Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Serpihan Luka di Balik Jaket Hitam
Pagi di Pesantren Al-Ikhlas selalu dimulai dengan ritme yang sama: suara langkah kaki ribuan santri menuju masjid, lantunan dzikir berjamaah, dan aroma nasi gurih dari dapur umum. Namun, bagi Arini, pagi ini terasa seperti awal dari sebuah peran sandiwara besar. Setelah kejadian di teras belakang semalam, ia harus turun ke ruang makan *ndalem* dengan senyum terkembang, seolah-olah malam pertamanya berjalan seindah dongeng para santriwati.
Di meja makan, Kyai Ahmad dan Nyai Salma sudah menunggu. Zikri juga ada di sana, sudah tampak rapi dengan koko berwarna cokelat susu dan peci hitam yang bertengger sempurna di kepalanya. Tidak ada jejak debu jalanan atau noda oli yang semalam Arini lihat. Zikri tampak seperti putra mahkota yang sempurna.
"Bagaimana tidurmu, Arini? Nyaman di sini?" tanya Nyai Salma lembut sambil menyendokkan nasi kebuli ke piring menantunya.
Arini melirik Zikri dari sudut matanya. Pria itu sibuk mengupas telur rebus tanpa ekspresi. "Nyaman, Nyai. Kamarnya sangat tenang," jawab Arini sopan.
"Jangan panggil Nyai lagi, panggil Ibu saja," sahut Nyai Salma hangat. "Zikri, kenapa diam saja? Ajak istrimu jalan-jalan keliling pesantren nanti siang. Biar dia kenal dengan lingkungan barunya."
Zikri menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap ibunya datar. "Aku ada jadwal mengajar di kelas Aliyah, Bu. Mungkin sore."
"Sore juga tidak apa-apa," sela Kyai Ahmad dengan nada berwibawa. "Arini, Zikri ini memang agak kaku, tapi dia anak yang bertanggung jawab. Bapak harap kamu bisa bersabar membimbingnya kembali ke jalan yang lebih... tenang."
Arini hanya mengangguk patuh. Kata "membimbing" yang diucapkan Kyai Ahmad terasa seperti beban berton-ton yang diletakkan di pundaknya. Bagaimana mungkin ia bisa membimbing seseorang yang bahkan tidak mau menatap matanya saat berbicara?
Kesempatan untuk melihat "sisi lain" Zikri datang lebih cepat dari yang Arini duga. Siang harinya, saat *ndalem* sedang sepi karena Kyai dan Nyai pergi menghadiri pengajian di kabupaten sebelah, Arini berniat mencari buku referensi di perpustakaan pribadi Kyai Ahmad. Namun, langkahnya terhenti saat melewati gudang tua di dekat kebun belakang yang jarang dilewati orang.
Ia mendengar suara dentingan logam dan gumaman rendah. Karena rasa penasaran yang besar, Arini mengintip melalui celah pintu kayu yang sedikit terbuka.
Di dalam sana, Zikri sedang berjongkok di depan sebuah motor tua yang tertutup debu—bukan motor Ninja-nya, melainkan motor bebek tua tahun 90-an. Ia sedang membersihkan mesinnya dengan sangat hati-hati, seolah-olah motor rongsokan itu adalah harta karun yang tak ternilai. Di sampingnya, sebuah radio tua memutar lagu grunge dengan volume sangat rendah, hampir tidak terdengar dari luar.
Tiba-tiba, Zikri berhenti. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah bingkai foto kecil yang sudah retak kacanya. Ia menatap foto itu lama sekali. Arini bisa melihat bahu Zikri yang biasanya tegap kini tampak merosot. Ada aura kesedihan yang begitu pekat memancar dari sosoknya.
"Maaf, Bu... Zikri telat lagi," bisik pria itu. Suaranya pecah, jauh dari nada angkuh yang biasa ia tunjukkan.
Arini tidak sengaja menginjak ranting kering di bawah kakinya.
Krak!
Zikri langsung bereaksi. Dalam sekejap, ia menyembunyikan foto itu ke dalam jaketnya dan berdiri dengan waspada. Matanya kembali menajam saat melihat Arini berdiri di ambang pintu.
"Sedang apa kamu di sini?" bentaknya. "Sudah kubilang jangan mengikutiku!"
Arini tidak mundur. Ia justru melangkah masuk ke dalam gudang yang pengap itu. "Aku tidak mengikutimu. Aku hanya lewat. Foto siapa itu, Zikri?"
"Bukan urusanmu!" Zikri mencoba berjalan melewati Arini, namun Arini menghalangi jalannya.
"Kenapa kamu selalu marah setiap kali ada yang mencoba mendekat?" tanya Arini dengan nada menantang namun lembut. "Aku istrimu sekarang, suka atau tidak. Kalau kamu punya luka, setidaknya jangan lampiaskan padaku seolah aku ini musuhmu."
Zikri terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menatap Arini dengan kebencian yang mendalam, tapi perlahan, kebencian itu luntur menjadi keputusasaan yang melelahkan. Ia kembali duduk di bangku kayu tua, memunggungi Arini.
"Kamu mau tahu?" suara Zikri terdengar parau.
