NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:78
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Pernah Bergantung Pada Lelaki

Vito mengira rasa sakitnya sudah mencapai puncak saat Nowi pergi saat usianya delapan belas tahun. Dia juga berpikir penderitaan serupa akan terulang saat menunggu kedatangan Nowi tahun lalu. Dia ternyata keliru. Mendengar langsung alasan kepergian Nowi dulu justru jauh lebih menyakitkan. Meski demikian, hatinya tetap tak terima melihat wanita itu menutup diri, menangis, gemetar, dan sulit bernapas seperti sekarang.

Segala peristiwa yang sudah berlalu memang tak dapat diubah lagi. Namun, setidaknya Vito masih berhak menentukan arah hubungan mereka ke depan.

"Aku perlu tahu semuanya, Nowi. Tolong jangan bohong sama aku, jangan sekarang dan jangan pernah lagi. Kamu ngerti, kan? Aku cuma mau dengar kebenaran langsung dari mulut kamu."

Nowi terisak di sela tangisnya lalu mengangguk pelan.

"Pakai kata-kata, Nowi. Aku mau dengar suaramu."

"I-iya, aku ngerti."

Vito menarik napas panjang dan berat untuk menenangkan diri.

"Kamu bahagia nggak? Dengan hidup kamu sekarang? Aku bahkan masih bingung kenapa tiba-tiba kamu balik ke sini. Tapi jawab aja jujur, kamu lebih bahagia atau enggak waktu jauh dari aku dan kota Batu?"

Nowi langsung membeku di tempat. Tatapannya terpaku tepat ke mata Vito sementara bibirnya bergetar hebat tanpa suara. Vito merasa tersiksa karena harus menahan diri agar tak langsung memeluk dan menenangkan wanita itu.

"Nggak, Vito. Aku sama sekali nggak bahagia."

Seluruh tenaga di tubuh Vito langsung hilang seketika. Dia kembali duduk di samping Nowi sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan rasa frustrasi. Sebenarnya dia sendiri pun bingung, jawaban apa yang sebenarnya diharapkan. Apakah kabar bahwa Nowi hidup bahagia tanpanya, atau kenyataan bahwa wanita itu kesepian dan tak pernah bahagia selama ini.

Setidaknya kini dia sudah mengetahui arah dan langkah yang harus diambil selanjutnya.

Vito mengangguk satu kali sebelum membungkukkan badan, mengangkat tubuh Nowi ke dalam pelukannya, lalu membawanya melewati ruangan menuju kamar tidur. Wajah Nowi tampak kacau oleh air mata dan kebingungan saat dia diletakkan di atas permukaan ranjang.

Dia meninggalkan Nowi sejenak hanya untuk mengambil kotak tisu di kamar mandi. Begitu kembali ke sisi ranjang, Vito duduk tepat di depan Nowi. Dengan gerakan lembut dia menghapus sisa air mata di wajah wanita itu, membiarkannya meniup hidung sementara dia menenangkan diri sendiri.

"Aku emang nggak pernah kuat lihat kamu nangis. Ternyata sampai sekarang pun, air mata kamu masih punya pengaruh buat aku."

Nowi tertawa kecil di sela sesenggukannya sebelum kembali mengucapkan kata maaf berulang kali.

"Udah ya maaf-maafnya. Sekarang kamu mau cerita nggak, kenapa tiba-tiba balik ke sini?"

Nowi menarik kedua lututnya mendekat ke dada lalu bersandar ke kepala ranjang. Dia jelas lupa bahwa saat ini dia hanya memakai kaus kebesaran milik Vito dan celana dalam. Posisi itu membuat Vito dapat melihat jelas paha dan sebagian besar kulit tubuh Nowi yang terbuka.

Dengan cepat dia menarik selimut dari ujung ranjang dan menyelimutkan sampai menutupi kaki dan tubuh Nowi.

Terutama saat Vito sadar bagian bawah tubuhnya mulai bereaksi keras di balik celana hanya karena melihat penampilan Nowi seperti itu. Wanita itu ternyata masih menggoda dan memikat seperti dulu.

"Sepuluh tahun terakhir rasanya berat banget buat aku, Vito. Dan beberapa minggu belakangan ini, semuanya hancur nggak karuan. Aku bikin banyak keputusan buruk dan akhirnya hidupku jadi berantakan kayak gini."

"Tenang aja, kita punya waktu semalaman. Ceritain semuanya pelan-pelan, aku bakal dengerin."

Nowi menarik napas panjang dan tampak gugup sekali sebelum mulai bercerita.

"Dulu aku sempat masuk Institut Kuliner. Sekarang aku kerja jadi koki, dan itu keputusan terbaik yang pernah aku ambil seumur hidupku. Aku merasa benar-benar hidup dan bahagia kalau lagi ada di dapur."

