Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4
Pandangan sahabatnya kini berubah. Dari awalnya tak percaya akan apa yang Sinta ucap, sekarang malah langsung prihatin akan apa yang Sinta alami. Bagaimanapun, mereka sangat tahu kalau Sinta dulunya sangat suka pada Rama.
"Sinta."
"Jadi ... semua itu benar, Sin?" Lusi angkat bicara.
Sinta mengangguk pelan. Napas berat Lili lepaskan. "Akhirnya, kamu memilih mengalah, lalu melepaskan?"
"Iya. Aku memilih melepaskan sekarang. Cintaku dulu mungkin sangat besar untuknya. Tapi, perlahan, cinta itu mati. Aku tidak lagi menginginkannya. Karena bagiku, satu hati hanya bisa di huni oleh satu orang saja. Jika dalam hati orang itu tidak lagi punya tempat untuk aku, kenapa aku harus bertahan? Akan lebih baik jika aku yang pergi dari pada tetap tinggal namun tersiksa."
Dua sahabat itu terus menatap Sinta dengan tatapan prihatin. "Sin, tapi, apa kamu yakin kamu lebih memilih Wana? Masih ada Dorin sebagai alternatif, bukan?" Lusi angkat bicara dengan nada tulus.
Liliana mengangguk pelan. "Iya, Sin. Masih ada Doren. Aku yakin, keluarga Hermawan juga akan setuju saat kamu pilih Dorin untuk jadi suamimu."
Sinta tersenyum. "Tapi hatiku lebih setuju jika aku pilih kak Wana dari Doren."
"Kenapa?" Keduanya serentak melontarkan pertanyaan.
"Karena kak Wana, walau dia cacat fisik, tapi hatinya tidak. Dia punya karakter yang kuat. Meskipun dingin, tapi hatinya baik. Meskipun wajahnya buruk, tapi hatinya, tidak seburuk wajah yang ia miliki. Bagiku, fisik bukan satu-satunya pilihan untuk hidup bahagia."
"Tapi-- hah ... kalau itu yang kamu katakan, kita bisa apa?"
"Iya, kita hanya bisa mendukung apapun pilihan yang kamu perbuat. Karena kita berdua yakin, Sinta. Pilihan yang kamu ambil, adalah pilihan terbaik untuk masa depan mu."
Lusi mengangguk mantap. "Benar. Kami sebagai sahabat, akan selalu mendukung setiap keputusan yang kamu ambil. Kamu tidak sendiri. Apapun yang kamu pilih, itu adalah yang paling baik. Kita akan mendukungnya."
Sinta tersenyum bahagia. Kedua sahabatnya adalah orang terdekat yang memang selalu ada untuk dia. Saat semua masalah yang ia hadapi, dua sahabat ini akan selalu berdiri di sampingnya untuk menjadi penguat agar ia bisa tetap berdiri.
Sementara itu, di luar cafe, Rama benar-benar sedang bersama dengan pujaan hatinya. Dia sedang tersenyum dengan bahagia sambil berjalan bergandengan tangan.
Sesaat melewati dinding kaca cafe tersebut, gadis yang bersama Rama menghentikan langkah kakinya. Risa, itulah nama si gadis yang telah membuat Rama mengabaikan Sinta.
"Kak Rama. Sepertinya, itu ... kak Sinta."
"Sinta?"
Rama mengalihkan pandangannya ke arah mata Risa. Tatapan Rama terfokus pada Sinta yang sedang ngobrol bersama temannya di dalam sana.
Hati Rama tiba-tiba kesal. Sejak hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta tidak lagi menghubunginya. Pesan singkat yang ia layangkan pun tidak Sinta baca. Jangankan di balas, di baca saja tidak.
Dengan langkah besar, Rama meninggalkan Risa untuk mendekati Sinta. Wajah kesalnya terus dia pertahankan hingga ia tiba ke tempat Sinta duduk.
"Sinta."
Sontak, mereka lagi-lagi menjadi pusat perhatian penghuni cafe. Mana Rama datang-datang langsung mencengkram tangan Sinta dengan erat lagi. Tentu saja hal itu langsung membuat semua waspada.
"Apaan sih, Rama. Lepaskan!"
"Rama! Lepaskan tangan sahabatku." Kesal Lusi bukan kepalang.
"Jangan ikut campur. Aku ingin bicara dengan Sinta."
