THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: HADIAH ULANG TAHUN YANG TERTUNDA
Pesta dansa di Aetheria telah usai, namun malam belum berakhir bagi Squadron Aurora. Setelah menghindari kerumunan pejabat yang ingin berfoto bersama "pahlawan kota", tim kecil itu menyelinap keluar dari aula utama menuju taman gantung di lantai paling atas gedung pencakar langit.
Taman itu adalah keajaiban rekayasa genetik. Di tengah udara tipis ketinggian ribuan meter, bunga-bunga berukuran raksasa mekar dengan warna-warna neon yang berpendar lembut dalam kegelapan. Ada mawar biru yang kelopaknya bersinar seperti bioluminesensi, dan pohon-pohon sakura putih yang daunnya berjatuhan perlahan, berubah menjadi partikel cahaya sebelum menyentuh tanah. Angin sepoi-sepoi membawa aroma manis nektar buatan yang menenangkan saraf-saraf yang tegang seharian.
"Selamat ulang tahun, El!" seru Bimo keras-keras, memecah keheningan taman yang magis. Dia membawa sebuah nampan besar berisi kue tart sederhana—bukan kue mewah berlapis emas seperti di pesta tadi, tapi kue cokelat rumahan dengan tulisan lilin yang sedikit miring: Happy Birthday Elara.
Elara tertegun, tangannya menutup mulut. Matanya membesar, dipenuhi kejutan yang tulus. "Ulang tahun...? Tapi itu sudah lewat tiga hari lalu. Kita kan sibuk misi stabilisasi server..."
"Anggap saja ini perayaan tertunda," kata Kai sambil tersenyum, muncul dari balik semak bunga dengan sebuah kotak kado kecil yang dibungkus kertas daur ulang bertekstur kasar namun artistik. "Kami nggak bisa ngerayain pas harinya karena kita sibuk ngejar hacker di Sektor 7. Jadi, kami putuskan buat ngerayain sekarang, di tempat paling indah di Neo-Solara. Tempat di mana kamu bisa melihat seluruh dunia di bawah kakimu."
Raka, yang berdiri sedikit di belakang, merasa jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat menghadapi musuh di medan perang. Di saku jas putihnya, dia menggenggam sebuah benda kecil. Hadiah dari dia. Bukan sesuatu yang mahal, bukan teknologi canggih, tapi sesuatu yang dibuat dengan tangan, keringat, dan hati. Tangannya yang kadang bergetar karena 'glitch' internalnya, kali ini stabil karena fokusnya sepenuhnya pada momen ini.
Elara mendekati kue itu, matanya berkaca-kaca. Cahaya lilin memantul di pupilnya, membuatnya terlihat seperti bintang hidup. "Kalian... kalian ingat? Padahal aku sendiri hampir lupa karena sibuk di medis..."
"Mana mungkin kami lupa," kata Bimo sambil cengengesan, matanya menyipit bahagia. "Siapa lagi yang bakal marah-marah kalau kita makan mie goreng pakai sambal terlalu banyak kalau bukan dokter cantik kita? Siapa lagi yang nyuntik kita kalau kena virus digital? Kamu nyawa tim ini, El."
Mereka tertawa. Suara tawa mereka bergema lembut di antara bunga-bunga raksasa, menciptakan harmoni yang sempurna dengan desau angin. Elara meniup lilin-lilin itu, membuat wish singkat dalam hati, lalu memotong kue. Mereka duduk melingkar di atas rumput sintetis yang lembut, berbagi potongan kue, bercerita tentang hal-hal sepele, dan menikmati ketenangan yang jarang mereka dapatkan. Rasa cokelat manis meleleh di lidah, bercampur dengan rasa haru yang hangat di dada.
Setelah kue habis, Kai menyerahkan kotaknya. "Ini dari kami bertiga. Buka deh."
Elara membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat kalung perak sederhana. Liontinnya berbentuk unik: sebuah fajar kecil yang sedang terbit, dengan detail ukiran yang sangat halus dan presisi tinggi.
"Ini... indah banget," bisik Elara, memegang liontin itu erat-erat. Jari-jarinya menelusuri lekukan logam dingin itu. "Terima kasih, Kai. Terima kasih, Bim."
"Itu desain Kai, aku yang bikin rangkainya," kata Bimo bangga, meski ada bekas plester di jarinya. "Susah banget ngukir logam sekecil itu tanpa alat laser industrial, tapi demi El, aku rela jari-jariku kapalan. Kai bilang, fajar itu simbol harapan baru. Harapan setelah malam gelap yang panjang."
Elara tersenyum, air mata kebahagiaan mulai menggenang di sudut matanya. Lalu, dia menoleh pada Raka. Tatapannya lembut, penuh tanya. "Kalau kamu, Rak? Kamu nggak kasih kado?"
Suasana hening sejenak. Burung-burung mekanik kecil yang hinggap di dahan pohon sakura berhenti berkicau, seolah ikut menahan napas. Raka melangkah maju, wajahnya sedikit gugup, pipinya merona tipis. Dia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari saku dadanya. Kotak itu sederhana, bahkan terlihat agak usang dibandingkan kemasan hadiah Kai dan Bimo yang rapi.
