum dan melambaikan tangan hingga bayangan anak laki-lakinya itu hilang tertelan kegelapan gang.

Sandi pun memacu motornya menuju pangkalan koran Bang Mursidi. Di kepalanya, ia sudah menyusun strategi: habiskan 50 eksemplar koran, bantu manggul belanjaan di pasar, beli bahan sayur asem, lalu istirahat sebentar sebelum besok harus menghadapi "misi besar" membawa ibunya ke jantung kemewahan Pondok Indah.

Sinar matahari pagi di awal Agustus 2002 mulai terasa menyengat kulit, membiaskan cahaya di atas aspal Jatinegara yang sudah mulai berdebu. Sandi tiba di pangkalan Bang Mursidi saat azan Subuh baru saja berkumandang. Tanpa membuang waktu, ia langsung menyambar tumpukan koran yang masih beraroma tinta basah. Sebanyak 50 eksemplar koran berbagai nama—dari harian ibu kota hingga koran olahraga—ia ikat rapi dengan tali rafia.

Sandi sengaja memarkirkan Ninja 150RR hijaunya di pojok pangkalan, terselip di antara tumpukan krat botol minuman. Ia tahu betul, berjualan di lampu merah dan trotoar Halte Stasiun Jatinegara jauh lebih efektif dengan kaki telanjang yang lincah daripada harus repot memikirkan posisi parkir motor. Dengan tas selempang kusam dan tumpukan koran di tangan, Sandi mulai membelah keramaian pagi.

"Koran, koran! Berita pagi, hasil bola semalam!" teriaknya dengan suara lantang, sesekali meliuk di antara deretan bus kota Mayasari Bakti dan Mikrolet yang saling klakson berebut penumpang.

Waktu seolah berlari. Keringat mulai membasahi kaos oblong putihnya, namun semangat Sandi tak surut. Tepat pukul 08.00 pagi, lembar terakhir koran olahraga terjual kepada seorang bapak yang sedang menunggu angkot. Dengan langkah ringan namun pasti, Sandi kembali ke pangkalan Bang Mursidi.

"Bersih, Bang! Lima puluh ludes!" seru Sandi sambil menyerahkan seikat uang setoran yang sudah ia rapikan sesuai nominalnya.

Bang Mursidi, pria paruh baya dengan handuk kecil melingkar di leher, menghitung uang itu dengan cekatan lalu memisahkan beberapa lembar uang kertas untuk Sandi. "San, ini jatah kamu. Makasih ya tenaganya. Kamu bener-bener hebat, nggak pernah ada retur kalau kamu yang pegang."

Sandi terkekeh kecil sambil mengusap keringat di dahi, menyambut uang hasil jerih payahnya dengan rasa syukur. "Justru Sandi yang makasih banyak, Bang. Abang sudah baik banget kasih izin Sandi ambil eksemplar koran, padahal Sandi cuma bisa bantu seminggu sekali kalau Minggu, atau kalau lagi libur sekolah doang. Jatah orang lain jadi kepotong gara-gara Sandi."

Bang Mursidi menepuk bahu Sandi dengan keras hingga cowok itu sedikit terhuyung. "Alah, kamu itu benar-benar jiplakan bapakmu, si Herman. Selalu saja rendah hati padahal kerjaannya paling rapi. Yaudah, habis ini langsung balik kan? Istirahat, besok kan sudah Senin, waktunya sekolah."

Sandi menggelengkan kepalanya perlahan sembari merapikan uang di dompetnya. "Belum, Bang. Sandi mau ke Pasar Jatinegara dulu. Mumpung jam delapan, biasanya lagi puncak-puncaknya orang belanja sayur. Lumayan buat tambah-tambah kalau ada yang butuh jasa panggul. Sekalian Sandi mau beli bahan dapur, Ibu minta dibelikan bahan sayur asem katanya."

Bang Mursidi hanya bisa geleng-geleng kepala takjub. Ia merogoh saku celana pendeknya, mengeluarkan selembar uang lima ribuan—nominal yang cukup besar di tahun 2002—lalu menyodorkannya pada Sandi. "Kamu bener-bener ya, jiwa pejuang kakekmu itu turun semua ke kamu. Nggak mau liat waktu nganggur sedikit pun. Nih, Abang kasih bonus tambahan khusus buat kamu beli sarapan di pasar."

Mata Sandi membelalak. "Wah, serius nih, Bang? Jadi enak nih Sandi dapet bonus mulu."

