Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Bab 27 Gaun Pesta Ini Buatku
Bara berdiri dari sofa, melangkah dengan tenang mendekati Andi. Tangan kirinya menepuk pundak pria itu dengan ramah namun tetap berwibawa. Setelah Andi kembali tegak dari bungkukannya, Bara menyodorkan tangan untuk bersalaman.
"Bagaimana kabar Anda, Pak Andi?" tanya Bara dengan nada suara yang hangat.
"Baik, Pak Bara. Sangat baik," jawab Andi sambil menjabat tangan Bara dengan erat namun penuh rasa hormat. "Seharusnya saya yang menanyakan kabar Anda, Pak. Saya jadi merasa tidak enak hati karena Anda harus menunggu sebentar tadi."
Bara terkekeh pelan sembari melepaskan genggamannya. "Aduh, tidak usah berlebihan, Pak Andi. Kabar saya baik." Ia kemudian menoleh ke arah istrinya dan memberikan isyarat agar Renata mendekat. "Oh ya... kenalkan, ini istri saya."
Renata bangkit dari sofa, ia memberikan senyum sopan dan mengangguk pelan. "Renata," ucapnya memperkenalkan diri.
"Andi... Salam kenal, Bu Renata. Suatu kehormatan bagi kami Bu Renata berkenan mengunjungi butik ini," jawab Andi dengan nada yang sangat terjaga. Ia kemudian mempersilakan keduanya untuk kembali duduk di sofa empuk ruang private tersebut.
Andi mulai membuka percakapan dengan nada yang sedikit lebih serius, menunjukkan profesionalitasnya sebagai manajer yang menangani klien kelas atas. "Bagaimana Pak Bara, ada yang bisa saya bantu untuk carikan model terbaru? Kami baru saja menerima beberapa koleksi eksklusif dari Paris yang bahkan belum kami pajang di etalase depan."
Bara menyandarkan punggungnya, satu tangannya merangkul bahu Renata dengan posesif. Ia terdiam sejenak sebelum memberikan jawaban yang seketika membuat mata Renata membelalak tidak percaya.
Bara menyandarkan punggungnya ke sofa kulit yang empuk, satu tangannya merangkul bahu Renata dengan posesif, seolah menegaskan kepemilikan di depan Andi. Ia terdiam sejenak, menatap deretan koleksi di balik kaca sebelum memberikan jawaban yang seketika membuat mata Renata membelalak tidak percaya.
"Saya ke sini mau gaun cantik untuk istri saya," ucap Bara dengan nada tenang namun tak terbantahkan. "Dan saya mau gaun rancangan desainer utama, bukan koleksi ready-to-wear biasa."
Renata tersentak hebat. Jantungnya berdegup kencang karena rasa bingung yang luar biasa. Padahal, saat di dalam mobil tadi, suaminya dengan jelas mengatakan ingin membeli pakaian baru untuk dirinya sendiri. Kenapa sekarang justru keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat?
"Tapi, Mas... bukannya tadi kamu yang mau beli—"
"Sstt..." potong Bara cepat sebelum Renata menyelesaikan kalimatnya. Ia menoleh ke arah istrinya, menatapnya dengan pandangan yang dalam namun penuh otoritas. "Sudah, kamu diam saja. Duduk manis di sini dan jangan bicara. Biar aku yang atur semuanya."
Andi, yang menangkap sinyal perintah itu, segera mengangguk patuh. "Baik, Pak Bara. Saya mengerti. Kebetulan kami baru saja menyelesaikan satu masterpiece gaun malam dengan detail sutra murni dan kristal halus yang sangat cocok untuk postur tubuh Bu Renata. Saya akan minta tim untuk membawanya ke sini sekarang juga."
Renata hanya bisa terdiam membeku, tangannya meremas ujung blusnya sendiri. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya karena perhatian Bara, namun di sisi lain, ia merasa suaminya ini semakin sulit ditebak. Kenapa tiba-tiba Bara ingin menghujaninya dengan kemewahan setelah semua ketegangan yang terjadi belakangan ini? Apakah ini bentuk permintaan maaf yang terselubung, atau ada sesuatu yang sedang Bara sembunyikan darinya?