"Dulu pas masih kuliah, aku kerja paruh waktu jadi pelayan restoran dan aku benci banget sama pekerjaan itu. Baru setelah lulus, aku kerja jadi koki pembantu selama beberapa tahun. Akhirnya aku dapat kesempatan kerja pertama kali sebagai koki kedua di sebuah restoran terkenal." Dia menggigit bibir ragu-ragu. "Tapi... ada tapinya. Kamu janji bakal bersikap dewasa dengerin bagian selanjutnya?"

Vito mendengus pelan sambil menggelengkan kepala.

"Kalau soal kamu, aku nggak bisa janji apa-apa. Tapi aku bakal berusaha tetap tenang. Lanjutin ceritamu."

"Nggak lama setelah aku diterima kerja di situ, aku mulai pacaran sama anak pemilik restorannya. Bodoh banget, kan? Itu kesalahan pertamaku. Kesalahan keduanya, kami baru pacaran beberapa bulan aja tapi aku malah pindah dan tinggal bareng dia."

"Dulu sebelumnya aku tinggal di apartemen bareng dua teman sekamar, tapi gedungnya dijual jadi kami harus pindah. Aku nggak terlalu dekat sama mereka, jadi kami pisah jalan aja pas itu. Waktu itu aku sempat tidur di sofa apartemen sahabatku, Agnia. Terus pas Oktavian tahu keadaanku, dia langsung nyuruh aku pindah dan tinggal sama dia. Dan aku nurut aja."

"Sialan."

Vito berusaha sekuat tenaga menahan amarah yang mulai memuncak. Dia memang sudah menduga Nowi pasti pernah dekat dengan pria lain selama dia pergi bertahun-tahun.

Namun, mendengar langsung fakta bahwa ada laki-laki lain pernah menyentuh Nowi dan tidur di sampingnya setiap malam, membuat dadanya penuh rasa cemburu.

"Sebenarnya hubungan kami nggak terlalu serius-serius banget, tapi aku pikir semuanya berjalan cukup baik. Kalau dipikir sekarang, mungkin aku cuma terlalu ingin melupakan masa lalu dan memaksa diri buat bisa move on." Nowi menundukkan wajah sedih.

"Beberapa minggu lalu aku pulang ke apartemen lebih awal. Dan aku nemuin dia lagi tidur sama perempuan lain di tempat tidur kami."

Vito langsung berdiri tegak lalu mengacak-acak rambutnya dengan kasar karena emosi yang meluap. Hidup macam apa yang terpaksa dijalani Nowi selama dia pergi?

Dan laki-laki macam apa yang tega menyakiti wanita sebaik dia?

"Dan sayangnya... kejadian itu belum jadi bagian terburuk dari semuanya."

"Sial banget, Nowi. Aku sampai nggak tahu harus ngomong apa lagi sekarang denger semua ini."

"Keesokan harinya aku balik lagi ke sana cuma buat ambil barang-barangku. Dan dia nggak cuma mencoba memaksaku buat tetap tinggal, tapi dia sampai berbuat kasar dan nyakitin aku."

"Apa? Jangan bilang dia berani nyakitin kamu lebih dari itu..." Vito langsung jatuh berlutut di depan Nowi.

"Aku lawan dia habis-habisan, Vito. Aku lebih kuat kok."

Vito mengembuskan napas panjang tanda lega, "Itu baru gadisku."

Rasa lega langsung membanjiri dadanya saat tahu Nowi selamat. Namun, di saat yang sama, nama Oktavian langsung dia catat dalam ingatannya. Bajingan itu sungguh beruntung masih bisa bernapas sejauh ini.

Vito tetap berjongkok di sisi ranjang, kedua tangannya masih setia melingkar di pinggang Nowi sambil terus menyimak kelanjutan ceritanya.

"Dia marah banget dan sepertinya langsung nelpon orang tuanya. Mamanya langsung kirim pesan ke aku dan memecat aku dari kerjaan dengan alasan gak jelas. Dia bilang aku yang selingkuh dan bikin hubungan kami hancur."

"Dia berhasil bikin dirinya kelihatan jadi korban dan malah hancurin nama baik dan reputasiku di dunia kerja." Suara Nowi mulai pecah lagi tertahan tangis.

"Aku kerja keras banget buat semua itu, Vito. Dan aku jalanin semuanya sendirian dari nol. Memang aku ada Agnia, tapi Oktavian berhasil hancurin semua yang udah aku bangun susah payah selama bertahun-tahun."

"Dan Aku malah cuma bisa kabur gitu aja tanpa berbuat apa-apa. Rasanya kayak dengar lagi semua omongan mamaku dulu. Katanya laki-laki pasti bakal selalu nyakitin dan ngecewain aku, dan aku nggak boleh terlalu bergantung sama mereka karena nanti hidupku bakalan ikut hancur kayak gini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!