NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Sesuatu yang Tak Bisa Dikembalikan

Jakarta mengalir di sekelilingnya seperti sungai yang tidak peduli siapa yang hanyut.

Ardi tidak tahu sudah berapa kali mobilnya berhenti di lampu merah. Di kanan, seorang wanita mengetik ponsel sambil tersenyum. Di kiri, dua anak sekolah tertawa. Dunia normal. Dunia yang tidak berhenti meskipun hidupnya hancur dua jam lalu.

Lampu hijau. Klakson dari belakang. Ardi menginjak pedal, membelokkan setir ke kanan—bukan ke kantor, bukan pulang. Ke arah yang samar-samar dikenali.

Dua puluh menit kemudian, dia berhenti di depan gerbang besi abu-abu.

Rumah lamanya.

Gerbang terkunci. Tirai rumah tertutup rapat. Sejak Bram pindah ke Menteng, tempat ini hanya dirawat tukang kebun yang datang seminggu sekali. Ardi tidak punya kunci. Tapi dia tetap duduk. Menatap rumah yang dulu pernah dia sebut milik.

Ponsel bergetar. Nomor kantor.

Dia menatap layar. Jari di atas tombol hijau. Lalu menekan merah.

Mematikan ponsel.

Sunyi. Hanya suara angin yang mendorong dedaunan kering di halaman. Ardi menurunkan kaca. Bau tanah dan rumput yang tak dipotong—bau masa lalu.

Dia menyandarkan kepala di kursi. Menutup mata.

---

Di ruang rapat lantai dua belas, Bram Hartono berdiri di depan tiga belas orang.

Beberapa menatapnya dengan iba. Beberapa dengan takut. Beberapa—Bram tahu—sudah menyiapkan langkah selanjutnya.

“Pengunduran diri Ardi efektif minggu depan,” katanya. Suara datar. “Saya akan menjabat direktur utama sementara.”

Seorang pria berkacamata di ujung meja menyentuh mikrofon. “Pak Bram, apakah ini akan mempengaruhi proses suksesi?”

Bram menatap pria itu. Cukup lama hingga pria itu mulai gelisah.

“Saya tidak akan membiarkan skandal pribadi menghancurkan perusahaan yang saya bangun dua puluh lima tahun.” Pandangannya beralih ke seluruh ruangan. “Ada pertanyaan lain?”

Tidak ada yang angkat tangan.

“Rapat selesai.”

Dia keluar tanpa menunggu siapa pun. Langkah cepat ke elevator. Di dalam, saat pintu menutup, Bram melihat bayangannya di kaca.

Lelaki tua dengan mata merah.

Bukan karena menangis. Karena semalaman tidak tidur.

Pintu terbuka di lantai dasar. Bram melangkah keluar—tapi kakinya berhenti di tengah lobi.

Resepsionis tersenyum. Satpam memberi hormat. Dunia masih berjalan.

Tapi Bram tidak tahu harus pergi ke mana.

Rumah? Ardi mungkin sudah tidak ada. Maya pergi. Hanya Bu Lastri dengan mata iba yang tidak dia minta.

Kantor? Rapat selesai. Tidak ada yang menunggu.

Dia membuka ponsel. Chat dengan Ardi. Pesan terakhir: “Besok kita bicara.” Empat hari lalu.

Jari di atas keyboard. Lalu dia menutup ponsel. Memasukkannya ke saku.

Berjalan keluar.

---

Ardi tidak tahu berapa lama dia duduk di depan rumah lamanya.

Matahari bergeser. Bayangan pohon memanjang ke jalan. Seorang pria dengan seragam kebersihan menyapu daun di seberang, menatapnya sekilas, lalu kembali bekerja.

Ardi menyalakan mobil. Tapi tidak segera jalan.

Dia merogoh saku jas. Kunci hitam. Satu-satunya yang tersisa. Yang Maya tidak bawa.

Dia memutar kunci itu di tangannya. Logam dingin. Berat.

Ponsel menyala. Layar menampilkan notifikasi: tiga panggilan tidak dijawab dari kantor. Satu pesan dari nomor tidak dikenal.

Ardi membukanya.

Pak Ardi, saya Yuni. Saya mau bicara. Saya tahu siapa yang menyuruh saya. Tapi saya tidak mau lewat telepon. Besok jam 10 di kafe dekat rumah Bapak. Saya tunggu.

Dia membaca sekali. Dua kali.

Yuni. ART yang merekam mereka. Yang mengancam minta lima ratus juta. Yang katanya tidak bekerja sendiri.

Sekarang dia mau bicara.

Jarinya mengetik: Oke.

Pesan terkirim. Dia melempar ponsel ke kursi penumpang.

