NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tamparan

Jam kosong. Tidak ada guru yang masuk. Sebagian siswa memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas, tidur, atau sekadar bercanda dengan teman. Alessandra memilih untuk membaca buku sejarah Ateris di bangkunya, sesekali mencatat hal-hal penting di buku catatan kecil.

Dia sudah pindah tempat duduk ke sudut kelas setelah insiden di kantin. Bukan karena takut karena Valeria Alessandra tidak mengenal rasa takut tapi karena dia muak melihat wajah Saskia dan Fiona yang pura-pura baik.

Sekarang dia duduk di barisan paling belakang, dekat jendela. Angin sore masuk pelan, menerbangkan sedikit rambutnya yang terikat pita merah.

Mutiara dan Laras duduk di sampingnya, ikut membaca meskipun sebenarnya mereka lebih banyak mengamati Alessandra dari sudut mata.

Krak.

Pintu kelas terbuka lebar.

Bukan satu orang. Lima orang.

Di depan, Raka dan Riko si kembar Sunjaya, 18 tahun, tampan dengan postur atletis. Di belakang mereka, tiga teman dekatnya: Arga (berambut pirang spike), Bima (ganteng dengan piercing di alis), dan Cakra (berbadan besar, bekas anggota klub beladiri). Mereka semua adalah siswa populer. Most wanted di sekolah. Anak-anak keluarga kaya yang terbiasa mendapatkan apa pun yang mereka mau.

Dan sekarang mereka berjalan menuju ke bangku Alessandra.

Sepatu-sepatu mahal berbunyi keras di lantai marmer.

Tap. Tap. Tap.

Suasana kelas berubah. Semua siswa menoleh. Bisik-bisik mulai terdengar.

"Wah, si kembar datang."

"Ada apa lagi?"

"Awas, kelihatannya mereka marah."

Alessandra tidak menengadah. Matanya tetap pada buku, jarinya tetap mencatat. Dia sudah tahu sejak lima langkah pertama dari intensitas hentakan kaki, dari getaran udara yang menandakan bahwa mereka datang dengan amarah.

Bam!

Telapak tangan Raka membanting meja Alessandra.

Buku dan pulpen terpental sedikit. Kacamatanya bergeser tapi dia tidak terkejut.

"Vale!"

Suara Riko, si kembar satunya, terdengar keras. Wajahnya merah menahan emosi.

"Lo berani banget bikin Siska nangis di kantin! Siapa elo, hah? Baru pindah, udah bikin onar!"

Alessandra pelan menutup bukunya. Dia tidak berdiri. Matanya yang coklat terang menatap Raka dan Riko dengan ekspresi yang... kosong. Tidak takut. Tidak marah. Hanya kosong.

"Saya tidak membuat siapa pun menangis," jawabnya datar. "Mungkin air matanya bocor karena terlalu banyak kepalsuan atau belum di lem pakai notrop no bocor bocor ya."

"KURANG AJAR!" Raka mengangkat tangan kanannya telapak terbuka, siap menampar.

Kelas terkesiap. Mutiara dan Laras berteriak.

"Jangan!"

Tapi tangan Raka tidak pernah sampai ke pipi Alessandra.

Slap! Plak!

Suara tamparan memekakkan telinga.

Tapi bukan Alessandra yang kena.

Raka yang kena.

Tangannya yang terangkat tertahan di udara, dan di pipi kirinya terbentuk bekas merah segar. Mata Raka membelalak, tidak percaya. Seluruh kelas terdiam. Bahkan Riko terpaku di tempat.

Alessandra masih duduk. Wajahnya masih datar. Tapi tangan kanannya, tangan yang tidak pernah dia gunakan untuk kekerasan kecuali dalam pertarungan mafia kini terulur ke depan, setelah melayangkan tamparan balasan dengan kecepatan yang tidak manusiawi.

Gesit. Cepat. Tanpa ampun.

"lo... lo tampar gue?" Raka memegang pipinya. Matanya semakin amarah.