"Aku... aku nggak jago bikin barang estetik kayak Kai," kata Raka pelan, suaranya serak, sedikit parau karena emosi. "Dan aku nggak punya uang banyak buat beli perhiasan berlian atau kristal Aetheria. Tapi... aku mau kasih ini. Sesuatu yang cuma bisa aku berikan."
Dia membuka kotak itu. Di dalamnya, terdapat sebuah liontin lain, terbuat dari potongan logam bekas selongsong peluru energi tipe lama yang telah dipoles hingga mengkilap seperti cermin. Bentuknya kasar, tidak sempurna, tidak simetris, tapi ada ukiran tangan di sana yang sangat dalam dan telaten: inisial R dan E yang saling terkait erat, dikelilingi oleh lingkaran kecil yang melambangkan perisai atau perlindungan abadi.
Elara menatapnya, bingung sejenak. "Ini...?"
"Ini... ini dari selongsong peluru pertama yang berhasil aku tepis dengan perisai energiku saat kita pertama kali bertemu di reruntuhan Sektor 4," jelas Raka, matanya menatap Elara dengan intensitas yang membakar, penuh kenangan. "Waktu itu, kamu masih baru di tim. Kamu takut. Tapi kamu tetap maju untuk merawat korban. Peluru itu seharusnya mengenai kamu, tapi aku menahannya. Aku simpan selongsongnya selama ini. Aku poles setiap malam setelah misi, sampai licin. Sampai bersih. Bagi orang lain, ini cuma sampah perang. Sisa kekerasan. Tapi bagiku... ini adalah awal dari segalanya. Awal dari aku mengenal kamu. Awal dari aku sadar bahwa ada seseorang yang worth fighting for."
Elara terdiam. Napasnya tertahan. Air matanya jatuh, menetes ke atas logam dingin itu, membasahi ukiran inisial mereka. Dia mengambil liontin itu, merasakan beratnya, merasakan sejarah di baliknya. Logam itu dingin, tapi terasa hidup di telapak tangannya. Ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah simbol perjuangan, perlindungan, dan cinta yang tumbuh di tengah medan perang, di antara debu dan darah. Ini adalah bukti bahwa Raka selalu menjaganya, bahkan sejak detik-detik pertama mereka bertemu.
"Rak..." isak Elara, suaranya pecah, bergetar hebat. "Ini... ini hadiah terbaik seumur hidupku. Lebih berharga dari segala emas di Aetheria."
Dia segera mengenakan kalung itu, membiarkan liontin logam kasar itu rests against her collarbone, right above her heart, tepat di atas detak jantungnya yang cepat. Logam itu terasa hangat, seolah menyerap panas tubuh Raka yang baru saja melepaskannya, seolah ada sisa jiwa Raka di dalamnya.
Elara bangkit, memeluk Raka erat-erat. Pelukan itu kuat, penuh rasa syukur, cinta, dan keterikatan yang tak terbendung. Raka membalas pelukan itu, menutup matanya, menghirup aroma rambut Elara yang wangi lavender. Di momen itu, dia ingin waktu berhenti. Dia ingin dunia ini tidak pernah bergerak maju. Karena dia tahu, semakin lama dia bersama Elara, semakin sakit rasanya ketika dia harus pergi nanti. Setiap detik kebersamaan adalah harta yang akan dia rindukan selamanya.
Aku juga berharap begitu, El, batin Raka, air matanya hampir jatuh, tapi dia menahannya. Dia tidak boleh menangis. Dia harus kuat untuknya. Tapi waktu adalah musuh terbesar kita. Dan aku harus memastikan bahwa ketika waktu itu datang... kamu akan tetap kuat tanpaku. Kamu akan tetap bersinar.
Di bawah cahaya bulan buatan dan bunga-bunga berpendar, dua kekasih itu berpelukan, dikelilingi oleh sahabat-sahabat mereka yang tersenyum haru, menghapus air mata mereka sendiri. Momen itu sempurna. Manis. Dan menghancurkan hati bagi siapa saja yang tahu rahasia di balik senyum Raka yang sedikit pucat.
Hadiah itu bukan hanya simbol cinta. Itu adalah janji perpisahan yang terselubung. Sebuah kenangan fisik yang akan bertahan jauh setelah pemiliknya tiada. Sebuah pengingat bahwa cinta mereka lahir dari perang, dan mungkin, akan diuji oleh perang yang lebih besar lagi.
Elara melepaskan pelukan, menatap Raka lekat-lekat, jari-jarinya menyentuh liontin di lehernya. "Aku janji, Rak. Aku akan jaga ini. Selamanya."
Raka tersenyum, senyum yang paling lembut dan paling sedih yang pernah dia berikan. "Aku juga, El. Selamanya."
Dan di kejauhan, di balik awan-awan tebal, guruh halus terdengar, tanda badai yang sedang berkumpul. Tapi di taman itu, untuk saat ini, hanya ada cinta yang mekar lebih indah dari bunga-bunga neon di sekeliling mereka.
Bersambung...