🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Ketika masa lalu datang lagi
Udara di sekitar parkiran barbershop itu terasa berubah. Bukan karena panas atau ramai dari orang-orang yang berlalu-lalang, melainkan karena ada sesuatu yang lebih berat menggantung di antara dua orang yang saling menatap tanpa berkedip.
Keanu berdiri di tempatnya, tubuhnya sedikit kaku. Tatapannya tidak lagi santai seperti tadi pagi, sekarang berubah dingin, tajam, dan penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.
Di depannya, pemuda itu berdiri dengan posisi santai. Namun sorot matanya justru sebaliknya, seutas senyum tipis terukir di wajahnya. Bukan senyum hangat, lebih seperti senyum yang menyimpan dendam lama.
Anindia yang berada di samping Keanu langsung merasakan ketegangan itu. Ia menatap bergantian antara suaminya dan pria asing di depan mereka. Alisnya sedikit mengernyit, jelas bingung dengan situasi yang tiba-tiba berubah tanpa penjelasan.
Sosok itu jelas bukan orang biasa bagi Keanu, dan Keanu sendiri bisa merasakannya. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, ia tidak pernah menyangka akan melihat Rendra lagi dengan cara seperti ini.
Keanu mengeraskan rahangnya perlahan, tatapan tidak bergeser sedikitpun dari pria di depannya. Ada banyak hal tidak bisa ia lupakan, dan pertemuan ini jelas bukan sesuatu yang ia inginkan.
"Mau apa lo, Rendra?" Suaranya keluar rendah, tegas, tanpa ruang basa-basi.
Rendra terkekeh pelan, seolah pertanyaan itu terasa lucu baginya. Ia melangkah sedikit lebih dekat, tapi masih menjaga jarak yang terasa menantang.
"Gak berubah ya, lo?" Ujar Rendra santai. "Masih suka sok paling tenang."
Keanu tidak bergeming, tapi sorot matanya berubah menjadi semakin dingin. Rendra melangkah sedikit lebih dekat, cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa semakin sempit.
"Gue cuma mau bilang," ujar Rendra dingin. "Urusan lama kita belum selesai."
Keanu menghela nafas singkat, lalu menatap Rendra tanpa gentar. "Urusan apa?" Tanya Keanu datar.
Rendra terkekeh kecil, tapi tidak ada nada hangat sama sekali. "Jangan pura-pura lupa," jawabnya. "SMP, lo masih ingat kan gimana lo ngerasa paling menang waktu itu?"
"Kalau cuman itu tujuan lo datang," jawab Keanu pada akhirnya. "Lo buang-buang waktu."
Rendra tersenyum miring, semakin memprovokasi. "Buang waktu?" Ulangnya. "Gue malah nunggu momen ini."
Keanu menatapnya tanpa berkedip, dan di antara mereka sama sekali tidak ada ruang untuk sekedar basa-basi, hanya sisa masa lalu yang belum selesai.
Sementara Anindia masih berdiri di tempatnya, pandangannya berpindah dari Keanu ke Rendra berkali-kali. Ia menangkap ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekedar kenalan lama.
Anindia sama sekali tidak mengenali pemuda itu. Bahkan, di acara resepsi mereka dan aqiqah Shaka, Anindia tidak pernah melihat sosok seperti Rendra hadir. Hal itu membuat kebingungannya semakin besar, karena cara Keanu menatapnya bukan seperti bertemu orang biasa.
Tangan Anindia tanpa sadar sedikit mengerat pada ujung pakaian Shaka yang ia gendong. Ia menoleh pelan ke arah Keanu, berharap ada penjelasan singkat. Tapi, suaminya itu justru masih terpaku pada Rendra dengan sorot mata yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Anindia kembali melirik ke arah Rendra. Wajah pemuda itu tenang, tapi asing. Ada jarak yang terasa jelas, namun ia tidak bisa menjelaskan apa itu.
Anindia menghela nafas pelan, mencoba tetap diam meski di kepalanya penuh tanda tanya. Siapa sebenarnya pemuda ini, dan kenapa kehadirannya bisa merubah suasana menjadi se-tegang ini?
Keanu masih menatap Rendra beberapa detik, lalu mengalihkan pandangannya dengan ekspresi dingin yang tertahan.
"Gue gak ada waktu buat lo, Ren," tegas Keanu.
Tanpa menunggu jawaban, Keanu langsung menarik pelan bahu Anindia agar ikut bersamanya menjauh dari tempat itu. Genggamannya cukup kuat. Bukan kasar, tapi jelas ingin segera pergi dari situasi yang tidak ia inginkan.
