Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertahanan di Titik Nadir
Getaran hebat pertama menghantam dinding polikarbonat The Meridian Vault, menciptakan riak-riak kecil pada permukaan air di luar kaca tebal yang memisahkan mereka dari tekanan ribuan atmosfer. Di layar radar, puluhan titik hitam bergerak dengan formasi mematikan—kapal selam taktis kelas Wraith milik organisasi The Architects of Time. Mereka tidak datang untuk bernegosiasi; mereka datang untuk menjemput paksa detak jantung dunia yang dicuri.
"Sora, mereka mulai menembakkan torpedo pengacau sonar!" teriak Hael. Ia segera berlari ke konsol pertahanan manual, jemarinya menari di atas tuas kendali yang mengatur posisi sirip-sirip luar fasilitas. "Jika mereka berhasil merusak sistem keseimbangan, tekanan air akan meremukkan tempat ini seperti kaleng kerupuk!"
Martha, sang nakhoda tua, tetap berdiri tenang di depan jam pasir yang melayang. "Sora, dengarkan aku. Mesin ini bukan sekadar senjata pertahanan. Ia adalah konduktor. The Meridian Vault dibangun di atas titik pertemuan arus magnetik bumi. Gunakan The Chronos Weaver untuk membalikkan polaritas air di sekitar kita."
Sora menatap kotak perunggu di tangannya. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Membalikkan polaritas? Martha, jika aku salah menghitung frekuensinya, kita semua akan hancur oleh kavitasi!"
"Kamu adalah putri Aris Kalani! Darahmu mengenal irama mesin ini lebih baik daripada siapa pun!" suara Martha menggelegar, mengatasi suara deru mesin yang mulai bekerja keras.
Sora melompat ke arah lubang pusat The Meridian Vault. Ia menancapkan The Chronos Weaver ke dalam slot utama. Seketika, seluruh aula itu dibanjiri cahaya biru Safir. Sora menutup matanya, mencoba merasakan getaran dari setiap kapal selam musuh di luar sana. Ia tidak lagi melihat dengan mata, tapi dengan pendengaran horologisnya.
Tik... tik... tik...
Ia mendengar mesin kapal selam pertama. Frekuensi 440 Hertz. Kapal kedua, 442 Hertz. Mereka mencoba mensinkronkan serangan.
"Hael! Berikan aku kendali atas turbin luar!" seru Sora.
"Sudah kualihkan ke tanganmu, Sora! Lakukan sekarang!"
Sora memutar roda gigi pusat The Chronos Weaver dengan gerakan sentrifugal yang cepat. Ia mengirimkan gelombang resonansi balik yang sangat kuat. Di luar sana, air yang tadinya tenang tiba-tiba mulai bergolak hebat. Gelombang ultrasonik yang dipancarkan fasilitas itu menciptakan gelembung-gelembung udara raksasa yang menghantam sistem navigasi kapal-kapal Wraith.
Dua kapal selam musuh kehilangan kendali, bertabrakan satu sama lain dan tenggelam ke dasar gelap samudra. Namun, musuh utama belum bergerak. Sebuah kapal selam induk raksasa, berbentuk seperti jarum jam perak, muncul dari balik kegelapan.
"Itu The Grand Complication," bisik Martha dengan wajah pucat. "Kapal pribadi milik Sang Arsitek Utama."
Tiba-tiba, suara ledakan keras terdengar dari arah gerbang dok pesawat amfibi. Pintu kedap udara jebol. Sekelompok pasukan elit berpakaian zirah logam ringan menyerbu masuk. Di depan mereka, berdiri seorang pria dengan topeng mekanis yang menutupi setengah wajahnya. Matanya yang dingin menatap langsung ke arah Hael.
"Lama tidak berjumpa, Hael Arlo," suara pria itu terdengar seperti logam yang bergesekan. "Atau haruskah kupanggil... Nomor Sembilan?"
Hael membeku. Wajahnya yang biasanya penuh keberanian mendadak pucat pasi. Ia mencengkeram gagang belatinya hingga buku jarinya memutih. "Kalian seharusnya sudah membunuhku di Siberia, Kael."
"Organisasi tidak pernah membuang aset berharganya, Hael. Kamu hanya sedang menjalani masa cuti yang panjang," Kael mengangkat pedang pendeknya yang bergetar dengan frekuensi tinggi. "Serahkan gadis itu dan mesinnya, maka aku akan memastikan kematianmu cepat."
