NovelToon NovelToon
Suamiku (Bukan) Orang Gila

Suamiku (Bukan) Orang Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta setelah menikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TWENTY ONE

Emily menelan ludah dengan susah payah, seluruh rasa percaya dirinya runtuh dalam sekejap. Ia melirik ayahnya, namun Fabio hanya diam dengan wajah yang kini mulai mengeras.

Aksa tidak memberikan napas bagi lawannya. Ia beralih menatap jajaran direktur pelaksana lainnya yang kini sudah mulai berkeringat dingin di kursi mereka. "Lalu mengenai ekspansi pasar. Dari sepuluh tender potensial berskala nasional yang kalian ajukan anggarannya kepada kakekku, kalian hanya bisa mendapatkan tiga di antaranya! Dan sisa lima kerjasama receh lainnya yang kalian banggakan di media, hasilnya apa? Hanya penundaan proyek dan pembayaran macet dari pihak klien yang tidak bonafid! Apa prestasi sampah seperti ini yang kalian sebut dengan untung besar?!"

Suasana ruang rapat semakin mencekam. Beberapa komisaris mulai saling berpandangan dengan cemas. Kejeniusan analisis Aksa yang begitu mendalam dan akurat benar-benar di luar ekspektasi mereka yang mengira pria itu sudah kehilangan kemampuan berpikir akibat gangguan jiwanya.

"Dan yang paling menjijikkan dari semuanya," Aksa mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas meja, memberikan tekanan mental yang luar biasa pada setiap orang di ruangan itu. "Kas utama perusahaan saat ini hampir kosong. Meskipun di atas kertas keuntungan itu tertulis ada, secara fisik uangnya tidak ada di bank kita. Bagaimana ini bisa terjadi, hah?! Apa kalian semua yang duduk di meja ini sudah merasa begitu aman sehingga secara terang-terangan melakukan korupsi dan penggelapan dana tepat di depan mata saya?!"

BANG!

Aksa memukul meja rapat dengan tangan kanannya. Suara hantaman itu begitu keras hingga membuat beberapa direktur tersentak kaget dari kursi mereka. Napas Aksa mulai sedikit memburu, ada kilatan kemarahan yang sangat pekat di matanya. Di belakangnya, Zacky langsung menegang, tangannya perlahan bergerak ke arah saku jasnya, bersiap mengantisipasi jika dosis emosi Aksa melewati batas aman yang dipesan Della pagi tadi.

Emily, yang merasa harga diri dan posisi operasionalnya diinjak-injak secara brutal di depan seluruh jajaran eksekutif, tidak mampu lagi menahan emosinya. Rasa takutnya sesaat terkalahkan oleh ego dan amarah yang meluap. Dengan wajah merah padam, ia melangkah maju mendekati meja oval, menunjuk ke arah Aksa tanpa memedulikan etika lagi.

"Anda tidak bisa menuduh kami seperti itu, Tuan Muda Aksa yang terhormat!" teriak Emily dengan suara gemetar menahan tangis dan amarah. "Anda tidak tahu apa-apa! Selama tiga tahun ini, Anda hanya duduk diam di kamar mewah Anda, menjadi orang gila yang mengurung diri, tetapi tetap menerima aliran keuntungan bersih ke rekening pribadi Anda tanpa melakukan apa pun!"

"Ibu Emily, jaga bicaramu!" bentak Zacky dengan suara baritonnya yang menggelegar, mencoba menengahi.

Namun Emily mengabaikan Zacky, matanya terus menatap tajam ke arah Aksa yang kini justru terdiam dengan senyum miring yang sangat mengerikan. "Saya yang telah memperjuangkan perusahaan ini siang dan malam! Saya yang bekerja keras di lapangan, menghadapi klien, mengatasi krisis, sementara Anda... Anda yang terhormat hanya datang hari ini setelah sekian lama, duduk di kursi empuk itu, lalu menikmati hasil kerja keras kami dan mengkritisi semuanya tanpa tahu bagaimana peliknya proses di balik layar! Anda tidak punya hak untuk menyebut kerja keras saya sebagai korupsi!"

Mendengar jeritan histeris Emily, Hendrik melihat ini sebagai peluang emas untuk ikut menekan Aksa. Ia berdeham keras dan ikut angkat bicara dengan nada sok berwibawa. "Apa yang dikatakan Manajer Emily ada benarnya, Tuan Muda Dayaksa. Anda tidak bisa datang begitu saja dengan kondisi mental Anda yang... kita semua tahu sedang tidak stabil, lalu melempar tuduhan korupsi tanpa proses pembuktian internal yang jelas. Tindakan emosional Anda ini justru membuktikan bahwa Anda tidak cukup tenang untuk memimpin rapat penting seperti ini."

