Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.
Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.
Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.
Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Rencana
Di sisi lain kota, Maya baru saja menutup laptopnya.
Ruang kerja di apartemennya masih terang oleh cahaya lampu meja. Beberapa berkas terbuka di hadapannya, bersama catatan berisi nama firma hukum, jadwal konsultasi, dan beberapa poin yang ia tulis dengan cepat sejak satu jam terakhir.
Thalia yang iba-tiba datang ke apartemennya tepat saat ia pulang bekerja sore ini membuat ia hanya bisa menebak sahabatnya sedang tidak baik-baik saja. Dan ternyata dugaannya benar. Thalia menceritakan semuanya, termasuk keinginan sahabatnya yang ingin bercerai.
Ia menyandarkan punggung ke kursi, mengembuskan napas panjang, lalu merenggangkan tubuhnya.
“Rendra Pratama,” gumamnya pelan, menatap nama itu di salah satu catatan. “Kau benar-benar memilih orang yang salah untuk dipermainkan.”
Maya mengambil ponsel di sisi laptop, membuka kontak Thalia, lalu menghubunginya.
Panggilan tersambung setelah beberapa detik.
“Aku sudah dapatkan jadwal janji dengan pengacaranya,” ucap Maya tanpa basa-basi.
Di seberang, suara Thalia terdengar lebih rendah. “Kapan?”
“Lusa pagi. Jam sepuluh.” Maya mengambil pulpen, mengetuk-ngetukkannya pelan ke atas meja. “Dia setuju membantu perceraianmu dan mengurus penyalahgunaan namamu."
Hening sesaat.
"Maya-..."
"Kau tahu?" potong Maya cepat.
"Saat kau datang menemuiku dan bercerita tentang suamimu..." Maya menjeda sejenak, menghembuskan napas kasar sembari menggenggam erat pulpen di tangannya. "Percayalah, aku sangat ingin memasukkan kepalanya ke dalam kloset."
Suara kekehan pelan Thalia terdengar melalui ponsel dan diakhiri hembusan napas pelan.
“Aku belum mendapatkan dokumen aslinya,” ucap Thalia.
“Dapatkan itu, tapi pastikan kamu melakukanya dengan hati-hati,” sahut Maya.
“Rendra sudah setuju menunjukkan sebagian data,” kata Thalia.
Maya tersenyum tipis. “Bagus. Berarti umpanmu berhasil. Kamu hanya perlu menjadi kucing jinak untuk sementara sampai bukti itu berpindah ke tanganmu."
Suara tawa pelan Thalia kembali terdengar, mengisi jeda singkat yang sempat terjadi sebelum Maya kembali berbicara.
Maya membuka kembali catatannya. “Kalau dia menunjukkan dokumen, jangan langsung bereaksi saat melihat bagian penting. Biarkan dia merasa sedang mengajarimu,” ucap Maya mengingatkan.
"Aku tahu."
“Jangan ambil risiko hanya demi salinan cepat. Perhatikan nama file, folder, email, laptop, atau siapa yang punya akses. Kalau belum bisa mengambil malam itu, setidaknya kamu tahu pintunya ada di mana
“Terutama di depan Anna,” jawab Maya tegas. “Wanita seperti dia akan merasa menang begitu kamu menunduk. Biarkan. Semakin puas dia, semakin Rendra yakin bahwa kamu mulai kembali seperti dulu.”
Maya berhenti sejenak.
Ia tahu. Tidak semua luka Thalia diceritakan dengan air mata. Sebagian besar justru disampaikan sambil tertawa hambar, lalu ditutup dengan kalimat: tidak apa-apa atau aku bisa tahan.
“Tahanlah sebentar lagi,” ucap Maya lebih lembut. “Bukan karena kamu kalah, tapi arena kamu sedang memilih waktu.”
"Aku baru saja meminta maaf pada mereka," beritahu Thalia.
Maya memejamkan mata sebentar. Jujur, ia kesal. Mereka jelas bersalah, tetapi justru sahabatnya yang meminta maaf.
Ia bisa membayangkan Thalia berdiri di hadapan Rendra dan mertuanya, memakai suara lembut yang dulu selalu membuat Thalia terlihat mudah dikendalikan.
“Bagaimana reaksi mereka?” tanya Maya.
"Mereka percaya."
“Sempurna.” Maya tersenyum. "Dengan membuat mereka percaya kamu kembali jinak, mereka akan lengah, dan kamu bisa memanfaatkan situasinya."
