Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musibah
Malam ini, tanpa dipanggil pun Daniela sudah turun dari kamarnya menuju ruang makan. Di situ Bi Ita dan Aisyah masih sibuk mempersiapkan dan menata meja makan.
"Malam semua..." sapa Daniela ceria.
"Non, selamat malam. Maaf ya Non, sebentar lagi siap," kata Bi Ita, lalu menarik kursi dan mempersilakan Daniela duduk.
"Terima kasih."
Daniela melirik pada Aisyah yang memperhatikannya dari atas sampai bawah dengan wajah yang masih terlihat cemberut.
"Kamu kenapa, Aisyah?"
Aisyah langsung membuang wajah, tapi raut wajahnya tak berubah.
"Dasar perempuan murahan! Mau makan aja harus pake baju seksi." Rutuk Aisyah dalam hatisambil mencibir. Padahal Daniela hanya memakai rok celana pendek sebatas paha dan atasannya juga cukup sopan.
"Saya tidak kenapa-napa."
"Tapi bibir kamu kok gitu. Coba ambil meteran terus ukur tuh, berapa senti panjangnya!"
Aisyah hanya mendengus pelan, menahan diri agar tidak meledakkan emosinya. Ia segera berbalik menuju dapur untuk mengambil makanan yang belum diangkut ke meja makan.
"Bi ini sudah semua?" Tamya Aisyah pada Bu Ita yang baru saja menuangkan masakan terakhirnya pada sebuah piring saji.
"Iya Ai, tapi biar bibi saja yang membawanya ke meja makan. Kamu toling bikinkan jus jeruk saja. Tadi Non Daniela bilang ingin minuman yang segar,"
Mendapat perintah seperti itu, tiba-tiba bibir Aisyah menyeringai. Refleks tangannya meraba saku celemek dari luar, hanya untuk memastikan, barang pemberian Selina masih ada di situ. Ia pun segera membuatkan jus yang diminta. Lalu memastikan tak ada orang yang melihatnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena tegang, ia merogoh saku celemeknya. Sebuah botol kecil berisi cairan bening pemberian Selina ia keluarkan.
Ia menuangkan seluruh isi botol itu ke dalam gelas jus jeruk yang baru saja ia peras. Setelah memastikan cairan itu larut sempurna dan tidak mengubah warna maupun aroma minumannya, Aisyah menarik napas panjang untuk menetralkan wajahnya.
"Ini jusnya," ucap Aisyah saat kembali ke ruang makan. Ia meletakkan gelas itu tepat di hadapan
"Wah, makasih ya. Tumben baik," goda Daniela sambil meraih gelas tersebut.
Aisyah hanya menunduk, mencoba menyembunyikan senyum licik yang nyaris terkembang di bibirnya. Ia berdiri di sudut ruangan, berpura-pura merapikan serbet sambil terus memperhatikan Daniela melalui sudut matanya.
"Segar banget!" puji Daniela setelah meminum jus itu hampir setengahnya.
Dalam hati, Aisyah bersorak penuh kemenangan. Ia tahu tidak akan lama lagi keangkuhan Daniela akan runtuh, dan wanita itu akan mendapatkan balasan yang setimpal atas semua perlakuannya selama ini.
"Silakan dihabiskan, Non. Biar badannya makin segar," sahut Aisyah pelan, suaranya terdengar begitu manis namun mengandung arti yang mematikan.
Daniela kembali meneguk minumannya tanpa curiga sedikit pun, sementara dari arah tangga, terdengar langkah kaki Darren yang mulai mendekat menuju ruang makan.
Darren muncul dengan langkah tegap, mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. Ia langsung duduk di kursi utama tanpa menyapa siapa pun. Matanya sempat melirik sekilas ke arah gelas jus jeruk di tangan Daniela yang sudah berkurang setengah.
"Makanannya sudah siap, Tuan," ujar Bi Ita dengan sopan.
Daniela meletakkan gelasnya. Ia menatap deretan lauk-pauk di depannya dengan mata berbinar. Ada ayam goreng, sambal terasi, dan sayur asem yang aromanya sangat menggoda selera.
"Wah, mantap nih Bi Ita masakannya. Tahu aja kalau aku lagi lapar berat," puji Daniela sambil mulai mengambil nasi forsi jumbo menurut ukurannya. Padahal kalau buat orang yang rakus panlingan forsi segitu cuma untuk berapa suap saja.
Aisyah yang masih berdiri di dekat meja samping terus memperhatikan gerak-gerik Daniela. Jantungnya berdegup kencang, menanti reaksi dari cairan ajaib yang sudah ia racik di dapur tadi.
