Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎
Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.
Dulu dipuji, kini dihina.
Dulu didekati, kini dijauhi.
Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Pekan Sebelum Pertarungan
Tiga hari Xiao Ba menghabiskan waktunya di kedalaman Tebing Tujuh Roh untuk diisi dengan latihan intensif Pukulan Naga menggunakan binatang buas sebagai sasaran hidup sembari berkultivasi di malam hari dengan energi tiga elemen yang mengalir dari laut dan batu karang serta sesekali menjelajahi formasi tebing yang belum pernah ia masuki sebelumnya guna menghafal setiap sudut medan yang akan menjadi arena resmi pertarungan seminggu lagi
Pada hari ketiga menjelang sore ia duduk di atas batu karang yang mencuat di tepi tebing tujuh sebagai tempat tertinggi yang bisa ia capai di seluruh kawasan Tebing Tujuh Roh di mana dari sini Laut Selatan terlihat membentang tak bertepi ke cakrawala sementara di arah yang berlawanan Kota Beira terlihat seperti lukisan yang tersusun rapi di lereng Bukit Karang dengan dermaga dan pelabuhan yang masih terlihat sibuk bahkan dari ketinggian ini
Ia membuka lautan kesadarannya untuk mencari bintang yang menyimpan Gerakan Kedua Pukulan Naga karena selama tiga hari ini ia sudah berhasil menguasai Gerakan Pertama dengan cukup baik dalam arti ia sudah bisa melepaskannya secara konsisten tanpa kehilangan kendali atas arah dan kekuatannya meskipun masih ada ruang yang sangat lebar untuk penyempurnaan
Saat bintang itu jatuh ke tangannya informasi tentang Gerakan Kedua segera mengalir masuk ke benaknya seperti air yang dituangkan ke dalam bejana kosong di mana gerakan ini berbeda dari Gerakan Pertama dalam hal cara penggunaannya karena jika Gerakan Pertama adalah serangan lurus yang melepaskan seluruh kekuatan dalam satu titik maka Gerakan Kedua adalah serangan yang bisa dipecah menjadi beberapa proyektil energi sekaligus untuk memungkinkan penggunanya menyerang beberapa target dalam satu gerakan atau menciptakan tekanan dari berbagai sudut terhadap satu target
"Jauh lebih berguna dalam pertarungan nyata," gumam Xiao Ba sambil mencerna informasi itu
Namun untuk menguasai Gerakan Kedua dibutuhkan kontrol energi Qi yang jauh lebih presisi dari Gerakan Pertama lantaran bukan sekadar mengalirkan energi ke tangan dan melepaskannya melainkan harus memecah aliran energi itu menjadi beberapa cabang secara bersamaan tanpa kehilangan kekuatan di masing-masing cabangnya hingga ia berpikir "Ini akan butuh latihan lebih lama"
Ia bangkit dari batu karang itu lalu mulai menuruni tebing untuk kembali ke kota karena seminggu lagi pertarungan akan dimulai dan ada beberapa hal yang perlu ia persiapkan selain kekuatan tempur
Di kediaman Keluarga Xiao ia menemukan Xiao Sun sedang duduk di teras yang menghadap ke Teluk Beira sembari menatap lautan dengan tatapan yang tidak bisa dibaca hingga Xiao Ba berjalan mendekat lalu menyapa sambil duduk di sebelahnya "Kakek"
Xiao Sun tidak segera menjawab karena matanya masih menatap ke arah laut yang kini berwarna keemasan oleh cahaya sore sebelum ia akhirnya berkata dengan suara yang lebih rendah dari biasanya "Shan'er kakek sudah menemukan beberapa petunjuk tentang siapa yang membocorkan informasi akar spiritualmu"
Xiao Ba menatap profil sang kakek sejenak lalu bertanya "Siapa Kakek?"
"Masih belum cukup bukti untuk bertindak," Xiao Sun menggeleng pelan "tapi kakek sudah menduga sejak lama sehingga kita hanya perlu satu bukti lagi"
Ia tidak menyebutkan nama namun dari cara berbicara serta dari cara matanya yang biasanya terang itu menyimpan sesuatu yang terasa seperti kesedihan yang sangat dalam Xiao Ba bisa menebak bahwa orang yang dimaksud sang kakek bukanlah orang asing
"Kakek sudah bekerja keras," kata Xiao Ba pelan "sisanya biarkan aku yang mengurus"
Xiao Sun menatap cucunya sembari bertanya "Kamu yakin?"
