Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Menjelang siang, mobil Aska sudah berhenti di depan gerai utama Ayam Geprek Cinta.
Celsi keluar dengan kemeja longgar warna krem dan celana hitam sederhana. Rambutnya diikat rendah. Di tangannya ada map kecil dan botol minum.
Aska sempat diam sesaat.
Bukan karena penampilannya berlebihan.
Justru karena sederhana.
Dan entah kenapa... nyaman dilihat.
"Udah siap? Kita berangkat malam ini."
Celsi mengernyit.
"Siang ini, Ko."
Aska langsung salah tingkah.
"Iya... maksudku ayo."
Celsi tertawa kecil lalu masuk ke mobil.
Perjalanan menuju Suko Makmur ternyata cukup jauh.
Begitu keluar dari pusat kota, jalan mulai berubah. Aspal panjang membelah hamparan hijau. Kadang menurun tajam, lalu menanjak lagi. Tikungan demi tikungan datang tanpa aba-aba.
Di sisi kiri, terasering sawah memantulkan cahaya matahari seperti lembaran kaca tipis. Di sisi kanan berdiri pohon-pohon tinggi yang membuat udara berubah sejuk.
Jendela mobil sengaja dibuka sedikit.
Angin masuk membawa aroma tanah, daun, dan sesuatu yang terasa sangat hidup.
"Enak ya," gumam Celsi sambil melihat keluar.
Aska melirik sekilas.
"Jarang keluar kota?"
Celsi mengangguk kecil.
"Sekarang kalau pergi tuh rasanya selalu mikir kerjaan."
Aska tersenyum.
"Hari ini anggap aja jalan-jalan."
Celsi hanya mengangguk pelan.
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sederhana di pinggir ladang.
Seorang bapak sekitar lima puluhan menyambut mereka dengan ramah.
"Teh Celsi ya? Saya Pak Darto."
Celsi langsung menjabat tangan.
"Iya Pak. Maaf jadi merepotkan."
"Ah enggak. Mari lihat kebun."
Mereka berjalan menyusuri jalan tanah.
Hamparan sayur terbentang luas.
Barisan timun menggantung segar. Selada hijau tumbuh rapi. Kobis-kobis besar memenuhi petak-petak tanah.
Namun wajah Pak Darto tidak terlihat secerah ladangnya.
"Sebenarnya sekarang lagi susah, Teh."
Celsi menoleh.
"Harga pasaran turun. Kemarin panen banyak, tapi yang ambil dikit. Belum lagi hama sempat masuk."
Pak Darto jongkok lalu mengambil satu daun yang berlubang.
"Kadang sedih juga. Sayur bagus tapi dihargai murah."
Celsi diam.
Tangannya mengambil satu timun.
Keras. Segar.
Ia melihat selada. Daunnya lebar dan bersih.
"Kualitasnya bagus, Pak."
Pak Darto tersenyum pahit.
"Iya. Tapi pasar kadang nggak lihat itu."
Celsi terdiam cukup lama.
Lalu mulai memilih beberapa keranjang.
Timun.
Selada.
Kobis.
Jumlahnya lumayan banyak.
Pak Darto menghitung cepat.
"Segini... saya kasih harga sekian aja, Teh."
Celsi melihat angka itu.
Lalu menggeleng pelan.
"Tambah ya, Pak."
Pak Darto bingung.
"Loh?"
"Harga segini terlalu murah."
Pak Darto langsung menolak.
"Jangan Teh. Saya udah senang ada yang ambil."
Celsi tersenyum lembut.
"Saya juga senang dapat barang bagus. Rezeki jangan berhenti di satu orang."
Pak Darto terdiam.
Matanya sedikit memerah.
"Terima kasih ya, Teh..."
Aska berdiri tak jauh dari sana.
Diam.
Tapi ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam dadanya.
Dia sudah tahu Celsi baik.
