Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 - Tingkatan yang Setara dengan Kaisar
Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin jelas perbedaan kekuatan di antara keduanya. Jian Yi terus menyerang dengan berbagai teknik pedang yang tajam dan mematikan, tetapi setiap serangannya selalu berhasil ditahan oleh Tuan Xin dengan cara yang tampak begitu mudah. Yang membuatnya semakin frustrasi adalah fakta bahwa lelaki tua itu bahkan belum terlihat benar-benar serius sejak pertarungan dimulai.
Menyadari dirinya perlahan mulai terdesak, Jian Yi menggertakkan giginya dan memutuskan mengerahkan teknik yang lebih kuat. Energi spiritual dalam tubuhnya langsung bergejolak dan mengalir deras menuju pedang yang berada di tangannya. Dengan tatapan tajam yang dipenuhi kemarahan, ia melesat ke depan sambil berteriak, "Teknik Tingkat 3: Tusukan Paruh Elang!"
Pedangnya meluncur lurus ke arah Tuan Xin dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya. Di ujung serangan itu muncul siluet kepala elang yang tampak hidup, sementara aura tajam yang dipancarkan teknik tersebut membuat tanah di sepanjang jalurnya mulai retak.
Namun menghadapi serangan itu, Tuan Xin hanya mengangkat tongkatnya dengan ekspresi tenang. Energi kuning keemasan segera berkumpul di sekitarnya sebelum ia berkata dengan santai, "Teknik Tingkat 4: Perisai Dinding Safir Kuning."
Sesaat kemudian, sebuah dinding kristal berwarna kuning muncul dari dalam tanah tepat di hadapannya. Dinding itu tampak kokoh seperti benteng yang tidak dapat ditembus. Ketika serangan Jian Yi menghantamnya, ledakan dahsyat langsung mengguncang seluruh area. Gelombang kejut menyebar ke segala arah hingga membuat beberapa rumah di sekitar bergetar hebat dan menimbulkan kepanikan di antara para penduduk yang sedang mengintip dari kejauhan.
Saat debu perlahan menghilang, kedua sosok itu masih berdiri di tempat masing-masing. Namun kali ini kondisi mereka terlihat sangat berbeda. Wajah Jian Yi sudah mulai pucat karena terlalu banyak menguras energi spiritual, sedangkan Tuan Xin masih berdiri dengan santai sambil memegang tongkatnya seperti seseorang yang baru selesai melakukan pemanasan ringan.
Melihat hal itu, Cang Xuan yang sejak tadi memperhatikan pertarungan tidak bisa menahan dirinya lagi dan langsung berteriak memanggilnya.
"Tuan Xin!"
Namun lelaki tua itu hanya melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang dan berkata dengan nada santai, "Anak muda, jangan ikut campur dalam pertarungan ini. Tenang saja, aku akan mengakhirinya sebentar lagi."
Mendengar ucapan tersebut, Jian Yi justru menyeringai meskipun napasnya sudah mulai tidak teratur. Dengan nada penuh ejekan ia berkata, "Katamu aku akan kalah dalam hitungan detik, tetapi nyatanya aku masih berdiri. Kau terlalu banyak bicara."
Tuan Xin memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas pelan.
"Oh begitu ya?"
Senyuman tipis muncul di wajahnya.
"Kalau kau memang ingin melihatku serius, aku akan menunjukkan kepadamu seberapa jauh perbedaan kekuatan di antara kita."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, suasana di seluruh area langsung berubah.
Aura kuning keemasan mulai keluar dari tubuh Tuan Xin dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Tekanan yang muncul membuat udara di sekitar bergetar dan tanah di bawah kakinya perlahan retak. Cang Xuan langsung membelalakkan mata, Ling Yue menunjukkan ekspresi serius, dan bahkan Xu Kong tanpa sadar menggenggam tongkatnya lebih erat karena merasakan tekanan yang luar biasa besar.
Tongkat di tangan Tuan Xin mulai berubah. Permukaannya yang semula tampak biasa kini memancarkan cahaya kuning terang, sementara siluet seekor naga berwarna emas perlahan muncul dan melilit di sekeliling tongkat tersebut. Naga itu tampak hidup, bergerak perlahan sambil memancarkan tekanan yang membuat jantung siapa pun yang melihatnya berdegup lebih cepat.
Mata Jian Yi langsung membelalak. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, rasa takut yang sesungguhnya muncul di dalam dirinya. Keringat dingin mengalir di dahinya saat instingnya berteriak bahwa lawan di depannya sama sekali bukan seseorang yang bisa ia hadapi.
Namun sebelum ia sempat bereaksi, Tuan Xin sudah mengangkat tongkatnya lalu menancapkannya ke tanah.
Brukk!
Dalam sekejap, dinding-dinding raksasa berwarna kuning muncul dari berbagai arah dan menjulang tinggi ke langit. Dinding itu bergerak cepat mengelilingi area pertarungan hingga membentuk sebuah arena tertutup yang memisahkan Tuan Xin dan Jian Yi dari dunia luar.
