NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Mata Nadira membulat sempurna saat mendengar ucapan Mahesa. Pria itu mengakuinya sebagai istri dihadapan semua orang.

" Kami tidak percaya! Kalau kamu memang suaminya kenapa kamu mau membunuhnya?."

Mahesa menatap ke arah Nadira, ternyata wanita itu sudah mengadukannya kepada para pria itu. Bahkan Nadira mengatakan kalau ia akan membunuhnya.

Mahesa mengatur nafasnya dengan cepat, ia kemudian menarik nafas panjang. Mahesa melipat kedua tangannya di dada, setelahnya ia mulai berdehem pelan.

" Saya adalah Mahesa Adiprana, dan dia... Istri saya. Apa kalian percaya bahwa saya akan membunuhnya?." ucap Mahesa dengan tatapan datar.

Para pria yang awalnya menghadangnya dengan tatapan menyeramkan mulai menciut setelah mendengar nama dari pria yang sedang mereka hadapi. Siapa yang tak mengenal Mahesa, dia adalah pria paling berpengaruh di jakarta. Apalagi daerah yang saat ini mereka tempati merupakan area kekuasaan Mahesa seutuhnya. Bahkan mereka bekerja dalam naungan Mahesa meskipun tidak secara langsung berkontak dengan Mahesa mengenai pekerjaan mereka dalam menjaga area itu.

" Tuan... Mahesa?." ujar salah seorang di antara para pria itu. Ia terlihat seperti ketua mereka.

Para pria itu langsung membungkuk hormat saat tahu jika Mahesa yang sedang mereka tantang. Dengan cepat mereka membuang tongkat yang ada di tangan mereka.

" Maafkan kami tuan, kami tidak tahu jika itu anda. Silahkan bawa istri anda kembali kami tidak akan melarang anda. Jika butuh bantuan, kami dengan senang hati akan membantu anda tuan." ujar ketua dari para pria itu.

Mahesa tersenyum tipis. Ia menatap penuh kemenangan ke arah Nadira yang terlihat panik. " Aku akan membawanya kembali, kalian akan mendapatkan gaji lebih bulan ini karena sudah melakukan pekerjaan dengan baik." ujar Mahesa sambil menatap Nadira.

Sementara itu Nadira terlihat khawatir dan gelisah saat mengetahui para pria yang sebelumnya membelanya kini telah beralih membela Mahesa.

" Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku... Harus lari..." gumam Nadira dalam hati.

Nadira langsung berdiri dengan cepat dan berniat untuk melanjutkan pelariannya karena merasa ia tak aman lagi berada di dalam pos itu, tapi sedetik kemudian ia malah meringis kesakitan tak mampu melanjutkan pelariannya. Lututnya yang terluka terlihat mengeluarkan darah, sikunya juga sama. Rasa perih itu membuatnya kembali duduk dengan dada bergemuruh.

Sementara itu di sisi lain, Mahesa malah berjalan mendekati Nadira. Pria itu kini telah berada tepat di hadapan Nadira. Dengan tangan yang terlipat di dada serta tatapan dingin, Mahesa berkata " Kamu tidak akan bisa pergi dari cengkraman ku Nadira!."

Mahesa langsung menggendong Nadira dan membawanya pergi dari pos itu.

Nadira yang tak mau dibawa kembali ke kediaman Adiprana terlihat memberontak dan memukul dada Mahesa berulang kali. Ia mulai menangis, tak ada yang mendengarkan tangisannya karena para pria sebelumnya telah pergi atas perintah Mahesa.

" Lepaskan aku! Lepas. Dasar iblis! Aku tidak mau kembali ke rumah itu! Aku sangat membenci mu!." teriak Nadira sambil terus memukul dada Mahesa.

Mahesa hanya diam, ia menggendong Nadira dengan erat, ia tak ingin wanita itu kembali berlari. Walaupun sesekali ia merasakan sakit dari pukulan yang Nadira layangkan, hal itu tak membuatnya menyerah untuk membawa gadis itu kembali.

***

Flashback Mahesa sebelum mengejar Nadira

Setelah kepergian Arya, Mahesa tak bisa tidur hingga ia memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan perusahaan. Namun tiba tiba saja ponselnya berdering. Dion menelponnya.

" Ada apa Dion? Sepertinya ada hal penting hingga harus menghubungi ku tengah malam seperti ini!." ujar Mahesa setelah telepon tersambung.

"Mohon maaf tuan, saya hanya ingin memberikan informasi penting yang harus anda ketahui. Di dalam tas nyonya Nayla, tepatnya di sebuah ruang tersembunyi dalam tas kecil yang kami temukan di TKP, ada sebuah gelang dengan inisial nama seseorang. Kami harap ini bisa menjadi bukti untuk menemukan pelaku pembunuhan nyonya Nayla. Saya akan mengirimkan fotonya kepada anda mungkin saja anda kenal dengan inisial nama ini."

Mahesa langsung berdiri saat mendengar informasi dari Dion. " Cepat kirimkan padaku!."

Telepon terputus.

Mahesa langsung membuka aplikasi hijau di ponselnya, kemudian ia melihat dengan seksama barang yang dikirimkan Dion.

