Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Keesokan paginya, matahari baru saja menyembul di ufuk timur saat Anna perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa begitu berat, dan rasa lesu langsung menggelayuti pundaknya begitu ingatan tentang perkataan Axel semalam kembali berputar di kepalanya. Kata-kata pria itu yang menyatakan bahwa semua ini "hanya nafsu dan obsesi" tanpa adanya cinta, kembali menorehkan rasa sesak di dadanya.
Anna menghela napas panjang, lalu menepuk-nepuk kedua pipinya dengan cukup keras.
"Oke, oke, fokus Anna! Tarik napas... embuskan," ucapnya pada diri sendiri sembari menatap langit-langit kamar. "Ingat, ini cuman dunia novel. Lo gak boleh terbawa perasaan sama karakter fiksi, apalagi om-om posesif kayak Paman Axel. Fokus utama lo sekarang adalah bertahan hidup dan lulus sekolah!"
Setelah berhasil menenangkan pikirannya dan mencoba rileks, Anna segera bangkit dari tempat tidur. Ia melangkah ke kamar mandi, membiarkan guyuran air dingin menyegarkan tubuh dan pikirannya yang sempat semrawut. Selesai mandi, ia mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi, menyisir rambutnya yang panjang, lalu menyambar totebag-nya sebelum bergegas berangkat ke sekolah.
Beberapa jam kemudian, Anna sudah duduk manis di dalam kelasnya. Suasana kelas tampak hening dan kondusif karena jam pelajaran sejarah sedang berlangsung. Di depan kelas, seorang guru wanita paruh baya dengan kacamata bertengger di hidungnya sedang sibuk menuliskan beberapa poin penting di papan tulis.
Anna berusaha keras untuk memfokuskan seluruh atensinya pada materi pelajaran, mengabaikan segala masalah pribadinya. Ia membuka buku catatannya dan mulai menggoreskan pena, mencatat poin-poin penting yang dijelaskan oleh sang guru di depan.
"Baik, anak-anak. Seperti yang sudah kita bahas minggu lalu mengenai dampak Perang Dunia Kedua di Asia Tenggara," ucap sang guru sembari berbalik dan menatap seisi kelas. "Siapa yang bisa menjelaskan kembali, apa faktor utama yang menyebabkan runtuhnya kekuasaan kolonial Barat di wilayah ini setelah perang berakhir?"
Suasana kelas mendadak senyap. Beberapa murid tampak menunduk, pura-pura sibuk membaca buku agar tidak ditunjuk oleh guru.
Melihat tidak ada yang mengacungkan tangan, Anna menarik napas dalam-dalam. Ini adalah kesempatannya untuk membuktikan bahwa dia bukanlah Anna yang "bego" seperti di sekolah lamanya. Dengan gerakan tenang dan percaya diri, Anna mengangkat tangan kanannya ke udara.
"Ya, Anna? Silakan jelaskan," ucap sang guru sambil tersenyum ramah, senang karena ada yang berani merespons.
Anna berdiri dari kursi agar suaranya terdengar jelas oleh seluruh penjuru kelas.
"Baik, Bu. Salah satu faktor utamanya adalah melemahnya kekuatan militer dan ekonomi negara-negara kolonial Barat seperti Belanda, Prancis, dan Inggris akibat perang di Eropa," jawab Anna dengan nada suara yang tenang namun tegas. "Hal ini menciptakan kekosongan kekuasaan di Asia Tenggara, yang kemudian dimanfaatkan oleh para tokoh pergerakan nasional untuk membangkitkan kesadaran politik rakyat dan memproklamasikan kemerdekaan mereka. Jadi, perang tersebut secara tidak langsung mempercepat runtuhnya legitimasi kolonialisme."
Mendengar penjelasan Anna yang begitu runut dan terstruktur, sang guru tampak mengangguk-angguk puas.
"Jawaban yang sangat bagus dan tepat sekali, Anna. Terima kasih," puji sang guru yang langsung membuat beberapa pasang mata di kelas menatap Anna dengan kagum.
Anna tersenyum tipis lalu kembali duduk di kursinya. Jolina yang duduk tidak jauh di sampingnya langsung memberikan acungan jempol dengan wajah bangga, sementara Emma berbisik pelan, "Keren banget lo, Na!"
Anna merasa sedikit lega. Setidaknya, dengan menyibukkan diri dalam pelajaran, dia bisa melupakan sejenak rasa kecewanya pada Axel dan ancaman dari Ezkiel di luar sana.