Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32: Sangkar Emas
Mansion Setiawan tidak lagi terasa seperti sebuah rumah. Sejak kepulangan mereka dari rumah sakit malam itu, gedung megah tersebut telah bertransformasi menjadi sebuah fasilitas medis tingkat tinggi yang tersembunyi. Danu Setiawan tidak main-main dengan sumpahnya. Ia mempekerjakan tiga perawat shift 24 jam dan seorang dokter spesialis kandungan junior yang tinggal di paviliun tamu, siap sedia setiap detik.
Kamar tidur utama kini dipenuhi peralatan canggih. Ada tabung oksigen portabel di sudut ruangan, monitor pendeteksi detak jantung janin yang terhubung langsung ke ponsel Danu, dan pemurni udara tingkat rumah sakit yang berdengung halus.
"Tekanan darah Nyonya 110/70, Tuan. Detak jantung janin stabil di 140 bpm," lapor Suster Rina, salah satu perawat rahasia, saat Danu baru saja melangkah masuk ke kamar setelah "bekerja" dari ruang sebelah.
Danu mengangguk kaku. Matanya tidak beralih dari sosok Nara yang terbaring lemah di ranjang, tubuhnya tampak mungil di tengah kemewahan yang mencekam itu. Nara tidak lagi mengenakan daster rumahan yang biasa, melainkan baju tidur berbahan sutra lembut yang diganti setiap pagi oleh perawat.
"Nara, waktunya minum penguat rahim," ucap Danu lembut, namun nadanya tidak menerima bantahan. Ia mengambil alih gelas dari tangan perawat.
Nara membuka matanya sayu. Ia memaksakan senyum, meski hatinya terasa sesak.
"Mas... aku merasa seperti pasien kritis. Bisakah suster-suster ini keluar sebentar? Aku ingin bicara berdua saja."
Danu memberi isyarat mata, dan para perawat itu menghilang dalam sekejap dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar.
"Ada apa? Kamu merasa mual lagi? Atau perutmu kram?" Danu langsung duduk di tepi ranjang, tangannya sigap meraba dahi Nara.
"Aku merindukan suaraku sendiri, Mas," bisik Nara. "Di sini terlalu sunyi. Hanya ada suara mesin dan laporan medis.
Aku... aku memikirkan anak-anak di yayasan. Bagaimana nasib mereka setelah kasus kemarin? Apakah gedung itu benar-benar ditutup?"
Wajah Danu seketika mengeras. "Sudah kubilang, jangan pikirkan apa pun di luar kamar ini. Yayasan itu sedang diurus oleh tim legal. Fokusmu hanya satu: mempertahankan detak jantung di perutmu ini."
Bagi Nara, setiap detik di dalam "sangkar emas" ini adalah siksaan mental. Sebagai seorang wanita yang mendedikasikan hidupnya untuk orang lain, berdiam diri saat karyanya hancur adalah luka yang lebih pedih daripada kram perut yang ia rasakan.
Nara tahu, tanpa kehadirannya, anak-anak yatim di Yayasan Cahaya Atmadja akan kehilangan pegangan. Ia membayangkan wajah-wajah polos mereka yang ketakutan saat melihat garis polisi. Ia membayangkan para guru yang mungkin tidak bisa digaji karena rekening dibekukan.
Aku adalah pemimpin mereka, tapi aku malah bersembunyi di sini dalam kemewahan, batin Nara pedih.
Saat Danu sedang sibuk di ruang kerja atau melakukan rapat virtual yang intens dengan tim intelijennya untuk melacak Reza, Nara melihat celah. Ia tahu ia tidak bisa menggunakan ponselnya sendiri ponsel itu telah disita dan hanya boleh digunakan di bawah pengawasan Danu.
Satu-satunya harapannya adalah Karin.
"Karin... tolong," bisik Nara saat adik iparnya itu masuk membawakan nampan buah delima, satu-satunya momen di mana Danu mengizinkan Karin masuk tanpa pengawalan ketat karena menganggap adiknya sudah "jinak".
Karin menoleh ke arah pintu, memastikan tidak ada perawat atau CCTV tersembunyi yang merekam gerakan bibirnya. "Mbak, Mas Danu bisa membunuhku kalau tahu aku membantumu."
"Aku hanya ingin tahu kabar Pak Burhan dan anak-anak, Rin. Hanya satu pesan singkat. Aku merasa berdosa membiarkan mereka berjuang sendirian melawan fitnah itu," Nara memohon, matanya berkaca-kaca.
Karin bimbang. Ia melihat kakaknya, Danu, sudah seperti singa yang kehilangan akal sehat karena proteksi yang berlebihan. Namun, ia juga tidak tega melihat Nara layu karena kesedihan.
