Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahreen Terkejut
Collin tahu sekarang atau tidak sama sekali! Dia menodongkan pistolnya ke arah kepala si penculik yang memakai burqa dan menggerakkan lehernya untuk menenangkan diri. Tatapannya terkunci pada satu titik dan ...
DOR!
Pria itu ambruk dengan tembakan di belakang kepalanya yang terbungkus burqa. Mahreen pun terjatuh dari gendongannya ke atas tanah halaman pasar yang sedikit berdebu.
Collin tahu bahwa setiap detik sangat berharga. Saat penculik itu tumbang dan tidak lagi menjadi ancaman, ia langsung mengabaikan segala hal lain dan berlari menuju Mahreen.
"Princess!" serunya sambil berlutut di samping sang putri.
Mahreen masih sadar, tetapi tubuhnya terasa lemas akibat sengatan stun gun. Tangannya sedikit gemetar ketika mencoba bangkit.
"Lange ..." ucapnya pelan.
"Saya di sini. Anda aman sekarang."
Collin mendorong tubuh penculik itu dengan kakinya. Dia segera menarik tubuh Mahreen yang sedikit kasar tapi Collin tidak mau gadis itu ditindih si penculik. Collin membantu Mahreen duduk bersandar pada dinding tembok pasar. Ia segera memeriksa kondisi sang putri, memastikan tidak ada luka serius selain efek kejut listrik yang membuatnya kehilangan tenaga.
Di sisi lain, para pengawal dan petugas keamanan yang mendengar suara tembakan mulai berdatangan. Langkah kaki mereka menggema di lorong pasar yang sempat dilanda kepanikan.
"Ada ancaman kedua?" tanya salah satu pengawal.
Collin menggeleng singkat. "Prioritas utama adalah mengamankan Putri Mahreen dan menutup seluruh area. Pastikan tidak ada kaki tangan penculik yang masih berada di sekitar sini. Tim Charlie, periksa dua pengawal wanita di ruang ganti. Periksa juga kondisi Nissa tadi yang sepertinya kena hantam si penculik!" perintah Collin lewat alat komunikasinya.
"Siap."
Mahreen menarik napas dalam-dalam. Wajahnya masih pucat, tetapi ia berusaha tetap tenang.
"Aku tidak menyangka mereka berani melakukan ini di tempat umum," katanya. Mata hijaunya menatap liar sekelilingnya dan tetap berusaha fokus meskipun segalanya terasa berputar.
Collin menatap sekeliling dengan waspada sebelum kembali memandang Mahreen.
"Sepertinya si penculik sudah merencanakannya dengan matang. Maapkan saya yang tidak bersama Anda di toko baju tadi," ucap Collin dengan perasaan bersalah.
"Bukan salahmu Lange. Itu toko khusus perempuan dan di Bahrain cukup ketat dengan aturan itu. Sayangnya ... orang itu memakai burqa jadi tidak mengira jika seorang laki-laki," senyum Mahreen. Dengan sedikit gemetar karena masih shock, Mahreen mengelus pipi Collin. "Terima kasih. Sudah menyelamatkan aku."
"Sudah menjadi tugas saya, Princess." Collin memegang tangan Mahreen yang berada di pipinya. Hawa aneh terasa diantara keduanya dan mereka baru sadar jika masih di tempat umum.
"Lange!" panggil salah seorang pengawal.
"Yup!" jawab Collin.
Mahreen segera menarik tangannya sementara Collin menoleh ke arah pengawal itu. Dia berdiri dan mulai berkoordinasi dengan tiga tim pengawal Mahreen.
"Baik. Aku akan membawa Princess kembali ke istana. Nanti soal si pelaku, kita urus belakangan," ucap Collin sambil menoleh ke arah Mahreen.
Dia melihat Mahreen mencoba berdiri, namun kakinya goyah. Tanpa ragu, Collin bergegas menghampirinya dan menopang tubuhnya.
"Jangan dipaksakan," ucapnya lembut.
"Aku bisa berjalan." Mahreen menatap Collin sambil tersenyum miris. Tangannya memegang bahu Collin.
"Untuk saat ini, saya tidak akan mengambil risiko." Dia tahu Mahreen masih dalam kondisi shock dan butuh waktu untuk kembali normal.