Mobil melaju meninggalkan rumah lama itu. Di kaca spion, gerbang abu-abu semakin kecil. Rumah tempat dia dulu merasa aman, sebelum semuanya hancur.

Sekarang dia tidak punya rumah. Tidak punya perusahaan. Maya pergi, entah ke mana.

Tapi dia punya kunci hitam di saku. Dan janji bertemu dengan seseorang yang mungkin tahu jawaban.

Ardi menginjak gas.

---

Di sisi lain kota, Maya menatap koper kecilnya di lantai kamar hotel.

Pukul setengah lima. Sore akan tiba. Dan Maya belum tahu apakah dia akan kembali, atau memulai lagi dari awal.

Telepon di tangannya. Nomor Ardi terbuka.

Sudah setengah jam dia menatap tombol hijau. Belum menekannya.

Jarinya bergerak. Menekan.

Sambungan berbunyi. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

“Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi.”

Maya mematikan panggilan. Meletakkan ponsel di samping bantal.

Di luar, langit berubah warna. Jingga di ufuk barat, abu-abu di timur. Warna yang tidak butuh penonton. Warna yang tetap indah meskipun tidak ada yang melihat.

Untuk pertama kalinya, Maya tidak tahu harus tersenyum untuk siapa.

Dia menutup tirai.

---

Di jalan tol, Ardi mengemudi tanpa tujuan.

Ponsel di kursi penumpang diam. Tidak ada panggilan dari Maya. Tidak ada pesan dari Sari. Tidak ada kabar dari Bram.

Mungkin mereka semua lelah. Mungkin mereka semua menunggu.

Lampu tol di depan. Ardi melambat. Di samping, mobil keluarga dengan anak kecil yang menjulurkan tangan ke luar jendela. Ibunya menarik tangan itu, tersenyum. Anak itu tertawa.

Ardi menoleh ke depan. Jalan tol membentang lurus. Tidak ada yang menghalangi.

Tapi dia tidak tahu harus belok ke mana.

---

Bram berdiri di depan kaca besar kantornya.

Di lantai dua belas, Jakarta terlihat seperti peta yang rapi. Jalan-jalan tersusun, gedung-gedung menjulang, lampu-lampu mulai menyala satu per satu.

Tapi di balik kaca itu, ada sesuatu yang tidak terlihat. Sesuatu yang tidak bisa diatur, tidak bisa dibeli, tidak bisa dikendalikan.

Maya tidak pernah mencintainya. Ardi tidak pernah menghormatinya. Dua puluh lima tahun membangun kerajaan, dan semuanya runtuh karena dia tidak pernah tahu bagaimana menjadi ayah.

Ponsel di tangannya. Nomor Ardi terbuka.

Dia menekan. Sambungan berbunyi.

“Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi.”

Bram mematikan panggilan. Meletakkan ponsel di saku.

Di luar, lampu-lampu kota menyala. Jakarta tidak pernah tidur. Tidak pernah berhenti.

Tapi Bram ingin berhenti. Hanya sebentar.

---

Ardi akhirnya berhenti di rest area.

Mobil diparkir di pojok. Tidak ada mobil lain di dekatnya. Lampu penerangan di atas mati, mungkin rusak. Hanya cahaya dari gerbang tol di kejauhan yang menerangi.

Dia mematikan mesin. Membuka jendela. Udara malam masuk, membawa bau solar dan debu.

Ponsel di kursi penumpang diam. Dia tidak mengecek. Tidak perlu. Tidak ada yang mencari.

Dia mengeluarkan kunci hitam dari saku. Kunci mobil baru yang diberikan Bram. Yang satu perak dibawa Maya.

Dua kunci. Bentuk sama. Jalan yang berbeda.

Dan dia tidak tahu mana yang seharusnya dia pilih.

---

Di hotel, Maya berdiri di depan jendela.

Tirai terbuka sedikit. Di luar, lampu-lampu kota menyala, tapi dia tidak melihatnya.

Dia melihat kunci perak di telapak tangannya. Kunci yang diberikan Bram untuk mobil baru. Yang dia bawa pergi pagi ini.

Satu kunci perak di tangannya. Satu kunci hitam di tangan Ardi.

Dua kunci. Bentuk sama. Satu di sini, satu di sana.

Dan dia tidak tahu apakah ini pilihan, atau hanya jalan yang tersisa.

Ponsel di samping bantal diam. Ardi tidak membalas panggilannya. Mungkin dia juga sedang memegang kunci hitam, bertanya pada dirinya sendiri: apa ini cinta, atau hanya ketakutan akan kesepian?

Maya meletakkan kunci di meja samping tempat tidur. Mematikan lampu.

Di luar, Jakarta terus berjalan. Di dalam kamar hotel ini, semuanya menggantung.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra screet love
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!