Tapi melihat sendiri bagaimana perempuan itu menghargai kerja keras orang lain...
Rasa sukanya seperti menemukan tempat baru untuk tumbuh.
Pak Darto bahkan ikut membantu menaikkan keranjang ke mobil.
Sepanjang memasukkan barang, wajahnya tak berhenti tersenyum.
Perjalanan pulang dimulai saat matahari mulai condong.
Di tengah jalan, Celsi tiba-tiba berkata,
"Ko."
"Hm?"
"Lapar nggak?"
Aska melirik.
"Lumayan."
"Makan dulu yuk."
Mereka berhenti di sebuah resto kecil dekat sawah.
Tempatnya sederhana.
Angin sore masuk bebas.
Di meja sebelah ada keluarga kecil sedang makan.
Suami, istri, dan anak perempuan sekitar tiga tahun.
Anak itu tiba-tiba turun dari kursinya.
Lalu berjalan menghampiri Celsi.
Celsi langsung tersenyum.
"Halo."
Anak itu diam lalu menunjuk minuman Celsi.
Celsi tertawa kecil.
"Mau?"
Tak lama mereka malah mengobrol.
Celsi mengajak bermain tepuk tangan, pura-pura salah jawab, sampai anak itu tertawa lepas.
Aska ikut memperhatikan.
Kadang ikut menjawab pertanyaan si kecil.
Lalu sambil tersenyum jahil dia berkata,
"Kamu cocok banget jadi ibu."
Kalimat itu ringan.
Nyaris bercanda.
Tapi senyum Celsi membeku sesaat.
Hanya sesaat.
Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam dadanya terasa ditarik.
Keluarga kecil itu selesai makan.
Sebelum pergi, sang ibu tersenyum.
"Makasih ya, Teteh. Anak saya susah dekat sama orang."
Lalu melihat Aska.
"Koko sama Teteh cocok loh. Semoga langgeng ya. Cepat punya anak."
Mereka tertawa lalu pergi.
Dan Celsi diam.
Tangan di bawah meja mengepal pelan.
Kata-kata itu seperti membuka pintu lama yang sudah susah payah ia tutup.
Dulu...
Semua bermula dari pertanyaan yang sama.
"Kapan hamil?"
Lalu berubah jadi tatapan.
Lalu tuduhan.
Lalu perselingkuhan.
Dan akhirnya perpisahan.
Aska tidak sadar perubahan itu.
Ia hanya melihat Celsi lebih diam setelahnya.
Namun tidak bertanya.
Jam sudah hampir sembilan malam saat mereka sampai di gerai.
Pegawai yang sedang membereskan ruko langsung membantu menurunkan sayur.
"Wah banyak banget Teh."
"Masukin gudang ya."
Celsi tersenyum.
Setelah selesai, ia masuk sebentar lalu kembali membawa dua kotak.
"Ko."
Aska menerima.
"Geprek sambal matah."
Mata Aska langsung berbinar.
Celsi mengangkat kotak satunya.
"Kalau ini ayam celup keju buat Tante Ayu."
Aska tertawa kecil.
"Dia bakal senang."
Celsi mengangguk.
Suasana hening sesaat.
Lalu Aska membuka pintu mobil.
Tapi sebelum masuk, dia menoleh.
"Si."
"Hm?"
"Tadi..."
Celsi mengangkat kepala.
Aska tersenyum kecil.
"Yang keluarga di resto bilang."
Celsi diam.
Aska melanjutkan pelan,
"Mereka doain kita langgeng."
Jantung Celsi berdetak pelan.
Aska tertawa ringan.
"Kayaknya susah langgeng kalau belum mulai hubungan dulu ya?"
Celsi membeku.
Aska menatapnya beberapa saat.
Tidak bercanda.
Tidak tertawa.
Dan untuk pertama kalinya hari itu...
Celsi sadar.
Mungkin...
Kalimat itu bukan sekadar candaan.