NovelToon NovelToon
Dilema Cinta Kedua

Dilema Cinta Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.

Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Berbuat baik

Ibu dari satu anak itu tersentak bangun dari tidur singkatnya dengan leher sakit karna dirinya tertidur dengan posisi duduk di sofa karna mendengar suara bel unit apartemen berbunyi nyaring. Nayra menghela napas kasar memilih tak bergerak untuk mengumpulkan nyawanya lebih dulu.

Tubuhnya terasa berat, padahal ia hanya berniat untuk melepas lelah sebentar saja di sofa, tapi tanpa di sangka matanya malah terpejam. Nayra alih-alih merasa lebih baik malahan merasakan lelahnya seolah menumpuk di persendian.

Beberapa jam terakhir ia habiskan untuk memindahkan semua pakaiannya dan Rayyan ke dalam lemari yang sudah tersedia di dalam apartemen. Melipat, menggantung, menyusun ulang, lalu membongkar lagi karena tak cocok ternyata membuatnya kelelahan.

Ketika pintu lemari tertutup dan kamar terlihat rapi, Nayra langsung menjatuhkan diri ke sofa seolah tubuhnya tak lagi sanggup menopang.

Mungkin baru lima menit, pikirnya waktunya tidak sengaja tertidur. Sampai kemudian, Bel berbunyi lagi. Rayyan tidak mungkin menekan bel karna anak itu sudah mengetahui sandi pintunya yaitu tanggal lahir Rayyan sendiri.

Dengan merasa agak aneh, karna setahunya tinggal di gedung apartemen tidak sebaik tinggal di perumahan, Nayra melangkah menuju pintu berwarna coklat itu dan membukanya.

Di ambang pintu berdiri seorang pria asing. Tubuhnya tinggi, kausnya basah, rambutnya meneteskan air. Tapi Nayra tak punya waktu untuk mengaguminya karna di dalam gendongan pria itu ada Rayyan dengan wajar pucat sambil sedang menangis.

"Astaga, apa yang terjadi padanya?" Tanya Nayra syok.

"Mama..." Rayyan menangis membayangkan terlambat sedikit saja pria asing itu menolongnya maka ia tak mungkin bertemu dengan Nayra lagi.

“Saya tidak bisa lama-lama menggendongnya, jadi harus saya ba..." Kalimat pria itu terputus karna Nayra yang diam karna syok tiba-tiba saja melangkah maju dengan cepat, hampir tersandung ambang pintu, lalu meraih Rayyan dari gendongannya tanpa banyak bicara.

Karna tidak kuat lama-lama menggendong, ibu dari satu anak itu menurunkan putranya dengan masih bergelantungan lemah padanya.

“Ray?” Suara Nayra bergetar. “Kenapa? Kamu kenapa nak?”

Rayyan langsung memeluk leher ibunya erat-erat, wajahnya tersembunyi di bahu Nayra. Tangisnya membesar karna terkejut dengan apa yang di alaminya.

"Tunggu sebentar... tapi mendingan masuk aja, duduk di sofa." Kata Nayra pada pria itu setelah menyadari dirinya tak boleh lemah. Ia dengan sengaja membuka lebar pintu unit sementara dirinya memapah Rayyan mendekati kamar yang belum sempat di pakai seprai, kasur baru itu masih terbungkus rapi dengan plastik lalu membaringkan putranya di sana.

"Rayyan bisa duduk atau tidak? Soalnya Mama bantu buka baju kamu." Kata Nayra tenang.

"Ray... Rayyan bisa sendiri." Kata Rayyan sambil sesenggukan. Rasa syoknya karna tenggelam di kolam renang sudah mulai mereda, sekarang ia sedang berpura-pura jadi anak lemah supaya Mama tidak marah dan paling buruk tidak memperbolehkannya menginjakkan kaki di kolam renang lagi.

Untuk sesaat Nayra menatap putranya yang kemungkinan besar hampir tengelam di kolam renang. Rayyan sudah pernah mengalami hal ini ketika baru beberapa hari pandai berenang dan beruntungnya cepat di sadari oleh suaminya.

Nayra menggeleng, mengusir perasaan yang akan membuatnya sedih lalu mendekati kamar mandi untuk mengambil handuk dan mendekati lemari untuk mengambil pakaian baru untuk sang anak.

"Ma, Rayyan takut banget." Ungkap Rayyan dengan lemah bersandar di kepala ranjang.

"Tapi sekarang udah ada Mama jadi ngga perlu takut lagi." Kata Nayra setenang mungkin sambil menyerahkan handuk dan pakaian pada putranya yang masih lemah.

Sampai tiba-tiba saja Nayra teringat akan pria mungkin masih menunggu di ruang tamu. "Kamu di sini bentar ya... ada yang–"

"Ngga mau! Rayyan mau Mama di sini!" Rayyan sedang mengeringkan tubuhnya sambil duduk di ranjang dengan cepat menahan tangan Nayra. "Mama di sini aja. Rayyan ngga mau di tinggal."

"Sebentar aja, ngga sampai lima menit. Kasihan Om itu kita tinggalin di sana." Bujuknya yang akhirnya membuat Rayyan melepaskan tangannya "Sekarang kamu ganti baju terus istirahat. Kalau ada apa-apa cepat panggil Mama!"

Rayyan mengangguk membuat Nayra bisa tenang lalu meninggalkan anak itu di kamar menuju ruang tengah. Ia tersenyum tipis mendapati pria itu masih berdiri di depan pintu. "Kenapa ngga masuk aja, Pak? Tapi terima kasih karna udah menolong Rayyan, kalau tidak ada Bapak... saya ngga tahu gimana nasib anak saya."

"Mendingan nunggu di sini aja soalnya pakaian saya basah. Tentang anak itu..." Gatra terdiam, mempertimbangkan memberitahukan atau tidak kenapa anak itu bisa tenggelam. Tapi Gatra kasihan karna pasti akan membuat anak itu di marahin oleh ibunya.

Sebenarnya Gatra tidak harus peduli malahan bagus wanita itu tahu bagaimana anaknya di belakangnya lalu bisa mendisiplinkannya, tapi mengingat situasi dan kondisi anak itu, membuat hati nuraninya sedikit terketuk.

"Kenapa dengan anak saya, Pak?"

"Nanti anak... ibu–"

"Nayra, Pak."

"Nayra nanti di lap tubuh anaknya dengan air hangat terus jangan di kasih makanan dulu, paling tidak tunggu sampai dua jam."

"Loh kenapa?"

"Buat jaga-jaga aja soalnya tadi saya dia lihat masih sesak nafas."

"Enggak tahu, Pak, tapi nanti saya cek." Katanya.

"Iya, sebaiknya memang di cek. Kalau ada yang menghawatirkan cepat bawa ke rumah sakit, kalau perlu bantuan jangan sungkan buat minta bantuan saya. Saya pemilik unit di samping." Balas Gatra ramah pada tetangga barunya. "Saya cuma mau bilang itu aja, saya pamit dulu, semoga anaknya baik-baik aja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!