"Semangat banget, kaya seumur hidup baru nemu makanan lezat saja." Sindir Darren dingin melihat cara Daniela menyuap makanan dengan begitu bersemangat.
"Biarin aja. emang makanannya enak kok. Kan sayang kalau tidak dinikmati," sahut Daniela cuek tanpa menghentikan suapannya.
Suasana ruang makan menjadi hening, hanya terdengar denting sendok dan garpu. Darren makan dengan tenang dan teratur, sementara Daniela makan dengan penuh selera, sesekali menambah sambal ke piringnya.
Namun, baru saja beberapa suapan besar masuk ke perutnya, raut wajah Daniela tiba-tiba berubah. Ia terdiam sejenak, memegang perutnya yang mendadak terasa seperti diremas-remas.
"Kamu kenapa?" tanya Darren yang menyadari perubahan ekspresi Daniela.
"Makanya tadi aku bilang apa? Makan sembrono kaya gitu. Usus kamu kaget."
Daniela tidak menjawab. Ia mengernyitkan dahi, mencoba menahan gejolak aneh yang muncul begitu cepat dan terasa sangat hebat. Ada suara gemuruh kecil yang mulai terdengar dari dalam perutnya.
"Daniela?" panggil Darren lagi.
Seketika Daniela bangkit dari duduknya hingga kursinya bergeser kasar. Tanpa mempedulikan sopan santun atau tatapan heran dari Darren dan Bi Ita, ia langsung melesat lari meninggalkan meja makan.
"Daniela! Kamu mau ke mana?" teriak Darren bingung.
Daniela tidak menyahut. Ia terus berlari sekuat tenaga menaiki anak tangga menuju kamarnya. Pikirannya hanya satu: mencapai kamar mandi secepat mungkin sebelum pertahanannya runtuh.
Aisyah yang melihat pemandangan itu harus mati-matian menahan diri agar tidak tertawa. Ia berpura-pura sibuk merapikan serbet sambil melirik Bi Ita yang tampak cemas.
"Mungkin Non Daniela salah makan, Tuan," celetuk Aisyah pelan dengan nada yang dibuat seolah prihatin, padahal hatinya sedang bersorak kemenangan melihat Daniela yang kocar-kacir.
"Bukan salah makan, tapi cara makannya yang grasak-grusuk." Timpal Darren. Ia pun jadi kehilangan selera makannya dan malas untuk melanjutkan.
"Tolong bereskan saja Bi, aku sudah selesai."
Bi Ita mengangguk, masih dengan raut wajah yang masih terlihat cemas.
"Biar aku yang beresin mejanya, Bi." Aisyah maju mendekati meja makan. Cepat-cepat ia mengamankan gelas bekas jus jeruk itu dan langsung membawanya ke dapur. Lalu segera mencucinya.
***
Sementara itu Daniela tidak memiliki waktu untuk sekadar bernapas lega. Baru saja ia merasa urusannya di kamar mandi selesai dan hendak melangkah keluar dengan kaki lemas, perutnya kembali memberikan sinyal "darurat" yang lebih hebat dari sebelumnya.
"Aduh... gila... ini beneran disiksa gue," rintihnya sambil kembali mendekam di dalam toilet.
Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Wajahnya yang tadi segar dan penuh rona saat makan malam, kini berubah pucat pasi. Daniela mencengkeram pinggiran wastafel dengan tangan gemetar, merasakan perutnya seperti sedang diperas-peras oleh tangan tak terlihat.
Ia mencoba mengingat-ingat apa yang salah. Sambal Bi Ita? Rasanya tidak mungkin secepat ini bereaksi. Tapi gejolak di perutnya ini benar-benar tidak normal. Setiap kali ia merasa sudah tuntas, hanya dalam hitungan detik rasa melilit itu datang lagi, lebih menyakitkan dari sebelumnya.
"Sialan si gunung es itu... apa dia yang ngeracunin gue? Tapi apa alasannya?" gumam Daniela asal, saking kesalnya menahan sakit.
Sudah hampir satu jam ia bolak-balik keluar masuk kamar mandi. Kakinya terasa seperti jeli, lemas dan tak bertenaga. Akhirnya ia menyerah. Lalu duduk bersandar di pintu kamar mandi yang tertutup, memejamkan mata rapat-rapat sambil menekan perutnya yang masih terasa panas.
Badannya mulai menggigil karena dehidrasi dan tenaga yang terkuras.