Andi segera bangkit dan melangkah keluar dari ruangan private dengan sigap. Di area depan, ia memberikan isyarat kepada dua pelayan wanita untuk segera mendekat. "Kalian berdua, ikut saya sebentar ke ruang koleksi khusus," perintahnya dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Salah satu pelayan yang tadi pertama kali menyambut Bara ikut mengekor di belakang Andi dengan perasaan berdebar. Begitu pintu ruang koleksi khusus dibuka, mereka disambut oleh deretan manekin yang mengenakan gaun-gaun karya desainer ternama. Lampu sorot di ruangan itu membuat detail setiap jahitan tampak berkilau.
Pelayan itu sempat tertegun sejenak, matanya terpaku pada keindahan kain-kain yang tersampir indah; benar-benar mahakarya hasil tangan manusia yang tak bercela. Di sudut ruangan, berjajar pula berbagai baju adat pernikahan yang sangat megah, lengkap dengan payet-payet rumit yang memancarkan kesan sakral.
Andi mulai menyisir koleksinya dengan mata yang sangat teliti. Ia berhenti di depan sebuah gaun satin berwarna gelap yang memikat.
"Ini cocok. Kamu ambil yang ini," perintah Andi pada pelayan pertama.
Ia melangkah lagi, jemarinya menyentuh sebuah gaun dengan potongan A-line yang sangat anggun. "Ehm... yang ini... tampilannya mewah tapi tetap minimalis, sesuai dengan selera Pak Bara. Kamu bawa yang ini juga."
Andi terus berjalan hingga ke bagian paling eksklusif di ruangan itu. Matanya berbinar saat melihat sebuah gaun yang diletakkan di lemari kaca terpisah. Gaun itu tampak seperti terbuat dari ribuan serpihan mutiara yang ditenun menjadi kain.
"Nah, akhirnya ketemu!" gumam Andi puas. "Ini biar saya sendiri yang bawa. Gaun ini harus diperlakukan dengan sangat hati-hati."
Dengan masing-masing membawa koleksi terbaik di tangan, Andi dan kedua pelayan itu kembali menuju private lounge. Andi yakin, pilihan ini tidak akan hanya memuaskan mata Bara, tapi juga akan membuat Renata merasa seperti wanita paling istimewa di dunia malam ini.
Pintu private lounge terbuka perlahan, menampakkan Andi yang masuk diikuti dua pelayan di belakangnya. Kehadiran tiga manekin berjalan—atau begitulah kelihatannya karena keanggunan gaun-gaun yang dibawa—seketika menyita perhatian penuh Bara dan Renata.
Renata tertegun, matanya tak berkedip menatap detail payet dan tekstur kain yang tampak begitu halus di bawah lampu kristal ruangan. Dalam hatinya, ia menjerit kecil. Gila, ini sih harganya pasti jauh di atas UMR kota! Satu gaun saja mungkin bisa buat bayar kontrakan setahun, batinnya penuh kecemasan sekaligus kekaguman.
"Nah, ini dia tiga koleksi terbaru yang baru tiga harian mendarat di butik kami. Benar-benar pas sekali momennya dengan kedatangan Anda, Pak Bara," ujar Andi dengan nada bangga.
Bara menyunggingkan senyum tipis, matanya menilai setiap inci gaun tersebut. "Anda memang selalu pintar menarik perhatian saya, Pak Andi."
Andi hanya terkekeh sopan sambil merapikan letak manekin tersebut agar terkena cahaya lampu dengan sempurna. "Wajar saja, Pak Bara. Demi konsumen terhormat seperti Anda, tentu saya harus memilihkan yang terbaik. Saya rasa beberapa gaun ini akan tampak sangat cantik jika dikenakan oleh Ibu Renata."
"Oke, sudah, jangan terlalu banyak memuji saya," potong Bara sambil melambaikan tangan, meski raut wajahnya menunjukkan ia cukup terkesan. "Jadi, apa perbedaan dari ketiga gaun di depan saya ini, Pak Andi?"
Andi pun memulai presentasinya dengan sangat profesional. Ia berdiri di samping gaun pertama yang dibawa oleh pelayan.
"Baik, Pak Bara, Bu Renata. Gaun yang pertama ini adalah karya desainer lokal yang baru saja memenangkan penghargaan di Milan. Menggunakan bahan sutra organik dengan potongan sleek. Sangat cocok untuk tampilan yang modern," jelas Andi.