Suasana di dalam ruangan mencapai titik didih tertinggi. Semua mata kini tertuju pada Dayaksa, menunggu apakah pria itu akan meledak, mengamuk, dan menghancurkan ruang rapat ini seperti rumor yang beredar, yang mana hal itu akan menjadi tiket gratis bagi mereka untuk langsung memanggil tim medis dan mendepaknya dari perusahaan saat ini juga.

Zacky menahan napasnya, matanya menatap lekat pada pergelangan tangan Aksa yang mulai gemetar. Tuan Muda, ingat pesan Nyonya Muda Della... Tahan emosimu, batin Zacky berteriak cemas.

Aksa memejamkan matanya selama tiga detik. Di dalam kegelapan pikirannya, ia teringat wajah Della pagi tadi saat memasangkan dasinya. Jangan terlalu memaksakan diri, tahan emosimu dan jangan mudah terpengaruh... Jika sudah ada tanda-tanda tidak nyaman, cari tempat yang aman.

Sentuhan lembut telapak tangan Della seolah kembali terasa di dadanya, seketika meredam letupan api amarah yang hampir membakar akal sehatnya. Obat dari Dokter Leon bekerja dengan baik di dalam sistem sarafnya, memberikan penghalang tebal terhadap provokasi murah yang dilayangkan oleh Emily dan Hendrik.

Saat Aksa kembali membuka matanya, kilatan gila itu lenyap. Yang tersisa hanyalah sepasang mata yang sangat tenang, ketenangan yang justru jauh lebih mengerikan dan dingin daripada badai mana pun. Ia menyandarkan kembali tubuhnya ke kursi, lalu menatap Emily dengan pandangan meremehkan yang amat dalam.

"Proses di balik layar, Emily?" ucap Aksa, suaranya kini terdengar sangat santai namun sarat akan racun yang mematikan. Ia memberikan isyarat pendek dengan jarinya kepada Anastasya. "Anastasya, buka file nomor empat di server rahasia operasional."

"Baik, Tuan Muda," jawab Anastasya dengan sigap. Jemarinya bergerak lincah di atas layar tabletnya.

Dalam hitungan detik, tampilan layar besar di depan ruang rapat berubah. Grafik keuntungan palsu milik Emily lenyap, digantikan oleh ratusan lembar salinan rekening koran bank asing di Swiss dan Cayman Islands, lengkap dengan nama perusahaan cangkang dan tanda tangan digital Emily Herlos serta Hendrik.

"Itu... apa itu?!" Emily terpekik, wajahnya mendadak pucat pasi seperti mayat. Seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada tepi meja agar tidak jatuh.

"Itu adalah detail dari 'proses pelik di balik layar' yang kau banggakan, Manager Emily," desis Aksa dengan senyum kemenangan yang dingin. "Aliran dana sebesar empat puluh dua juta dolar dari selisih modal bahan baku yang kau mark-up, dialirkan secara rapi ke perusahaan cangkang milikmu dan Tuan Hendrik yang terhormat selama dua puluh empat bulan terakhir. Apakah ini yang kau sebut dengan memperjuangkan perusahaan siang dan malam?"

Hendrik yang melihat namanya dan nomor rekening rahasianya terpampang jelas di layar besar langsung bangkit berdiri dari kursinya dengan wajah yang basah oleh keringat dingin. "Ini... ini fitnah! Ini manipulasi data! Anda tidak punya bukti hukum yang sah untuk ini!"

Fabio Herlos yang sejak tadi diam, perlahan mematikan cerutunya di asbak. Ia menatap Dayaksa dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa ngeri sekaligus kekaguman yang kelam. Ia menyadari satu hal yang sangat terlambat,

Dayaksa tidak pernah benar-benar kehilangan taringnya. Pria itu sengaja membiarkan mereka bermain-main di atas singgasananya selama tiga tahun ini, hanya untuk mengumpulkan seluruh tali jerat yang hari ini digunakan untuk menggantung mereka semua sekaligus di depan meja sidang bisnis.

Ketegangan di dalam ruang rapat lantai tiga puluh enam itu mendadak membeku, tertahan oleh keheningan yang jauh lebih pekat setelah nama-nama di layar rahasia terekspos. Di tengah keheningan yang mencekam itu, sebuah dehaman berat terdengar dari ujung meja yang lain.

Cakra Scott, salah satu anggota dewan direksi yang paling dihormati sekaligus pemegang saham veteran yang telah mengabdi sejak era keemasan orang tua Aksa, perlahan menegakkan posisi duduknya. Pria tua berambut keperakan itu menatap Dayaksa dengan pandangan mata yang dipenuhi kebijaksanaan, namun juga ketegasan seorang pelaku bisnis senior.

"Selamat atas bekerjanya kembali kepada Pak Dayaksa sebagai Direktur Utama kami yang sah, setelah tiga tahun Anda vakum dari operasional harian," ujar Cakra Scott, suaranya yang berat dan berwibawa menggema, memberi jeda yang sarat akan tekanan di dalam ruangan. "Kami menghormati kejeniusan Anda dalam membongkar apa yang tersembunyi pagi ini. Namun... kita semua di sini juga harus bersikap realistis demi masa depan korporasi. Perusahaan harus terus berjalan, dan kita tahu bahwa jika kondisi internal perusahaan dibiarkan seperti ini, ini tidak baik bagi stabilitas pasar."