"Ya enaklah! Sudah, ambil. Terus cari bubur ayam atau nasi uduk dulu di pasar. Biar kamu nggak pingsan waktu ngangkat karpet atau belanjaan orang yang segambreng itu. Perut kosong itu musuh utama buruh panggul, San," ujar Bang Mursidi sambil terkekeh.

"Makasih banyak ya, Bang. Doakan lancar. Sandi pamit dulu!" Sandi menyalami tangan Bang Mursidi dengan takzim, lalu melangkah menuju motor kesayangannya.

Ia menghidupkan mesin Ninja 150RR-nya. Suara knalpot standar yang garing namun bertenaga itu menderu pelan, memecah kebisingan pangkalan. Dengan helm terpasang rapat, Sandi memacu motor warisan mendiang ayahnya itu membelah kepadatan jalan raya menuju Pasar Jatinegara. Di kepalanya, ia sudah membayangkan segarnya sayur asem buatan Ibu yang akan menemani siang hari mereka nanti.

Sandi memarkirkan Ninja 150RR hijaunya tepat di depan sebuah warteg langganan yang posisinya strategis di sudut area parkir Pasar Jatinegara. Bau harum tumis kangkung dan tongkol balado yang menyeruak dari balik etalase kaca seolah memanggil cacing-cacing di perutnya yang sudah berdemo sejak di pangkalan koran tadi. Setelah menyantap sepiring nasi rames dengan lahap, Sandi menitipkan motor kesayangannya kepada pemilik warung, seorang pria paruh baya yang sudah menganggap Sandi seperti keponakan sendiri.

"Nitip ya, Cak. Mau cari keringat bentar," ujar Sandi sembari menyeka keringat dengan kaosnya.

Sandi melangkah menuju area bongkar muat yang riuh. Di antara teriakan pedagang sayur dan deru mesin angkot, ia berdiri tegap, menanti pelanggan yang membutuhkan jasa ototnya. Tak lama kemudian, sebuah tepukan pelan mendarat di punggungnya. Seorang ibu-ibu paruh baya berdiri di sana bersama seorang gadis remaja yang tampak tak asing.

"Mas, tolong bawakan belanjaan saya ke parkiran ya," ucap sang ibu.

Saat Sandi memutar tubuhnya, ia terpaku sejenak. Di hadapannya berdiri Anggita, sang ketua kelas yang biasanya tampil rapi dengan seragam, kini mengenakan kaos santai dan celana kargo, tampak kontras dengan suasana pasar yang becek.

"Sansan?" pekik Anggita, matanya membelalak tak percaya.

Sandi justru terkekeh santai, seolah pertemuan ini adalah hal paling lumrah di dunia. "Yo, Nggi! Wih, anak tomboi akhirnya turun gunung ikut belanja ke pasar ya? Tumben banget," godanya sembari menyampirkan handuk kecil di lehernya.

Anggita tampak masih syok. Ia mengucek matanya berkali-kali seolah sedang melihat halusinasi, lalu melangkah maju dan memegang kedua pipi Sandi dengan gemas. "Lo... nga... pa... in... di sini, San?!" tanyanya dengan nada menuntut penjelasan.

Sandi tertawa renyah, menepis pelan tangan Anggita. "Nyari duit lah, pe'a! Emang mau ngapain lagi gue di sini? Mau ikut kontes kecantikan antar kuli?"

Ibunya Anggita yang memperhatikan interaksi mereka tampak bingung. "Loh, kamu kenal sama Mas ini, Nggi?"

Anggita menoleh ke arah mamanya dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Mah, ini dia si Sandi. Teman sekelas Anggi yang selalu nempel di ranking dua itu loh."

Kini giliran Mama Anggita yang terperanjat. Ia menatap Sandi dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan baru. "Oh! Jadi ini yang namanya Sandi? Dia ini langganan Mama kalau belanja besar, Nggi. Mas ini rajin banget angkatin belanjaan Mama. Ternyata selama ini dia teman sekolah kamu toh?"

Sandi segera meraih tangan Mama Anggita dan menyalaminya dengan takzim. "Pagi, Tante. Maaf, Sandi juga baru tahu kalau Tante ternyata Mamanya Anggita. Dunia sempit ya, Tante."

"Iya, maaf ya Tante nggak pernah lihat kamu di sekolah saat ambil rapor. Kamu juga nggak pernah main ke rumah Anggi soalnya," ujar Mama Anggita ramah.