"Lebih dari yakin"
Malam itu setelah makan malam yang sunyi bersama Lu Ming yang setia menyiapkan makanan seperti biasa Xiao Ba segera kembali ke paviliunnya untuk duduk bersila dan memejamkan mata membiarkan aliran Teknik Kultivasi Kaisar Langit bekerja dengan sendirinya sementara sebagian kesadarannya memikirkan situasi yang akan ia hadapi dalam seminggu ke depan
Mulai dari Tebing Tujuh Roh dengan semua formasi tebingnya yang sudah ia hafal lalu Xiao Tian dan Xiao Xiyun dari garis keturunan pengkhianat di dalam keluarganya sendiri serta Penatua Kelima Keluarga Yun yang disisakan di Kota Beira dengan beberapa petarung Keluarga Yun hingga Keluarga Wang yang masih menyimpan dendam dari kejadian beberapa hari lalu menunjukkan adanya musuh dari berbagai arah
Namun Xiao Ba tidak merasakan tekanan dari semua itu karena yang ia rasakan justru sesuatu yang lebih dekat dengan antusiasme lantaran seminggu lagi dunia akan melihat bahwa sampah yang mereka pikir sudah tidak ada gunanya ternyata belum selesai sama sekali
Sementara itu di paviliun Penatua Kedua yang lampunya masih menyala meski malam sudah larut tampak Xiao Ye sedang menerima laporan dari utusan yang dikirimnya ke ibu kota Kerajaan Ying beberapa waktu lalu
"Keluarga Yun sudah mengonfirmasi bahwa Penatua Kelima Keluarga Yun yang ada di Kota Beira akan bertindak di hari ketiga pertarungan di mana mereka memiliki empat petarung di alam Pengumpulan Qi Tingkat 7 ke atas yang akan ditempatkan di kawasan tebing enam dan tebing tujuh," lapor utusan itu
Xiao Ye mengangguk perlahan dengan jari-jarinya yang mengetuk-ngetuk meja dalam irama yang lambat dan teratur sembari berkata "Bagus karena di kawasan terdalam tebing tidak akan ada saksi yang merepotkan"
"Dan Tuan Muda Xiao Tian?" tanya utusan itu
"Xiao Tian sudah tahu tugasnya karena ia akan memastikan Xiao Ba terpisah dari kelompok lain dan terdorong ke arah tebing enam sejak hari pertama," Xiao Ye tersenyum tipis "anak itu memang kadang tidak sabaran tapi untuk urusan ini ia cukup bisa dipercaya"
Di kamarnya tampak Xiao Tian sedang berbaring di tempat tidur dengan mata yang tidak bisa terpejam karena pikirannya terus berputar mengingat bagaimana beberapa hari lalu Xiao Ba melangkah masuk ke aula dengan langkah yang terlalu ringan untuk seseorang yang seharusnya tidak bisa berkultivasi lagi serta bagaimana Xiao Ba menghancurkan kontrak perjodohan dengan satu genggaman tangan tanpa terlihat mengeluarkan usaha berarti
Ia juga mengingat ekspresi Wang Chunying saat menceritakan bagaimana ia dan Wang Xuemin dikalahkan hanya dengan kekuatan fisik seorang yang seharusnya sudah menjadi sampah hingga ia berpikir ada sesuatu yang tidak beres namun setiap kali pikiran itu mencuat ke permukaan ia selalu menekannya kembali ke bawah dengan keyakinan bahwa kekuatan fisik sebesar apa pun tidak akan bisa mengalahkan kesenjangan alam kultivasi yang cukup besar apalagi di Tebing Tujuh Roh dengan empat petarung Keluarga Yun yang menunggu di kawasan terdalam membuat kesenjangan itu seharusnya sudah lebih dari cukup
Di seberang kota di atas batu karang setinggi dua meter di halaman belakang kediaman Keluarga Xiao yang menghadap ke Teluk Beira tampak Xiao Ba sedang berdiri menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit malam sementara angin laut berembus kencang untuk menekan jubah putihnya ke belakang
Ia mengangkat tangan kanannya lalu mengalirkan sedikit energi Qi ke kepalan tangan itu membiarkan cahaya emas yang samar terlihat di permukaannya seperti bara yang hampir padam namun tidak pernah benar-benar padam
"Satu pekan lagi," gumamnya kepada laut dan langit yang tidak menjawab namun terasa mendengarkan sebagai sebuah pernyataan yang paling tenang dan paling mengandung keyakinan dari seseorang yang sudah tahu persis apa yang akan ia lakukan dan bagaimana cara ia melakukannya
Ombak menghantam kaki Bukit Karang di bawah sana dengan ritme yang tidak pernah berubah sejak zaman sebelum kota ini berdiri dan di antara deru ombak itu seolah ada sesuatu yang berbisik kembali kepada pemuda yang berdiri di atas batu karang tersebut berupa sesuatu yang terdengar seperti kata amin dari alam semesta yang sudah terlalu lama menunggu
pertahankan👌