Sebelum Mahreen sempat membantah, Collin mengangkatnya dan membawanya menjauh dari kerumunan yang mulai dipenuhi petugas keamanan. Mahreen hanya bisa menghela napas pasrah, sementara beberapa pengawal lain membentuk barikade di sekeliling mereka.
Di tengah kekacauan itu, satu hal menjadi jelas bagi Collin, ini bukan sekadar penculikan biasa. Seseorang yang berpengaruh telah mengincar Putri Mahreen, dan ancaman itu kemungkinan belum berakhir.
Collin membawa Mahreen masuk ke dalam mobil Range Rover yang dikemudikan pengawal dan ada pengawal lainnya di kursi penumpang depan. Mahreen berusaha fokus hingga dia teringat Urla.
"Mana Urla?" tanyanya panik.
"Bersama dengan Nissa dan tim Alpha serta Charlie. Kita tim Beta harus pulang dulu!" jawab Collin.
Mahreen tampak lega dan dia bersandar di dada Collin yang memeluk tubuhnya. "Terima kasih Lange."
"Dena da." Collin tetap memeluk Mahreen hingga mereka tiba di istana Al Khalifa.
Saat mereka tiba, Collin membantu Mahreen turun sementara Malik dan Maximilian yang terpaksa meninggalkan rapat, segera menghampiri putri dan adik mereka. Milly yang baru datang pun bergegas memeriksa putrinya.
"Kamu tidak apa-apa? Apa yang terluka? Kamu ...."
"Kalian tenang saja! Aku baik-baik saja ... Hanya sedikit lemas," potong Mahreen.
"Aku gendong kamu ke kamar!" putus Maximilian sambil menggendong Mahreen.
"Mas Maxi!" protes Mahreen yang digendong ala bridal style. Maximilian tidak perduli dan tetap membawa adiknya ke dalam istana.
"Aku periksa Mahreen," pamit Milly yang mengikuti kedua anaknya.
Malik menatap Collin. "Bagaimana kronologisnya?"
***
Malik terdiam saat Collin memberikan laporannya di dalam ruang kerjanya. Pria kharismatik itu mengusap dagunya yang tertutup brewok.
"Menurut kamu, dia si unsub?" tanya Malik yang didampingi oleh Mustafa, asisten setianya. Hanya mereka bertiga yang ada di ruangan itu.
"Kenneth akan terbang kemari, Yang Mulia. Polisi Isa dan Manama sudah bekerja sama dan pesan dari interpol, FBI dan MI6 sudah masuk kemari bukan?" jawab Collin.
"Dia bekerja solo?" tanya Mustafa.
"Sejauh yang sudah kami selidiki, iya. Entah jika nanti perkembangan penyidikan di sini. Ada kemungkinan besar, dia tetap sendirian." Collin berdiri dengan pose istirahat di tempat.
Malik dan Mustafa saling berpandangan. "Kita tunggu Lord Ferguson datang, Yang Mulia," ucap Mustafa.
Malik mengangguk. "Lange, kamu urus dulu semuanya di Isa. Berikan kabar padaku."
"Baik Yang Mulia. Saya permisi dulu." Collin mengangguk hormat lalu dia keluar dari ruang kerja Malik.
Tak lama ponsel Malik berbunyi dan tampak nama 'Kenneth Ferguson' di layar. "Ya Kenneth."
***
Mahreen terbaring di atas tempat tidurnya. Milly dan Maximilian melarang dirinya keluar kamar. Harus beristirahat! Mahreen bahkan makan di dalam kamar dan dia merasa bosan. Hingga jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul satu malam, mata Mahreen masih nyalang. Gadis itu pun turun dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon kamarnya.
Mahreen mengetatkan kimononya untuk menutupi lingerie satinnya yang bewarna hitam. Dia pun melihat para pengawal berjaga-jaga di sekitar halaman istana. Hingga pintu belakang terbuka dan mata hijau Mahreen mengenali sosok yang sangat dia kenal.
"Bukannya itu Mas Kenneth?" gumamnya. Mahreen semakin terkejut saat melihat Collin berjalan menghampiri Kenneth dan keduanya saling berpelukan.
Mahreen menutup mulutnya dengan tangan. "Kok Lange kenal sama mas Kenneth? Ada hubungan apa mereka?"
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
princess Mahreen selamat
asal kamu tau marning, Lange itu sahabat sekaligus anak buah kentongan