"Run... tolongin gue... gue mau mati..." bisiknya lirih,
Perlahan tubuh Daniela merosot, ia meringkuk di lantai kamar mandi yang dingin, tak berdaya kareba tubuhnya sudah benar-benar tak bertenaga.
Di tengah antara sadar dan tidak, sayup-sayup terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Tapi Daniela hanya bisa diam. Untuk berteriak pun sudah tak ada tenaga.
Di luar kamar, Bi Ita yang mengetuk pintu semakin khawatir. Daniela tak juga membukanya. Karena takut terjadi apa-apa, ia pun segera beranjak ke depan kamar Darren dan mengetuk pintunya.
"Tuan... Tuan Darren, tolong buka pintunya..."
Tak berapa lama pintu kamar Darren terbuka. Pria itu berdiri di sana dengan dahi berkerut. Wajahnya mengeras karena merasa terganggu, waktu istirahatnya diusik. Ia sudah mengenakan kaus santai, terlihat baru saja hendak memejamkan mata.
"Ada apa, Bi? Kenapa teriak-teriak malam begini?" tanya Darren datar.
"Itu Tuan... Non Daniela. Sepertinya dia sakit," jawab Bi Ita dengan suara gemetar.
"Tadi saya mengetuk-ngetuk pintu kamarnya tapi tak ada sahutan sama sekali. Saya takut terjadi apa-apa, Tuan. Wajahnya tadi di meja makan juga sudah terlihat seperti kesakitan."
"Masa sih Bi? Dia kan iseng orangnya."
Bi Ita menggeleng cepat. Dia yakin kalau saat ini Daniela benar-benar sedang kesakitan.
Tanpa berkata-kata lagi, Darren melangkah lebar menuju kamar Daniela. Sesampainya di depan pintu, ia mencoba memutar kenopnya, namun terkunci dari dalam.
"Daniela! Buka pintunya!" Darren menggedor pintu itu cukup keras.
Nihil. Tidak ada suara sahutan, hanya keheningan yang mencekam.
"Bi, tolong ambilkan kunci cadangan!"
"Ini Tuan, sudah saya sediakan."
Bi Ita memberikan kunci itu. Tanpa menunggu lama, Darren memasukkan anak kunci ke lobangnya.
Cklek.
Pintu terbuka. Kamar itu tampak berantakan, lampu kamar mandi masih menyala terang. Darren melangkah masuk dan langsung menuju sumber cahaya itu. Matanya membelalak saat melihat Daniela sudah meringkuk di lantai kamar mandi yang dingin.
"Daniela!" Darren segera berlutut dan mengangkat bahu gadis itu. Tubuh Daniela terasa dingin dan basah oleh keringat dingin.
Daniela membuka matanya sedikit, menatap Darren dengan pandangan kabur dan sayu. "Tolong... perut aku... rasanya mau meledak..." bisiknya sangat lirih sebelum kepalanya terkulai lemas di lengan Darren.
Darren menoleh ke arah Bi Ita yang berdiri ketakutan di ambang pintu.
"Bi, ambilkan air hangat dan selimut tebal sekarang! Lalu hubungi dokter pribadi saya, suruh dia ke sini sekarang juga! Katakan ini darurat!"
"Baik, Tuan!" Bi Ita berlari pergi dengan tergesa-gesa.
Darren kemudian mengangkat tubuh Daniela yang terasa sangat ringan ke dalam dekapannya, membawanya ke atas ranjang dengan hati-hati. Saat menyelimuti tubuh yang menggigil itu, Darren menatap wajah pucat Daniela. Perasaannya tak menentu. Tapi ia masih mendekapnya erat untuk memberikan kehangatan, karena tubuh Daniela masih menggigil.
Di kejauhan koridor lantai dua, Aisyah mengintip dari balik pilar dengan jantung berdebar. Ia tidak menyangka reaksinya akan separah ini sampai melibatkan dokter pribadi Darren. Rasa puasnya kini mulai berganti dengan ketakutan jika sampai jejaknya terendus oleh sang majikan, bagaimana?
kak jgn jahat2 sama Daniela yx kak ,,
lgi hamil looo dy ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
para readers tercinta, jika buku induk ada kesamaan dengan buku lain, mohon jangan nge-judge ini plagiat ya. otor bersumpah demi apapun tak ada plagiat karena sudah merasakan bagaimana rasanya di-plagiat-n. mungkin hanya kesamaan beberapa part aja.
terimakasih 🙏🫶
bayinya gimana Thor nasibnya 🫣😭😭
🤭🤭🤭🤭🤭
next kak
lanjut