Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.
Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.
Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Bayi Ketiga
"Siapa bayi ketiga?" tanya Rania sambil menatap Viktor tanpa berkedip.
Viktor tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggenggam ponsel yang menampilkan foto lama itu, sedangkan tatapannya terus tertuju pada wajah wanita muda yang sedang menggendong tiga bayi. Hujan yang mulai reda membuat suasana pelabuhan terasa semakin sunyi, sementara semua orang menunggu jawaban yang sama.
"Viktor." Bintang melangkah maju sambil menyipitkan mata. "Jawab pertanyaannya."
Viktor mengembuskan napas panjang. Wajahnya terlihat lelah, seolah beban yang selama ini dipikulnya mulai terlalu berat untuk ditahan.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang," ujarnya sambil menggeleng pelan.
"Sial!" umpat Bintang sambil memalingkan wajah. "Setiap kali kita hampir mendapatkan jawaban, kau selalu mengatakan hal yang sama."
"Ada alasan untuk itu."
"Aku sudah bosan mendengar alasan." Bintang menatapnya tajam.
Rania tidak ikut berbicara. Tatapannya kembali tertuju pada foto itu, tiga bayi. Selama ini mereka selalu membicarakan dua anak yang hilang, namun foto tersebut membuktikan bahwa sejak awal ada tiga bayi dalam cerita itu.
"Kalau ada tiga bayi, berarti ada tiga anak yang diburu sejak awal," ujar Arsen sambil menyilangkan tangan di dada.
"Benar," jawab Leonard sambil mengangguk pelan.
"Dan salah satunya adalah aku." Raka menunjuk dirinya sendiri.
"Yang satu lagi Rania," lanjut Arsen sambil menoleh ke arah wanita itu.
Semua orang perlahan mengalihkan pandangan kepada Bintang.
"Jangan." Bintang langsung menggeleng. "Jangan menatapku seperti itu."
"Terlambat." Arsen tersenyum tipis. "Aku sudah memikirkan hal yang sama sejak pertama kali melihatmu."
.
.
.
Mereka akhirnya meninggalkan pelabuhan dan kembali ke rumah persembunyian Viktor. Kali ini penjagaan diperketat dua kali lipat, anak buah bersenjata ditempatkan di setiap sudut bangunan, sedangkan kendaraan patroli terus berputar di sekitar area, namun semua itu tidak membuat siapa pun merasa lebih aman.
"Kita harus memeriksa foto itu lebih teliti," ujar Rania sambil duduk di ruang kerja Viktor.
"Itu yang sedang kulakukan," jawab Viktor sambil menyalakan layar besar di dinding.
Foto lama itu kembali muncul, semua orang langsung memperhatikannya. Wanita muda yang diyakini sebagai ibu Rania sedang duduk di sebuah kursi kayu, di pangkuannya terdapat tiga bayi yang dibungkus selimut berbeda warna.
"Perbesar bagian bayi." Bintang menunjuk layar.
Viktor segera melakukannya, semakin besar gambar itu, semakin jelas detail yang sebelumnya tidak terlihat.
"Tunggu." Septian menyipitkan mata. "Perbesar lagi."
Viktor memperbesar gambar untuk ketiga kalinya.
Rania langsung membeku.
"Apa itu?" tanyanya sambil berdiri.
Di salah satu sudut foto terdapat seorang pria yang hanya terlihat sebagian tubuhnya. Wajahnya memang tidak terlihat jelas, tetapi tangan pria itu tampak memegang sesuatu.
"Kau mengenali kalung itu?" tanya Damar sambil menoleh kepada Leonard.
"Sial!" Leonard langsung mengumpat pelan.
"Itu memang kalung yang sama?" tanya Viktor.
"Ya." Leonard mengangguk.
Rania menatap mereka bergantian.
"Kalian mengenalnya?" tanyanya.
"Itu lambang organisasi lama." Leonard mengembuskan napas panjang. "Organisasi yang seharusnya sudah hancur puluhan tahun lalu."
"Kita kembali ke organisasi misterius lagi." Bintang menjatuhkan tubuhnya ke kursi sambil mengusap wajahnya kasar. "Aku mulai rindu masa ketika masalah terbesar dalam hidupku hanya laporan perusahaan."
"Percayalah." Rangga tertawa kecil. "Aku juga."
"Setidaknya saat itu tidak ada saudara rahasia yang muncul setiap minggu."
"Aku merasa tersinggung." Arsen mendengus pelan.
"Itu memang tujuannya." Bintang menatapnya datar.
Untuk sesaat suasana mencair, namun ketegangan kembali muncul ketika salah satu anak buah Viktor masuk dengan langkah tergesa-gesa.
"Tuan." Pria itu berhenti di depan Viktor.
"Ada apa?" tanya Viktor sambil mengangkat kepala.
"Kami menemukan sesuatu."
"Apa?"
