“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”
Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.
Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.
Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Perjuangan untukmu ibu
Lima tahun berlalu seperti musim dingin yang tak kunjung usai.
Di sebuah gubuk reot di sudut terjauh kediaman Klan Shan, tempat yang lebih mirip kandang ternak daripada kediaman seorang istri pertama.
Shan Luo menjalani sisa masa kecilnya dengan peluh dan darah.
Di usianya yang kini menginjak 15 tahun, bahunya yang dulu kecil kini mulai melebar, namun tetap terlihat kurus karena kekurangan nutrisi.
Setiap pagi, sebelum matahari menyentuh ufuk, Shan Luo sudah berada di hutan belakang.
Ia menghantam pohon-pohon besar dengan tinju telanjangnya hingga kulitnya terkelupas dan tulang jarinya berderak.
"Satu kali lagi ... sepuluh kali lagi ... seribu kali lagi!" bisiknya dengan gigi gemertak.
Ia tidak punya teknik kultivasi. Ia tidak punya sumber daya. Yang ia miliki hanyalah kemarahan yang ia ubah menjadi bahan bakar.
Ia mengumpulkan tanaman herbal liar, mempertaruhkan nyawa memanjat tebing hanya untuk mencari Bunga Embun Es demi meredakan batuk darah ibunya.
Namun, dunia seolah tidak membiarkannya bernapas.
Sore itu, saat Shan Luo baru saja kembali dengan membawa sebungkus kecil obat herbal murah, ia melihat gerombolan wanita berpakaian sutra indah berdiri di depan gubuknya. Mereka adalah para istri simpanan Shan Feng yang kini berkuasa.
Di tengah-tengah mereka, Xue Ling duduk di kursi kayu lapuk, wajahnya pucat pasi, terus-menerus menutupi mulutnya dengan sapu tangan yang sudah basah oleh darah merah tua.
"Lihatlah dirimu, Kakak Besar," ucap seorang wanita cantik dengan riasan tebal, Istri Ketiga Shan Feng. Ia mendekat, membungkuk, dan berbisik tepat di telinga Xue Ling.
"Kau tahu? Tadi malam Shan Feng mengatakan bahwa setiap kali dia melihat wajahmu, dia merasa ingin muntah. Dia bilang, satu-satunya alasan kau masih dibiarkan bernapas di sini adalah untuk mengingatkannya betapa bodohnya dia pernah menyentuh wanita cacat sepertimu."
Xue Ling gemetar. Matanya yang sayu terpejam rapat, air mata mengalir perlahan.
"Tidak ... hentikan ..." bisik Xue Ling lemah.
"Dan putra sampahmu itu?" sambung Istri Kedua sambil tertawa renyah. "Anak-anakku menggunakan dia sebagai target latihan pagi ini. Kau harus lihat bagaimana dia merangkak seperti anjing di lumpur. Dia tidak akan pernah menjadi pria, Xue Ling. Dia akan mati sebagai pelayan bagi anak-anakku."
"CUKUP!"
Shan Luo menerjang maju. Matanya merah, urat-urat di lehernya menegang. Ia ingin menghantam wajah-wajah cantik yang berhati iblis itu.
Namun, sebelum ia sempat mendekat, putra-putra dari istri-istri tersebut, remaja sebaya Shan Luo yang sudah berada di tingkat Tahap pembentukan pondasi menghadang jalannya.
"Berlutut, sampah!"
BOOM!
Tekanan aura dari salah satu saudara tirinya menghantam punggung Shan Luo, memaksanya tersungkur ke tanah. Wajahnya terbenam di debu, tepat di depan kaki para istri itu.
"Jangan sentuh anakku ..." Xue Ling mencoba bangkit, namun ia terjatuh dari kursinya, merangkak menuju Shan Luo. "Tolong ... ambil saja nyawaku, tapi jangan sakiti anakku ..."
Pemandangan itu menghancurkan sisa-sisa kewarasan Shan Luo.