"Oke," bisik Karin cepat. "Aku akan membawa tablet kecil di dalam tumpukan majalah besok pagi. Tapi Mbak harus janji, hanya lima menit. Dan jangan sampai sensor detak jantung di pergelangan tanganmu naik drastis, atau tim medis akan langsung lapor pada Mas Danu!"
Keesokan paginya, rencana itu dijalankan. Karin masuk dengan setumpuk majalah parenting dan dekorasi rumah. Di sela-sela majalah tebal itu, terselip sebuah tablet tipis dengan koneksi internet tersembunyi.
Nara berpura-pura membaca majalah di bawah selimut tebalnya, sementara Karin berdiri di dekat jendela, berpura-pura menata bunga sambil sesekali melirik pintu.
Tangan Nara gemetar saat membuka aplikasi pesan. Ia menghubungi Pak Burhan, kepala pengurus yayasan.
Nara: Pak Burhan, ini Nara. Tolong bicara jujur, bagaimana kondisi yayasan?
Pak Burhan: Nyonya Nara? Alhamdulillah... kami khawatir sekali. Nyonya, keadaan sulit. Pemilik lahan gedung yayasan tiba-tiba membatalkan sewa karena takut terseret kasus penggelapan dana. Kami diberi waktu 48 jam untuk mengosongkan tempat. Anak-anak menangis, Nyonya. Mereka tidak tahu harus tidur di mana besok malam.
Deg. Jantung Nara berdegup kencang. 48 jam? Itu artinya besok!
Nara merasa dunianya runtuh. Ia ingin berteriak. Ia ingin bangun dari ranjang itu dan pergi menyelamatkan mereka. Namun, rasa nyeri tiba-tiba menusuk perut bawahnya.
Beep... Beep... Beep...
Alat monitor di pergelangan tangan Nara mulai berbunyi nyaring, mengirimkan sinyal darurat ke ruang kerja Danu dan ruang medis.
"Mbak! Matikan! Mas Danu datang!" seru Karin panik.
Nara dengan cepat menyembunyikan tablet itu di bawah bantal, tepat saat pintu kamar terbanting terbuka.
Danu masuk dengan wajah pucat, matanya langsung tertuju pada monitor di samping tempat tidur yang menunjukkan grafik detak jantung Nara yang melonjak naik. Di belakangnya, Dokter spesialis dan dua perawat berlari membawa tas medis.
"Nara! Apa yang terjadi?!" Danu menerjang ke arah ranjang, meraih tangan Nara. "Dokter! Cek sekarang!"
Dokter segera melakukan pemeriksaan kilat. "Nyonya mengalami kontraksi ringan karena lonjakan adrenalin yang tiba-tiba. Nyonya, Anda harus tenang! Tarik napas!"
Nara memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya yang memburu, sementara Karin berdiri mematung di pojok ruangan, wajahnya sepucat kertas.
Setelah sepuluh menit yang mencekam, detak jantung Nara mulai melandai. Dokter memberikan suntikan penenang tambahan ke dalam selang infus Nara.
"Semua keluar," perintah Danu dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan. Suaranya tidak keras, tapi mengandung ancaman mematikan.
Setelah tim medis keluar, Danu menatap Karin, lalu beralih ke Nara. Ia tidak bodoh. Ia melihat ada yang tidak beres dengan posisi bantal Nara yang miring dan majalah yang berserakan.
Danu merogoh ke bawah bantal Nara dengan gerakan kasar. Ia menarik tablet milik Karin yang masih menyala, menampilkan percakapan dengan Pak Burhan.
"Mas... aku bisa jelaskan..." suara Nara melemah karena efek obat penenang.
Danu menatap layar itu, lalu menatap Karin. Tanpa aba-aba, Danu melempar tablet itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"Karin... kau ingin membunuh kakak iparmu dan keponakanmu sendiri?!" bentak Danu. Ia melangkah mendekati Karin, membuat adiknya itu mundur hingga menabrak dinding. "Aku sudah mempekerjakan tim medis terbaik, aku sudah menutup akses dunia luar agar dia tidak stres, dan kau membawa berita sampah ini ke hadapannya?!"
"Mas, Mbak Nara tersiksa! Dia merasa bersalah!" bela Karin sambil terisak.
"DIA AKAN LEBIH TERSIKSA JIKA BAYI INI MATI!" suara Danu menggelegar, membuat vas bunga di atas meja bergetar. "Keluar! Jangan pernah injakkan kakimu di kamar ini lagi tanpa izin tertulis dariku! Andra! Bawa Karin keluar!"
Karin diseret keluar oleh tim keamanan, meninggalkan Danu dan Nara dalam keheningan yang menyesakkan.
Danu kembali ke samping Nara. Ia duduk, menangkup wajahnya dengan kedua tangan, tampak sangat frustrasi.
"Nara... kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya, suaranya kini pecah. "Apa perlindunganku tidak cukup? Apa kamu tidak sadar bahwa di luar sana, Reza sedang menunggu kita lengah? Dia sengaja menyabotase yayasanmu agar kamu keluar dari rumah ini!"