Anindia mengikuti langkahnya dengan bingung. Sesekali ia menoleh ke belakang, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, sebelum mereka benar-benar melangkah menjauh, suara Rendra terdengar lagi dari belakang.
"Woi," panggil Rendra kasar. "Cemen lo."
Langkah Keanu sempat terhenti sejenak. Pundaknya menegang, tapi ia tidak berbalik. Ia hanya menarik nafas pelan, lalu kembali melangkah tanpa mengatakan apa-apa.
Anindia yang mendengar itu hanya bisa terdiam. Ia semakin merasa bahwa apapun yang terjadi di antara mereka mereka berdua jelas bukan hal kecil yang bisa diabaikan begitu saja.
Keanu dan Anindia masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara. Pintu tertutup pelan, tapi suasana di dalamnya jauh dari kata tenang.
Tangan Keanu langsung bergerak ke arah setir, mencengkeramnya cukup kuat untuk beberapa saat. Rahangnya kembali mengeras, nafasnya terdengar sedikit berat.
Lalu, Keanu melepas genggaman itu. Tangannya kini bergerak mengusap wajahnya kasar satu kali. Gerakannya cepat, seperti menahan sesuatu yang belum sepenuhnya reda.
Di sebelahnya, Anindia hanya diam. Ia tidak langsung bertanya, tapi matanya terus memperhatikan Keanu dengan seksama. Ada sesuatu yang jelas berbeda dari suaminya sekarang.
"Kamu baik-baik aja, Mas?" Tanya Anindia setelah hening beberapa saat.
Keanu menoleh cepat, ekspresinya masih sedikit berat. Tapi, begitu melihat Anindia, ia langsung tersenyum tipis, berusaha menenangkan kekhawatiran istrinya.
"Aku gak apa-apa," jawab Keanu lembut. "Jangan dipikirin, ya."
Anindia masih menatapnya ragu, tapi tidak memaksanya lebih jauh. "Ya udah, Mas," ujarnya lembut. "Kalau ada apa-apa cerita aja sama aku."
Keanu hanya mengangguk singkat, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Ia kemudian menghidupkan mesin. Tak berapa lama, mobil itu pun melaju, membawa mereka menjauh dari tempat itu.
Beberapa menit melaju di jalanan, mobil Keanu berhenti di halaman rumah. Rumah itu terlihat lebih sepi. Tidak ada aktivitas keluarga di dalam, hanya beberapa pekerja yang tampak menjalankan tugasnya masing-masing.
Anindia turun lebih dulu masih tetap menggendong Shaka. Keanu mengikuti di belakangnya, matanya sekilas mengamati sekitar rumah. Benar-benar sepi, sepertinya ibunya juga sedang tidak ada di rumah.
Baru melangkah masuk, pandangan Anindia beralih pada Shaka. Ia memperhatikan perubahan kecil dari putranya.
Shaka yang tadi tampak aktif, kini mulai mengusap matanya perlahan. Kepalanya beberapa kali bersandar di pundak Anindia, diselingi dengan ocehannya yang mulai melemah.
"Udah ngantuk ya, sayang?" Ujar Anindia lembut sembari mengusap punggung kecil Shaka.
Keanu menatap sekilas ke arah putranya, lalu mengusap kepala Shaka sejenak. "Iya, dari tadi ocehannya udah mulai melemah."
Anindia tersenyum tipis, lalu membenarkan posisi Shaka. Ia menoleh sekilas ke arah Keanu. "Aku ke atas dulu ya, Mas," ujarnya.
Keanu mengangguk, "Iya, aku buat susu untuk Shaka dulu."
Anindia tersenyum lalu ia melangkah menaiki anak tangga. Sementara Keanu berjalan ke arah dapur.
Tiba di kamar, Anindia dengan hati-hati membaringkan Shaka di atas tempat tidur. Tubuh kecil itu langsung meringkuk menyamping, mencari posisi paling nyaman. Anindia duduk di sisi ranjang, lalu menepuk pelan paha Shaka dengan ritme lembut.
"Tidur ya sayang," ujar Anindia pelan sambil terus menepuk paha putranya.
Shaka mulai bergerak lebih sedikit. Nafasnya mulai teratur, tanda kantuknya sudah benar-benar menguasai.
Beberapa menit kemudian, Keanu masuk ke kamar sambil membawa sebotol susu hangat di tangannya. Langkahnya pelan saat menghampiri tempat tidur, melihat Shaka yang sudah semakin tenang dalam posisi miring.
"Aku udah bikin susunya," ujar Keanu pelan.