"Langkahi mayatku dulu!" Hael menerjang maju.
Pertarungan jarak dekat pecah di antara tabung-tabung penyimpanan jam kuno. Hael bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, namun Kael tampak selalu bisa memprediksi gerakannya—seolah-olah Kael bisa melihat beberapa detik ke masa depan. Pedang frekuensi Kael menyambar lengan Hael, merobek kain jaket dan meninggalkan luka bakar yang dalam.
Sora melihat Hael terdesak. Ia ingin membantu, namun tangannya harus tetap berada di The Chronos Weaver untuk menjaga integritas dinding fasilitas. Jika ia melepaskannya, mereka semua akan mati tenggelam.
"Sora! Jangan lihat ke sini! Fokus pada mesinnya!" teriak Hael sambil menahan tendangan keras dari Kael.
Sora menggertakkan gigi. Ia melihat jam pasir Martha yang melayang. Ia menyadari sesuatu. Pasir itu tidak melayang karena sihir, tapi karena manipulasi gravitasi lokal.
"Martha! Aktifkan protokol gravitasi di area dok!" seru Sora.
"Tapi itu akan membebani poros utama, Sora!"
"Lakukan saja!"
Martha menarik tuas di samping jam pasir. Seketika, berat udara di area pertarungan Hael dan Kael berubah drastis. Kael, yang sedang bersiap memberikan serangan fatal, tiba-tiba merasa tubuhnya seberat satu ton. Gerakannya melambat drastis.
Hael, yang sudah terbiasa dengan latihan beban berat di bawah bimbingan ayahnya, berhasil menyesuaikan diri lebih cepat. Ia menghantam dagu Kael dengan lututnya, lalu menyambar pedang frekuensi musuhnya yang terjatuh.
"Waktumu sudah habis, Kael," ucap Hael dingin, menempelkan ujung pedang ke leher mantan rekannya itu.
Namun, di luar sana, kapal induk The Grand Complication menembakkan sinar laser termal raksasa yang mulai melelehkan kaca luar The Meridian Vault. Air laut mulai merembes masuk melalui celah-celah kecil.
"Sora! Kita kehabisan waktu!" teriak Martha. "Gunakan fungsi pembalik! Kita harus memindahkan tempat ini ke koordinat darurat!"
Sora memutar seluruh badan The Chronos Weaver hingga posisi terbalik. Cahaya di dalam ruangan berubah menjadi merah darah. Seluruh fasilitas mulai berputar liar di dalam pusaran air yang mereka ciptakan sendiri.
"Pegang erat-erat!" teriak Sora.
Dunia seolah terbalik. Suara gemuruh air dan logam yang berderit menyatu menjadi satu jeritan memekakkan telinga. Detik berikutnya, ledakan cahaya putih menelan segalanya, menyisakan keheningan yang murni.
Saat Sora membuka matanya, The Meridian Vault tidak lagi berada di dasar samudra yang gelap. Melalui kaca luar, ia melihat cahaya matahari yang menembus permukaan air yang dangkal dan jernih. Mereka berada di sebuah laguna tersembunyi, dikelilingi oleh tebing-tebing karang raksasa.
Hael terengah-engah di lantai, darah mengucur dari lengannya, namun ia masih hidup. Kael dan anak buahnya telah menghilang—kemungkinan besar terlempar keluar saat proses perpindahan dimensi frekuensi tadi.
Sora jatuh terduduk di depan mesin ayahnya. Tangannya gemetar hebat. Ia berhasil melakukan apa yang dianggap mustahil: memindahkan sebuah pangkalan raksasa dalam satu detakan jantung.
"Kita... kita di mana?" tanya Hael dengan suara parau.
Martha melihat ke arah cakrawala. "Kita berada di Titik Nol. Tempat di mana Aris Kalani pertama kali menemukan kristal perak itu. Kita berada di jantung rahasia Arsitek Waktu."
Sora menatap tangannya yang masih memegang The Chronos Weaver. Perjalanan ini baru saja mencapai puncaknya. Di pulau tersembunyi ini, ia tidak hanya akan menemukan jawaban, tapi ia akan dipaksa untuk memilih: menjadi penyelamat waktu, atau menjadi penguasanya.