Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG TERATAI DARI KOTA Z
Guncangan kapal patroli yang jauh lebih besar dari perahu nelayan tadi tidak membuat rasa mual di perut Keyra mereda. Sebaliknya, jantungnya berdegup dua kali lebih kencang saat ia dipaksa melangkah naik ke dek baja yang dingin. Di bawah lampu sorot kapal yang menyilaukan, ia memapah tubuh Ghazali yang nyaris tak berdaya, dibantu oleh Yudha yang tangannya kini sudah terikat borgol plastik.
Namun, langkah Keyra terhenti seketika. Di ujung dek, berdiri seorang wanita yang tampak sangat kontras dengan lingkungan militer yang kasar itu. Ia mengenakan mantel parit berwarna krem yang elegan, rambutnya tertata rapi meski angin laut berembus kencang, dan aroma parfum floral mahal miliknya mendadak menjajah indra penciuman Keyra yang sejak tadi terbiasa dengan bau amis dan darah.
----
Wanita itu melangkah maju, suara sepatu hak tingginya beradu dengan dek baja, menciptakan irama yang mengintimidasi. Ia berhenti tepat di depan Keyra, menatap Ghazali dengan tatapan yang sulit diartikan antara cemas dan kepemilikan.
"Ghazali..." bisik wanita itu. Ia mengabaikan Keyra sepenuhnya, seolah Keyra hanyalah tiang penyangga yang kebetulan ada di sana. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit halus terulur, hendak menyentuh pipi Ghazali yang kotor oleh lumpur.
Keyra secara insting menarik tubuh Ghazali menjauh satu jengkal. "Siapa Anda? Pasien ini butuh penanganan medis segera, bukan simpati."
Wanita itu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Keyra. Matanya yang tajam dan berkelas menatap Keyra dari ujung kepala hingga kaki yang berlumpur. "Aku? Aku adalah alasan kenapa kapal patroli ini dikirim ke tengah badai hanya untuk mencari satu perahu nelayan yang hilang."
Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Namaku Clarissa Aditama. Dan pria yang kau peluk itu... adalah tunanganku yang seharusnya berada di meja makan malam keluargaku dua hari yang lalu."
Keyra merasa seperti tersambar petir di tengah laut. Aditama? Nama belakang itu adalah kutukan. Wanita ini adalah putri dari pria yang mencoba membunuh mereka di hutan.
"Tunangan?" Keyra tertawa getir, suaranya parau. Ia mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan cincin kabel tembaga yang masih melingkar di jari manisnya. "Ghazali melamarku di tengah hutan perbatasan. Dia tidak pernah menyebut namamu."
Clarissa menatap cincin kabel itu dengan tatapan jijik yang terang-terangan. Ia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merendahkan.
"Kabel sampah itu? Oh, Dokter... Ghazali memang selalu punya selera humor yang aneh saat berada di bawah tekanan. Dia pria militer, dia akan melakukan apa pun untuk bertahan hidup, termasuk menjanjikan surga pada wanita yang kebetulan memegang kotak obatnya."
Clarissa melangkah satu langkah lebih dekat, aroma parfumnya kini terasa menyesakkan bagi Keyra. "Lepaskan dia. Sekarang juga. Kamu sudah melakukan tugasmu sebagai medis lapangan. Sekarang, biarkan tim medis pribadiku yang mengambil alih."
Dua petugas medis berseragam putih bersih maju dengan tandu otomatis. Mereka mencoba menarik Ghazali dari pelukan Keyra.
"Jangan sentuh dia!" teriak Keyra. Namun, Yudha memberikan isyarat mata agar Keyra tidak melawan. Mereka kalah jumlah dan posisi.
"Biarkan saja, Key. Kita perlu dia masuk ke fasilitas medis yang layak," bisik Yudha pelan.
Keyra terpaksa melepaskan pegangannya. Ia melihat Ghazali dibaringkan di tandu. Saat itulah, Clarissa menyadari sesuatu. Matanya tertuju pada tangan Keyra yang terus mengepal, seolah menyembunyikan sesuatu di balik lilitan kabel cincinnya.
"Tunggu," Clarissa menahan tangan Keyra. Ia memicingkan mata melihat keanehan pada bentuk cincin kabel itu. "Cincin itu... sepertinya ada yang tidak beres dengan bentuk lilitannya. Berikan padaku. Aku ingin melihat kenang-kenangan murah itu lebih dekat."
Keyra menarik tangannya, menyembunyikannya di balik punggung. "Ini milikku. Milik kami."
"Di atas kapal ini, tidak ada yang menjadi milikmu kecuali aku mengizinkannya," suara Clarissa mendadak sedingin es. "Geledah wanita ini. Ambil cincin itu. Aku curiga dia mencuri sesuatu dari perlengkapan taktis Kapten."
Petugas penjaga pantai mulai mendekati Keyra dengan tatapan mengancam. Keyra mundur hingga punggungnya menyentuh pagar pembatas kapal. Di bawahnya, laut hitam yang bergejolak siap menelan apa pun.
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....
lanjut ya
lanjut ya
rasa nya campur jd satu....