Dari luar, Cang Xuan, Ling Yue, Xu Kong, dan seluruh penduduk desa hanya bisa melihat tembok-tembok raksasa tersebut berdiri kokoh seperti benteng yang tidak dapat ditembus.
Dari luar penghalang raksasa berwarna kuning itu, Cang Xuan langsung menunjukkan ekspresi panik. Begitu tembok-tembok tersebut menutup dan menghalangi pandangannya terhadap Tuan Xin, ia segera melangkah maju sambil memanggil lelaki tua itu. "Tuan Xin!"
Namun Ling Yue yang berdiri tidak jauh darinya justru terlihat jauh lebih tenang. Ia memahami kemampuan Tuan Xin lebih baik daripada siapa pun di tempat itu. Karena itulah ia hanya menggeleng pelan lalu berkata, "Kau tidak perlu khawatir. Dia akan baik-baik saja."
Sementara itu, di dalam area yang telah sepenuhnya tertutup oleh dinding-dinding kuning raksasa, suasana terasa jauh berbeda. Jian Yi segera bergerak ke berbagai arah sambil mencoba mencari celah untuk melarikan diri. Namun semakin lama ia mencari, semakin besar rasa putus asa yang muncul dalam dirinya karena tidak ada satu pun jalan keluar yang dapat ditemukan.
Pada saat itulah Tuan Xin mulai berjalan perlahan ke arahnya. Langkahnya santai dan tidak tergesa-gesa, tetapi setiap langkah yang ia ambil justru membuat tekanan yang dirasakan Jian Yi semakin besar. Dengan senyum tipis di wajahnya, Tuan Xin berkata, "Kau tidak akan bisa kabur dari sini. Bahkan musuh-musuh yang pernah kuhadapi sebelumnya tidak ada yang berhasil lolos dari teknik ini."
Jian Yi menggertakkan giginya. Untuk pertama kalinya sejak menjadi bawahan Penguasa Benua Timur, ia merasakan ketakutan yang benar-benar nyata. Meski begitu, ia tetap berusaha mempertahankan harga dirinya dan bertanya dengan nada penuh tekanan, "Siapa sebenarnya kau?"
Tuan Xin hanya tersenyum kecil seolah pertanyaan itu terdengar lucu baginya.
"Oh, jadi kau tidak mengenalku."
Ia menggeleng pelan.
"Itu wajar."
Kemudian senyumnya sedikit melebar.
"Hanya orang-orang kuat yang mengetahui keberadaanku."
Mendengar jawaban itu, Jian Yi langsung mendengus kesal.
"Kau terlalu sombong."
Namun Tuan Xin sama sekali tidak tersinggung. Sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah lencana kultivasi dari balik pakaiannya dan menunjukkannya kepada Jian Yi.
Sesaat setelah matanya menangkap simbol pada lencana tersebut, seluruh tubuh Jian Yi langsung membeku.
Wajahnya kehilangan warna.
Matanya membelalak lebar.
Bahkan mulutnya sedikit terbuka karena terlalu terkejut.
"Tidak mungkin..."
Suaranya terdengar bergetar.
"Ling... Ling Xian Bintang 8?!"
Tubuhnya mulai gemetar tanpa bisa dikendalikan.
Sebagai kultivator yang berasal dari Dunia Tengah, ia tentu memahami arti dari tingkat tersebut. Ling Xian adalah ranah ketiga belas dari lima belas ranah kultivasi, sebuah tingkat yang sudah mampu berdiri sejajar dengan para Kaisar Dunia Atas. Keberadaan seperti itu bukan seseorang yang seharusnya muncul di Dunia Bawah.
Dengan napas yang mulai kacau, Jian Yi menatap Tuan Xin seolah sedang melihat monster.
"Kenapa..."
Ia menelan ludah dengan susah payah.
"Kenapa keberadaan sepertimu berada di Dunia Bawah?"
Tuan Xin hanya tertawa kecil.
"Itu bukan urusanmu."
Tatapannya tetap tenang.
"Ngapain aku memberi tahu orang lemah sepertimu?"
Setelah mengatakan itu, ia perlahan mengangkat tongkatnya.
Dalam sekejap, seluruh dinding kuning yang mengelilingi area tersebut mulai bergetar hebat. Energi spiritual yang sangat besar memenuhi ruang tertutup itu hingga membuat udara terasa berat. Dari permukaan dinding-dinding tersebut, puluhan pedang kuning mulai muncul satu per satu. Setiap pedang memancarkan aura tajam yang cukup untuk membuat kulit Jian Yi merinding.
Saat melihat pemandangan itu, mata Jian Yi kembali membelalak.
Ia langsung menyadari satu hal.
Semua jalur pelariannya sudah tertutup.
Tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Tidak ada tempat untuk menghindar.
Tidak ada harapan untuk melarikan diri.
"Tidak!!"
Jeritan putus asa itu baru saja keluar dari mulutnya ketika puluhan pedang kuning tersebut melesat secara bersamaan.