Nara menangis tanpa suara. "Mas, perlindunganmu bukan perlindungan... ini penjara. Kamu menyelamatkan fisikku, tapi kamu membunuh jiwaku. Anak-anak itu... mereka adalah bagian dari hidupku. Bagaimana aku bisa tenang di sini sementara mereka akan diusir ke jalanan besok?"
"Aku akan membeli gedung itu! Aku akan membeli tanahnya sekalian!" seru Danu.
"Tapi mereka butuh aku, Mas! Bukan hanya uangmu! Mereka dituduh sebagai bagian dari organisasi kriminal karena fitnah itu. Mereka butuh pemimpin mereka berdiri di sana dan berkata bahwa kami tidak bersalah!"
Danu berdiri, ia mondar-mandir seperti singa dalam kandang. "Tidak. Kamu tidak akan ke mana-mana. Jika gedung itu harus digusur, biarkan digusur. Aku akan membangunkan yang baru setelah bayi ini lahir. Tapi untuk saat ini, duniamu adalah ranjang ini. Titik."
Danu keluar dari kamar, mengunci pintu dari luar sebuah tindakan ekstrem yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia memerintahkan Suster Rina untuk berjaga tepat di depan pintu dan tidak mengizinkan siapa pun, termasuk Bapak Rahardi, masuk tanpa pengawasannya.
Danu kembali ke ruang kerjanya, namun ia tidak bisa fokus. Kata-kata Nara "kamu membunuh jiwaku" terngiang-ngiang. Ia melihat ke arah monitor CCTV. Nara tampak meringkuk di balik selimut, bahunya bergetar hebat.
Andra masuk membawa laporan intelijen. "Tuan, ada pergerakan dari pihak Reza. Ternyata benar, pemilik lahan yayasan itu dipaksa oleh pihak ketiga yang terafiliasi dengan Reza untuk membatalkan sewa. Mereka ingin memancing Anda keluar, atau setidaknya membuat Nyonya Nara hancur secara mental."
Danu mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. "Mereka menggunakan anak yatim sebagai pion. Rendah sekali."
"Apa rencana kita, Tuan? Jika kita tidak bertindak, besok jam 10 pagi pengosongan paksa akan dilakukan. Media sudah bersiap di sana. Ini akan menjadi tontonan nasional yang memojokkan Nyonya Nara."
Danu terdiam sejenak. Matanya menatap tajam ke arah layar monitor yang menunjukkan Nara yang mulai tertidur karena efek obat.
"Andra, kita tidak akan membawa Nara ke sana," ucap Danu dingin. "Tapi kita akan membawa 'keadilan' ke sana. Siapkan tim legal, beli lahan itu malam ini juga dengan harga dua kali lipat. Dan satu lagi..."
Danu menjeda, seringai tipis yang mengerikan muncul di wajahnya. "Hubungi stasiun TV nasional. Jika Reza ingin drama, aku akan berikan grand finale yang tidak akan pernah dia lupakan. Tapi pastikan, Nara tidak tahu apa-apa sampai semuanya selesai."
Di dalam kamarnya, Nara tidak benar-benar tidur. Efek obat penenang membuatnya rileks secara fisik, tapi pikirannya bekerja keras. Ia tahu Danu sedang berperang dengan caranya sendiri, tapi ia juga tahu bahwa Danu terlalu arogan untuk memahami sisi kemanusiaan dari konflik ini.
Tiba-tiba, Nara mendengar suara ketukan halus dari arah balkon.
Itu adalah jendela yang biasanya dikunci otomatis, namun entah bagaimana, kunci itu terbuka sedikit. Sebuah tangan mungil menyelipkan secarik kertas.
Nara turun dari ranjang dengan susah payah, menyeret tiang infusnya perlahan. Ia mengambil kertas itu.
"Mbak, ini Karin. Aku sudah diusir, tapi aku tidak menyerah. Aku sudah menghubungi Pak Burhan. Kita punya rencana cadangan. Besok pagi, saat Mas Danu pergi ke yayasan untuk menyelesaikan masalah lahan, aku akan mengirim perawat 'bayaran' yang sudah aku suap untuk membantumu keluar lewat pintu belakang. Kita harus membersihkan nama yayasan secara langsung, atau selamanya kita akan dicap pencuri. Bayimu akan kuat, Mbak. Dia anak pejuang."
Nara meremas kertas itu. Jantungnya kembali berdegup kencang. Ini adalah pilihan yang mustahil. Tetap aman dalam sangkar emas Danu, atau mempertaruhkan nyawanya dan janinnya untuk berdiri membela kebenaran?
Nara menatap perutnya. Anakku, maafkan Ibu jika Ibu egois. Tapi Ibu tidak bisa membiarkanmu lahir di dunia yang menganggap Ibumu adalah seorang kriminal.