"Siapa yang suruh angkat tangan ke saya?" jawab Alessandra dingin, sambil merapikan kacamatanya yang sedikit miring. "Saya hanya membela diri. Dan omong-omong, tamparan saya lebih cepat dari tamparan kakak. Mungkin kakak perlu latihan refleks."

Arga, Bima, dan Cakra maju selangkah, mengepung meja Alessandra. Arga menunjuk wajahnya.

"Lo cewek sinting, ya? Berani-beraninya lo lawan Raka!"

"Raka itu most wanted di sekolah ini! Lo pikir lo siapa?"

"Lo masuk sini, bikin masalah sama Fiona, bikin Siska nangis, sekarang tampar Raka? Lo cari mati, Vale!"

Alessandra berdiri pelan.

Tingginya 170 cm cuman beda beberapa cm dari sikembar namun dengan intimidasi? Tentu saja Valeria pemenangnya, Dia menatap Arga dari ketinggian, dengan tatapan yang membuat Arga mundur selangkah tanpa sadar.

"Saya tidak mencari masalah. Masalah yang mencari saya. Dan untuk kalian yang suka mengancam..."

Dia merapikan kacamatanya sekali lagi.

Gesit. Anggun. Mematikan.

"Silakan coba. Tapi ingat, yang pertama bergerak akan menerima tamparan kedua."

"Kakak, jangan!"

Suara cempreng membuat semua orang menoleh.

Saskia berdiri di pintu kelas. Wajahnya pucat, matanya merah bekas menangis. Rambutnya sedikit acak-acakan, pita putihnya miring.

Dia berlari kecil mendekati kerumunan, dan dengan tubuh mungilnya yang 158 cm, dia berusaha berdiri di antara Raka dan Alessandra.

"Kakak Raka, Kakak Riko, jangan marahi Kakak Vale!"

Suaranya bergetar, seperti orang yang sangat ketakutan.

Alessandra melihat Saskia. Benar-benar melihatnya. Dan dia melihat apa yang dilakukan gadis cilik ini.

Berpura-pura membela, tapi sebenarnya memperburuk situasi.

"Kak, Kakak Vale tidak salah," sambung Saskia sambil menunduk, air mata menetes. "Saya hanya... hanya sedikit sedih tadi. Karena Kakak Vale masih belum akrab sama saya. Itu wajar. Saya yang terlalu sensitif. Jadi jangan marahi Kakak Vale..."

Raka mengepalkan tangan. "Siska, lo lihat pipi gue! Dia tampar gue!"

"Kakak Raka salah karena mau memukul duluan," balas Saskia cepat, dengan nada takut-takut. "Kakak Vale hanya membela diri..."

Tapi matanya... matanya melirik ke arah Alessandra.

Dan untuk sepersekian detik, Alessandra melihat sesuatu di sana.

Bukan ketakutan.

Bukan pembelaan.

Tapi... provokasi.

"Lihat, aku baik. Aku membelamu. Tapi semua ini tetap salahmu."

Alessandra hampir meludah.

Bukan karena kebiasaan tapi karena rasa muak yang menumpuk di tenggorokannya.

Dasar rubah. Pura-pura suci di depan orang banyak, tapi racun di belakang.

Dia menahan diri. Sepuluh bintang di dalam tubuhnya berdenyut, api di bintang pertama membara, ingin meledak. Kegelapan di bintang ketiga merambat, ingin membungkus Saskia dalam mimpi buruk yang tidak pernah berakhir.

Sabar, ucapnya pada dirinya sendiri. Kamu bukan Alessandra di sini. Kamu Allegra. Manusia biasa yang tidak punya kekuatan.

Tapi kesabarannya ada batasnya.

"Sudah cukup," ucap Alessandra dengan suara yang sedingin es Arktik. "Saya tidak butuh pembelaan dari orang yang pura-pura takut."

Saskia tersentak. Wajahnya berubah hanya sesaat sebelum kembali ke ekspresi sedihnya. "Kakak... saya hanya..."