Kemudian Andi menunjukkan gaun yang kedua. "Sedangkan yang ini... adalah masterpiece musim ini. Fokusnya adalah pada keanggunan yang abadi. Bahannya jatuh dengan sangat indah, memberikan siluet yang ramping namun tetap terlihat sangat mewah."
Ia kemudian bergeser ke gaun terakhir yang lebih megah. "Dan yang terakhir ini, Pak Bara, Bu Renata... ini adalah koleksi Signature dari desaigner ternama yang karyanya sering dipakai oleh artis-artis internasional di red carpet. Gaun ini menggunakan bahan khusus yang ringan namun jatuh dengan sempurna, memberikan kesan mewah namun tidak berlebihan. Desaignernya sendiri yang mengerjakan detail bordir tangan di bagian pinggang ini."
Renata hanya bisa menelan ludah mendengar penjelasan itu. Nama-nama desaigner yang disebutkan Andi sering ia dengar di majalah fashion papan atas, dan kini, gaun-gaun itu berada tepat di depan matanya, menunggu untuk ia coba.
Andi tersenyum lebar, merasa presentasinya berhasil menyentuh selera sang pelanggan eksekutif. "Jadi, Pak Bara dan Bu Renata, dari ketiga gaun ini, pilihan yang terbaik menurut kalian yang mana?"
Tanpa ragu sedikit pun, Bara mengangkat telunjuknya dan menunjuk ke arah gaun terakhir—gaun mahakarya yang baru saja dijelaskan Andi. "Itu. Gaun yang sering dipakai artis-artis internasional itu. Dari modelnya, saya sangat tertarik. Terlihat elegan tapi punya karakter yang kuat."
Bara kemudian menoleh, menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan namun sarat akan tuntutan lembut. "Kamu juga suka, Sayang?"
Renata mengecap, lidahnya terasa sedikit kelu melihat kemewahan di depannya. "I-iya, Mas..." jawabnya ragu. Di dalam hatinya, ia menjerit cemas. “Aduh... bajunya cantik banget, tapi aku takut nggak cocok sama badan aku. Bagaimana kalau malah kelihatan aneh?”
"Yaudah kalau kamu suka, cobain sekarang. Jangan malu-malu, Sayang. Aku yakin pasti cocok sama kamu," ucap Bara lagi, kali ini nada suaranya lebih lembut, seolah berusaha mengusir keraguan yang terpancar dari wajah Renata.
"Eh... iya deh, Mas. Aku coba," sahut Renata akhirnya. Ia bangun dari sofa dengan langkah perlahan, mendekati manekin yang mengenakan gaun pilihan suaminya.
Andi dengan sigap segera melepaskan gaun itu dari manekin dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang memegang barang mudah pecah belah yang sangat rapuh. Setelah gaun itu terlepas, ia memberikan kepada pelayan di sampingnya dengan gerakan yang sangat khidmat. Pelayan itu kemudian membungkuk sopan ke arah Renata. "Mari, Bu, ikut saya ke ruang ganti agar saya bantu mengenakannya," ajaknya ramah.
Renata mengekor di belakang dengan perasaan campur aduk. Di dalam ruang ganti yang luas dan beraroma lavender itu, ia dibantu dengan sangat telaten. Kain dingin yang halus itu mulai membalut tubuhnya, mengikuti setiap lekuk dengan sempurna seolah gaun itu memang diciptakan hanya untuknya.
Sementara itu, di luar, Bara menunggu dalam keheningan yang tajam. Wajahnya yang serius seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang besar, hingga akhirnya suara geseran tirai memecah lamunannya.
Lima menit berlalu, Renata keluar. Ia melangkah dengan anggun, membiarkan ekor gaunnya menyapu lantai butik yang bersih. Bara seketika berdiri tegak. Matanya yang tadi dingin kini berbinar terang, memancarkan kekaguman yang tak bisa disembunyikan.
"Cantik... persis seperti pernikahan kita dulu," gumam Bara tanpa sadar.
Renata berdiri di depan cermin besar, memutar tubuhnya perlahan. "Gimana, Mas? Cocok gaunnya sama aku?" tanyanya ragu.