Wuussh!
Pedang-pedang itu bergerak seperti hujan kematian yang turun dari segala arah. Ledakan demi ledakan mengguncang bagian dalam penghalang, sementara suara benturan energi spiritual terus bergema tanpa henti. Jeritan Jian Yi terdengar beberapa kali di tengah rentetan serangan tersebut, tetapi setiap detik suaranya semakin melemah.
Tidak lama kemudian, semua suara itu menghilang.
Ledakan berhenti.
Energi spiritual mulai mereda.
Dan di dalam penghalang yang sunyi itu, tidak terdengar apa pun lagi selain suara angin yang berembus pelan melewati dinding-dinding kuning raksasa.
Di luar penghalang, Cang Xuan, Ling Yue, dan Xu Kong hanya bisa menunggu sambil memperhatikan dinding-dinding kuning raksasa yang menghalangi pandangan mereka. Tidak seorang pun tahu apa yang sedang terjadi di dalam, tetapi dari tekanan energi spiritual yang sesekali merembes keluar, mereka dapat membayangkan bahwa pertarungan di dalam sana jauh lebih dahsyat daripada yang mereka kira.
Beberapa saat kemudian, dinding-dinding kuning itu mulai memudar. Cahaya yang menyelimuti permukaannya perlahan menghilang sebelum seluruh penghalang lenyap sepenuhnya dari pandangan.
Saat area di dalamnya kembali terlihat, ketiganya langsung mengalihkan perhatian ke pusat medan pertempuran.
Di sana, Jian Yi sudah tergeletak di atas tanah dengan tubuh penuh luka. Pakaiannya robek di berbagai bagian dan napasnya terdengar sangat lemah. Kondisinya sangat menyedihkan dibandingkan saat pertarungan dimulai.
Sebaliknya, Tuan Xin masih berdiri dengan santai di tempatnya. Tidak terlihat luka sedikit pun di tubuhnya. Bahkan kendi arak yang selalu dibawanya masih berada di tangan seolah ia baru saja selesai berjalan-jalan santai, bukan bertarung melawan seorang kultivator kuat.
Pemandangan itu membuat Cang Xuan kembali terdiam kagum.
Namun tepat ketika suasana mulai tenang, sebuah perubahan mendadak terjadi.
Wuussh!
Sebuah portal berwarna kebiruan tiba-tiba muncul di samping tubuh Jian Yi.
Begitu melihatnya, mata Tuan Xin langsung menyipit.
"Portal penyelamat?"
Nada suaranya berubah sedikit lebih serius dibandingkan sebelumnya.
Tanpa membuang waktu, tubuhnya langsung bergerak menuju Jian Yi.
Namun pada saat yang sama, Jian Yi juga menyadari kesempatan terakhir yang muncul di hadapannya. Dengan sisa tenaga yang masih dimiliki, ia memaksa tubuhnya bergerak dan menyeret dirinya menuju portal tersebut.
"Tidak akan kubiarkan!"
Tuan Xin melesat semakin cepat.
Sayangnya, jarak yang tersisa terlalu pendek.
Sesaat sebelum Tuan Xin berhasil mencapainya, tubuh Jian Yi sudah masuk ke dalam portal.
Detik berikutnya, ia sempat menoleh ke arah kelompok Cang Xuan.
Tatapannya dipenuhi kebencian dan niat membunuh yang begitu kuat hingga membuat udara di sekitar terasa dingin.
"Kita akan bertemu lagi."
Suaranya terdengar serak namun penuh tekad.
"Saat hari itu tiba, aku akan membunuh kalian semua."
Begitu kalimat terakhir itu selesai diucapkan, portal langsung menutup.
Wuussh!
Dalam sekejap, Jian Yi menghilang tanpa jejak.
Keheningan kembali menyelimuti desa.
Tidak ada lagi suara benturan senjata ataupun ledakan energi spiritual.
Yang tersisa hanyalah sisa-sisa kerusakan akibat pertarungan dan tatapan para penduduk desa yang masih dipenuhi keterkejutan.
Tuan Xin memandang lokasi tempat portal tadi berada selama beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas pelan.
Jelas terlihat bahwa ia tidak terlalu senang karena lawannya berhasil melarikan diri.
Sementara itu, Cang Xuan terus menatap lelaki tua tersebut dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Sejak awal perjalanan, ia memang tahu bahwa Tuan Xin bukan orang biasa. Namun baru hari ini ia benar-benar menyaksikan sebagian kecil dari kekuatan yang dimiliki lelaki tua itu.
Pertarungan yang menurutnya akan berlangsung sengit ternyata berakhir dengan kemenangan mutlak Tuan Xin.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, semua itu dilakukan tanpa kesulitan berarti.
Untuk pertama kalinya, Cang Xuan benar-benar menyadari bahwa orang tua yang selama ini terlihat santai, suka minum arak, dan sering bercanda itu ternyata menyimpan kekuatan yang jauh lebih mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
End Chapter 26