Barang itu berupa sebuah gelang dengan inisial nama dengan huruf R. Mahesa mencoba mengingat siapa yang berinisial R dalam keluarganya. Mahesa berpikir keras, hingga akhirnya ia menyerah. Di keluarga Nayla pun tak ada yang berinisial R.

"Aku tak mengenal gelang itu." Mahesa mengirimkan pesan kepada Dion.

"Tuan, kami akan menyimpan barang bukti ini, suatu hari pasti kita akan menemukan jawaban. Saya harap tuan jangan berbuat gegabah pada wanita itu. Kasus nyonya Nayla begitu rumit, dan wanita itu memang terbukti ada di lokasi, tapi itu juga tidak menjamin bahwa dia pelaku sebenarnya. Kami akan terus melanjutkan investigasi. Selamat malam tuan." pesan balasan dari Dion.

Mahesa meletakkan ponselnya di atas ranjang, ia berkacak pinggang sambil memandang foto Nayla.

" Kenapa kamu meninggalkan banyak pertanyaan untukku Nayla?... Nama siapa yang kamu simpan itu? " gumam Mahesa.

Pikirannya benar benar berkecamuk, Mahesa memutuskan untuk pergi ke balkon. Mungkin saja udara malam akan sedikit menetralkan kegelisahan nya.

Namun saat berdiri di atas balkon, pemandangan yang ia lihat membuatnya membulatkan mata. Nadira sedang berlari kecil menuju pagar. Mahesa juga melihat sebuah kresek hitam yang ia peluk, sepertinya Nadira sedang berusaha untuk melarikan diri.

Mahesa mengepalkan tangannya, dengan cepat ia berlari ke bawah untuk mengejar Nadira.

Mahesa tak berhenti, ia terus berlari sampai akhirnya ia berhasil menemukan Nadira di pagar. Wanita itu sedang memanjat pagar tinggi itu tanpa rasa takut sedikitpun. Mahesa tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

***

Kembali di saat sekarang, setelah beberapa saat, Mahesa sudah tiba di kediaman. Ia langsung memasukkan Nadira ke dalam kamar pengasuh.

Nadira terlempar di atas ranjang dengan air mata mengalir.

" Kenapa kamu membawaku lagi ke sini? Aku sudah mendengar semuanya! Kamu dan adikmu akan membunuhku setelah Keano tidak membutuhkan ku lagi! Aku tidak mau dimanfaatkan seperti ini! Aku bukan pembunuh!." ucap Nadira tak menyerah. Ia terus melayangkan kata kata ke arah Mahesa tanpa takut lagi.

Mahesa terdiam, ia seolah sedikit terkejut karena Nadira mengetahui pembicaraan nya dengan Arya beberapa saat yang lalu. Mahesa kini tahu alasan Nadira melarikan diri.

" Aku mau pulang!." Nadira mendorong tubuh Mahesa yang berada di ambang pintu. Tapi tubuh Mahesa tak bergerak sama sekali. Bahkan Mahesa malah menggenggam lengan Nadira.

" Aku sudah katakan! Jangan pernah mencoba untuk kabur! Apa kamu tidak ingat?." ucap Mahesa dengan dingin.

Nadira menatap marah pada Mahesa. " Andai saja kamu jadi aku! Sehari saja kamu merasakan jadi aku Mahesa! Kamu akan tahu bagaimana keadaan ku sekarang. Aku sangat takut saat mendengar nyawaku menjadi sebuah perjanjian. Nyawaku akan di tagih saat waktunya sudah tiba. Apa kamu pikir aku masih bisa tidur dengan nyenyak?, masih bisa bernafas dengan tenang?, masih bisa..."

Nadira menghentikan bicaranya karena tiba tiba saja Mahesa meninggalkan kamar itu tanpa berkata apa apa.

Nadira mematung, ia tak mengerti kenapa hidupnya seperti ini. Keluhannya tak di dengar, seolah ia bukan manusia di mata Mahesa.

Nadira duduk di atas ranjang sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Namun tiba tiba Nadira bisa mendengar langkah kaki yang kembali memasuki kamar, Mahesa kembali sambil menutup pintu kamar. Pria itu membawa sesuatu di tangannya.

Tanpa bicara, Mahesa menempel plaster pada kedua lutut Nadira.

Nadira yang terkejut spontan menggeser lututnya, tapi Mahesa malah menahannya dengan tangan kekarnya.

" Obati sikumu sendiri lalu tidurlah! Besok kamu harus menjaga Keano!."

Mahesa melempar plaster luka tepat di samping Nadira, kemudian pria itu langsung keluar dari kamar seolah tidak terjadi apa apa.

Nadira menyentuh dadanya, lagi lagi Mahesa kembali mengobati nya setelah ia terluka. Perlakuan Mahesa barusan membuat jantungnya berdegup kencang.

Nadira kembali menitikkan air mata sambil menatap plaster yang tertempel pada lukanya. " Kenapa lagi lagi... kamu mengobati ku... Padahal suatu hari nanti kamu akan membunuhku..."

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!