"Lepaskan!"
"Ayo ikut aku keluar. Aku ingin bicara."
Tanpa persetujuan dari si pemilik tubuh, Rama malah langsung menarik tangan Sinta agar bersedia ikut keluar dengannya. Kesal bukan kepalang Lusi dan Lili, mereka langsung mengikuti Sinta dari belakang.
Sampai ke luar cafe, Rama akhirnya bersedia melepaskan tangan tersebut. "Ngambek mu sudah sangat keterlaluan. Hanya karena masalah kecil saja, kamu malah mengabaikan aku selama hampir dua hari, Sinta. Apa sih yang ada dalam pikiran mu itu? Kamu ini sudah dewasa, bukan remaja lagi. Bisa bedakan mana yang benar dan mana yang salah."
Sinta menatap lekat wajah Rama. "Sudah bicaranya? Jika sudah, aku akan pergi."
"Sinta! Kamu! Kamu sungguh keterlaluan."
Belum sempat Sinta menjawab, wanita pujaan hati Rama malah ikut bicara. "Kak Sinta, maaf. Ini semua karena aku. Aku yang bikin hubungan kalian jadi seperti ini. Aku-- "
"Bukan salah kamu, Risa." Rama membela gadis itu dengan cepat. "Kamu tidak salah sedikitpun. Tolong, jangan bicara begitu."
Tatapan lembut langsung beralih saat Rama melihat Sinta. "Risa tak salah. Hanya kamu saja yang terlalu manja. Memang dasarnya anak manja yang selalu dimanjakan. Sekali saja perkataan mu tidak dituruti, kamu akan ngambek. Tidak semua hal yang kamu mau bisa orang lain turuti, Sinta. Kamu harus sadar akan hal itu."
"Rama. Kamu gila ya? Kamu malah nyalahin Sinta atas apa yang telah kamu lakukan?" Kesal Lili. "Sebenarnya, yang kekanak-kanakan itu kamu atau teman ku sih sebenarnya?"
"Iya. Heran aku sama kamu. Sejak kamu bergaul dengan gadis bau ini, kamu malah gak ketolongan lagi," ucap Lusi pula.
Ucapan itu menjadi kesempatan buat Risa untuk terlihat menyedihkan. Drama gadis tertindas pun dia perankan dengan sangat baik sekarang.
Manik mata gadis itu langsung berkaca-kaca. "Aku, aku memang salah karena telah bergaul dengan anak orang kaya. Aku hanya gadis miskin yang menurut kalian adalah gadis bau. Aku sadar diri kok siapa aku."
"Risa. Jangan dengarkan apa yang mereka katakan. Mereka yang tidak punya adab dalam pergaulan."
"Kak Rama. Mereka benar. Kamu jadi berubah saat kenal dengan ku. Mulai sekarang, menjauh lah. Jangan dekati aku lagi."
Selesai berucap, gadis itu langsung beranjak pergi sambil menangis. Rama pun langsung terlihat panik. "Risa."
"Jangan ikuti aku. Ku mohon. Aku ingin sendiri sekarang."
"Risa."
"Ku mohon, kak Rama. Aku ingin sendiri."
Ternyata, tak hanya ada dalam drama pendek saja kisah wanita bermuka dua ini. Di dunia nyata juga ada. Perempuan bermuka dua ini sangat menakutkan. Lain di depan, lain lagi di belakang.
Akibat ulah perempuan si muka dua, Rama semakin terpancing emosi. "Puas kalian sekarang? Kalian buat orang lain sedih karena ulah kalian. Puas!"
"Rama cukup. Siapa yang dulu mencari masalah? Kenapa malah menyalahkan kami?"
"Sinta. Aku gak tahu lagi harus bicara apa sama kamu. Semakin lama, sikapmu semakin menjadi-jadi. Manja mu semakin tak tertolong lagi. Cemburu mu kelewat batas. Bukankah aku sudah menjelaskan bahwa, antara aku dengan Risa, kami hanya berteman?"
"Teman?" Lusi angkat bicara dengan pandangan sinis. "Teman apa yang terlalu dekat sampai tidak ada batasannya lagi?"
"Dia itu berbeda dengan kalian! Dia itu wanita sederhana yang ingin punya teman dekat. Baginya, berteman dengan laki-laki dan perempuan itu sama saja. Apa kalian tidak memahami juga bagaimana karakternya?"
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️