"Sumpah, Sayang, cocok banget!" Bara mendekat, mengitari tubuh Renata untuk memastikan setiap inci gaun itu duduk dengan sempurna. Ketegasannya kembali muncul. Ia menoleh pada sang manajer. "Udah, bungkus yang ini saja. Berapa totalnya, Pak Andi?"
Andi tersenyum kemenangan sambil menghitung di tabletnya. "Baik, Pak. Total harga gaun koleksi Signature ini sekitar 250 juta rupiah. Harga pas, tidak kurang."
Mendengar angka fantastis itu, Renata refleks menelan ludah. Jantungnya serasa mau copot. “Eh buset, ini mah bukan UMR kota lagi! Bisa buat beli satu rumah di kawasan kabupaten! Ampun... ampun... mahal banget cuma buat satu gaun doang,” jerit batinnya meronta.
Bara menyadari perubahan raut wajah istrinya, ia memegang pundak Renata lembut. "Gimana, Sayang? Kamu suka sama gaunnya? Nyaman dipakainya?"
Renata menjawab dengan nada bimbang, "Aku suka sih, Mas... tapi—"
"OKE, KALAU KAMU SUKA!" potong Bara cepat, suaranya menggelegar penuh kepuasan. "PAK ANDI! BUNGKUS SEKARANG JUGA!"
"Eh... Mas! Tapi harganya—" Renata mencoba protes, namun Bara hanya membalasnya dengan senyuman kemenangan.
"Mari, Bu, dilepas lagi gaunnya," ucap pelayan itu dengan sigap kembali membimbing Renata yang masih dalam kondisi syok akibat "serangan" belanja mendadak sang suami.
Satu gaun seharga rumah kini telah berpindah tangan, dan Bara tampak sama sekali tidak keberatan mengeluarkan nominal sebesar itu hanya untuk melihat senyum di wajah istrinya—atau mungkin, untuk menutupi rasa bersalah yang masih tersisa di hatinya.
Pelayan itu kembali dengan langkah ringan, menjinjing sebuah paperbag besar berbahan karton tebal dengan logo emas Nezora yang mengilat. Di dalamnya, gaun seharga ratusan juta itu telah terbungkus rapi dengan kertas krep wangi dan kotak eksklusif.
Bara tidak membuang waktu. Ia merogoh dompet kulitnya, lalu menyodorkan sebuah kartu ATM berwarna hitam legam dengan chip emas kepada Andi. "Ini kartu saya. Silakan diproses," ucapnya singkat.
"Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar," sahut Andi dengan nada yang sangat takzim. Ia memproses transaksi itu dengan cepat, seolah takut kehilangan momen melayani pelanggan sekelas Bara.
Setelah struk keluar dan ditandatangani, Andi mengembalikan kartu tersebut dengan kedua tangannya. "Terima kasih banyak atas kunjungannya, Pak Bara, Bu Renata. Semoga gaunnya membawa kesan yang indah."
Bara hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Ia mengambil alih paperbag besar itu dari tangan pelayan, seolah tak ingin beban seberat itu dibawa oleh Renata. Dengan tangan satunya, ia kembali merangkul pinggang istrinya, menuntunnya keluar dari keheningan butik yang mewah tersebut.
Cahaya matahari di tengah hari menyambut mereka begitu pintu kaca terbuka. Di bawah pendar lampu jalan, mobil mewah mereka sudah menunggu dengan gagah. Bara membukakan pintu untuk Renata, memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum ia meletakkan belanjaan mahalnya di kursi belakang.
Mesin mobil menderu halus saat Bara mulai menjalankan kendaraannya membelah jalanan kota yang mulai lengang. Di dalam kabin yang sunyi, Renata masih sesekali melirik ke arah tas besar di belakang. Pikirannya masih melayang pada angka 250 juta yang baru saja di keluarkan suaminya seolah itu hanyalah uang receh.
"Mas... makasih ya buat gaunnya," bisik Renata pelan, memecah keheningan.
Bara tidak menoleh, matanya fokus pada jalanan di depan, namun guratan senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Sama-sama, Sayang. Apapun buat kamu."
Mobil pun terus melaju, meninggalkan pusat kota menuju kehangatan rumah mereka, serta membawa sebuah gaun mewah dan rahasia kecil yang masih tersimpan rapat di dalam tas Renata.