Cakra Scott mengedarkan pandangannya ke arah jajaran direksi yang tertunduk lesu, lalu kembali menatap Aksa. "Lama-kelamaan, Herlos Grup akan menjadi seperti sebuah buah apel yang ranum di luar, namun menyimpan ulat yang menggerogoti di dalamnya. Fluktuasi emosional di tingkat kepemimpinan tertinggi tetaplah sebuah risiko terbesar bagi para investor kita."

Mendengar celah yang dibuka oleh Cakra Scott, Hendrik meskipun pelipisnya masih dibanjiri keringat dingin akibat data rekening rahasia yang terbongkar mencoba menggunakan kartu terakhirnya. Ia mencengkeram tepi meja, berdiri dengan sisa-sisa keberaniannya untuk melakukan konfrontasi terbuka.

"Benar! Apa yang dikatakan Pak Cakra sangat tepat!" seru Hendrik, mencoba mengalihkan fokus dari skandal korupsinya. "Masalah administratif bisa diselesaikan secara hukum, tetapi masalah kapabilitas kepemimpinan adalah hal lain! Kita tidak bisa mempertaruhkan nasib puluhan ribu karyawan di bawah kendali seseorang yang... yang kita semua tahu bisa kehilangan akal sehatnya sewaktu-waktu! Saya tetap menuntut agar posisi Direktur Utama segera diganti oleh orang yang benar-benar pantas dan stabil!"

Tuk... Tuk... Tuk...

Dayaksa Herlos hanya diam. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, sementara jari-jemarinya yang berbalut plester mengetuk meja dengan ritme yang lambat.

Di balik wajah marmernya yang tanpa ekspresi, sepasang mata gelap Aksa mulai berfluktuasi. Di dalam kepalanya, sebuah dengungan rendah mulai muncul, disertai kepulan emosi hitam yang membakar dadanya. Rasa ingin membunuh seseorang, terutama mencengkeram leher Hendrik hingga hancur merayap naik ke permukaan sanubarinya. Obat penenang dari Dokter Leon mulai bergeser kalah oleh pasokan adrenalin kemarahannya. Namun, bayangan wajah Della yang menatapnya penuh harap pagi tadi bertindak bagai rantai tak terlihat yang menahan monster di dalam dirinya agar tidak melompat keluar.

Aksa menghentikan ketukan jarinya. Ia menatap Hendrik dengan senyum miring yang teramat dingin. "Lalu... menurutmu, Pak Hendrik... siapa orang yang kau anggap paling pantas untuk menggantikan posisi saya di kursi ini?"

1
umi
tahan aksa jgn terpancing esmosi mu yaa mereka tau titik kelemahan mu tu .. ingt della pasti kamu tenang tu
umi
kalah jauh kamu adryan jgn main2 lah sma keluarga besar aksa ya . bgi della kamu sdh yg terbaik aksa
umi
gila ya kamu adryan ,blom kena ya dia ni buku lima nya aksa lgi ni maka berkata bgitu pla ..
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
pasti ada sesuatu dengan obat Aska 👀
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
SENJA
aduh jangan kambuh sekarang 😳🥺
SENJA
ciiih ngeselin lu sampah 🤢🤮
SENJA
mantabs
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
waduh jangan sampai Aksa gak fokus lagi karena hasil presentasi kedua belah pihak akan ditentukan saat ini antara presentasi Aksa dan Emily tolong jangan kambuh Sa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Zacky memang tangan kanan yg bisa dipercaya & diandalkan
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😭😭 di hati Della, Aksa menang Voting
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😒 monyeet satu ini benar2 tidak tahu malu, dr awal memang sdh tidak waras si Ardyan 😏
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
iya Zacky benar bisa jadi Aksa sedang banyak pikiran jadinya ke mode silent
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
malu gak tuh luuu Adryan Juardi gak mungkin Della mau sama kau lagi huuuu bersama Aksa dia diratukan disayangi sedemikian rupa jadi ga butuh pria munafik kek luuu😏🤨
El Zèphyr
Aksa emang gila, tapi dia punya sisi pintar yang gak orang lain ounya
El Zèphyr
Oh astagaa manusia satu ini bucin sekaliehh
El Zèphyr
Aksa Masi bisa mikir kok kalo hal beginian
El Zèphyr
Tatapan yang mengerikan itu muncul guys
El Zèphyr
Aksaa kau jadi bucin + nurut gitu si sama Della.
Lucu deh kalian berdua
El Zèphyr
noh kan noh kannn liattt
El Zèphyr
ihhh bucin aku mau jugak 😽
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!