Anindia menoleh sebentar, lalu mengangguk kecil. "Iya Mas, terima kasih."
Keanu ikut duduk di sisi ranjang, lalu membantu memberikan botol susu itu pada Shaka. Keanu menyesuaikan posisi botolnya, membiarkan Shaka meminumnya perlahan.
Tangan Keanu sesekali mengusap kepala putranya dengan lembut. Sementara Anindia tetap di samping, menepuk pelan paha Shaka seperti tadi.
Suasana kamar perlahan mulai tenang, hanya terdengar nafas kecil Shaka yang perlahan mulai tertidur setelah menghabiskan susunya.
Setelah memastikan Shaka benar-benar terlelap, Anindia dan Keanu melangkah lalu duduk di sofa kamar.
Keanu duduk dengan sedikit bersandar, satu tangannya bergerak memijat pelipisnya pelan, seolah sedang mencoba meredakan pikirannya sendiri.
Anindia memperhatikan sejenak, sebelum akhirnya membuka suara dengan hati-hati. "Mas, tadi itu siapa?" Ujarnya pelan, agar tidak membangunkan Shaka.
Keanu terdiam sejenak. Ia menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menurunkan tangannya dari pelipisnya. Tatapannya kini tertuju pada Anindia.
"Dia sepupu aku, sayang," jawab Keanu pelan. "Namanya Rendra, anaknya Om Sandy."
Anindia mengangguk kecil, meski raut wajahnya masih menunjukkan kebingungan. Selama menjadi bagian dari keluarga Bramantyo, ia merasa belum pernah mendengar dua nama itu disebut sama sekali.
Anindia menatap Keanu lebih lama, mencoba membaca apa yang sebenarnya disembunyikan dibalik ekspresi tenang suaminya itu.
"Mas, emangnya ada masalah apa?" Tanya Anindia pelan, penuh kehati-hatian. "Kayaknya kamu sama Rendra gak baik-baik aja."
Keanu tidak langsung menjawab. Ia menurunkan pandangannya sesaat, lalu kembali menghela nafas pelan. Tangannya bergerak meraih tangan Anindia di sampingnya.
Genggaman itu terasa hangat, sedikit menenangkan suasana yang masih tersisa sesak tadi.
"Ada masalah keluarga," ujar Keanu pada akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya. Ia menatap Anindia sekilas, lalu tersenyum tipis. "Tapi itu panjang ceritanya. Lain kali aku ceritain, ya?"
Anindia terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ya udah, Mas," jawabnya lembut. "Kalau kamu siap cerita, aku dengerin."
Keanu mengangguk, lalu mengusap punggung tangan Anindia perlahan. Masih dengan senyum kecil yang ia paksakan untuk tetap tenang. Walaupun pikirannya masih belum setenang itu.
Suasana kamar kembali hening setelahnya. Tidak ada lagi percakapan yang berlanjut, hanya sisa ketenangan yang terasa sedikit janggal di antara mereka.
Anindia duduk di sebelahnya, sesekali pandangannya tertuju pada Shaka yang terlelap di atas tempat tidur. Namun di kepalanya, pertanyaan tentang Rendra belum benar-benar hilang. Ada rasa penasaran yang terus menguasai, meski ia memilih untuk tidak kembali bertanya.
Sementara itu, Keanu kembali menyandarkan kepalanya pada sofa. Matanya menatap langit-langit kamar, tapi pikirannya jelas tidak ada di situ.
Nama Rendra terus berputar di kepalanya. Bersamaan dengan itu, muncul satu hal lain yang membuat dadanya terasa sedikit lebih berat.
"Gue gak mau Anindia ikut kebawa masalah ini," batin Keanu."Tapi gue juga gak mungkin nutupin semuanya dari dia."
Keanu mengusap wajahnya sekali lagi, diselingi dengan helaan nafas berat. Ada rasa ragu yang perlahan mengganggu ketenangannya sejak tadi.
Beberapa detik kemudian, ia menoleh ke samping. Pandangan Keanu jatuh pada Anindia yang kini duduk diam. Tatapan mata Anindia tertuju pada sosok putranya dengan sorot lembut seperti biasa. Wajah Anindia terlihat tenang, seolah tidak menyadari berapa banyak hal yang sedang berkecamuk di dalam pikiran Keanu sendiri.
Keanu menatap Anindia lebih lama dari biasanya, sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Kali ini, ia tidak benar-benar diam. Hanya saja tenggelam dalam pikirannya sendiri, di antara keinginan untuk melindungi dan kenyataan bahwa Anindia mungkin akan tetap terseret, cepat atau lambat.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