NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Zyan menatap pantulan dirinya di cermin besar ruang ganti dengan tatapan horor. Di sampingnya, Alexa sedang memegang sebotol *hair spray* dan sepotong jaket kulit hitam yang penuh dengan rantai-rantai besi.

"Alexa, saya tidak mungkin memakai ini. Ini... ini pelecehan terhadap selera *fashion* saya," protes Zyan. Ia sekarang mengenakan kaos hitam ketat dengan robekan di bagian bahu (yang sengaja dibuat Alexa pake gunting dapur), celana jeans belel yang ada lubang di lututnya, dan rantai dompet yang menjuntai sampai ke paha.

"Duh, Om! Kita mau masuk ke 'The Underworld', kelab malam paling eksklusif di Jakarta Selatan tempat penguntit itu terakhir terlihat. Kalau lo pake setelan jas Arsalan, yang ada lo malah dikira mau akuisisi kelabnya, bukan mau nyamar!" Alexa sendiri tampil sangat kontras. Ia memakai crop top hitam, celana kulit ketat, dan rambutnya dikuncir dua tinggi.

"Tapi kenapa rambut saya harus diberdirikan seperti ini? Saya terlihat seperti ayam jago yang sedang marah," Zyan meraba rambutnya yang sudah diberi wax super keras oleh Alexa.

"Itu namanya gaya edgy, Om! Biar lo kelihatan kayak anak band rock yang lagi galau, bukan direktur yang lagi mikirin inflasi. Udah, buruan! Pakai kacamata hitamnya!"

Pukul 23.00 WIB, mereka sampai di depan kelab malam tersebut. Suara dentuman bass sudah terasa sampai ke parkiran. Rio, yang sudah siaga di dalam mobil pemantau beberapa meter dari sana, bicara lewat earpiece.

"Lex, Pak Zyan, target terlihat masuk ke area VIP lantai dua. Dia pake topi merah dan jaket bomber abu-abu. Jangan sampai kehilangan jejak," bisik Rio.

Zyan turun dari mobil dengan langkah yang... sedikit ragu. Alexa langsung menggandeng lengan Zyan, atau lebih tepatnya, bergelayut di lengan Zyan agar terlihat seperti pasangan "gaul" yang sedang dimabuk asmara.

"Rileks, Om! Jangan jalan kayak lagi mau masuk ruang sidang. Goyangin dikit bahunya, pasang muka sombong!" bisik Alexa di telinga Zyan.

Begitu masuk, bau alkohol dan asap rokok elektrik langsung menyambut mereka. Lampu neon warna-warni berkedip liar. Zyan merasa dunianya seolah terbalik. Ini adalah tempat yang paling ia hindari seumur hidup.

"Kita ke bar dulu, biar nggak mencurigakan," ajak Alexa.

Di bar, seorang bartender mendekat. "Mau minum apa, Bos?"

Zyan baru mau menjawab, "Jus jeruk tanpa gula," tapi Alexa langsung menyambar, "Dua mocktail yang paling kuat warnanya, Mas! Biar kelihatan keren!"

Sambil menunggu minuman, mata tajam Alexa menyisir area VIP. "Tuh, Om. Lantai dua, pojok kiri. Si Topi Merah lagi ngobrol sama seseorang yang mukanya ketutupan tirai."

Zyan mencoba melihat, tapi karena dia nggak pake kacamata minusnya (demi gaya), dia agak kesulitan. "Saya tidak bisa melihat jelas tanpa kacamata, Alexa. Semuanya terlihat seperti tumpukan lampu berjalan."

"Sini, pake fitur zoom di HP gue!" Alexa pura-pura mau selfie bareng Zyan, padahal kameranya diarahkan ke lantai dua.

Di layar HP, terlihat Si Topi Merah menyerahkan sebuah amplop cokelat pada sosok misterius di balik tirai. Dan saat sosok itu sedikit bergeser, Alexa dan Zyan melihat sebuah tato unik di pergelangan tangan sosok tersebut: Tato sayap malaikat yang patah.

Zyan tertegun. "Tato itu... itu simbol dari organisasi 'The Phoenix', sekumpulan mantan karyawan Arsalan yang dulu dipecat Papa karena kasus penggelapan. Mereka punya dendam pribadi pada keluarga kami."

Tiba-tiba, Si Topi Merah melihat ke arah bawah, tepat ke arah Alexa dan Zyan. Ia tampak mengenali Zyan meskipun sudah dandan ala rockstar.

"Gawat, Om! Dia sadar! Kabur!" teriak Alexa.

Si Topi Merah langsung berlari menuju pintu belakang area VIP. Alexa dan Zyan tidak membuang waktu. Mereka menerjang kerumunan orang yang lagi asyik joget.

"Minggir! Ada keadaan darurat teknik!" teriak Alexa sambil menyikut beberapa orang.

Zyan, yang ternyata punya insting atletis yang bagus, melompati pagar pembatas bar dengan sekali lompat, membuat sang *bartender* melongo. Mereka mengejar target sampai ke lorong belakang yang gelap dan sepi.

DOR!