"Kami memeriksa salah satu rumah milik Ezra." Pria itu menyerahkan sebuah map.
Viktor langsung membuka map tersebut dan ekspresinya berubah dalam hitungan detik.
"Kenapa?" tanya Rania sambil mengernyit.
Viktor mengeluarkan selembar foto dari dalam map dan kali ini... semua orang membeku karena foto itu menampilkan tiga anak kecil yang sedang berdiri berdampingan.
Rania, Raka dan seorang anak laki-laki lain.
"Itu aku?" tanya Raka sambil melangkah mendekat.
"Ya." Viktor mengangguk pelan.
"Dan itu Rania."
"Ya."
Tatapan mereka perlahan beralih kepada anak laki-laki ketiga.
Anak itu tersenyum ke arah kamera. Di lehernya tergantung kalung yang sama seperti pada foto sebelumnya, sedangkan wajahnya... sangat mirip dengan Bintang.
"Tidak mungkin." Bintang menggeleng pelan.
"Tapi memang begitu kenyataannya," jawab Septian sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
Rania merasakan jantungnya berdegup semakin cepat. Selama ini ia berharap semua jawaban akan membuat hidupnya lebih mudah, namun setiap jawaban baru justru menghadirkan lebih banyak pertanyaan.
"Kalau itu benar, kenapa aku tidak mengingat apa pun?" tanyanya sambil menatap Viktor.
"Kalian masih terlalu kecil saat dipisahkan," jawab Viktor sambil mengembuskan napas panjang.
"Siapa yang memisahkan kami?" tanya Arsen sambil menyilangkan tangan.
"Tidak ada yang tahu pasti."
"Itu bohong." Leonard menggeleng pelan. "Kau tahu."
Ruangan langsung hening, semua orang menoleh ke arah Viktor.
"Aku hanya tahu sebagian." Viktor memejamkan mata sesaat.
"Katakan." Bintang menatapnya tajam.
Viktor terlihat ragu, namun kali ini ia sadar tidak bisa terus bersembunyi.
"Malam itu..." ujarnya pelan sambil membuka mata. "Seseorang datang untuk mengambil kalian."
"Siapa?" tanya Rania sambil mengepalkan tangannya.
"Pria yang sama dengan yang ada di foto."
"Dia anggota organisasi itu?" tanya Damar.
"Lebih dari itu." Viktor mengangguk pelan.
"Lebih dari itu bagaimana?" tanya Rangga sambil mengernyit.
"Dia pemimpinnya." Viktor menelan ludah.
Suasana langsung berubah karena selama ini mereka mengira organisasi tersebut hanyalah bagian kecil dari masalah yang sedang mereka hadapi, namun ternyata... masalah sebenarnya jauh lebih besar.
"Di mana dia sekarang?" tanya Bintang sambil berdiri.
"Itulah yang tidak kami ketahui."
"Masih hidup?" tanya Arsen.
"Mungkin."
"Mungkin?" ulang Bintang dengan nada kesal.
"Tidak ada seorang pun yang melihatnya sejak malam itu." Viktor mengusap pelipisnya. "Dia menghilang bersama salah satu dari kalian."
Semua orang langsung terdiam. Rania menatap foto anak-anak itu sekali lagi. Tiga anak, tiga korban dan tiga kehidupan yang dihancurkan oleh rahasia masa lalu, namun ada satu hal yang masih mengganggunya.
"Kalau dia membawa salah satu dari kami..." ujarnya pelan sambil menatap Viktor. "Lalu siapa yang dibawanya?"
Tidak ada yang langsung menjawab karena pertanyaan itu adalah inti dari semuanya dan sebelum Viktor sempat membuka mulut, suara alarm tiba-tiba menggema di seluruh rumah.
Wiuuuuu
Wiuuuuu
Wiuuuuu
Semua orang langsung berdiri.
"Ada apa lagi?" tanya Leonard sambil mengumpat.
Pintu ruang kerja terbuka, salah satu penjaga masuk dengan wajah pucat.
"Tuan Viktor!" serunya sambil terengah-engah.
"Apa?" bentak Viktor.
"Ada seseorang yang menerobos perimeter luar." Pria itu menelan ludah.
Jantung semua orang langsung berdegup lebih cepat.
"Berapa orang?" tanya Septian sambil berdiri.
"Hanya satu." Penjaga itu menggeleng.
Semua orang saling berpandangan.
"Hanya satu?" tanya Bintang sambil mengernyit.
"Ya."
"Dan kalian membunyikan alarm untuk satu orang?"
Penjaga itu terlihat semakin pucat.
"Karena..." katanya sambil menelan ludah sekali lagi. "Dia datang sendirian, tetapi sudah menjatuhkan enam orang penjaga."
Ruangan langsung membeku, bahkan Septian kehilangan ekspresinya karena hanya ada satu orang yang mereka kenal mampu melakukan hal seperti itu.