"Ibuku... Ummi Fatimah. Beliau meninggal sepuluh tahun yang lalu."
Arini tertegun. Ia tahu Nyai Salma adalah ibu tiri Zikri, namun ia tidak pernah tahu detail tentang ibu kandungnya.
"Waktu itu aku masih remaja. Aku dikirim ke pesantren lain di Jawa Timur untuk menghafal Quran. Aturannya sangat ketat, tidak boleh ada alat komunikasi, tidak boleh pulang sebelum khatam. Ketika Ummi sakit parah, Abi tidak memberitahuku. Dia bilang, dia tidak mau fokusku terganggu," Zikri tertawa pahit, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang merah.
"Aku baru diberi tahu saat Ummi sudah dikuburkan. Aku pulang dan hanya mendapati gundukan tanah basah. Abi bilang itu adalah ujian ketaatan. Bagiku? Itu adalah pengkhianatan." Zikri meninju dinding kayu di sampingnya. "Sejak hari itu, aku benci tempat ini. Aku benci aturan. Aku benci gelar 'Gus' yang membuatku kehilangan saat-saat terakhir bersama orang yang paling kucintai."
Arini merasa jantungnya seperti diremas. Segala kemarahannya pada sikap buruk Zikri menguap seketika. Di depannya bukan lagi seorang pria nakal yang haus perhatian, melainkan seorang anak kecil yang hancur karena dipisahkan secara paksa dari ibunya demi sebuah "label" kesucian.
"Zikri... aku minta maaf. Aku tidak tahu," Arini mendekat dan memberanikan diri menyentuh bahu Zikri. Kali ini, Zikri tidak menepisnya.
"Jangan kasihani aku," desis Zikri, meski ia tidak menjauh. "Itulah kenapa aku sering keluar malam. Di jalanan, tidak ada yang memanggilku Gus. Di sana, aku cuma Zikri yang bebas. Kalau Abi tahu aku masih berhubungan dengan dunia luar, dia mungkin akan membuangku sekalian.
Dan sejujurnya, itu yang kuharapkan."
Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar dari depan ndalem. Kyai Ahmad sudah pulang lebih awal.
Zikri langsung panik. Ia melihat ke arah motor tua dan radionya yang masih menyala. Jika Kyai Ahmad melihat Zikri berada di gudang ini dengan barang-barang "duniawi" miliknya, kemarahan besar pasti akan meledak.
"Sembunyikan foto itu," bisik Arini cepat. "Biar aku yang hadapi Kyai."
"Apa?" Zikri bingung.
"Cepat masuk lewat pintu belakang asrama! Bilang saja kamu baru selesai mengaji mandiri di sana. Aku akan bilang kamu membantuku mencari barang di gudang."
Zikri menatap Arini dengan tatapan tak percaya.
"Kamu mau berbohong untukku?"
"Cepat pergi sebelum terlambat!" dorong Arini.
Zikri mengangguk singkat, sebuah tatapan terima kasih yang samar terlihat di matanya sebelum ia menghilang di balik pintu belakang. Arini segera mematikan radio tua itu, menyembunyikannya di balik tumpukan karung, lalu mengambil sebuah sapu tua.
Beberapa saat kemudian, Kyai Ahmad muncul di area kebun belakang. "Arini? Sedang apa kamu di gudang kotor ini?"
Arini tersenyum tenang, meski hatinya berdebar kencang. "Ini, Bah... Arini tadi mencari sapu lidi. Ingin membantu membersihkan teras belakang, tapi malah tersesat di sini. Zikri tadi sempat membantu mencarikan, tapi dia langsung pergi karena ada jadwal dengan santri senior."
Kyai Ahmad menatap Arini lekat-lekat, seolah mencari kebohongan. Namun, wajah Arini yang polos dan tenang berhasil meyakinkannya.
"Begitu ya. Baguslah kalau Zikri mulai perhatian padamu. Yasudah, jangan lama-lama di sini, banyak debu."
Setelah Kyai Ahmad pergi, Arini menyandarkan punggungnya ke pintu gudang, menghela napas lega. Ia baru saja melakukan dosa pertamanya di pesantren ini: berbohong pada seorang Kyai demi suaminya.
Malam itu, saat Arini kembali ke kamar, ia menemukan sebuah cokelat batangan kecil diletakkan di atas bukunya yang terbuka. Tidak ada catatan, tidak ada nama. Namun, Arini tahu siapa pengirimnya.
Ia melirik ke arah Zikri yang sudah berbaring di tempat tidur, memunggungi sisi ranjang Arini. Meskipun pria itu tetap diam, Arini merasa dinding es di antara mereka baru saja retak sedikit.
“Ternyata di balik jaket kulit yang keras itu, ada hati yang hanya butuh didengar,” tulis Arini dalam hatinya.
Ia tahu, perjalanannya untuk menyelamatkan Zikri—atau mungkin menyelamatkan diri mereka berdua—masih sangat panjang. Namun untuk malam ini, setidaknya Arini tahu bahwa ia tidak lagi tinggal bersama seorang asing, melainkan bersama seorang pria bernama Zikri yang sedang berjuang melawan hantunya sendiri.
Perang dingin itu belum berakhir, tapi setidaknya, gencatan senjata pertama telah dimulai.
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr