Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nonton
Kali ini Sultan langsung mengantar Riri pulang ke kost-an. Ia tidak ingin Riri kecapean.
"Maaf ya, kita langsung pulang. Aku nggak mau kamu kecapean."
"Iya bang, nggak pa-pa. Memang kalau nggak langsung pulang mau ke mana? "
"Ke mana saja. Keliling dunia juga boleh."
Riri memukul pelan bahu Sultan.
"Bang, kamu ini ternyata suka ngegombal ya."
"Kata siapa? Beneran kok. Asal jangan minta bulan dan bintang, abang nggak sanggup, neng."
Riri terkekeh mendengarnya.
Ia tidak menyangka jika Ahmed adalah sosok yang humoris dan menyenangkan. Saat bersamanya, Riri merasa aman dan tenang. Ia semakin yakin jika dirinya tidak salah mengambil keputusan.
Mereka baru saja sampai di depan kost-an. Sultan pun pamit pulang, namun sebelum itu ia bilang kepada Riri jika besok sore akan menjemput Riri untuk keluar mumpung malam minggu. Riri pun mengiyakannya.
"Daa.... assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Sultan pun melajukan kembali sepeda motornya.
Tidak lama kemudian, Fira juga sampai. Ia langsung naik ke atas menuju kamarnya.
"Kukira kamu bakal mampir-mampir dulu, Ri."
"Nggak ko, tapi besok aku diajak keluar."
"Wah wah.... bang ojek ternyata pengertian sekali ya. Jadi besok ceritanya ngedate nih malam minggu."
Riri hanya mengulum senyum.
Keesokan harinya.
Mumpung libur, Riri pun menelpon sang mama untuk menanyakan persiapan pernikahan Sisi sekaligus ingin cerita soal Ahmed. Saat menelpon, ternyata sang mama sedang berada di tukang jahit untuk mengantarkan kain seragam yang akan dijahit. Setelah pulang dari rumah tukang jahit, mama pun langsung menelpon Riri kembali.
"Kamu bisanya pulang kapan, Ri? Pernikahan Sisi sudah tinggal dua minggu lagi."
"InsyaAllah h-3, ma. Riri sudah mengajukan cuti. Semoga di Acc."
"Aamiin... "
"Ma... "
"Iya, ada apa?"
"Misal Riri bawa seseorang di acaranya Sisi apa boleh?"
"Seseorang, siapa?"
"Pacar Riri."
"Tunggu-tunggu, pacar? Kamu sudah punya pacar?"
"Iya, ma."
"Alhamdulillah, tentu saja boleh. Kalau boleh mama tahu, siapa dan orang mana? "
Riri berpikir sejenak. Ia khawati mamanya shock.
"Em... mama kenal kok. Orang sini."
Mama pun mulai menduga-duga.
"Jangan bilang si Ahmed?"
"I-iya, ma. Bang Ahmed."
Mama yang mendengar pun sebenarnya juga senang, namun sedikit khawatir mengingat background Ahmed yang seorang sopir ojek. Karena mama tidak tahu siapa Ahmed sebenarnya.
"Ma.. apa mama keberatan?"
"Eh tidak-tidak. Mama suka sama Ahmed. Orangnya tampan, bersih dan terlihat bertanggung jawab."
"Lalu bagaimana dengan papa?"
"Kamu jangan pikirkan tentang itu. Nanti biar mama yang ngomong pelan-pelan ya."
"Beneran, ma?"
"Iya, bagi mama kebahagiaanmu lebih utama dari apa pun."
"Bang Ahmed serius, ma. Dia inginnya segera menikah. Tapi aku yang belum memberikan jawaban karena belum ngasih tahu mama."
"Alhamdulillah kalau begitu. Suruh dia sabar dulu sampai pernikahan Sisi ya."
"Iya, ma. Kalau begitu Riri mau cuci baju dulu ya."
"Iya, Ri."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Riri merasa lega karena sudah memberitahu sang mama. Ia pun masuk ke kamar mandi untuk mencuci pakaiannya.
Sementara itu, Sultan di kamarnya sedang mencari-cari tempat yang sederhana dan enak untuk ngedate. Ia tidak ingin Riri curiga dengannya. Akhirnya setelah banyak membandingkan beberapa tempat, Sultan pun mendapatkan jawaban.
Sore harinya.
Setelah Adzan Ashar berkumandang, Sultan cepat-cepat mandi dan shalat Ashar. Setelah itu, ia bersiap untuk menjemput kekasihnya. Ia berdiri di depan kemari mencari celana jeans dan kaos lengan pendek. Ia juga mencari jaket berbahan kaos yang simple.