Tiba-tiba terdengar suara tembakan peringatan. Si Topi Merah berdiri di ujung lorong dengan pistol di tangannya.

"Berhenti di situ, Pak Direktur! Atau istri kecilmu ini akan punya lubang tambahan di kepalanya!" ancam Si Topi Merah.

Zyan langsung pasang badan di depan Alexa. Aura dinginnya kembali, tapi kali ini lebih mengerikan. "Kamu membuat kesalahan besar dengan membawa senjata ke depan saya. Dan kesalahan yang lebih besar lagi adalah mengancam istri saya."

"Halah, banyak bacot! Mati lo!"

Saat Si Topi Merah hendak menembak, Alexa beraksi. Ia mengambil botol mocktail yang tadi sempat ia bawa dan melemparkannya dengan akurasi montir handal tepat ke arah lampu neon di atas kepala Si Topi Merah.

PRANG!

Lampu pecah, percikan listrik menyambar, dan kondisi lorong jadi remang-remang. Dalam hitungan detik, Zyan melesat maju. Dengan satu gerakan cepat, ia memutar pergelangan tangan lawan sampai pistolnya terjatuh, lalu melakukan tendangan memutar yang membuat Si Topi Merah terkapar tak berdaya.

"Jangan pernah... sekali pun... mengarahkan senjata pada keluarga saya," bisik Zyan dengan nada yang sangat rendah dan mengancam.

Alexa datang mendekat, ia langsung menggeledah kantong Si Topi Merah dan mengambil amplop cokelat yang tadi diserahkan. Di dalamnya ada daftar pemegang saham baru dan sebuah foto lama.

Foto itu menunjukkan almarhum Pak Arsalan sedang bersalaman dengan seorang pria yang wajahnya dicoret tinta merah. Di bawahnya tertulis: "Hutang nyawa harus dibayar nyawa. Kami kembali untuk mengambil apa yang seharusnya milik kami."

"Om... ini bukan cuma soal bisnis. Ini soal dendam lama yang belum kelar," ujar Alexa cemas.

Polisi (yang dipanggil Rio secara diam-diam) datang dan mengamankan Si Topi Merah. Zyan dan Alexa keluar dari kelab malam itu dengan perasaan campur aduk. Jaket kulit Zyan sudah robek di bagian ketiak karena tadi terlalu bersemangat berantem.

"Om, lo oke?" tanya Alexa sambil mengusap peluh di dahi Zyan.

Zyan menatap Alexa, lalu tiba-tiba dia tertawa kecil. "Jaket ini benar-benar tidak nyaman, Alexa. Dan rambut saya... rasanya seperti disemen. Tapi, tadi kamu hebat sekali saat melempar botol itu."

Alexa nyengir. "Ya iyalah! Gue kan sering lempar kunci pas ke arah Rio kalau dia salah pasang baut. Udah biasa!"

Mereka duduk di kap mobil di bawah lampu jalanan Jakarta yang mulai sepi. Zyan merangkul bahu Alexa. "Sepertinya 'The Phoenix' ini akan jadi masalah besar. Mereka bukan cuma mau uang, mereka mau menghancurkan nama Arsalan sampai ke akarnya."

"Tenang, Om. Selama ada gue, nggak ada satu pun burung fenix atau burung gereja yang bisa nyentuh lo. Gue bakal pasang 'sistem keamanan' paling canggih buat lo," Alexa menyandarkan kepalanya di bahu Zyan.

Zyan menoleh, menatap wajah Alexa yang masih penuh dengan riasan tebal ala anak kelab malam. "Alexa... terima kasih ya. Malam ini, saya sadar kalau saya nggak butuh bodyguard profesional. Saya cuma butuh istri yang bisa lempar botol dengan akurasi tinggi."

Alexa tertawa lepas. "Tapi ada syaratnya, Om!"

"Apa?"

"Besok pagi, lo harus masakin gue mie instan pake telur setengah mateng. Gak boleh gagal! Kalau gagal, gue bakal dandanin lo jadi badut buat ke kantor!"

Zyan mendesah pasrah. "Baiklah. Saya akan belajar dari YouTube malam ini juga."

Zyan kemudian menarik Alexa dalam pelukan yang hangat. Di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, di bawah ancaman organisasi misterius, mereka berdua menemukan satu hal yang pasti: bahwa cinta mereka jauh lebih kuat daripada konspirasi mana pun.

"Eh, Om," bisik Alexa di tengah pelukan.

"Ya?"

"Itu... jaket kulit lo robek di bagian belakang. Keliatan tuh singlet putihnya," goda Alexa sambil cekikikan.

"ALEXA! Kenapa baru bilang sekarang?!" Zyan langsung panik dan mencoba menutupi bagian belakangnya, membuat Alexa tertawa makin kencang.

Malam itu berakhir dengan pengejaran mobil yang santai menuju rumah, di mana sebuah "proyek" mie instan sedang menunggu sang Direktur yang baru saja berubah jadi jagoan jalanan.

Bersambung....

1
Mela Mela
karyanya menarik bgt,seru,menantang bgt bacanya..seakan gw ikut masuk. didalem ceritanya👍
neyrfly: makasih kakk🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!