"Dan kalian," Alessandra menatap Raka, Riko, dan teman-teman mereka satu per satu. "Kalian populer. Most wanted. Keluarga terkaya nomor dua di Indonesia. Saya tahu. Tapi itu tidak membuat kalian berhak menggebrak meja saya dan mengancam saya."

Dia melangkah maju.

Satu langkah.

Raka mundur selangkah.

"Karena jujur saja," lanjut Alessandra dengan nada meremehkan. "Keluarga Sunjaya? Saya sudah cukup muak dengan nama itu. Seumur hidup saya, keluarga itu tidak pernah memperkenalkan saya kepada siapa pun. Saya anak yang dilupakan. Bahkan di sekolah ini, tidak ada yang tahu kalau saya adalah anak keempat Sunjaya."

Bisik-bisik kembali terdengar.

"Maksudnya dia anak keluarga Sunjaya?"

"Iya, adiknya si kembar."

"Tapi kok nggak pernah dikenalin?"

"Dasar keluarga aneh."

Raka tergagap. "Lo... lo diam, Vale!"

"Tidak," jawab Alessandra tegas. "Saya sudah diam selama 17 tahun. Cukup. Sekarang saya bicara, dan kalian semua akan mendengar."

Dia melirik Saskia yang masih menangis pura-pura.

"Dan untuk Siska adik angkat yang baik hati, yang begitu peduli padaku dan tolong berhenti berpura-pura. Air matamu palsu. Suara takutmu palsu. Semua yang kau lakukan hanya untuk membuatku terlihat buruk di mata orang lain."

Saskia terhenti. Tangisnya... berhenti tiba-tiba. Seperti keran yang dimatikan.

"Kakak... enggak..."

"Jangan panggil kakak, ibu saya gak pernah melahirkan anak perempuan lain selain saya."

Alessandra mengambil bukunya, merapikan tas, dan berjalan menuju pintu kelas.

Belum sempat dia melangkah keluar, Riko menghadang.

"Lo belum selesai, Vale."

"Pindah," ucap Alessandra dengan satu kata.

"Gue bilang—"

"Pindah, atau kau akan menerima tamparan kedua."

Riko tidak bergerak.

Alessandra menghela napas. Jari telunjuknya menyentuh kacamata, merapikannya pelan tanda terakhir sebelum badai.

"Riko Sunjaya," ucapnya dengan suara pelan namun penuh ancaman. "Kau tahu, aku sangat bisa menahan diri sekarang. Karena kalau tidak, satu ruangan ini sudah rata dengan tanah. Tidak ada yang tersisa termasuk kau, Saskia, dan semua orang yang berani meremehkanku. Jadi aku ulangi: pindah. "

Ada sesuatu di suaranya. Sesuatu yang membuat bulu kuduk Riko berdiri. Bukan sekadar amarah. Tapi keyakinan absolut bahwa dia benar-benar bisa melakukan apa yang dia katakan.

Tanpa sadar, Riko bergeser ke samping.

Alessandra berjalan keluar.

Sepatu pantofel hitamnya berbunyi tap tap tap di koridor perlahan, tegap, tidak terburu-buru.

Dia tidak menoleh ke belakang.

Tapi di dalam hatinya, dia sudah membuat catatan:

Saskia: provokator ulung. Harus diwaspadai.

Raka & Riko: bodoh, mudah dimanipulasi. Bisa dijadikan alat nanti.

Arga, Bima, Cakra: pengikut. Tidak penting.

Dan dia hampir saja... hampir saja... meludah di lantai kelas itu sebagai simbol rasa muaknya.

Tapi dia tidak. Karena dia Valeria Alessandra. Bukan preman pasar.

Tapi oh, andai saja dia tidak perlu menyamar... semua orang yang merusak pandangannya hari ini sudah terbakar menjadi abu.

Sabar, Ale. Sabar.

Dendam adalah hidangan yang paling nikmat disajikan dingin.

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!