Setelah siap, ia pun pamit kepada ummi. Kebetulan ummi sedang menyiram bunga di taman depan.
"Ummi, abang berangkat dulu."
"Tumben rapi amat, bang. Mau ke mana?"
"Mau malam mingguan."
"MasyaAllah, serius?"
Sultan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf ummi, abang masih harus menjajaki dulu. Abang janji nggak yang aneh-aneh kok. Nanti habis isyak abang sudah pulang, karena kan dia ngekost. Nggak boleh pulang larut malam."
"Iya, bang. Ummi percaya kok sama abang. Hati-hati sendiri. Jangan lupa ada opa yang bisa saja saat ini sedang memantaumu. Kalau abang macam-macam, jangan salahkan kalau langsung dinikahin."
Sultan terkekeh. Benar juga kata sang ummi. Opa nya itu punya segala cara untuk melaksanakan kehendaknya.
"Berangkat dulu, ummi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Riri sudah siap dengan kulot jeans dan blusnya. Ia juga mengenakan jilbab segi empat yang senada dengan warna blusnya. Tidak lupa ia memoles sedikit wajahnya agar terlihat fresh.
"Duh, sekarang aku nih yang ditinggal terus di kamar." Sindir Fira.
"Biasanya kamu juga ngedate. Kemana Tirta?"
"Hem... lagi bokek katanya. "
"Kan bisa kamu yang bayarin."
"Lagi nabung aku, say. Soalnya pingin beli sesuatu, hehe... "
Tiba-tiba handphone Riri berdering. Ternyata Ahmed yang menelponnya. Ia memberitahu jika dirinya sudah menunggu di depan gerbang. Riri pun segera menggendong tasnya, dan memasukkan handphone-nya ke dalam tas.
"Da... Fir."
"Hati-hati... "
"Iya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Riri menutup kembali pintu kamarnya.
Sultan turun dari motornya dan menyambut kedatangan Riri.
"Selamat sore, neng." Sapanya dengan senyum merekah.
Sejenak Riri terpesona dengan penampilan kekasihnya. Sepertinya Ahmed sangat niat kali ini.
"Sore juga, bang."
"Masyaallah, dia cantik alami." Batin Sultan.
Ia mendekati Riri. Entah kenapa hati Riri berdebar sangat kencang.
"Pakai dulu helmnya."
Lagi-lagi Sultan memakaikan helm tersebut di kepala Riri. Hembusan nafas Ahmed sangat terasa di wajahnya. Riri dapat mencium bau mint dari mulut Ahmed. Perhatian kecil itu membuat Riri merasa sangat dihargai.
"Begini saja sudah membuat jantungku mau copot, bang."
Mereka pun naik ke atas motor. Riri tidak bertanya kepada Ahmed kemana ia akan membawanya pergi. Ia menikmati jalanan yang cukup sepi sore ini.
Ternyata Ahmed membawanya ke salah satu mall yang terdapat studio XXI di Surabaya. Ahmed juga sudah membeli tiket film melalui online.
"Maaf, aku tidak bertanya kamu sukanya nonton film apa. Tapi aku sudah beli tiket ini kebetulan filmnya komedi romantis. Nggak pa-pa, kan? "
"Iya, nggak pa-pa kok. Asal bukan film perang, bang."
Sebelum masuk ke ruang bioskop, Sultan membeli Popcorn dan minuman di lobi bioskop.
Cukup banyak penonton yang akan masuk karena memang malam minggu.
Di dalam bioskop mereka cukup terhibur dengan film yang di tonton. Bahkan tak jarang mereka tertawa bersama. Sesekali Sultan melirik kekasihnya. Ia masih tidak percaya bisa berada di titik ini.
"Begini ya rasanya pacaran." Batinnya.
Saat itu, Riri pun tidak sengaja melirik Sultan. Dengan sadar Riri menyuapi popcorn ke mulut Sultan. Sultan pun dengan ikhlas membuka mulutnya seranya mengulum senyum.
Saat film selesai, mereka buru-buru keluar. Sultan yang tidak ingin kekasihnya kena senggol orang lain pun, melindunginya dari belakang. Ia bahkan tidak sengaja menarik tangan Riri karena hampir terhuyung.
"Kamu nggak pa-pa, neng?"
"Nggak pa-pa, bang. Makasih."
"Sama-sama, sayang."
Besambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
calonmu emang ceo ri menyamar tukang ojek
smg lancarr yaa niat baik kaliannn😍
Ri....lebih baik cerita dulu ke mama, biar mama bisa bantu ngebujuk papa