“Dengar,” lanjut Maya kemudian. “Sampai lusa, fokusmu hanya tiga. Pertama, dapatkan akses ke dokumen asli. Kedua, jangan singgung Clara. Ketiga, jangan biarkan Rendra tahu kamu sudah bicara dengan pengacara.”
“Aku mengerti.”
“Dan Thalia…”
“Hm?”
“Jangan terlalu dekat dengan Pak Arkana,” peringat Maya.
Panggilan itu hening lebih lama dari seharusnya.
“Oh, Tuhan.”
Maya menghela napas panjang, lalu memijit pangkal hidungnya.
“Aku tidak akan mengatur hatimu, Thal. Tapi kamu sedang berada di tengah pernikahan yang rusak, rencana perceraian, bukti bisnis, dan pria berbahaya yang jelas-jelas menginginkanmu.”
“Aku tahu.”
“Pastikan kamu benar-benar tahu." suara Maya menurun. “Jangan sampai saat kamu sedang berusaha keluar dari kendali Rendra, kamu justru masuk ke kendali pria lain.”
“Arkana tidak seperti Rendra.”
“Mungkin.” Maya menatap dingin gelas di meja. “Tapi pria yang tidak seperti Rendra pun tetap bisa membuatmu kehilangan arah kalau kamu terlalu cepat percaya.”
Di seberang, Thalia terdiam.
“Aku tidak percaya siapa pun sepenuhnya. Bahkan dia.”
“Bagus.”
“Tapi aku akan menggunakan jalan yang dia buka.”
“Itu berbeda,” jawab Maya setuju. “Gunakan jalannya, jangan serahkan kendalimu.”
“Tidak akan,” jawab Thalia yakin.
Maya mengangguk pelan.
“Baik. Simpan semua bukti yang sudah kamu punya di tempat aman. Besok, kalau Rendra menunjukkan dokumen, kabari aku. Kita susun apa yang perlu dibawa ke pengacara.”
"Baiklah," jawab Thalia.
Panggilan berakhir beberapa menit kemudian.
Maya meletakkan ponselnya di meja, lalu menatap lagi catatan di hadapannya.
Nama Rendra tertulis di sana.
Malam itu, di rumah Rendra, Thalia mungkin sedang berpura-pura menjadi istri yang kembali jinak. Tapi di rumah Maya, rencana untuk membuat Rendra kehilangan segalanya baru saja dimulai.
.
.
.
Keesokan harinya, Thalia mendapati suaminya dan sang ibu mertua sudah berada di ruang makan ketika ia datang.
"Kau terlambat."
Kalimat datar nan dingin itu keluar dari mulut Anna sebelum ia menyesap teh dari cangkirnya, lalu menurunkannya perlahan ke meja.
"Sejak kapan kau tidak menyiapkan sarapan untuk suamimu?" tanyanya menatap tajam sang menantu.
"Ma, sudahlah," Renda menengahi dengan cepat. "Lagipula, ada Bu Ratmi. Kalau Mama membutuhkan sesuatu, bisa minta pada bu Ratmi."
Rendra beralih menatap istrinya, memberikan senyum hangat suami sempurna. "Duduklah, Sayang."
Anna mendengus, kembali menyesap tehnya tanpa memutus pandangan dari Thalia sampai wanita itu duduk di kursi.
Hening menyelimuti saat Bu Ratmi selesai menghidangkan sarapan untuk Thalia. Hanya denting sendok beradu dengan piring yang sesekali terdengar memecah keheningan, sampai Anna membuka suara di tengah sarapan yang sedang mereka nikmati.
“Kamu boleh bekerja," ucap Anna tiba-tiba yang membuat wajah Thalia terangkat. "Tapi jangan sampai baru dipuji orang luar sekali, kamu merasa lebih berharga dari suamimu sendiri.”
Kalimat itu menancap pelan di hati Thalia, tetapi ia mempertahankan senyum di bibirnya. “Aku mengerti.”
“Semoga benar-benar mengerti,” lanjut Anna. “Karena wanita yang terlalu sibuk membuktikan dirinya biasanya lupa, harga dirinya tetap akan dipertanyakan kalau rumah tangganya berantakan.”
Rendra mulai tersenyum tipis.
Anna melihat itu, lalu melanjutkan dengan nada lebih lembut, tetapi jauh lebih menyakitkan.
“Lagi pula, kamu sudah lama tidak bekerja. Jadi, jangan terlalu percaya diri. Dunia luar tidak selalu menganggapmu sehebat yang kamu pikirkan.”
. . . .
. .. .
To be continued..