"Ya nggak apa-apa, Tante. Sandi emang lebih sering di jalanan dan jarang ikut saat pengambilan raport di sekolah," jawab Sandi merendah.

Anggita mendengus, matanya mulai berkaca-kaca namun ia tahan dengan raut kesal yang dibuat-buat. "Nggak apa-apa pala lo! Gue nggak nyangka, San... ternyata lo jadi kuli angkut nyokap gue selama ini. Kenapa lo nggak pernah bilang?!"

Sandi hanya mengangguk santai, tidak merasa ada yang perlu didebatkan. "Udah ah, jangan dibahas lagi. Mana yang mau dibawa? Keburu siang, nanti aspalnya makin panas."

Sambil memanggul karung beras seberat 25 kilogram di bahu kanan dan menenteng dua plastik besar berisi sayur-mayur di tangan kiri, Sandi mulai memimpin jalan menuju parkiran mobil. Anggita berjalan di sampingnya, matanya terus memperhatikan otot lengan Sandi yang menegang menahan beban.

"Sejak kapan lo kerja beginian, San?" tanya Anggita lirih.

"Sejak bokap gue meninggal, Nggi. Gue mau bantuin nyokap. Gue nggak mau liat dia capek sendirian nyuci baju orang dari pagi sampe malam," jawab Sandi jujur tanpa ada nada mengasihani diri sendiri.

"Berarti... dari kelas satu SMP?" Anggita memastikan, suaranya sedikit bergetar.

"Yoi, Nggi. Pas anak-anak lain sibuk beli mainan baru, gue belajar cara manggul karung biar nggak sakit pinggang."

Anggita menggelengkan kepalanya pelan, teringat memori-memori lama. "Berarti selama ini, kalau anak-anak liburan sekolah, terus lo selalu bilang nggak bisa ikut karena ada acara keluarga atau sibuk... itu sebenarnya karena ini?"

Sandi mengangguk mantap. "Betul. Daripada waktu liburan gue kepake buat nongkrong nggak jelas atau jalan-jalan yang buang duit, mending gue di sini cari modal buat sekolah dan bantu dapur."

"Kok lo nggak pernah cerita sedetail ini sih, San?"

"Bukannya gue udah pernah cerita ya kalau gue kerja sampingan?" Sandi balik bertanya.

"Lo ceritanya cuma 'bantuin nyokap', San! Bukan cerita kalau lo jadi kuli panggul di pasar begini!" seru Anggita gemas.

"Lah, ini kan juga salah satu cara bantuin nyokap, pe'a. Halal ini," sahut Sandi enteng.

"Lo tiap Minggu di sini?"

"Iya. Jadwal gue padat, Nggi. Jam tiga pagi gue dagang koran di lampu merah sampai jam tujuh. Terus jam delapan sampai siang gue di sini. Kalau lagi libur panjang, sorenya gue lanjut ngamen di terminal sampai malam. Lumayan, recehannya bisa buat bayar buku," jelas Sandi seolah itu adalah rutinitas yang sangat biasa.

Anggita tiba-tiba berhenti melangkah. Ia menatap punggung tegap Sandi yang berjalan dengan langkah pasti meski beban di pundaknya tampak berat. Mama Anggita yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka, menyentuh pundak putrinya dengan lembut.

"Teman kamu hebat ya, Nggi. Walaupun hidupnya keras, dia nggak malu untuk jujur. Dia sudah punya tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada anak-anak seusianya demi ibunya," bisik sang mama.

Anggita menoleh ke arah ibunya, matanya nampak berkaca-kaca. "Dia langka, Mah. Anggi baru sadar sekarang, ternyata beban yang dia pikul di pundaknya jauh lebih berat daripada karung beras itu. Dan dia masih bisa ranking dua di kelas..."

"Ya sudah, jangan dibawa sedih," hibur mamanya. "Toh dia nggak merasa apa yang dia lakukan itu beban, kan? Kamu lihat sendiri, dia justru melakukannya dengan senang dan bersyukur. Itu yang namanya laki-laki sejati."

Anggita mengangguk pelan, namun dadanya terasa sesak. Ia merasa bangga sekaligus terenyuh mengetahui fakta baru tentang sahabatnya di Kelompok Sableng itu. Di matanya, Sandi bukan lagi sekadar cowok humoris yang pintar, tapi seorang pejuang yang memiliki hati seluas samudra.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!