Melihat ibunya seorang putri dari Klan Es yang agung merangkak di tanah demi memohon pada wanita-wanita rendahan ini, ia merasa jiwanya terbakar.
Malam itu, hujan turun dengan sangat deras, seolah-olah langit ikut menangis menyaksikan penderitaan mereka.
Di dalam gubuk yang bocor, Shan Luo membersihkan luka-luka di wajah ibunya dengan kain basah.
Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara tetesan air hujan yang masuk melalui celah atap.
"Ibu," suara Shan Luo rendah, namun penuh dengan ketetapan hati yang tak tergoyahkan. "Kita pergi dari sini."
Xue Ling terbatuk hebat, darah kembali mewarnai bantalnya yang tipis. "Shan'er ... ke mana kita akan pergi? Di luar sana ... dunia sangat kejam bagi orang tanpa kekuatan."
Shan Luo menggenggam tangan ibunya yang sedingin es. "Dunia luar mungkin kejam, Ibu. Tapi di sini ... di sini adalah neraka. Aku tidak akan membiarkan mereka membunuhmu perlahan dengan kata-kata dan siksaan mereka. Jika aku harus menjadi tamengmu seumur hidup, maka biarlah begitu."
Dengan tenaga sisa, Shan Luo menggendong ibunya di punggungnya. Tubuh Xue Ling terasa sangat ringan, seolah-olah ia hanya menggendong tulang dan kulit.
Ia membungkus ibunya dengan jubah tua yang paling tebal yang mereka miliki.
Ia keluar menembus badai.
Langkahnya berat, kakinya yang tanpa alas kaki berdarah karena menginjak kerikil tajam dan ranting pohon.
Setiap kali petir menyambar, ia menggunakan tubuhnya sendiri untuk menutupi ibunya agar tidak terkena air hujan.
"Shan'er ... turunkan Ibu ... kau akan kelelahan ..." bisik Xue Ling di telinganya.
"Tidak, Ibu. Sedikit lagi. Kita hampir sampai di perbatasan hutan," jawab Shan Luo, meski napasnya tersengal dan kakinya gemetar hebat karena kelelahan.
Ia harus melewati gerbang belakang yang dijaga. Karena ia tidak memiliki akses, ia terpaksa memanjat dinding batu yang licin di bagian belakang kediaman.
Kuku-kukunya patah dan berdarah saat ia mencoba mencari pegangan sambil tetap menjaga keseimbangan ibunya di punggungnya.
Sekali, ia terpeleset. Lututnya menghantam batu dengan keras.
"Argh!" Shan Luo mengerang pelan, namun ia segera menggigit bibirnya hingga berdarah agar tidak berteriak. Ia tidak boleh ketahuan.
Ia bangkit kembali. Terus merangkak. Terus melangkah.
Di puncak bukit yang menghadap ke arah kediaman Klan Shan yang megah dengan lampu-lampu hangatnya, Shan Luo berhenti sejenak.
Ia melihat ke belakang, ke tempat yang seharusnya menjadi rumahnya, namun justru menjadi penjara yang menyiksa mereka selama bertahun-tahun.
"Aku bersumpah," bisik Shan Luo pada kegelapan malam. "Suatu hari nanti, aku akan kembali. Dan saat itu tiba, aku tidak akan datang untuk meminta maaf atau memohon. Aku akan datang untuk meratakan tempat ini dengan tanah."
Ia kembali melangkah, masuk ke dalam hutan kegelapan, menggendong ibunya menuju ketidakpastian.
Di bawah guyuran hujan, hanya ada seorang remaja yang membawa beban seluruh dunianya di pundaknya, berjuang melawan takdir yang tampaknya selalu ingin menghancurkannya.
Ia tidak punya kekuatan kultivasi, ia tidak punya senjata sakti. Tapi malam itu, di dalam dadanya, lahir sesuatu yang lebih mengerikan dari sihir mana pun: Kebencian yang murni.