Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Latihan Napas
15 Desember 1930. Pukul 02.00 dini hari waktu Batavia.
Kamar Mandi Umum di Belakang Kosan Gang Kenari.
Air di dalam gentong tanah liat itu dingin menusuk tulang. Permukaannya tenang, memantulkan cahaya bulan sabit yang mengintip dari celah atap seng yang bolong.
Raden Mas Arya menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara lembap Batavia, lalu membenamkan kepalanya ke dalam air.
Dunia menjadi sunyi. Suara jangkrik dan dengkuran tetangga kosan lenyap, digantikan oleh suara gemuruh darah di telinganya sendiri.
Satu... dua... tiga...
Arya menghitung detik di dalam kepalanya. Dia mencengkeram pinggiran gentong erat-erat. Matanya terpejam, menahan perihnya air sumur yang kaporitnya tinggi.
Dia membayangkan dirinya berada di muara Ancol. Gelap. Berlumpur. Arus deras menarik kakinya. Di atas permukaan, Si Mata Satu sedang menunggu gelembung udara berhenti keluar.
Empat puluh... lima puluh...
Dadanya mulai terasa sesak. Insting tubuhnya berteriak minta oksigen. Dia ingin mengangkat kepala, tapi dia menahannya.
Belum. Kalau kau muncul sekarang, kau mati ditembak.
Enam puluh...
Paru-parunya terasa seperti mau meledak. Pandangannya di balik kelopak mata mulai berbintik-bintik putih.
Tujuh puluh...
BYAAAR!
Arya mengangkat kepalanya keluar dari gentong, terengah-engah hebat. Dia menghirup udara rakus, batuk-batuk sampai air matanya keluar.
"Satu menit sepuluh detik," desisnya kecewa. "Masih kurang. Arus Ancol butuh dua menit untuk membawaku ke balik akar bakau."
Dia mengusap wajahnya yang basah. Tubuhnya menggigil kedinginan. Ini gila. Semuanya gila. Tapi dia tidak punya pilihan.
Arya mengambil handuk kumal, mengeringkan rambutnya, lalu berjalan kembali ke kamarnya.
Di meja, mesin tik Remington-nya sudah menunggu.
> Bagaimana latihannya hari ini?
>
Itu pesan Alina dari tahun 2024. Arya tersenyum tipis. Wanita itu benar-benar pelatih pribadinya.
> Buruk. Cuma 70 detik.
> Airnya dingin sekali, Alina. Saya jadi ragu apa saya bisa bertahan di air laut malam hari.
>
Di tahun 2024, Alina duduk di sofa empuknya dengan laptop di pangkuan. Dia sedang membuka tabel pasang surut air laut dan suhu air.
> Kau pasti bisa. Adrenalin akan membantumu menahan napas lebih lama.
> Dan soal dingin... aku sudah cek data suhu. Air laut di Ancol malam hari sekitar 26 derajat Celcius. Lebih hangat daripada air sumur.
> Fokus pada teknik pernapasan diafragma yang aku kirimkan kemarin. Jangan panik di dalam air. Panik membakar oksigen.
>
Arya membaca instruksi itu. Dia merasa sedikit lebih tenang.
> Baik, Pelatih. Saya akan coba lagi besok.
> Oh ya, soal "darah"... saya sudah dapat.
> Tadi pagi saya ke pasar jagal. Saya beli kantong kemih kambing yang sudah dibersihkan, lalu saya minta darah sapi segar.
> Penjualnya menatap saya aneh. Saya bilang buat obat kuat.
>
Alina tertawa di apartemennya.
> Obat kuat? Alasan yang kreatif.
> Pastikan kantong itu tidak bocor. Jahitkan di dalam kemejamu, di bagian dada kiri. Jadi saat kau "tertembak" atau memecahkannya, darahnya keluar tepat di jantung.
> Mata Satu harus yakin tembakannya fatal.
>
Persiapan teknis mereka sudah hampir matang. Lokasi di Muara Kali Ancol sudah disurvei Arya minggu lalu—tempat yang mengerikan, penuh lumpur hisap dan akar tunjang, tapi punya arus bawah yang kuat menuju laut lepas. Rute pelarian setelah "hanyut" juga sudah disiapkan: sebuah gubuk nelayan kosong di pesisir Tanjung Priok, 2 km dari titik jatuh.
Secara fisik, Arya siap mati.
Tapi secara emosional... itu masalah lain.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Nyawa seolah dalam genggaman penjahat.
Damai sekejap, lepas beban berat
tapi belati dan peluru kembali mengintai.
Jika cinta butuh pengorbanan,semua telah berkorban.
Mengalah
Melepaskan
Merelakan dalam keikhlasan.
Bertahan walau hidup serasa di parit busuk.
Melindungi sekeping hati dari duka.
Menjaga dan mencoba memperpanjang kontrak hidup
mati-matian mencari jalan keluar
Pontang- panting dengan akses masa depan yang canggih
semoga kali ini bisa lolos lagi dari si mata satu
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.
Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.
kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera